Pandoras Pride

Pandoras Pride
Chapter 22 - Dalam Keheningan yang Berkurang II



Bunyi benturan saling mengejar. Terkadang hamburan properti beterbangan seperti kapas di penghujung musim. Melayang entah ke mana dan akhirnya jatuh menghantam tanah dengan kayu yang berserakan.


Kaca pecah, meledak bagai balon anak kecil. Ketika Bayu menguatkan pukulannya seperti godam, Sang Juggernaut terpukul mundur beberapa meter ke belakang. Monster besar berperawakan layaknya T-Rex berkepala tengkorak itu menggeram histeris.


Tidak jauh dari sana, Adis dengan [Silent Zone] miliknya sedang mengamati jalan pertarungan. Mata memperhatikan setiap gerakan monster itu dan mencari celah yang tepat untuk mengeluarkan peluru bantuan.


Karena misinya kali ini hanyalah membantu, ia tidak akan membunuh monster tersebut. Pemikiran tentang sebab-akibat dan konsekuensi akan ketidakpatuhan terhadap panel misi juga masih membayang-bayanginya.


Seandainya ia tidak mematuhi kondisi itu, apa yang akan diterima olehnya dikemudian hari? Apa mungkin bisa saja konsekuensi ketika tidak mematuhi misi sangat fatal? Adis tidak tahu, ia juga tidak ingin mengambil risiko tidak terlihat itu.


“Haaa! Maju kadal busuk! Ahahahaha!!”


Dengan tampilan seorang tentara berwibawa dan tampang di atas rata-rata. Ekspresi Bayu sangat tidak mencerminkan tata krama dari seorang tentara itu sendiri. Ia lebih terlihat seperti hewan liar yang lapar akan adrenalin dan juga darah.


Setiap pukulan jab dan juga uppercut yang keluar darinya bukan saja berhasil menyudutkan Sang Juggernaut, tapi bahkan membuat makhluk berukuran besar itu terdiam dalam syok. Padahal perbedaan fisik dan kekuatan mereka sangat berbeda jauh, lalu kenapa hanya Bayu sajalah yang berhasil menyerang tanpa mendapatkan serangan balik?


Hal itu terletak dari keterampilan kakinya. Setiap langkah dan juga entakkan yang ia lakukan berhasil meningkatkan probabilitas pertahanan dan poin bertahan hidup. Serangan bisa saja menjadi senjata paling utama, tapi hanya serangan saja tidak akan membuat seseorang dapat bertahan melawan monster sebesar itu.


Namun, Bayu dapat mengatasinya seperti mempermainkan seorang bayi yang ingin mengambil mainan kesayangannya. Naas bagi Sang Juggernaut, makhluk besar itu dipermainkan oleh Bayu yang seorang manusia.


Meski begitu, semua daya rusak yang diterima oleh tubuh monster itu tidak terlalu parah. Sesekali ia juga mengeluarkan teriakan melengking dengan ledakan udara berkekuatan besar. Bahkan bangunan yang ada di belakang Bayu pun lenyap seketika.


Untungnya ia berhasil menghindar tepat waktu, jika tidak, maka tubuhnya telah menjadi daging abstrak yang hanya menyisakan tubuh bagian bawahnya saja.


“Ini nggak seberapa! Terus, teruslah menyerang ... ahahahaha! Pukulan Abrakadabra!”


Bayu masuk ke dalam zona serangan Sang Juggernaut. Kaki kanannya meliuk menjadikannya seperti pecut cepat yang menyabet kaki kiri monster tersebut. Begitu serangan itu berhasil merendahkan posisi tubuhnya, Bayu langsung memukul bagian dada Sang Juggernaut dengan pukulan berelemen api.


【Eksekusi→Sang Juggernaut】


【Kemampuan “Fierry Fist” Diaktifkan】


Serangan itu terus berlanjut untuk beberapa saat dan nyala api dari pukulan Bayu hampir menghanguskan dada Sang Juggernaut.


“Haa! Oraa!! Matilah!! Kadal busuk! Haa! Grahh!!”


Satu pukulan pada kaki kiri, dua pukulan pada samping kiri tubuh, lima pukulan menghantam dada, sembilan pukulan cepat nan akurat kemudian mengempaskan Sang Juggernaut hingga menghantam pohon besar di seberang taman.


Bayu menonaktifkan kemampuannya lalu mengambil napas pelan. Matanya menyisir setiap sudut dan memastikan tidak ada orang di sekitar dirinya.


“Aneh, padahal gue ngerasain ada orang di sekitar sini. Mungkin cuman imajinasi gue aja kali, ya?”


Itu bukanlah imajinasi belaka, tapi memang benar ada seseorang di sana yang sedang mengamati dirinya. Hanya saja indra milik Bayu belum cukup kuat untuk dapat melihat ke dalam penyamaran Adis.


Dengan kekuatan [Silent Zone], bahkan sekelas monster besar pun tidak akan mengetahui keberadaan lokasi pemuda tersebut. Apalagi hanya mengandalkan insting dan juga pengalaman belaka.


“Wow. Pukulannya bisa sekuat itu, apa jangan-jangan itu kemampuan miliknya? Tapi, menerbangkan monster sebesar itu dengan pukulan saja sudah membuatku merinding.”


Adis yang diam-diam memperhatikan Bayu takjub dengan kemampuan miliknya. Pukulan berapi dan setiap gerakan yang dikeluarkan oleh laki-laki bertubuh besar itu sangat presisi. Tidak ada satu pun celah yang bisa dimasuki oleh Adis.


Walaupun ia memiliki keunggulan dengan senjata jarak jauhnya, tetapi instingnya mengatakan sia-sia. Sebagai seorang The Odd One, Randolf pernah berkata bahwa ada dua faktor yang dapat menyelamatkan seorang The Odd One dari mara bahaya karena perbedaan kekuatan, dan faktor-faktor tertentu lainnya.


Kedua faktor tersebut adalah intuisi sebagai The Odd One dan insting bertahan hidup. Melihat bagaimana Bayu langsung waspada setelah menerbangkan Sang Juggernaut telah membuktikan bahwa insting Adis benar.


Satu-satunya cara untuk membantu pria kebal itu hanyalah dengan menunggu celah di mana ia sedang berada dalam keadaan bahaya. Jika ia membantunya saat ini, maka momentum yang telah didapatkan oleh lelaki itu akan goyah, dan bisa saja menyebabkan kecelakaan fatal.


Karena itulah saat ini ia terus menunggu saat yang tepat untuk membantunya.


Sang Juggernaut yang sempat tumbang kembali bangkit. Aura di sekitarnya menjadi lebih pekat, aroma miasma tercium, pepohonan di sekitarnya layu seketika meninggalkan batang pucat yang kemudian patah karena embusan angin.


“Ah? Kayaknya ini makin seru! Ayo, datang ke papa kadal busuk!” ucap Bayu dengan seringai lebar dan ekspresi maniak.


Sang Kadal pun langsung berlari cepat ke arah Bayu sembari membuka rahangnya lebar-lebar. Namun, kali ini setiap entakkan dari kaki jenjangnya mengeluarkan gelombang miasma kegelapan yang meluas ke setiap ruas tempat itu.


Bayu pun menyadarinya, tapi ia tidak peduli, dan terus menerjang. Belum sempat pukulannya mendarat di samping rahang monster itu, tubuhnya tiba-tiba saja menjadi lemah, dan ambruk dengan posisi kesatria terduduk.


Dengan sebuah pecut liar dari ekor tebal nan tajam milik Sang Juggernaut, tubuh Bayu terlempar sangat keras hingga menghancurkan etalase bangunan, dan seisinya.


“Aghh!—“


Monster besar itu kembali menggeram lalu melepaskan energi miasma dari mulutnya seperti sebuah angin ****** beliung. Untungnya Bayu segera bangkit dan melompat sekuat mungkin ke samping.


Jajaran toko, berbagai etalase, dan seisinya lenyap tanpa sisa. Tidak ada yang dapat dilihat selain jejak kengerian dan uap ungu yang mengepul samar-samar di sekitar tempat itu.


Ada pun para warga yang masih bertahan di dalam Mall. Mereka semua berlindung di lantai tengah dan tidak terkena imbas dari serangan dahsyat itu. Namun, mereka masih ketakutan karena bangunan tempat mereka berlindung bergemuruh hebat.


Tidak sedikit juga dari mereka yang berusaha melarikan diri, tapi hanya berakhir tragis karena tertangkap oleh beberapa monster yang masuk ke dalam tempat tersebut. Sisanya masih bertahan dan bersembunyi dengan baik dari penglihatan predator dari dunia lain.


“G-guh! Emang bajingan, seenak jidat jadi kuat kayak gitu. Ini curang ....”


Bayu berusaha mempertahankan keseimbangan tubuhnya yang sedikit goyah. Darah terlihat mengalir dari atas kepalanya. Penglihatannya pun tampak buruk seakan tidak akan bertahan lama lagi.


Dengan langkah tertatih dan raut pucat. Ia masih bisa berdiri mengeratkan tangan kanannya. Beberapa percikan api terlihat, tapi sangat samar hingga bisa disamakan seperti garis cahaya pudar.


Tidak berpendar, tapi hidup. Terus bergerak mengalir di sekitar lengan kanan, hingga akhirnya seluruh lengannya terbakar hebat oleh kobaran api semangat.


Bayu berdiri tegak layaknya pilar terakhir. Menghadapi sosok menakutkan sendirian dengan tekad dan kekuatannya sendiri. Walaupun terbilang ceroboh, ia mempertaruhkan segalanya pada serangan terakhir ini.


Kalau gue mati, itu emang artinya gue udah berakhir. Sebelum itu, liat ini ... gue bakal bikin kembang api kayak akhir tahun, pikirnya dengan seringai lebar.


“ORAaAAAaaaaaAAAa!!—“


“Ini bakalan sedikit bergetar lagi ....”


Dengan memfokuskan diri terhadap lawan di depannya, Adis kemudian menguatkan pandangan, fokus, ketenangan, dan amplifikasi kekuatan pada jiwanya. [Eye of Eagle] dan [Natural Breath] menciptakan kesinambungan antar organ dan indra.


Aura di sekitarnya kemudian diperkuat oleh Zona Varadis dan [Silent Zone]. Di sisi lain otaknya terus mengolah data dan memberikan perintah penuh perhitungan pada semua indra yang bermain.


Adis tak mengira akan menggunakan Zero Null kembali, tapi jika itu dapat membantu Bayu di sana. Ia tidak keberatan karena sosok sepertinya sangat diperlukan bagi dunia ini—tidak, lebih tepatnya adalah bagi orang-orang yang menggantungkan harapan terakhir mereka pada sosok lelaki kasar penuh tekad seperti Bayu itu sendiri.


Perlahan-lahan, tapi pasti. Aura kasar di sekitar Adis mulai memadat, kemudian menjadi halus selayaknya selimut tipis transparan.


Memanfaatkan momentum yang ada, Adis mulai menarik napas pelan-pelan. Memaksimalkan setiap kondisi tubuh demi menciptakan keharmonisan satu waktu. Begitu pendulum bergerak, hanya kestabilan lah yang dapat dilihat.


Bayu bergerak menerjang Sang Juggernaut tanpa rasa takut. Ketika teriakan menggema meninggalkan jejak semu sesaat, monster itu membuka rahangnya, berusaha melahap api kecil penuh harapan tanpa ragu sedikit pun.


Pada saat itulah semua pandangan menjadi satu. Atmosfer berubah dan bunyi retakan terdengar keras dari dalam [Silent Zone] milik Adis. Sekumpulan energi masif berkumpul di sekitar pemuda itu dengan ganas.


Dan begitu Bayu meneriakkan kata pengobar tekad. Adis pun menarik napasnya sekali lagi ....


“Musnahlah KADAL BUSUKKKK!—“


Sebuah pukulan api berkobar hebat meliuk bagai seekor Naga yang keluar dari jurang kegelapan. Semua gelombang miasma lenyap seketika, meninggalkan ruang kehampaan yang mana bunyi percikan kecil menjadi penghubung harapan terakhir.


Tiba-tiba saja atmosfer di sekitar Adis menjadi sangat dingin. Dengan embusan napas uap dingin terakhir, Adis langsung menarik pelatuk dengan senyap nan pelan.


“Bull’s Eye ...,” bisiknya dingin.


Sekelebat energi hitam berputar di sekitar moncong senapan Adis. Begitu sebuah peluru keluar dan melesat cepat. Energi itu pecah menjadi sumbu hitam. [Silent Zone] di sekitarnya pun hancur, berhamburan hebat bagai kaca pecah.


Menyisir jalan raya, kemudian menembus barikade keheningan. Sang Juggernaut yang terfokus pada gerakan penuh berapi-api milik Bayu tidak akan pernah menyangka jika tubuhnya akan terhuyung hebat.


Peluru milik Adis pun berhasil menembus tubuh monster besar itu. Melemahkannya dari dalam dengan ledakan energi kegelapan yang kemudian disambung oleh pukulan hebat Bayu.


BAMSSSSS!


Tubuh besarnya pun terbakar hebat menjadi arang.


【Selamat! Kau telah berhasil mengalahkan Sang Juggernaut. Mendapatkan Soul of Damp x1, White Soul x400】


【Berkat kontribusimu dalam misi pemberantasan monster. Kehadiranmu mulai dilirik oleh Sang Penguasa】


【Selamat! Kemajuan konstitusimu terhadap keyakinan meningkat drastis. Mendapatkan poin distribusi atribut +2】


【Selamat! Kau telah lolos menjadi orang-orang yang terpilih untuk melindungi Bumi dari ancaman para monster. Mendapatkan Vial x100】


【Kemampuanmu dalam mengolah pukulan telah diakui oleh salah satu Penguasa. Selamat! Kau telah mendapatkan julukan sebagai orang yang berani menerjang kematian—“The Fist of Burning Will”】


Melihat sekumpulan notifikasi itu bermunculan satu persatu, Bayu hanya terdiam tanpa ekspresi apa pun. Kemudian ia memeriksa panel statusnya.


【Name: Bayu Dian Anggara】


【Level: 7】


【Status】


Stength: 11


Agility: 7


Endurance : 12


Resistance : 6


【Poin Distribusi: 2】


【Active Skill】


Fiery Fist [E]


【Title】The Fist of Burning Will—Mereka yang bergerak menyongsong matahari akan diberkati oleh kekuatan membara. Dengan meyakini bahwa harapan akan terus hidup di dalam hati, kekuatan tekad, dan nyali menjadi kunci bertahan hidup.


“Hmm ....”


Bayu pun tersenyum dalam diam. Saat ini tubuhnya sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Dengan kondisi seperti itu, kakinya melangkah tertatih-tatih ke arah toko yang belum hancur.


Namun, belum sempat ia sampai di sana. Pandangannya mulai mengabur dan keseimbangan tubuh yang telah ia pertahankan akhirnya goyah. Tidak lama kemudian, ia pun tumbang dengan posisi tubuh ke depan.


Sebelum kesadarannya menghilang. Ia mendengar seseorang mendekati dirinya dan meminumkan sesuatu ke mulutnya dari sebuah gelas silinder. Namun, tidak lama dari itu, Bayu pun akhirnya tidak sadarkan diri.


Bunyi langkah pelan pergi meninggalkannya.


Di ujung pintu masuk taman yang telah hancur, Adis menatap Bayu dengan mata sayu kemudian tersenyum tipis sembari memejamkan matanya.


【Selamat! Kau telah berhasil membantu menumpas seekor monster tingkat lanjut. Mendapatkan White Soul x300】


【Berkat kemampuanmu menganalisis keadaan sekitar, kecakapanmu dalam menggunakan senapan bertambah sebanyak 2%】


“Kerja bagus. Aku sudah meninggalkan oleh-oleh untukmu di sana, jadi gunakanlah sebaik mungkin ....”