Pandoras Pride

Pandoras Pride
Chapter 16 - Sebatas Ransum, Lentera di Hari Gelap II



“Jadi bagaimana pengalaman pertamamu menjadi seorang pengajar, Yogi?”


“Hahh ... huhh ... hahh. S-sekarang saya mengerti tentang itu, pak”


“Bagus. Gampang, kan, ngajarin orang-orang yang susah buat dikasih tahu?”


Pak Gardi pun tersenyum usil.


Sebagai seorang dosen, tugasnya adalah mengajari, dan memberikan pemahaman materi dasar hingga menengah kepada para murid-muridnya. Namun, tidak sedikit dari mereka yang datang ke kelas hanya untuk tidur atau menitipkan absen.


Apa yang dimaksud “spesial” bagi Yogi, ya, tentunya seperti itu. Ia bukanlah seorang mahasiswa teladan ataupun penuh semangat dalam menimba ilmu. Kesehariannya di dalam kelas Pak Gardi pun tak beda jauh dari kondisi kamarnya sendiri.


Masuk, absen, tidur, dimaklumi dan kadang dimarahi, dan terus berulang. Inilah aktivitas Yogi dalam kelas Pak Gardi.


Setelah ia mencoba bagaimana rasanya menjadi seorang pemateri. Hal pertama yang menyerang batinnya adalah rasa grogi dan panik. Dengan kepala pusing karena dihujani banyak pertanyaan yang sangat detail, ia hampir tumbang dengan kaki gemetar.


Namun, untungnya ia bisa bertahan hingga akhir.


Menjadi seorang pemateri, yang mana tugasnya adalah memberikan pengarahan terhadap fenomena gila ini. Tentu saja itu sangat tidak masuk akal dan memakan banyak pikiran.


Setelah badai berlalu, maka kebahagiaan pun akan tiba. Yogi yang telah menyelesaikan tugas sebagai pemateri itu mendapatkan sebuah hadiah dari sistem dan juga misi sampingan yang entah dari mana tiba-tiba saja datang.


【Selamat! Karena partisipasimu terhadap kemajuan hidup banyak orang. Keberadaanmu mulai dilirik oleh beberapa entitas Sang Penguasa. Mendapatkan poin atribut tambahan +1】


【Kau adalah orang yang memajukan pengetahuan tentang Sistem Astal. Entitas dari dunia lain mulai menaruh ketertarikan kepadamu】


【Berkat kerja kerasmu dalam mengatasi masalah dalam kamp evakuasi. Luks akan secara berkala muncul beberapa kali dalam seminggu. Inilah kesempatan bagimu untuk bertambah kuat】


【Selamat! Kau berhasil menyelesaikan misi sampingan berupa harapan kecil bagi kehidupan banyak orang. Mendapatkan tambahan 50 vial】


Pada awalnya ia mengira bahwa semua pengumuman itu hanyalah lelucon, tapi begitu ia memeriksa panel statusnya. Benar saja terdapat satu poin distribusi yang belum dipakai dan juga jumlah vial miliknya bertambah sesuai dengan jumlah pada notifikasi itu.


Mulutnya gemetar. Bukan karena takut, tapi karena saking senangnya hingga ia tidak bisa berkata apa-apa.


Dan semua itu sampailah pada saat ini ....


Yogi terduduk dengan ekspresi pucat, sedangkan Pak Gardi hanya tertawa kecil melihat kondisi muridnya itu. Merasakan pengalamannya sebagai seorang Dosen, Pak Gardi hanya bisa mengangguk puas setelah melihat kondisi Yogi yang tumbang.


【a Little Light in the Darkness of Chaos】Setitik cahaya mungkin tidak akan terlihat apabila matahari meneranginya, tetapi jika setitik cahaya tersebut muncul dalam gelapnya malam kepanikan. Secercah harapan pun akan muncul dan menerangi harimu menuju masa depan yang lebih cerah.


【Misi Sampingan—Tidak lama lagi sekumpulan monster akan muncul dan memorakporandakan seisi kamp pengungsi. Bertahan dan pertahankan kehidupan yang ada di dalam kamp evakuasi dengan mengalahkan gelombang monster yang akan datang. Dua gelombang masih tersisa [Hadiah: White Soul x50, Vial x350, Sejumlah barang acak dengan kelas Albus]】


“Y-Yogi?”


Dengan tangan gemetarnya, Pak Gardi langsung menepuk pundak Sang Murid. Yogi sendiri pun terenyak beberapa saat sebelum akhirnya tersadar karena entakkan pada punggungnya terasa lebih keras.


“Y-ya? Pak Gardi?”


“Kamu baik-baik saja?”


Sebagai dosen dan bisa dikatakan juga orang tua kedua, naluri Pak Gardi langsung tersentuh akibat misi tiba-tiba yang muncul. Hatinya pun bergetar dan memastikan apakah Yogi juga mendapatkan pemberitahuan ini atau tidak.


Namun, setelah melihat reaksi muridnya itu, ia yakin bahwa semua orang yang ada di kamp evakuasi pun sama.


Di sisi lain, Yogi masih tidak percaya dengan misi tersebut. Setidaknya ia telah melakukan sedikit kontribusi terhadap keselamatan kamp ini dengan mengajarkan beberapa hal tentang sistem dan cara penggunaannya.


Untung gue udah kasih tau beberapa, semoga aja emang gak kejadian. T-tapi ... ini kecepetan, apa gue sanggup nanganin semua ini? Emang bener sih kalau level gue udah naik sedikit, Pak Gardi juga punya kekuatan kayak pelemah gitu. Sama bantuan tentara ... y-y-ya pasti bisa, gue yakin pasti bisa selamet dari sini, itulah yang dipikirkan Yogi dengan ekspresi pucat.


“Apa kalian adalah Yogi dan Pak Gardi?”


Tiba-tiba saja seorang pria tinggi nan berisi dengan setelan lengkap muncul di belakang mereka berdua. Suaranya sedikit berat dan serak, tapi nada serta intonasinya memperlihatkan bagaimana caranya bersikap dalam menangani sesuatu.


Yogi dan Pak Gardi saling melirik satu sama lain, setelah itu mereka pun mengangguk menunjukkan tanda bahwa memang benar bahwa merekalah orang yang memiliki nama tersebut.


“Mayor Ferdinan meminta Anda berdua untuk hadir dalam rapat penting saat ini juga”


“R-rapat penting?”


“K-kami?”


“Benar. Tolong segera ikuti saya.”


Sekali lagi Yogi dan Pak Gardi saling melirik. Mereka berdua seperti memastikan apakah memang benar semua ini kenyataan atau bukan, tapi orang pertama yang menyadari ini bukan mimpi adalah Pak Gardi.


Dosen tersebut mengangguk lalu berjalan mengikuti pria utusan Ferdinan. Tak mau ketinggalan, Yogi mengekor di belakang dengan raut khawatir.


▼▼▼


“Jadi begitulah detailnya. Apakah ada di antara kalian yang ingin menambahkan atau mengoreksi informasi ini?” tanya Ferdinan sembari menunjuk sebuah peta kecil di atas meja.


Di ruangan itu terdapat lima orang, termasuk Ferdinan. Empat lainnya merupakan perwakilan dari beberapa kalangan dan juga pasukan khusus.


Memang benar operasi seperti ini seharusnya tidak melibatkan warga sekitar, tapi ini bukanlah operasi militer, dan tenaga yang dibutuhkan juga bukan dari militer saja. Keterlibatan dari berbagai pihak diperlukan dan bagi mereka yang memiliki “keahlian” lebih dalam kondisi kacau seperti ini adalah sesuatu yang sangat diperlukan.


Mengingat bagaimana mirisnya perjuangan pihak berwajib dalam mengatasi masalah yang ada. Serangan monster sudah memakan banyak korban dan mereka yang selamat adalah orang-orang dengan kekuatan lebih atau memiliki faktor keberuntungan yang tinggi.


“Bagaimana jika kita memblokade bagian selatan dan barat. Dengan kondisi kita yang cukup sulit, apalagi persediaan juga tidak banyak, menempatkan orang-orang pada dua bagian ini tidaklah terlalu sulit. Mereka yang dapat menggunakan senjata tajam saja sudah cukup untuk bertahan”


“Saya cukup setuju dengan usulan dari Pak Mukthar, tapi senjata tajam tidak akan terlalu efektif dalam mengatasi monster-monster itu. Untuk senjata api pun tampaknya memiliki keterbatasan peluru, apakah itu benar, Pak Ferdinan?” tanya Dian.


“Mayor, saya sudah membawa Yogi dan Pak Gardi sesuai perintah Anda”


“Bagus. Biarkan mereka berdua masuk”


“Siap!”


Setelah itu, pintu pun terbuka perlahan-lahan. Dari luar Yogi dan Pak Gardi masuk. Ruangan tempat mereka saat ini terbilang minimalis dan hanya di isi oleh meja, kursi, papan kapur, serta sebuah lemari, dan beberapa meja kecil.


Berukuran 5x8 meter. Bercat putih dengan gradasi samar, kini di hadapan mereka terdapat lima orang laki-laki yang sedang mendiskusikan sesuatu.


Sebelum Pak Gardi ingin mengangkat tangan, Ferdinan pun mempersilahkan keduanya untuk mengambil tempat duduk.


“Seperti yang telah saya beritahukan sebelumnya, mereka berdua adalah dua orang yang menjelaskan sistem. Dan saya meminta mereka datang kemari karena sepertinya Nak Yogi lebih memahami situasi musuh dibandingkan kita,” jelas Ferdinan.


“Apa Anda yakin dengan ini, Mayor?” tanya Mukhtar keberatan.


Pria bertubuh kekar dengan tinggi rata-rata bersetelan polisi pangkat tinggi itu mengangkat alis kanannya. Nadanya sendiri tidak terdengar mengenakkan, mengindikasikan bahwa apa yang dikatakan oleh Ferdinan membuatnya tidak nyaman.


“Tentu. Saya yakin dengan keputusan saya sendiri karena dalam kondisi seperti ini kita membutuhkan tenaga lain yang lebih kompeten”


“Kompeten? Mereka berdua? Lebih dari kita saat ini?”


Setelah menepis keraguan Mukhtar, kini Ferdinan kembali diterjang oleh keraguan milik Dian. Sebagai seorang Letda Angkatan Laut, ia menganggap bahwa keputusan yang di ambil oleh Ferdinan kurang masuk akal.


Faktanya memang benar jika tenaga yang dibutuhkan dalam operasi ini berada dalam kapasitas mengkhawatirkan. Dan melibatkan orang yang tidak ada kaitannya dengan penyerangan monster adalah sesuatu yang tidak baik, bahkan mengatakan mereka lebih kompeten dari orang-orang yang sudah jauh memiliki pengalaman lebih.


“Saya sedikit keberatan dengan hal itu. Orang-orang di sini memiliki keterkaitan dengan pihak berwajib dan pemerintahan. Meski Pak Yono adalah Ketua RT, tapi setidaknya beliau dapat menghimpun warga, dan menghimbau mereka agar tidak panik jika seandainya terjadi sesuatu,” lanjutnya dengan wajah tegas.


Yogi pun mengernyitkan dahinya, sementara Pak Gardi hanya terdiam menunggu instruksi lanjutan dari Ferdinan.


“Letda Dian, sebagai seorang angkatan laut tentu dirimu memiliki keahlian dalam bidang air lebih banyak dari kita, benar?”


Dian mengangguk.


“Namun, apakah kau menyadari sesuatu yang berubah di kamp evakuasi ini?”


“Siap, Pak! Tidak. Karena saya berada di garis belakang dan membantu pembagian ransum, saya tidak tahu apa yang terjadi di garis depan”


“Benar. Ketika kau sedang membantu membagikan ransum, kedua orang inilah yang mengusir monster-monster di garis depan”


“A-apa?!”


“Mengusir ... monster?”


“I-itu berbahaya sekali! Kenapa Anda melibatkan warga biasa?”


“K-k-kalian baik-baik saja, ‘kan?”


Mendengar pernyataan Ferdinan, bukan Dian saja yang terkejut. Mukhtar yang seorang AKBP kesatuan polisi, Yono sebagai Ketua RW, dan Rizki yang ditunjuk sebagai Kapten Divisi Khusus cabang Bandung pun sama-sama tercengang.


Mereka bahkan tidak ingin mempercayai pernyataan Ferdinan itu, tapi ia adalah seorang Mayor, dan perkataannya sama dengan perintah sekaligus pernyataan jelas. Itu bukanlah suatu gertakan, bukan juga kebohongan, karena apa yang baru saja dikatakan oleh petinggi militer itu merupakan suatu kebenaran.


“Bukankah begitu, Pak Gardi? Nak Yogi?” tanya Ferdinan sembari melirik mereka berdua dengan seringai tipis.


Keduanya pun mengangguk mantap.


“Jika kita membicarakan masalah kelautan, maka saya akan berkonsultasi dengan Letda Dian. Untuk warga sekitar dan kabar sekitarnya, saya bisa langsung ke Pak Yono. Sedangkan masalah ketertiban masyarakat serta kabar kriminal, AKBP Mukthar adalah pilihan yang tempat. Namun, kali ini masalahnya adalah sesuatu yang tidak kita ketahui dari mana asalnya. Dalam keadaan darurat ini Presiden langsung membuat beberapa pasukan khusus yang langsung di pimpin oleh beberapa petinggi militer,” jelasnya lalu melirik Rizki.


Kini semua perhatian langsung beralih pada pemuda bersetelan jaz rapi. Ia juga menggunakan kaca mata hitam dan sebuah alat transmitter pada telinga kanannya yang berguna sebagai alat komunikasi jarak jauh.


“Pemuda ini adalah Kapten Divisi Khusus Penanganan Wabah cabang Bandung yang langsung berada di bawah pengawasan saya.”


Rizki hanya mengangguk pelan dan menunggu arahan lebih lanjut dari atasannya, yaitu Ferdinan.


“Sebelum itu saya minta maaf atas ketidaknyamanan ini, Nak Yogi, Pak Gardi”


“Anda tidak perlu meminta maaf seperti itu, pak. Saya sendiri cukup senang karena bisa membantu ... Yogi?”


Begitu Pak Gardi melirik muridnya itu, ia pun langsung menyadarkan Yogi yang tampaknya kesal.


“A-ah ... uh. Maaf”


“Jangan diambil hati. Dalam keadaan seperti ini, kita pasti tidak bisa menepis hal seperti itu,” tutur Pak Gardi dengan senyum hangat.


“Maaf ... tadi saya sedikit melamun.”


Yogi pun kembali mengangkat kepalanya dan apa yang ia dapatkan adalah tatapan tidak sedap dari dua orang pria dewasa. Ia tahu hal seperti ini tidak bisa dihindarkan, tapi tetap saja menyadari usahanya dalam mengatasi monster di barisan depan dianggap tidak ada membuatnya semakin frustrasi.


“Kalau kayak gitu, kenapa kita tidak bergantian saja? Saya yang bagian sembako ransum, Anda yang mengatasi monster itu, bagaimana?” tanya Yogi dengan nada sarkas.


“A-apa?!”


“Jika usaha saya memang tidak dianggap, maka percuma saja datang ke sini.”


Setelah itu, Yogi hanya menatap datar balik Dian dan Mukhtar lalu berbalik, dan berjalan keluar pintu dengan tampang masa bodo.