
Pagar pembatas berhasil ditembus oleh pasukan monster.
Berkulit busuk, aura hitam menyengat layaknya miasma. Dengan mata merah yang memancarkan ketakutan bak darah segar, mereka terus bergerak maju tanpa memedulikan sekitarnya.
Hewan diterkam dan dijadikan persembahan, manusia dihajar hingga dibuat tak berdaya menghadap sabit eksekusi.
Kota yang sempat dijuluki Paris van Java dan Kota Kembang itu kini terlihat lebih mirip seperti kolam darah. Kepala bergelantungan di atas pohon dan beberapa langit-langit bangunan, sementara tubuh utama terkapar penuh cabikan, dan luka sayat dalam.
Tidak ada yang bisa menghentikan pasukan monster itu. Bahkan setelah tentara, pasukan infanteri, polisi, dan pihak-pihak berwenang turun tangan. Mereka hanya bisa menahan kengerian itu beberapa saat.
Namun, begitu hari pertama sejak munculnya salju hitam turun. Mereka berhasil mendapatkan sedikit harapan dari orang-orang dengan kekuatan aneh.
Bertempur dengan barbar, menghajar para monster sambil meneriaki kata-kata aneh. Pada awalnya mereka dianggap sebagai orang gila karena selalu mengatakan “Papan Notifikasi”, tapi setelah mereka memperlihatkan serta membuktikan bahwa fenomena aneh yang mereka lalui nyata. Seketika itu pun orang-orang mulai menaruh harapan kepada mereka.
Dua di antaranya adalah Yogi dan Pak Gardi. Pemuda yang telah berhasil lolos dari cengkeraman kesatria kematian itu bertarung menggunakan tombak batu. Sedangkan Pak Gardi membatu anak didiknya itu dengan melemahkan kekuatan monster dengan kekuatan ajaibnya.
“Gimana keadaan di sana, Pak?”
Mahasiswa tersebut menghunuskan tombaknya ke arah monster berbadan sapi sedang. Sosok besar pembawa gada itu pun tersentak sesaat lalu Yogi meneruskannya dengan tusukan kedua yang langsung menembus tenggorokan.
Darah membuncah hebat selagi suara rintih terdengar sayu. Monster itu tertatih hingga akhirnya tumbang meninggalkan api abu yang menggerogotinya. Tidak lama kemudian hanya abu hitamlah yang terlihat terbang tanpa arah.
“Kerja bagus, Yogi”
“Ahahaha. Kalau bukan karena bapak, saya gak yakin bisa ngalahin monster ini”
“Dengan ini sudah tiga, ya?”
Yogi mengangguk. “Iya. Ini sudah lebih dari kuota sekarang. Bapak mau langsung pergi ke kamp evakuasi?”
“Niatnya tadi begitu, tapi bapak masih sedikit aneh dengan semua ini. Bapak gak bisa mencernanya dengan akal sehat.”
Sekali lagi Yogi mengangguk kecil. Sebagai seorang mahasiswa yang baru saja menyelesaikan pelajaran kelasnya, ia tahu betul semua ini sangat aneh. Selain itu, tidak ada yang menyangka jika keadaan kota menjadi lebih parah.
Banyak orang yang berdoa dan meminta ampun. Ada juga yang menjadi gila pada hari pertama dan akhirnya lebih memilih mengakhiri hidupnya sendiri.
Mereka yang bertahan terus mencari cara agar bisa melewati keadaan itu dengan pikiran normal. Namun, sayangnya hal itu mustahil, dan malah membuat mereka bertambah gila.
Pada saat-saat penuh keputusasaan itu, ada beberapa yang menyadari tentang sistem pada papan notifikasi mengenai status sebagai seorang petarung. Dalam panel status itu mereka memiliki gambaran kasar mengenai kondisi apa yang saat itu sedang mereka alami.
Salah satu dari sekian banyak orang yang menyadari keanehan itu tidak lain dan tidak bukan adalah Yogi sendiri. Ketika ia membandingkan status miliknya dan juga Pak Gardi, ia merasakan sesuatu yang aneh.
Kemampuan yang dimiliki olehnya mungkin tidak seperti The Odd One atau dengan kata lain masih setengah-setengah. Pada saat gempuran monster yang menyerang kamp evakuasi, banyak sekali tentara yang menyerang monster dengan berbagai senjata.
Namun, naasnya peluru dan juga bahan peledak yang mereka lontarkan itu sama sekali tidak terlalu mempan. Mereka masih bertahan dan terus berjuang demi keselamatan warga yang ada di dalam.
Sayangnya beberapa monster ada yang berhasil lolos dan berkeliaran di dalam kamp tersebut. Mengikuti jejak Pak Gardi yang meminta Yogi untuk bersembunyi, pemuda itu menolak, dan mengangkat sebuah tongkat besi sepanjang dua meter.
Hal itu ia lakukan karena melihat seekor monster yang bergerak cepat ke arah seorang anak kecil. Mungkin karena rasa bersalah akan kematian temannya, ia pun berlari sambil mengayunkan tongkat besi itu ke arah Sang Monster.
Bukannya terpental atau tersentak, Sang Monster malah terhuyung beberapa saat. Yogi pun kaget karena mendengar suara raungan kesakitan dari makhluk menjijikkan. Di saat yang bersamaan Pak Gardi datang menolong dengan mengayunkan balok kayu pada kepala monster itu.
Meneriaki muridnya yang terdiam dengan tangan gemetar. Akhirnya Yogi kembali sadar dan melancarkan serangan terakhir pada monster itu yang langsung membuat tubuh besarnya hangus terbakar api abu.
Mereka berdua pun langsung jatuh terduduk dengan lutut lemas.
【Selamat! Kau telah berhasil mengalahkan monster pertamamu, mendapatkan 80 vial】
Pada saat notifikasi itu muncul, semuanya mulai berubah, dan kini kembali pada saat sekarang.
“Bapak baik-baik saja, ‘kan?”
“Tenang, segini sih bukan masalah bagi, Bapak”
“Ya sudah. Mungkin sebaiknya kita sekarang langsung saja pergi.”
Pak Gardi setuju dengan usulan Yogi dan mereka berdua pun mulai berjalan menuju kamp evakuasi.
Begitu mereka tiba di tempat itu, seorang pria bertubuh besar dan berotot menyapa mereka.
“Selama siang. Terima kasih atas kerja keras kalian,” tutur Ferdinan sembari memberikan dua buah makanan kaleng.
“Ini sih nggak seberapa, tapi kenapa bapak ada di sini?”
Dengan alis kiri terangkat, Yogi pun memiringkan kepalanya sedikit.
Yogi tahu betul bahwa pria berbadan besar di hadapannya ini bukanlah orang sembarang. Bukan juga seorang dengan niat buruk ataupun mereka yang mencari kesenangan dari ekspresi kesulitan seseorang.
Dia adalah orang dengan integrasi kuat. Memiliki tekad serta tanggung jawab atas keselamatan para pengungsi kamp evakuasi. Apa yang ia tidak mengerti adalah ... kenapa seorang dirinya repot-repot menunggu kepulangan dua orang biasa yang sedang berusaha mengalahkan monster?
Hal itu bukanlah sesuatu yang spesial, mengalahkan, dan melindungi orang-orang adalah naluri alami yang dimiliki setiap orang. Hanya saja mereka memiliki caranya masing-masing. Seperti apa dan bagaimana, itu berada pada tangan mereka sendiri.
Karena bukan hanya Yogi yang sedikit terkejut karena kemunculan Ferdinan yang tiba-tiba. Bahkan Pak Gardi pun sama terkejutnya, tapi ia berhasil menutupinya dengan raut wajah tenang.
“Ini baru hari kedua. Saya hanya ingin meminta bantuan kalian tentang hal ini,” tutur Ferdinan sembari membuka panel notifikasi.
Pria besar itu mengangguk mantap.
“Dari sekian banyak orang yang telah bangkit dan menghadapi kenyataan pahit ini. Jujur saja kami masih kekurangan informasi. Saya akan amat bersyukur apabila kalian berdua bisa menjelaskan apa yang terjadi dan bagaimana kalian bisa bertahan dari kondisi ini”
“Sejujurnya saya pun kurang mengerti. Orang yang mengajari saya tentang semua ini adalah anak muda di sebelah saya”
“Hmm? Apakah itu benar?”
Ferdinan pun langsung mengalihkan perhatiannya ke arah Yogi. Pemuda yang sebelumnya kebingungan itu sontak menjadi tegang. Diperhatikan oleh seorang petinggi militer dengan tatapan tajam, siapa pun pasti akan merasa sedikit tertekan. Apalagi jika orang itu hanyalah warga biasa yang tidak mengetahui apa-apa.
“Y-ya?”
“Sepertinya begitu. Apa kau memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik?”
“B-berkomunikasi? Maksud bapak ... seperti presentasi?”
Mulut petinggi militer itu pun menyeringai kecil. Setelah memastikan informasi yang Pak Gardi berikan, ia pun yakin bahwa Yogi mungkin bisa menjadi penggerak masa dalam hal ini.
“Yogi ... itukah namamu?”
“S-siap, pak!”
“Hahahaha. Jangan terlalu grogi, nanti saya yang kerepotan.” Ferdinan berdeham pelan. “Sebagai pemimpin anggota khusus barisan depan, saya ingin meminta Nak Yogi untuk melakukan sedikit presentasi kepada para bawahan serta orang-orang yang telah sukarela ikut andil dalam operasi ini. Apa Nak Yogi tidak keberatan untuk menjadi seorang pembicara di sana?”
“G-g-gue ... jadi s-s-seorang pembicara di operasi militer?” tanya balik Yogi dengan ekspresi tegang. “A-apa bapak nggak salah?”
Ferdinan pun langsung memberikan anggukan mantap sebagai tanda konfirmasi. Setelah itu, ia berbalik, dan pergi menuju ke dalam kamp evakuasi.
“Jika Nak Yogi sudah siap. Tolong ikuti saya.”
Mendengar itu Yogi melirik Pak Gardi, tapi dosen universitas itu balas memberinya senyum hangat. “Jangan ragu. Tunjukkanlah kepada mereka seperti apa yang kamu kasih tahu ke bapak”
“B-bapak ... yakin? Itu operasi militer—“
Namun, Pak Gardi langsung menepuk pundak Yogi.
“Dengan ini mungkin ada banyak orang terselamatkan. Termasuk keluarga kita di luar sana. Bapak sebenarnya sangat mengkhawatirkan istri dan juga putri bapak, tapi bapak tahu kalau sembarangan pergi ke luar sana hanya akan menjadi mangsa empuk. Karena itu ... ketika kamu menjelaskan hal itu, bapak yakin masih ada harapan untuk bertemu dengan mereka.”
Yogi pun terenyak. Perkataan Pak Gardi langsung masuk ke dalam ulu hatinya, meresap cepat, dan menyadarkannya bahwa di luar sana pun masih ada orang yang sedang menunggunya.
Seandainya saja ia tidak mengetahui secara pasti tentang sistem ini, mungkin nyawanya sudah melayang persis seperti kedua orang temannya yang lalu. Namun, berkat kekuatan ini jugalah yang membantunya untuk mengalahkan monster.
Pengalaman pertama memang tidak selalu semulus yang diharapkan, tetapi hal itu akan terakumulasi menjadi kebiasaan baru. Pengalaman juga lah yang membuat seorang pecundang menjadi seorang pemberani dan pengalaman juga merupakan salah satu faktor dalam membentuk masa depan.
Apakah ia bisa mengambil kesempatan itu dengan baik atau tidak?
Ia pun membuka panel statusnya.
【Name: Yogi Indra Lesmana】
【Level: 3】
【Status】
Stength: 5
Agility: 7
Endurance : 6
【Poin Distribusi: 0】
【Title】The One who Chasing the Wind—Kau adalah seorang yang tangguh dalam mengejar sesuatu. Potensimu hampir menyerupai seorang demi-god pada era Olympus. Dengan kegigihan yang nyata, kakimu akan menjadi petunjuk bagi takdirmu sendiri.
Gue gak nyangka kalau sistem ini mirip banget sama gim itu, tapi mengingat itu adalah gim neraka—ya, udah berapa kali gue mati terus hidup lagi di gim itu dan harus ngambil semua item yang ada?
Seenggaknya kali ini gue cukup beruntung. Bisa ketemu sama makhluk itu dan naikin level, persembahan, huh? Intinya vial ini penting banget buat naikin level sama beli barang. Kalau intuisi gue bener, kemungkinan besar makhluk itu bakal muncul lagi di tempat yang sama. Gue gak tau kapan, tapi gue harap secepet mungkin, itulah yang dipikirkan Yogi dengan dahi yang mengernyit.
Pak Gardi yang dari menunggu responsnya kini menghela napas. Ia tahu bahwa tugas seperti itu bukanlah sesuatu yang mudah, apalagi jika mengingat bahwa Yogi ini adalah salah satu mahasiswa yang cukup “spesial”.
Ia khawatir apakah muridnya ini dapat melakukan presentasi dengan baik di hadapan semua personel militer serta warga yang suka rela dalam melakukan misi ini atau tidak. Semua kini tergantung padanya, jika Yogi bersedia, maka Pak Gardi pun bisa tenang karena itu adalah kemauannya sendiri.
“Okelah, pak. Yogi siap kalau gitu,” pungkas Sang Pemuda dengan seringai lebar.
“Bagus. Seharusnya itulah mental yang dimiliki oleh murid-murid bapak. Kalau begitu segera ikuti Pak Ferdinan, mungkin beliau sedang mempersiapkan semua yang kamu butuh kan sekarang.”
Yogi pun mengangguk mantap lalu beranjak pergi meninggalkan dosennya di belakang. Di sisi lain Pak Gardi melihat siluet punggung Yogi seperti melihat dirinya 25 tahun yang lalu, masih muda, dan penuh semangat tanpa takut akan tantangan.
Sayangnya saat ini Pak Gardi memiliki keluarga yang perlu ia temui dan lindungi secepat mungkin. Karena itulah ia juga menginginkan kekuatan dan saat pertama kali Yogi menjelaskan semuanya di dalam truk dan saat berada di dalam kamp.
Ia sadar bahwa konstitusi tubuhnya berbeda dari yang lain, meski terasa aneh, dan ganjal. Namun, ia menerimanya dengan lapang dada karena mungkin saja kekuatan yang dimilikinya saat ini dapat menolong orang lain.
“Hahhh ... kehidupan ini sungguh penuh misteri, tapi jarang-jarang seorang petinggi militer memberikan kaleng sarden secara langsung,” tuturnya sembari melihat langit bersalju hitam.