Pandoras Pride

Pandoras Pride
Chapter 1 - Sampah "Masyarakat" I



Bel berbunyi riang, semua mahasiswa yang tadinya saling berdiskusi pun terdiam seketika. Mereka mulai merapikan tumpukan buku yang ada di atas meja. Sang Dosen yang saat itu sedang memasukkan laptopnya pun memanggil ketua murid dengan suara tenang.


"Yogi, nanti Bapak kirim bahan diskusi untuk minggu depan lewat WA. Untuk yang lain nanti tinggal minta saja ke Yogi atau Yogi bisa share lewat grup kelas kalau semisalnya ada," tutur Pak Gardi.


Pria paruh baya dengan setelan rapi dan gaya maskulin itu adalah seorang Dosen Kewirausahaan. Setelah menyelesaikan kelas sorenya, ia pun memeriksa smartphone yang ada di atas meja.


Pandangannya mungkin mengarah pada jam kelas yang rusak, berharap lebih, tapi yang ada hanyalah embusan napas panjang. Ia sudah berada di dalam kelas terlalu lama dan pandangannya sedikit mengabur, mengira bahwa jarum jam dinding tersebut bergerak, Pak Gardi pun menggeleng pelan.


"Apa kacamataku sudah rusak, huh?" gumamnya sambil melihat ke sekitar.


Ruang tempat kelasnya mengajar dapat dikatakan berada di tengah-tengah kelas kualitas. Tidak terlalu baik, tapi juga tidak terlalu buruk. Yang menjadi bahan pertimbangan dan juga keresahannya adalah jam dinding yang rusak serta cat tembok yang mulai memudar.


Selain itu tidak ada keluhan lainnya. Terkecuali kabar tentang ulang tahun putrinya yang tidak lama lagi segera diadakan tepat pada akhir bulan. Sebagai seorang Ayah tentu saja hari spesial nan berharga itu akan membutuhkan banyak buah pikiran.


Apalagi berbicara mengenai anak gadis, setiap Ayah pun memiliki kekhawatirannya masing-masing. Begitu pula dengan Pak Gardi, tapi ia segera mengenyahkan pemikiran itu dan langsung berdiri tegak.


"Baik, kelas telas selesai. Jangan lupa absen finger printnya."


Mendengar itu semua mahasiswa yang berada di kelas melepas ekspresi lega dan langsung berdiri mengantre absen pulang. Di sisi lain Yogi memeriksa smartphone yang ada di dalam saku dalam jaketnya.


Terdapat notifikasi masuk dari Pak Gardi.


"C-cepatnya ...."


Setelah semua selesai mengabsen dan Pak Gardi pun telah menghilang dari kelas. Perhatian Yogi langsung teralihkan oleh seorang laki-laki di pojok ruangan.


"Seperti biasa, eh?"


"Ada apa Goy? Omong-omong mau makan di Rumah Steak.co, gak? Mumpung lagi ada diskon nih," ajak Faisal.


"Boleh juga tuh. Gue ikut kalau banyak yang ikut, kalau makan sendiri takut dikira jomblo," sambung Septian.


"Ah! Memang lu jomblo, 'kan, Ian?"


"Tapi dari tadi apa yang lu perhatiin sih? Diajak ngobrol aja berasa gak nyaut"


"Kagak. Cuman yahh, biasalah maskot kelas kewirausahaan kita, si Adis. Lagi-lagi orang itu tidur nyenyak banget," jawab Yogi dengan senyum remeh. "Mau dibangunin gak? Lagian Pak Gardi terlalu pengertian banget sama si Adis. Gue awalnya sempat heran kenapa dia gak ditegur dari awal masuk kelas, padahal jelas-jelas gak merhatiin penjelasannya Pak Gardi"


"Hmm. Menurut gue sih rasanya gak aneh, soalnya kita sendiri tahu tentang kondisinya," sahut Faisal.


"Mau bagaimana lagi? Memang susah kalau kondisi finansial tidak memadai, apalagi dengan sebutannya itu. Kita sendiri tidak tahu apa yang lagi dialami olehnya ... sudahlah. Jadi mau langsung gas nih?" tanya ulang Septian.


Keduanya pun mengangguk sepakat. Namun, tiba-tiba saja tempat itu bergemuruh, dan membuat Septian jatuh terduduk. Di sisi lain, jika Yogi tidak menarik tangan Faisal, mungkin pemuda itu akan ikut jatuh, dan menimpa Septian.


"Gah!"


"Thanks, cuy," ucap Faisal.


"Noprob, tapi kok bergemuruh? Apa jangan-jangan gempa?"


"Nggak. Itu nggak mungkin, gue tadi pagi liat kabar berita, tapi gak ada yang nyiarin siaran tentang antisipasi gempa," celetuk Septian sambil mengusap pantatnya.


"Terus ini apa?"


Faisal yang meminta penjelasan lebih terhadap situasi itu mulai sedikit panik. Sedangkan Yogi dan Faisal saling melihat satu sama lain, mereka berdua mengangguk seperti sudah mengerti dengan situasi yang mereka hadapi saat ini.


"Udahlah. Sekarang kita pergi keluar gedung fakultas dulu, takutnya ada apa-apa," saran Faisal lalu meminta bantuan. "Angkat gue ... "


"Hah! Lu yakin?" tanya Septian memastikan kembali.


"Sekarang bukan lagi waktunya banyak tanya. Mending langsung saja cabut dari sini," jawab Yogi lalu menarik Septian. "Dis! Woii Adis! Bangun!"


Namun, setelah Yogi berusaha membangunkannya. Adistira tampak bergeming seakan-akan teriakan Yogi hanyalah angin lewat. Septian yang merasa sedikit jengkel akhirnya mengata-ngatai Adistira.


"Dasar kebluk! Sudah lah, kita cabut saja. Jangan peduliin lagi si Adis"


"J-jangan begitu juga. Dia itu teman sekelas loh," timpal Yogi dengan ekspresi khawatir.


"Lagian siapa suruh tidur mulu di kelas Pak Gardi?"


"Sudah-sudah. Kita sudah berusaha ngebangunin si Adis. Sisanya terserah sama dia saja, mau bangun, atau kagak itu urusan dia," tutur Faisal.


Mereka bertiga pun mengangguk setuju dan segera pergi dari gedung fakultas.


Suara-suara aneh bergema di setiap lorongnya. Beberapa kali kaca luar sempat bergetar, tapi tak pecah. Semua mahasiswa dan mahasiswi yang masih berada di dalam gedung pun kocar-kacir berlari meninggalkan gedung tersebut.


Namun, hanya ada satu orang yang masih santai terlelap mengarungi mimpi indahnya. Ia adalah Adistira. Pemuda itu pun langsung bangun begitu tubuhnya melompat sendiri dan menghantam lantai dengan posisi dagu yang terlebih dahulu mendarat.


"Aww!! Guh—a-apa ini?"


Dengan ekspresi linglungnya itu Adis memperhatikan sekitarnya hanya untuk mendapati kelas yang telah kosong dengan kondisi berantakan. Ia sama sekali tidak tahu apa yang baru saja terjadi dan mengapa ia bisa berada di dalam situasi seperti itu.


Satu hal yang pasti, menurutnya kelas Pak Gardi telah selesai, dan tidak ada yang membangunkannya sama sekali. Padahal Yogi dan kawan-kawan sudah berusaha, tapi karena tidurnya itu terlalu pulas, Adis jadi ditinggal sendiri di dalam kelas.


"Ah ... oh, hmm?"


Adis pun bangkit dengan ekspresi kebingungan.


"Apa yang terjadi? Kenapa kelasnya bertanakan gini?—Woahhh!!"


Tiba-tiba saja getaran hebat kembali menghantam gedung tersebut. Adis yang masih berada di dalam kelas pun terjungkir ke belakang dan kembali terjatuh.


Sambil menggosok pantatnya yang kesakitan, ia pun bergegas bangkit kembali dengan memperlihatkan ekspresi pucat.


"G-gempa?! Guhh ... kenapa tidak ada yang membangunkanku dari tadi?" tanyanya lalu beranjak menuju pintu keluar.


Dengan langkah tertatih dan tidak stabil akibat gedung yang terus berguncang, mau tidak mau Adis hanya dapat mengandalkan dinding koridor untuk bertahan. Guncangan itu terus dan terus semakin kuat hingga mementalkan tubuh Adis hingga menghantam tempat sampah.


"Gah! Ughhh!—a-a-aku harus pulang, mereka sedang menungguku. A-aku tidak boleh pingsan di sini ...," ucapnya lirih.


Darah mengalir dari atas kepalanya dan ia juga merasakan pusing yang sangat menyengat hingga membuat usahanya agar tetap tersadar sia-sia. Tidak lama kemudian lambat laun kesadarannya pun perlahan memudar, dan akhirnya tidak sadarkan diri.


▼▼▼


Kondisi di luar pun tidak berbeda jauh dari keadaan gedung fakultas. Perbedaan yang paling mencolok dari kekacauan itu ialah kemunculan monster aneh yang tiba-tiba saja menyerang penduduk sekitar.


Jeritan terdengar di mana-mana, teriakan minta tolong, dan derapan langkah kaki yang terburu-buru saling mengejar satu sama lain melintas cepat di berbagai tempat.


Genangan darah melintas jauh ke seberang jalan, bangunan-bangunan sekitar hancur terbakar oleh api yang tak kunjung padam. Namun, dikala kekacauan yang melanda bukan hanya daerah universitas Adis bahkan seluruh dunia. Sebuah tawa kecil terdengar di langit yang gelap.


—Bersenang-senanglah. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada berusaha bertahan hidup dari ancaman misterius, bukan? Karena itu aku akan memberi kalian kesempatan tersebut dan manfaatkanlah dengan sebaik mungkin, ok.


Yogi dan kawan-kawan yang tengah berlindung di bawah reruntuhan bangunan tidak jauh dari universitas pun tersentak. Mereka bertiga melihat sebuah panel notifikasi yang mirip seperti yang ada di dalam sebuah gim.


—Perlihatkanlah perjuangan terakhir kalian wahai para makhluk fana, karena aku sebagai pengamat akan selalu mengikuti perkembangan kalian dalam pertarungan hidup dan mati ini ... hihihihi.


Suara yang muncul dari langit itu terdengar di berbagai negara, di seluruh negari, dan di telinga semua orang. Tidak ada yang tidak mendengar nada jenaka tersebut. Nada yang dapat digambarkan dari kejahilan seorang anak kecil.


Namun, apa yang membuat semua orang keheranan adalah panel notifikasi transparan yang muncul di hadapan mereka. Di dalamnya terdapat sebuah status dan juga penjelasan yang lengkap layaknya turorial pada sebuah gim.


Ada beberapa pilihan seperti; My Status, Skill, dan Help yang muncul ketika orang-orang menyentuh panel hologram transparan tersebut.


—Aku akan selalu mendoakan keselamatan kalian wahai makhluk fana ... hihihihi. Sebagai pengingat, selalu perhatikan sekitar kalian, karena kalian tidak akan tahu kapan, apa, bagaimana, di mana, siapa, dan kenapa kalian bisa mati tanpa sebuah peringatan yang nyata.


Setelah itu suara tersebut menghilang meninggalkan gelak tawa yang samar.


Di sisi lain, gedung fakultas tempat Adistira tak sadarkan diri telah berakhir dalam keadaan mengenaskan. Tempat itu telah hancur dan mungkin tidak lama lagi akan roboh, tapi Adistira masih belum sadarkan diri.


Tubuh pemuda itu bersandar pada sudut pilar penyangga gedung dan tempat sampah. Dengan kondisi lengan kiri yang lebam-lebam dan kepala berdarah, perlahan-lahan kesadarannya pun mulai pulih.


"A-a-ahhh ... a-apa yang terjadi? D-d-di mana ini?"


Ia pun berusaha bangkit, tetapi kembali terjatuh dengan napas yang berat. Adis dapat merasakan dadanya yang sesak dan pernapasannya juga tidak stabil. Selain itu, lengan kirinya tampak tak bisa digerakkan.


"A-aku tak menyangka akan ada gempa. Apalagi sampai-sampai membuat gedung ini runtuh ...."


Setelah melihat ke sekitarnya dan tenggelam sejenak ke dalam pikirannya sendiri. Adis mulai mempersempit penjelasan yang ada dan berusaha sebaik mungkin agar tidak panik di dalam situasi mencekam nan misterius itu.


Ia sadar betul bahwa jika dirinya panik pada saat itu juga, otaknya akan merangsang tubuh untuk bergerak, dan menyebabkan luka-luka di sekujur tubuhnya semakin memburuk. Semakin ia tenang, maka akan semakin baik.


Namun, ia juga mengerti jika terus berada di tempat itu, maka kemungkinan besar tidak ada yang bisa menyelamatkannya. Meski begitu, pemuda tersebut berusaha mengangkat tubuhnya sendiri perlahan-lahan.


Bertumpu pada tempat sampah kokoh di sampingnya, ia pun akhirnya dapat berdiri dengan kaki pincang, dan penglihatan yang sedikit kabur.


Kondisi lorong gedung pun tak jauh berbeda dari kondisinya saat ini. Hancur seperti puing-puing dan langit-langitnya terbuka bebas. Salju hitam masuk perlahan seakan-akan hujan normal pada siang bolong.


Adis hanya bisa terpaku melihat salju itu turun.


"S-salju?! Di negara hutan hujan tropis seperti ini?!"


Tentu saja setiap orang pun akan terkejut melihatnya. Namun, apa yang membuat perhatiannya kembali teralihkan adalah munculnya sebuah panel hologram, dan teriakan serta jeritan histeris dari luar gedung.


"Hmm?" Adis mencoba memegang panel hologram itu, tapi yang ia dapatkan adalah tangan yang tembus. Ia tidak mengerti apa itu dan kenapa bisa muncul.


Setelah itu, Adis berusaha berjalan dengan kaki pincangnya ke dekat jendela luar. Di sana ia melihat berbagai pemandangan yang tak sedap untuk dipandang.


Mayat berserakan, jalan utama universitas dipenuhi oleh darah, pohon-pohon tumbang, bangunan-bangunan di luar hancur dan terbakar serta asap hitam yang mengepul membumbung tinggi terlihat dari berbagai tempat.


"Oaghh!—a-apa-apaan ini?! Sebenarnya apa yang terjadi selama aku tidak sadarkan diri?"


Tidak lama kemudian perhatian Adis kembali teralihkan oleh sesosok monster yang mengaum. Monster tersebut sedang mengejar beberapa orang yang berlari dari arah taman fakultas lain.


Mereka semua membawa senjata yang anehnya tidak Adis mengerti dari mana mereka bisa mendapatkan hal itu.


Ada yang membawa tongkat bisbol, golok, tongkat besi panjang, pedang, perisai, hingga sebuah pistol. Mereka semua berlari menghindari kejaran sang monster.


Beberapa kali bunyi tembakan pistol terdengar dan sang monster berhenti sesaat hanya untuk dikepung lalu ditusuk-tusuk oleh mereka yang membawa senjata tajam.


Jantung Adis tiba-tiba saja berdetak keras, dadanya sakit, dan ia pun mencoba meredakan hal itu dengan meremas celana panjangnya.


Setelah melihat monster dan orang-orang bersenjata itu, ia jadi teringat dengan panti asuhan tempatnya dibesarkan. Ia khawatir jika terjadi apa-apa dengan "anggota keluarganya", tapi saat ini ia lebih memilih untuk diam sejenak, dan duduk sambil bersandar pada dinding.


"Sangat menjijikkan, apa itu? Makhluk jelek apa tadi? Beruang, 'kah?"


(Jika terus seperti ini aku bisa saja akan mati karena kehilangan darah. Aku tidak bisa terus berdiam diri di sini, setidaknya hingga aku tiba di panti asuhan sebelum matahari terbenam)


Adis pun mengambil napas dan mengeluarkannya berulang kali. Ia berusaha menenangkan serta menguat dirinya setelah melihat pemandangan tadi yang hampir saja membuatnya muntah di tempat.


Setelah itu, ia kembali bangkit, dan berjalan tertatih-tatih menuju ke lantai paling bawah. Saat ini dirinya berada di lantai tiga dari lima lantai.


Beberapa saat kemudian Adis pun tiba di lantai paling bawah. Napasnya terengah-engah, penglihatannya yang mengabur—mata kirinya tertutupi darah segar, dan kepalanya yang pusing. Dengan semua itu ia berhasil tiba di lantai satu, tapi begitu Adis ingin mengambil jalan kiri yang menghubungkan lift, dan tempat laporan registrasi laporan.


Pintu gedung fakultasnya telah dijaga oleh sesosok monster besar. Menyerupai katak raksasa bertubuh manusia, makhluk itu berwarna hitam pekat dengan lendir-lendir yang menetes perlahan ke lantai.


Adis pun sontak langsung bersembunyi dan menyiagakan diri. Selagi jantungnya berdetak cepat tak karuan, ia juga berusaha mempertahankan ritme pernapasannya agar tidak terkena serangan panik.


(Makhluk apa tadi? Kenapa makhluk itu menjaga pintu gedung fakultas? I-i-ini tidak beres)


Memang benar saat ini keadaan dunia sedang kacau balau dan ketika semua itu terjadi. Adis hanya dapat bersembunyi dan menanyakan berbagai pertanyaan aneh kepada dirinya sendiri.


Ia takut, tapi juga tidak. Panik, mungkin? Lebih tepatnya sangat waspada. Ia sedang mewaspadai makhluk besar hitam jelek dan tak memiliki wajah itu dengan perasaan waswas.


Saat ini ia tidak memiliki senjata apa pun di dalam kepemilikannya.


Matanya secara refleks melirik tas selempang yang berada di sekitar pinggul kirinya.


"Tidak, tidak, tidak. Apa yang kupikirkan? Sejenak aku berpikir akan melemparkan tas ini ke arah makhluk itu. Aku tidak bisa melakukannya ...."


Namun, otaknya seperti mendapatkan ide tiba-tiba, dan mengingat papan hologram yang sebelumnya muncul tiba-tiba.


Ia berpikir untuk memunculkannya kembali, tapi sayangnya Adis tidak tahu bagaimana caranya.


Hal pertama yang muncul dan keluar dari benaknya adalah ingatan tentang sebuah gim. Di mana seorang pemain hanya perlu menekan tombol start untuk menghentikan sejenak gim dan melihat statusnya melalui panel status.


Adis berusaha membayangkannya, tapi panel itu tidak muncul-muncul. Hingga gedung kembali berguncang hebat dan menggulingkan dirinya tepat ke hadapan mulut besar sang monster.


Pada saat itulah panel tersebut muncul dan menampilkan sebuah pengumuman berupa ... Side Quest.