Pandoras Pride

Pandoras Pride
Chapter 12 - Sistem dan Ritual II



Benar. Itu bukanlah kekaguman atau rasa takjub akan bertemu dengan sesuatu yang luar biasa, tetapi rasa rindu yang dalam terhadap orang terkasihnya.


Bibir Adis bergetar hebat, ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi entah kenapa seperti ada sesuatu yang menahannya. Namun, tidak lama kemudian mulutnya pun terbuka.


“I-I-Ibu ... ?”


Diapthora hanya memperlihatkan senyum lembut nan menyejukkan selagi Adis masih terenyak dalam ilusi manis yang ia ciptakan sendiri.


Randolf yang melihatnya hanya bisa tersenyum kecut. Perasaan yang Adis rasakan saat ini pernah ia rasakan juga. Pertemuannya dengan Diapthora persis tergambar dari bagaimana reaksi Adis saat ini.


Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa sifat Diapthora sedikit menyeramkan. Kekuatannya untuk menyelam ke dalam alam bawah sadar dan menemukan titik lemah seseorang adalah sesuatu yang tidak bisa ditahan maupun dihindari.


“Senang bertemu denganmu kembali, wahai pengelana tersesat sekaligus teman Sang Penengah. Apakah ada yang bisa saya bantu, wahai The Odd One?”


Adis masih mematung, melihat itu Randolf pun berusaha menyadarkannya, tapi yang dilihatnya saat itu adalah jatuhnya setetes air mata dari pelepah mata pemuda tersebut. Tidak berselang lama setelah itu Adis kembali sadar.


Namun, ekspresi yang diperlihatkan oleh pemuda itu tidak lagi sedih melainkan tegar. Sontak hal itu membuat Randolf sedikit terkejut dan akhirnya ia pun bisa bernapas lega.


“Ya. Sudah kuduga pasti akan seperti ini,” gumam Adis. “Aku ingin melakukan mempersembahkan jiwa tersesat ini untukmu,” lanjutnya dengan senyum kuat.


Untuk keluargaku ... untuk saudara dan juga adik-adikku di panti asuhan. Sudah cukup dengan semua ilusi itu, sekarang aku harus tegar, dan menerima kenyataan pahit. Kuatlah diriku! Itulah pikir Adis selagi menatap Diapthora dengan senyum percaya diri.


Sang Pengantar Jiwa pun tersenyum lembut lalu memeluk pedang di tangan kanannya.


“Baiklah. Tolong serahkan para jiwa tersebut dengan membayangkan kumpulan cahaya yang bersarang di dalam tubuhmu, wahai pengelana tersesat.”


Adis pun mengikuti arahan Diapthora.


Ia menundukkan kepalanya dalam diam. Beberapa saat kemudian sebuah aura hangat keluar dari dalam tubuhnya. Semua aura itu mulai membentuk bola-bola cahaya yang abstrak.


Ketika Diapthora memejamkan matanya, semua bola cahaya itu berkumpul di atas timbangan pada tangan kirinya kemudian pecah kembali, dan masuk ke dalam pedang dalam pelukannya.


“Bukalah matamu, wahai The Odd One.”


Adis pun membuka matanya perlahan-lahan kemudian mendongak untuk melihat Diapthora.


“H-huh? Di mana ini?”


“Inilah ruang kekuasaan yang saya tinggali. Tempat di mana semua penyerahan terjadi dan balasan yang tercipta akan ketulusanmu dalam membebaskan jiwa-jiwa tersesat melalui perantara berkah milik saya.”


Sangat gelap. Itulah yang terlihat dari mata Adis. Namun, perlahan-lahan tempat yang sangat gelap itu mulai dipenuhi oleh kunang-kunang. Rumput-rumput halus pun tumbuh cepat dalam hitungan detik. Hening, tapi berat. Dingin, tapi hangat.


Saat ini Adis berada di Sanctuary milik Diapthora. Namun, hal yang paling mencolok dari kunang-kunang serta rerumputan adalah sebuah pedang batu raksasa yang menancap miring ke tanah.


Pedang itu berada tepat di belakang Diapthora. Benda yang menandakan perlindungan, kekuasaan, hak dan kewajiban serta pertimbangan dalam penentuan setiap proses transaksi. Karena begitu Sang Pengantar Jiwa melepaskan timbangan di tangan kirinya, maka pedang yang berada di belakangnya akan memunculkan huruf-huruf kuno pertanda bahwa proses timbal balik sedang berlangsung.


Suara “boom” meledak kecil di sekitar Adis. Luapan kabut cahaya kuning yang meliputinya berputar pelan ke langit. Tidak lama kemudian pandangan Adis dipenuhi oleh berbagai tabel-tabel katalog dengan fungsi yang berbeda-beda.


Dari mulai kalibrasi status atribut dan konstitusi. Tempat untuk jual-beli, pengecekan kondisi mental, penguatan sihir, pembuatan senjata khusus hingga ritual pemberkatan berkah.


“Silakan ... gunakanlah waktu Anda di sini sebaik mungkin dan pikirkan matang-matang tindakan Anda dalam melakukan transaksi ini, wahai The Odd One.”


Setelah itu, Diapthora duduk di atas sebuah batu makam yang muncul tiba-tiba tepat di belakangnya. Sembari memeluk pedang, timbangan yang ada di tangan kirinya mulai mengeluarkan huruf-huruf kuno.


Menurut penjelasan Kraun, setiap proses transaksi yang melibatkan Sang Pengantar Jiwa menggunakan vial sebagai bentuk mata uangnya. Karena itu vial sangat vital ketika melakukan transaksi dengan Diapthora.


Selain itu, jenis-jenis jiwa juga kurang lebih mirip seperti tingkatan barang maupun benda. Perbedaannya terletak dari monster atau makhluk apa yang kita musnahkan. Tergantung jenis makhluknya, maka jiwa yang didapatkan pun akan berbeda.


Saat ini Adis kurang lebih memiliki 200 vial dalam hatinya. Ditambah Soul of Dependance yang ia dapatkan setelah mengalah The Tarnished People yang memiliki bilangan total vial sebanyak 2000, maka Adis memiliki total vial kurang lebih 2200.


Itu pun jika Adis menukarkan Soul of Dependance dengan vial.


“Jadi 2200, ya? Membeli informasi dari Kraun ternyata cukup mahal juga ... 50 vial. Itu pun hanya informasi dasar saja, apalagi kalau seandainya aku memerlukan informasi yang lebih tinggi atau khusus. Mungkin bisa mencapai ratusan hingga ribuan,” tuturnya sembari menimbang-nimbang.


Mungkin menukarkan Soul of Dependance akan menjadi pilihan yang tepat, lagi pula aku masih belum pandai menggunakan senjata, karena itu membeli senjata adalah hal terakhir yang bisa kulakukan, itulah pikir Adis yang kini sedang melihat layar statusnya dalam versi berbeda.


Perihal mengenai level, setiap kenaikan level bilangan lima seperti 5, 10, 15 dan seterusnya, maka Adis akan mendapatkan tiga poin atribut ekstra yang akan didistribusikan secara merata pada setiap poin atribut statusnya.


Sedangkan untuk mendapatkan poin atribut selain dengan cara menaikkan level adalah dengan menukarnya langsung dengan vial. Dengan perbandingan lima vial setara dengan satu poin atribut.


Poin selanjutnya adalah untuk kelipatan genap seperti dua, empat, enam dan seterusnya akan mendapatkan satu poin atribut yang langsung ditambahkan secara acak ke dalam status.


“Untuk menggunakan sihir aku perlu poin Kebijaksanaan dan Intelijen yang cukup, jika tidak sihir itu akan meledak melukai diriku sendiri. Hmm ... memang benar, sih. Untuk menggunakan hal seperti itu diperlukan keahlian yang cukup, selain itu, aku juga perlu mendalami penggunaan Mana, dan cara untuk mengontrolnya.”


Semakin poin Kebijaksanaan dan Intelijen tinggi, maka menguasai sebuah sihir bukanlah masalah. Karena dengan dua poin tersebut sudah dapat menjadikan seseorang yang awam akan sihir jadi seorang pemula yang dapat menggunakan sihir.


Untuk cara mengontrol serta kekuatannya terletak dari seberapa cakap serta ahli orang itu memanfaatkannya. Dan semua itu berasal dari pengolahan Mana yang benar.


Saat ini kondisi Adis baru saja membuka poin Mana. Ia bisa saja menggunakan kesempatan itu untuk belajar sihir, tapi ada cara yang lebih praktis dalam menggunakan sihir, yaitu dengan menggunakan gulungan instan sihir itu sendiri.


Namun, gulungan itu hanya bisa digunakan sekali saja. Seandainya jika Adis berhadapan dengan banyak monster, maka ia memerlukan banyak sekali gulungan sihir. Terkecuali gulungan sihir tinggi yang pemakaiannya ditujukan untuk melarikan diri atau juru selamat ketika berhadapan dengan makhluk yang sangat kuat.


“Senjata, hmm?” Adis pun melirik pisau gratis pemberian Kraun yang kini berada di pinggul kirinya. “Mungkin aku juga perlu senjata baru. Sayangnya aku tidak terlalu bagus dalam menggunakan senjata jarak dekat, apa senjata jarak jauh ada?”


Ia pun menggeser panel kategori ke bagian senjata dan menemukan berbagai senjata dengan varian yang berbeda-beda. Dari mulai senjata jarak dekat hingga jauh, tingkat amplifikasi hingga brass knucle yang sudah dikuatkan, dan sebagainya.


“Sebelum itu ... bisakah aku bertanya terlebih dahulu?”


Diapthora pun membuka matanya. “Ya. Anda bisa menanyakan apa saja berkaitan tentang transaksi ini, wahai The Odd One”


“Butuh berapa vial untuk menaikkan levelku menjadi level dua?”


“Pada level pemula yang mana merujuk level 1 hingga 5 akan dikenakan pukulan rata, yaitu sebanyak 50 vial. Namun, untuk seterusnya akan dikali 1,2x ... sebagai contoh adalah 50 x 1,2 untuk menaikkan level anda dari level 5 ke 6 dan begitu seterusnya melalui penambahan yang sama”


“Jadi artinya aku membutuhkan 60 vial untuk naik ke level 6 lalu untuk level 7 adalah 72?”


Diapthora mengangguk. “Benar. Seperti itulah perhitungan yang dibutuhkan untuk menaikkan level Anda”


“Ini sedikit rumit, tapi setidaknya aku sudah mengerti gambaran besarnya. Kalau untuk menguasai sebuah senjata, apa ada cara tertentu untuk melakukannya?”


“Keahlian yang meliputi senjata dan sihir bisa Anda lihat pada panel katalog buku keahlian. Untuk keterangan lebihnya Anda tinggal periksa pada bagian opsional buku tersebut”


“Hmm? Coba kulihat sebentar,” sahut Adis lalu mengganti panel katalog. “Oh! Jadi buku keahlian juga memiliki perkembangannya sendiri. Semakin aku memahami dan menguasai buku tertentu, maka kecakapanku dalam menggunakan sesuatu akan meningkat. Ini menarik ... benar, aku jadi merasa kembali ke kelas universitas.”


“Apa informasi ini telah membantu Anda, wahai The Odd One?”


Adis mengangguk mantap. “Ya. Terima kasih telah menjawab semua pertanyaanku dan satu lagi”


“Aku ingin menukar Soul of Dependace ini dengan vial”


“Permintaan telah saya terima. Memulai proses konversi jiwa kotor menjadi jiwa tersesat.”


Sebuah bola cahaya hitam keluar dari tubuh Adis dan langsung masuk ke timbangan sebelah kiri milik Diapthora. Sekumpulan bintik cahaya di sekitar Sang Pengantar Jiwa itu pun berputar hebat layaknya tornado.


Begitu entitas tersebut mengetukkan ujung pedangnya ke tanah, putaran bintik cahaya itu berhenti, dan langsung membentuk ribuan bola cahaya putih pucat yang langsung masuk ke dalam timbangan sebelah kanan.


“Proses konversi selesai. Jiwa kotor ini akan saya terima dan sebagai gantinya saya akan memberikan Anda jiwa tersesat—vial ini sebagai pembayarannya.”


Aku pun mengangguk puas.


Setelah itu Sang Pengantar Jiwa kembali diam dalam posisi serta sikapnya seperti semula. Diam layaknya patung malaikat yang indah.


“Dengan ini semua kepingan telah terkumpul. Saatnya menentukan nasibku ....”


Mulut Adis pun menyungging lebar. Sebuah senyum tanpa rasa takut dan percaya diri merekah di wajah anak laki-laki itu.


Adis pun mulai memilah kebutuhan yang ia perlukan untuk memperkuat dirinya. Selain itu, ia juga membaca dengan seksama setiap opsional yang ada pada barang-barang pada panel katalog. Dari mulai gulungan sihir, ramuan penyembuh, senjata, buku keahlian, perlengkapan hingga barang-barang ekstra yang menyertakan Luks di dalamnya.


“L-Luks bawaan ... 50.000 vial?! Selain itu juga diperlukan misi khusus? Jangan-jangan Randolf—“


Begitu mengingat Randolf, Adis pun meneguk ludahnya sendiri. Dirinya ingat bagaimana Randolf menggunakan Luks dengan dua cara yang berbeda—pertama melafalkan kata-kata aneh lalu menanamnya dan yang kedua adalah mengumpulkannya di tangan sebagai bentuk bola cahaya kemudian memecahkannya ke atas tanah.


Dua cara untuk mengaktifkan Luks dan masing-masing cara memiliki kriteria serta jangka waktunya tersendiri.


Cara pertama hanya dapat bertahan selama satu hari sedangkan cara yang kedua dapat bertahan selamanya dan sebagai tambahan secara permanen milik sang pengguna.


“I-ini luar biasa, tapi aku tidak memiliki waktu untuk itu ....”


Adis kembali memilah setiap barang yang ia perlukan.


Beberapa saat kemudian ....


【Mendapatkan “Hunting Riffle x1”】


【Mendapatkan “Peluru Normal x20”】


【Mendapatkan “Peluru Sihir x5”】


【Mendapatkan “Kit Perawatan Senjata x1”】


【Mendapatkan "Buku Keahlian Menembak Khusus Senapan tingkat pemula x1"】


【Mendapatkan “Ramuan Penyembuh x2”】


Setelah itu Adis menggeser panel katalog menuju bagian status atribut dan konstitusi miliknya.


【Name: Adistira Wahyu Dharmono】


【Level 1→5】


【Status】


Stenght: 6→9


Agility : 7→10


Endurance : 4→9


Intelligence: 4→7


Wisdom : 6→9


【Poin Distribusi: 3】


“Hmm? Poin distribusiku masih ada? Oh! Yang tadi, ya? Sebaiknya aku tambahkan ke sini ... dan voila! Status lengkapku akhirnya selesai.”


【Name: Adistira Wahyu Dharmono】


【Level 5】


【Status】


Stenght: 9→11


Agility : 10→11


Endurance : 9


Intelligence: 7


Wisdom : 9


【Poin Distribusi: 0】


【Tittle】Friend of the Starless Child—Persahabatanmu dengan The Child adalah berkah terselubung. Berkah yang bisa memberi kenyamanan terhadap segala entitas yang mengakuinya sebagai pembawa pesan perdamaian dan kehancuran.


【Exclusif-Skill】Hand of the Lightless Star—Kemampuan yang dapat membinasakan anak-anak The Plague dan Abbysmal. Hanya dapat digunakan sekali dalam satu minggu, syarat penggunaan ialah pengakuan sejati dari bintang-bintang di langit.


“Untuk berjaga-jaga aku masih menyisakah vial kalau sewaktu-waktu ada sesuatu yang darurat. Dengan ini semuanya sudah selesai ... aku sudah selesai, Diapthora”


“Apa Anda yakin, wahai The Odd One?”


Adis mengangguk mantap.


“Baiklah. Dengan ini ritual penyerahan jiwa tersesat telah selesai dan saya berharap Anda akan selalu diberkati oleh Sang Dewi Kesuburan, wahai The Odd One.”


Diapthora pun mengetukkan ujung mata pedangnya ke tanah dan dalam sekejap, begitu timbangan di tangan kirinya kembali ke posisi semula. Sebuah kabut tebal langsung mengelilingi mereka berdua, panel-panel katalog hancur, dan kesadaran Adis dibawa kembali menuju ke tempat asalnya.


Setelah itu, Randolf lah yang pertama melihat kedatangan Adis dari Sanctuary milik Diapthora, ia pun langsung bersiul pelan begitu melihat penampilan kawan barunya itu berbeda.


“Ternyata seleramu unik juga, eh? Hunting Riffle? Aku jadi tidak sabar melihat perkembanganmu ke depannya ... pria kecil ....”