
Awan mengambang semu di udara, ketika salju hitam berguguran dari tempatnya berada. Kerumunan masa yang panik terus digilas oleh pasukan monster besar.
Menyerupai beruang ganas di tepi gunung nun jauh, mereka—para monster memangsa setiap manusia yang muncul tanpa tahu akan bahaya yang menghadang.
Teriakan histeris melengking hebat, para wanita berusaha melarikan diri sembari membawa ekspresi horor. Sementara para laki-laki berjaga-jaga membawa senjata yang bisa mereka temukan di jalan lalu pergi meninggalkan tempat penghakiman.
Jalan bersimbah darah, kebakaran hebat melahap bangunan-bangunan jantung kota. Sesekali bunyi tembakan yang disertai ledakan hebat terdengar di beberapa daerah.
Suara itu berasal dari para tentara dan juga pihak berwenang yang berusaha meredakan situasi. Namun, sayangnya semua usaha mereka sia-sia. Tidak ada satu pun peluru maupun bahan peledak yang dapat menghentikan parade monster.
Ketika tank dikerahkan dan pasukan infantri saling bekerja sama untuk memusnahkan para monster. Naasnya merekalah yang dilibas habis tanpa ampun. Tank baja yang kuat hancur hanya dengan satu kali hantaman dari tubuh monster raksasa, sedangkan tentara infantri satu-persatu dibantai tanpa ampun.
Harapan yang sempat datang kini pupus. Kesempatan bertahan hidup pun lenyap tanpa meninggalkan secercah cahaya.
Apa yang mereka dapatkan tidak lain dan tidak bukan hanyalah suatu reka adegan pembantaian sepihak. Meskipun beberapa monster berhasil dikalahkan, tapi mereka kembali bangkit berkat sesosok entitas pembawa tongkat kegelapan.
Mereka dibangkitkan dengan mudahnya tanpa perantara apa pun. Hanya dengan lingkaran sihir dan beberapa pengorbanan, semua pasukan monster pun kembali seperti sedia kala.
Para tentara kewalahan dan mereka meminta bantuan. Polisi ikut dikerahkan untuk mengevakuasi warga setempat ke tempat yang lebih aman. Meski itu hanya sebuah konotasi yang menyakitkan, tapi penduduk sekitar tetap mengandalkan para polisi.
Di sisi lain pasukan bantuan tiba, tapi hanya untuk dijatuhkan oleh sulur raksasa yang menarik mereka dari dalam jurang. Semua pasukan hancur lebur, tak tersisa, dan mereka yang berhasil selamat dari kematian langsung diburu seperti hewan liar.
Pemandangan ini menggambarkan dunia yang terbalik dan kini kasta manusia bukan lagi kasta predator tertinggi, mereka telah jatuh ke dalam bayang-bayang mamal yang diburu.
Sementara itu, Yogi yang masih bersembunyi terus berdoa dengan nada pelan agar para kesatria kematian tidak berhasil menemukannya. Seperti keajaiban yang datang tak diundang, sebuah truk besar tiba-tiba datang menerjang, dan menghancurkan semua pasukan kesatria kematian.
"H-hhuh?"
BAMSSS!! BHGUAHG!!!
Yogi memberanikan dirinya lalu mengintip ke depan untuk memeriksa situasi saat itu. Apa yang ia tangkap adalah sebuah truk telah menghancurkan semua pasukan kesatria kematian, tapi bagian depan toko grosir juga ikut hancur karenanya.
"B-bohong, 'kan, ternyata permintaan gue dikabulin"
"Oh. Apa ada orang di sana?"
Orang yang mengemudikan truk itu adalah Pak Gardi, Dosen Kewirausahaan di universitas tempat Yogi belajar.
"P-Pak Gardi?!" Yogi pun terkejut dengan kehadiran Pak Gardi. Ketika ia ingin bangkit, kakinya tidak sengaja tersandung oleh sesuatu, dan akhirnya jatuh dengan posisi kepala menghadap rak makanan..
Yang Yogi tidak ketahui adalah adanya sebuah kepala kesatria kematian tergeletak dan masih utuh yang ingin menggigit hidungnya. Namun, Pak Gardi dengan cepat mengantisipasi hal itu. Pria berumur maskulin itu langsung mencabut alat kasir tepat di sampingnya kemudian menghantamkannya ke kepala tersebut hingga pecah
"Untung saja Bapak tepat waktu."
Yogi masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya, tapi ia berusaha menguatkan diri untuk bangun, dan berterima kasih kepada Pak Gardi.
"M-makasih, Pak"
"Ya. Yang penting kamu baik-baik saja, hmm?" Pak Gardi pun melihat ke arah kiri dan kanan untuk memeriksa sesuatu. "Yogi ... Septian sama Faisal di mana?"
"A-a-anu .. Pak ...."
Namun, Pak Gardi tak perlu waktu lama untuk menyadari hal itu. Karena ekspresi Yogi yang pucat dan penuh teror telah menjelaskan ke mana perginya Septian dan Faisal. Pak Gardi pun menghela napasnya lalu menepuk pundak muridnya dengan pelan.
"Sudah. Sudah syukur kamu masih selamat, Yogi"
"I-i-iya .. Pak"
"Kalau begitu, sekarang ikut Bapak"
"K-kita mau ke mana, Pak?"
"Tadi Bapak tidak sengaja mendengar siaran radio dan untungnya pihak berwenang tengah mempersiapkan tempat evakuasi di sekitar Bandung barat"
"B-barat?! T-tapi itu, 'kan, jauh. Apa Bapak yakin mau pergi ke sana dengan truk ini? Apalagi sekarang kita ada di bagian timur kota." Yogi semakin panik setelah mendengar usulan Pak Gardi. Memang benar hal itu terdengar melegakan, tapi belum tentu perjalanan mereka akan semulus melewati jalan tol.
Dengan kondisi yang tidak kondusif dan suasana mencekam penuh teka-teka itu. Satu-satunya harapan mereka adalah pergi ke tempat evakuasi yang telah disediakan oleh pemerintah setempat. Atau jika mereka setidaknya memiliki nyali, berlindung di rumah terpencil dari kerumunan, dan monster adalah pilihan alternatif yang bisa mereka ambil.
Namun, untuk mengetahui mana rumah yang aman atau tidak. Tentu, mereka membutuhkan keberanian serta mental yang stabil agar dapat melakukannya.
Sementara itu Yogi sendiri masih berada diambang tremor setelah melihat kedua temannya mati disergap oleh monster.
(Aghh ... sial. Hanya membayangkan wajah si Ian sama Isal aja aku gak tahan. Apalagi harus pergi ke barat, bukannya itu bunuh diri?)
Pak Gardi pun menepuk pundak Yogi lalu memunculkan panel di depan mereka.
"Itu memang terdengar seperti tindakan bunuh diri, tapi apa kamu tahu tentang ini? Bapak mungkin sudah berumur, tapi sistem seperti ini biasa Bapak liat di gim-gim RPG, benar?" Dengan alis terangkat sebelah, Pak Gardi pun bertanya dengan raut wajah yang tenang.
"RPG? T-t-tunggu sebentar ... benar juga! Kenapa aku tidak malah gak sadar kalau ada yang kayak gini?"
Ketika Yogi menyadari maksud dari perkataan Pak Gardi. Benaknya pun langsung dipenuhi oleh berbagai kilas balik ketika ia sedang bermain gim bertemakan RPG.
Setelah memastikannya dan mengutak-atik panel tersebut, Yogi yakin bahwa usul Pak Gardi masih memiliki kemungkinan berhasil.
"Sekarang Bapak level berapa?"
"Level? Oh! Maksud kamu angka yang ada di pojok kiri panel ini?"
Yogi mengangguk.
"Satu ... apa itu berarti Bapak level satu?"
"Benar. Setelah mengalahkan sekumpulan monster tadi, kenapa Bapak gak naik level?"
"Bapak sendiri juga tidak terlalu yakin, tapi Bapak merasa ada sesuatu aneh yang masuk ke dalam tubuh Bapak setelah mengalahkan mereka."
Hal itu pun memunculkan tanda tanya besar di kepala Yogi. Dalam permainan apa pun pasti ada poin pengalaman yang disebut Experience (Exp), tapi Pak Gardi masih ada di level satu yang menandakan bahwa tidak ada sangkut pautnya antara sistem panel dan juga gim di dalam sistem permainan.
"Aneh ... mungkin sistemnya sendiri berbeda"
"Berbeda? Bisa tolong jelaskan kepada Bapak?"
Yogi pun mengambil napas kemudian mengeluarkannya perlahan-lahan.
"Singkatnya, sistem panel di dalam gim dan panel saat ini berbeda. Contohnya, Bapak berhasil meratakan monster-monster. "Yogi menunjuk ke arah beberapa tulang yang berserakan, "Seharusnya Bapak naik level karena dapet poin pengalaman, tapi anehnya Bapak gak naik level, itu artinya untuk menaikkan level menggunakan sistem yang berbeda," lanjutnya dengan mempertahankan ekspresi tenang.
"Hmm ... masuk akal. Jadi kayak sistem poin saat di sekolah, ya?"
"Kurang lebih seperti itu. Semakin kita belajar dan dapet rangking bagus, pasti hasilnya naik kelas. Jadi kalau dipikir-pikir lagi, usulan Bapak yang tadi masih ada sedikit harapan kalau seandainya level Bapak tinggi"
"Memang benar, tapi tadi juga Bapak denger kita bisa mendapatkan senjata gratis yang bisa diakses melalui menu tanda seru di panel"
"Mungkin aja itu hak spesial yang kita dapetin sebagai pemain baru."
Sementara mereka berdua sedang mendiskusikan cara terbaik untuk bertahan hidup. Adis yang masih terbaring tiba-tiba saja didatangi oleh sesosok pria paruh baya dengan setelan unik.
Berpakaian layaknya seorang pengembara di zaman dulu. Jubah, sabuk dengan beberapa tas kecil, pakaian simpel, celana panjang lengkap dengan sepatu kulit usang serta topi khasnya menandakan kalau pria tersebut bukanlah dari dunia Adis—Bumi.
Apalagi sorot matanya yang sayu dan memiliki iris berwarna hijau zamrud. Siapa pun yang melihat mata itu pasti terpukau.
"Hei, hei ... wahai anak muda. Bangun, bangunlah. Cepat! Apa kau ingin menjadi santapan dari para kesatria holo itu?"
Namun, karena Randolf tak mendapatkan reaksi apa-apa. Ia pun langsung mengangkat Adis kemudian memanggulnya ke tempat yang aman.
Tidak lama kemudian ia berhasil menemukan tempat di bawah tanah yang jauh dari monster. Selain itu, ia juga segera membuat api unggun, dan meletakan semua perbekalannya di samping Adis yang belum sadarkan diri.
Randolf pun mengambil kantung air dari saku dalam jubahnya kemudian menuangkannya sedikit ke kepala Adis.
"W-w-whuoaa!! T-t-tolong!—"
Adis yang tak sadarkan diri pun langsung bangun seperti orang mati. Wajahnya histeris dan ia berusaha meraih sesuatu yang tidak ada dengan kedua tangannya.
"Tenanglah wahai anak muda. Sekarang kau sudah aman, tidak ada yang perlu kau takuti lagi"
"T-tenang ... takut ...." Adis yang terengah-engah dan berkeringat dingin kini melihat sekitarnya dengan mata tegang. Namun, setelah Randolf berusaha menenangkannya dengan nada hangat, kondisi Adis perlahan mulai membaik meski keringat dingin di sekujur tubuhnya masih terus mengalir.
"Aku telah membawamu ke tempat yang lebih aman. Bisakah aku mengetahui nama penyelamatku?"
"Pe ... nyelamat?"
Randolf pun memejamkan matanya sejenak. Seharusnya ia tahu betul dengan kondisi Adis yang masih kacau, tapi ia malah meminta nama tanpa mempertimbangkan mental pemuda yang telah menyelamatkannya.
"Maaf, mungkin sebaiknya kau mengistirahatkan dulu mentalmu. Ambil ini, dengan ramuan ini setidaknya bisa mempercepat proses pemulihan mentalmu."
Pria berpakaian eksentrik itu menyerahkan sebuah ramuan berwarna hijau keunguan. Ramuan itu berada dalam sebuah tabung gelas kaca silinder berukuran dua jari kelingking.
"A-apa ini? Dan siapa kamu?"
"Minumlah. Ini akan membuatmu lebih baik."
Sejauh ini Adis telah mengalami banyak hal yang menakutkan. Apalagi kini ada seorang pria aneh dengan pakaian yang "luar biasa" menyodorkan sesuatu yang asing kepadanya.
Awalnya Adis ingin mengambil ramuan itu, tapi ia langsung menariknya kembali karena rasa takutnya terhadap orang asing. Pemuda yang kini menggigil karena waswas tersebut kini menunduk lalu melihat Randolf dengan tatapan khawatir.
"Tenang ... aku akan meletakannya di bawah sini. Namun, kuperingatkan terlebih dahulu. Jika kau tidak ingin mati karena lendir korosif Sang Pembangkang, sebaiknya kau ambil ramuan itu sebelum semuanya terlambat."
Randolf pun meletakan ramuan itu ke atas tanah lalu ia kembali menghadap api unggun.
"M-mati? Tapi, aku sudah mengalahkan monster itu!"
"Mungkin benar, tapi uap yang kau hirup tidak lebih dari racun tak terlihat yang akan segera merusak setiap jaringan organ dalam tubuhmu. Karena itu aku memberimu ramuan penyembuh itu"
"T-t-tapi ... "
"Sebagai orang asing yang terdampar di tempat ini. Mana mungkin aku berani mengambil keuntungan dari orang yang telah menyelamatkanku"
"Lagi-lagi kau mengatakannya ... aghkk!—buhaks!"
(Ungu? Kenapa darah yang keluar dari mulutku berwarna ungu?)
"Aku sudah memperingatkanmu, bukan?"
(Aku tidak tahu di mana tempat ini dan satu-satunya petunjuk yang kuperlukan berasal dari penyelamatku. Aku tidak bisa membiarkannya mati begitu saja)
Adis pun berusaha meraih ramuan yang diberikan oleh sang Pria eksentrik bertopi aneh dengan tangan kanan yang bergemetar. Melihat kondisi Adis yang menyedihkan, Randolf pun mengambil ramuan itu kemudian meminumkannya ke mulut Adis.
Tubuh Adis perlahan-lahan mengeluarkan bola-bola sinar cahaya semu berwarna kuning.
Mata merah dan kantung mata gelap mulai menghilang pelan-pelan. Tubuhnya yang lemah dan hampir kejang-kejang pun kini perlahan-lahan pulih. Semua tanda-tanda akan keracunan serta kegagalan pelepasan organ pun ikut membaik.
Adis yang merasakan efek dari ramuan itu langsung terkejut dan tak percaya bahwa nyawanya akan selamat berkat pertolongan orang asing. Jika saja ia tetap bersikeras dan tidak meminum ramuan tersebut, mungkin ia akan mati dengan kondisi menyedihkan.
Sementara itu, Randolf mulai mempersiapkan daging mentah dari dalam tas ranselnya.
"Terima kasih, tapi sebenarnya kamu ini siapa?"
Randolf tersenyum kecut.
"Aku hanya seorang pengelana dari seberang yang entah kenapa bisa datang ke dunia ini melalui jaringan kehendak Sang Ibu—The Mother"
"Jaringan kehendak ... Sang Ibu? Aku tidak mengerti."
Randolf pun tertawa kecil. "Tentu saja gerangan tidak akan mengetahuinya. Karena itu bukan berasal dari dunia ini. Sebelumnya perkenalkan, orang-orang mengenalku sebagai Randolf, seorang pencari jejak kehidupan di Benua Pollosur," tuturnya lalu menusukkan sebuah ranting kayu tajam ke tengah-tengah daging mentah.
"Benua Pollosur? Ah! maaf, kamu bisa memanggilku Adis. Semua orang memanggilku dengan nama itu"
"Baiklah ... Adis. Sebenarnya masih banyak yang ingin aku tanyakan, tapi sebelum itu beri aku sedikit waktu untuk membakar daging ini."
Pria eksentrik itu menusukkan bawah ranting kayu ke tanah lalu memiringkannya beberapa derajat ke arah api unggun.
Setelah itu Randolf membuka percakapan dari mulai pertemuannya dengan The Tarnished People di gedung fakultas. Ia juga menceritakan bagaimana dirinya bisa tiba di gedung fakultas dan bersembunyi dari serangan makhluk itu.
Semuanya berubah ketika Adis muncul dan mengalahkan The Tarnished People. Randolf juga menceritakan bagaimana ia membawa tubuh Adis yang terkulai lemas setelah mengalahkan monster itu ke tempat mereka sekarang berada.
"Terima kasih, aku tidak tahu harus membalasnya dengan apa"
"Tenang saja. Lagi pula kau juga menyelamatkanku secara tidak langsung. Jika berkenan bisakah kau menceritakan tempat ini—tidak, mungkin lebih tepatnya di mana kita sekarang, dan benua apakah ini?"
Adis mengangguk lalu kini gilirannyalah yang menceritakan semuanya. Dari mulai bumi dan segala tempat yang ia ketahui hingga masuk ke dalam topik budaya, teknologi, masyarakat, dan juga beberapa topik lainnya yang menyangkut tentang kehidupan.
Tentu semua itu terus berlangsung karena rasa penasaran Randolf yang tinggi dan niatnya bertanya terus-menerus membuat Adis sendiri kewalahan. Pada akhirnya penjelasan bumi berakhir pada situasi mereka saat ini.
"Hmm. Jadi seperti itu, ya? Menarik, sungguh menarik! Aku tidak menyangka perkembangan budaya dan teknologi di dunia ini sangat maju. Sebaiknya aku segera mencatat semua ini sebelum terlambat."
Namun, perhatian Randolf langsung pecah begitu mendengar suara ranting putus. Ternyata daging yang ia bakar telah matang dan ia pun segera meniriskannya.
"Dagingnya sudah matang, kau bisa memakannya terlebih dahulu"
"T-tapi ... "
"Tenanglah. Harga nyawa lebih mahal dari pada apa yang kau pikirkan. Kau sudah menyelamatkanku dari makhluk biadab itu dan karenanya sebagai seorang pencari kehidupan, aku harus membalasnya"
"B-baiklah ...."