
Keabnormalan tercipta akibat ketidakseimbangan antara cahaya dan kegelapan. Dua energi yang bertolak belakang itu melambangkan keagungan serta kekuasaan para penguasa.
Mereka yang berpihak pada cahaya lebih berat ke arah kebajikan dan mereka yang berpihak pada kegelapan akan lebih berat ke arah kerusakan. Meski begitu, dua hal tersebut merupakan sifat alami semua makhluk bernyawa.
Tanpa adanya tujuan dan juga sifat, mereka sama seperti mayat tak bertuan. Bergerak tanpa arah, berpaling dari cahaya, dan terjerumus ke dalam ilusi untuk selamanya.
Cahaya dan kegelapan. Mereka bersatu padu membentuk sebuah pohon raksasa yang ranting-rantingnya dapat dilihat dari seluruh penjuru Astal. Memberi keajaiban dan kutukan sekaligus tempat berteduh para pengelana tersesat.
Pohon itu disebut juga sebagai Avesta—pilar penyangga kebatilan dan kebenaran.
Pohon dengan batang cokelat hitam yang memiliki urat nadi berwarna kuning. Dedaunannya selalu berguguran dan tidak ada yang tahu apa arti dari gugurnya daun-daun tersebut.
Para peneliti, penggali kebenaran, dan juga pengamat hanya dapat menyimpulkan satu hal ... bahwa setiap daun Avesta yang gugur merupakan pertanda jiwa yang tersesat. Banyak juga yang beranggapan bahwa pohon tersebut adalah lambang keabadian, tapi tidak sedikit dari mereka yang setuju dengan pendapat pertama.
Avesta adalah manifestasi Astal. Penyangga dunia, sumber ilmu pengetahuan, pustaka sejarah kejayaan masa lampau, dan saksi hidup dari pertumpahan darah sejarah kelam yang terkubur.
Penguasa atau mereka yang telah mendapatkan mahkota kebajikan dari Avesta adalah buah matang yang telah jatuh. Berasal dari satu Ibu yang sama, meski begitu, mereka sama sekali tidak menerapkan prinsip sesungguhnya dari kehadiran Avesta.
Terdiri dari berbagai jenis dan bentuk, para penguasa pun lahir dengan keagungannya masing-masing. Ada, tapi tak berbentuk. Nyata, tapi bagai ilusi. Berbisik bagai ular berbisa dan mengamati bak langit di malam hari.
Berbagai sifat dan kekuatan. Menjelma menjadi perwakilan tujuh dosa besar dan tujuh kebajikan mulia. Namun, di antara itu semua lahirlah sang penentu. Sosoknya selalu digambarkan sebagai anak periang yang bebas.
Ia adalah The Child. Entitas astral yang menjadi penengah sekaligus timbangan nyata bagi para penguasa. Pembawa pesan kebaikan dan keburukan. Berdiri sendiri tanpa memihak siapa pun dan tak mengenal ampun bagi mereka yang melanggar perjanjian.
Namun, meskipun The Child memiliki kekuatan yang absolut. Para penguasa tidak gentar ketika berhadapan langsung dengannya. Karena nyatanya ia dan juga mereka memiliki derajat yang sama dengan posisi mahkota yang tak berbeda jauh.
Setelah itu, berkah pun lahir. Diturunkan langsung dari tangan-tangan gatal para penguasa yang ingin melihat jatuh-bangkitnya sebuah era.
Para pengelana tersesat meyakini bahwa kemunculan mereka berhubungan dengan kehadiran makhluk kematian. Terlahir dari darah busuk, bangkit membawa penyakit, dan bersemayam dalam raga tak bernyawa demi memuaskan rasa dahaga yang tak kunjung puas.
Di sinilah setiap berkah menampilkan kekuatannya. Dengan ciri khas yang berbeda, penerapan serta cara penggunaannya pun memiliki syarat tertentu. Dan hanya dengan memenuhi syarat tertentulah berkah dapat digunakan untuk membasmi para makhluk kematian.
Terdiri dari 14 penguasa dan satu penengah. Berbeda dengan para penguasa, The Child memiliki hak tak terbantahkan dalam memberikan berkahnya kepada orang yang disukai olehnya.
Para penguasa tidak bisa menolak, membantah, menyanggah, atau menyela keputusan The Child. Karena setiap kejanggalan yang mereka berikan akan berakibat fatal, layaknya sebuah bumerang nyata yang langsung menghantam wajah tanpa pamrih.
Berkah pun sama. Apabila pemegang berkah tidak memenuhi syarat yang telah ditentukan, maka pemegang berkah tersebut akan menerima konsekuensinya. Setiap konsekuensi memiliki tingkat bahaya yang berbeda-beda dan itu semua tergantung pada perjanjian yang mereka ambil.
Berkah ... dapat memberi keamanan mutlak dan bahaya tak menentu. Inilah sebuah pedang dengan dua mata bilah yang sama tajamnya. Tak mengenal siapa pun, tapi penuh kejutan.
“Hei. Kenapa matamu terlalu fokus dengan buku itu, apa kau tidak merasa lapar?”
Randolf pun tiba-tiba saja muncul di belakang Adis. Pemuda yang sedang fokus membaca itu pun tersentak kaget dan menjatuhkan bukunya.
“Jangan mengagetkanku seperti itu”
“Habisnya terlalu fokus dengan sesuatu terkadang membuat kita tidak peka terhadap sekitar. Aku hanya menyadarkanmu karena ini sudah lebih dari tiga jam dan kau masih berkutat pada buku pinjaman dari Kraun”
“Memang benar, tapi karena kamulah yang menyaranku datang ke tempat itu, aku tidak punya pilihan lain, bukan?”
Randolf pun menghela napasnya lalu ikut duduk di samping Adis.
“Aku tahu, tapi sebaiknya juga perhatikan sekitarmu. Ini bukan lagi dunia tempat asalmu. Blightmire mungkin terlihat damai saat ini, tapi kita tidak pernah tahu kejutan seperti apa yang akan tempat ini berikan,” tutur Randolf sembari melempar ranting ke api unggun.
Adis pun hanya dapat menghela napas lalu menutup buku pinjaman dari Kraun.
【Pengetahuanmu tentang Dunia Astal telah bertambah. Mendapatkan kepingan informasi mengenai Dunia Astal】
【Karena keingintahuanmu sangat banyak, orang-orang di sekitarmu mulai merasakan kehadiranmu. Afeksi terhadap semua orang di Blightmire bertambah “Sedikit”】
Lagi-lagi notifikasi itu muncul di depan mata Adis. Namun, saat ini ia lebih penasaran dengan berkah ketimbang informasi mengenai Dunia Astal meski pada dasarnya informasi terebut sama pentingnya dengan berkah.
“Omong-omong dengan rumah. Kenapa hanya ada tiga rumah di tempat ini?”
Randolf pun melihat ke kejauhan sana sebelum akhirnya menengok ke arah Adis.
“Apa kau yakin ingin mengetahuinya?”
“Tentu. Kenapa tidak?”
“Sepertinya rasa hausmu akan pengetahuan semakin meningkat, huh?”
“Entah. Hanya saja aku ingin memahami semua ini lebih cepat. Setidaknya hal itu bisa membuat hatiku sedikit tenang”
“Tenang bukan kata yang tepat, tapi lega. Jadi kau masih ingin mengetahuinya?”
“Uhmm ....”
Randolf menutup mulutnya lalu menunduk. Selagi matanya terpaku pada api unggun, tangan kanannya menyodok beberapa batang kayu ke dalam agar kobarannya semakin tinggi.
“Blightmire sendiri merupakan tempat orang mati. Meski banyak yang mengatakan sebagai tempat rumah sementara para pengelana tersesat, tapi pada kenyataannya tempat ini dikutuk sehingga matahari tidak akan pernah memberi kehangatan sinarnya”
“Terkutuk? Tadi katamu ini Kota Senja, ‘kan?”
“Jika penafsiranmu adalah tempat terbenamnya matahari, maka cara pandangmu itu salah,” jawab si lelaki eksentrik itu sembari mengarahkan kepalanya ke atas. “Lihatlah dan kau pasti akan menyadarinya”
“Apa yang kamu katakan? Paling-paling—e-eh?”
Memang benar Bligtmire adalah Kota Senja, tapi sumber cahaya yang menerangi langit oranye di atas bukanlah berasal dari matahari melainkan dari bintang-bintang yang berkilauan. Tidak ada matahari di sana dan tidak ada tanda-tanda akan keberadaan yang mengatakan bahwa matahari pernah singgah di atas tempat ini.
Semua pucat, kelam, dan penuh aura suram. Memang benar pandangan pertama dapat mengecoh, tapi jika pada pandangan kedua ilusi itu masih terlihat indah di mata, maka orang itu pasti tidak normal, itulah apa yang Randolf pikirkan.
“Sumber utama cahaya di langit adalah bintang dan ketika bintang-bintang itu redup. Kau pasti tidak ingin berada di luar dengan mengandalkan gua di sana, tugu di sana, atau tempat berlindung lainnya. Namun, yang kami andalkan adalah sebuah tenda dan api unggun agar tetap terbangun sembari menanti hari esok datang.”
Adis pun termenung beberapa saat ketika mendengar hal itu. “J-jadi maksudmu tidak ada yang aman di tempat ini?”
Kedua sisi mulut Randolf menyungging kecut. “Anggaplah seperti itu, tapi dalam artian yang berbeda.”
Setelah itu ia pun meletakan daging ayam ke atas api unggun menggunakan bantuan stik batang yang ditusuk memiring.
“Semua misteri itu masih belum terpecahkan. Hanya ada rumor tak berarah dan kabar aneh yang terus kami—para pengelana dapatkan. Namun, dari semua tempat di Astal ini, setidaknya hanya Blightmire lah yang tidak memakan kami hidup-hidup”
(Selama ini mereka berjuang hanya untuk bertahan hidup? Padahal yang kulihat mereka saling tertawa satu sama lain dan bernyanyi seperti tidak memiliki beban)
“Mungkin mereka terlihat gembira karena hanya itulah hiburan yang bisa mereka dapatkan. Dengan bernyanyi dapat melepas rindu, dengan bercerita mereka saling terikat, dengan berkumpul mereka seperti keluarga. Semua pemandangan yang kau lihat saat ini tidak lebih dari penyerahan diri”
“Dengan kata lain mereka sudah menyerah untuk bertarung dan memilih tinggal di tempat terkutuk ini,” tandas Randolf dengan nada dingin.
“L-lalu bagaimana denganmu?”
Tawa kecil keluar dari mulut pria eksentrik itu. Sembari mengangkat kedua bahunya seperti berkata “entahlah”, ia langsung menambahkan rempah-rempah ke atas ayam bakarnya.
Adis tidak mengira bahwa tempat ini adalah sebuah pemakaman hidup. Ia juga tidak habis pikir dengan semua perkataan Randolf yang keluar begitu tenangnya. Apalagi dengan semua kegilaan yang terjadi akibat rintik salju hitam.
Kini selain mencari cara untuk bertahan hidup, Adis harus menghadapi teka-teki kelam Dunia Astal. Namun, ia sama sekali tidak memiliki waktu untuk melakukannya. Karena saat ini keluarganya sedang menunggu kepulangannya di Bumi.
Berkah adalah harapannya dan untuk mendapatkan memahami fenomena astral tersebut ia harus belajar dari buku yang Kraun pinjamkan.
Setidaknya itulah yang ia pikirkan sebelum akhirnya ia menyadari suatu kejanggalan.
“Lalu bagaimana kalian sebelumnya berjuang hingga sampai ke tempat ini?” tanya Adis tiba-tiba.
Randolf pun cukup terkejut dengan pertanyaan Adis. Pasalnya ia tidak mengira bahwa seorang pemuda yang masih memiliki secercah cahaya harapan di matanya mempertanyakan sesuatu yang lumrah seperti itu.
“Tentu saja kami berpindah-pindah tempat dan mengalahkan monster di luar sana”
“Mengalahkan? Bukankah sebelumnya kamu tidak bisa mengalahkan The Tarnished People di duniaku?”
“Ahahahaha. Kau mengenaiku secepat itu, eh? Anak muda”
“Kenapa kamu malah tertawa?”
Setelah itu, Randolf mengeluarkan sebuah kristal berbentuk prisma segitiga kuning pucat dari dalam ranselnya.
“Karena ini”
“Kristal?”
“Luksimusht atau disingkat dengan Luks. Kristal ini seperti selter perlindungan ajaib yang bisa pasang di mana saja. Saat itu aku tidak memiliki energi yang cukup dan tidak bisa menyiapkan Luks tepat waktu”
“Apa itu sebuah alasan?”
“Alasan? Mungkin? Tapi jika kau mengetahui manfaat dari Luks ini kau bisa melindungi suatu tempat dari serangan monster-monster. Sebagai contoh misalnya rumah itu. Dengan menancapkan Luks ke tanah, maka rumah milik Kraun akan dilindungi oleh berkah Avesta dan menjadi tempat singgah dari Diapthora, Sang Pengantar Jiwa”
“Apalagi itu?”
Melihat reaksi Adis yang terkejut, Randolf hanya bisa menahan tawa kecilnya. Sebagai pengelana tersesat sekaligus seorang Cartographer. Ia tidak memiliki waktu untuk bercengkerama seperti saat ini.
Pekerjaannya mengharuskan ia untuk pergi ke tempat-tempat jauh agar ia bisa melihat keadaan suatu daerah lalu memetakannya seakurat mungkin.
(Sudah lama sekali aku bertemu dengan orang seperti pemuda ini. Jika saja ada lebih banyak orang seperti Adis, mungkin Astal akan menjadi dunia yang sedikit lebih cerah)
“Apa kau ingin mencobanya. Aku bisa saja memberikanmu secara gratis, tapi sayangnya benda ini sama dengan nyawa kedua bagiku”
“Lalu aku harus apa? Membayarmu dengan sesuatu?”
“Hahahaha. Apa kau sanggup membayarku, anak muda?” Randolf pun mengangkat alisnya sebelah.
“Kalau aku sanggup bagaimana? Apa kamu masih bisa tertawa seperti itu?”
“Hehhh. Ternyata kau memiliki sedikit keberanian, eh?”
(Benar saja. Berbincang-bincang dengan anak muda ini membuat hatiku sedikit hangat. Apa jangan-jangan itu semua karena berkah dari The Child?)
“Tenanglah. Aku akan mendemonstrasikannya, jadi kau cukup perhatikan saja dari situ. Oh! Dan jangan lupa dengan ayam bakarku.”
Adis pun mengangguk lalu kedua matanya mengikuti Randolf, tetapi sesekali ia juga mengintip kondisi ayam bakar miliki pria eksentrik tersebut.
Di sisi lain Randolf telah berdiri sembari menggenggam Luks di tangan kanannya. Mulutnya bergerak cepat melafalkan sesuatu yang tidak Adis mengerti. Setelah beberapa saat, Luks itu pecah, dan jatuh ke tanah.
Tiba-tiba saja layer cahaya bermunculan di sekitar mereka layaknya aurora di benua utara. Berwarna kuning hangat dan memercikkan butiran partikel bola cahaya. Tempat mereka seperti menjadi sebuah tempat isolasi yang tak bisa dimasuki oleh siapa pun.
“Sekarang tidak ada yang bisa masuk ke tempat ini. Jika ada yang ingin memasuki tempat ini, maka mereka perlu mendapatkan izin dariku.”
Tidak lama kemudian dari sebelah Randolf muncul sebuah retakan. Asap hitam menyerbak perlahan dan kunang-kunang dengan cahaya kerlap-kerlip pada ekor mereka mulai menampilkan sesosok entitas berjubah serta bertudung hitam.
Tingginya bahkan hampir melebihi tinggi Randolf. Kedua tangannya putih pucat dan tengah bersimpuh di atas perut. Ketika sosok itu muncul, Randolf pun menyadari bahwa dirinya tengah dipanggil oleh sosok misterius itu.
“Oh. Ehmmm ... ya, aku mengerti”
“Apa yang dibisikan olehnya?”
“Singkatnya, Sang Pengantar Jiwa ingin memberikanmu ini untukmu.”
Randolf pun menarik tangan kanan Adis lalu meletakan sebuah kristal di atasnya.
【Diapthora, the Messenger of the Soul】Sesosok entitas tak berwujud, sosoknya hanya akan terlihat melalui manifestasi seseorang, dan memproyeksikan diri ke dalam bentuk wujud fisik ketika Aether bersama Luks saling terikat. Terlahir dari air kebajikan Avesta, keberadaannya merupakan bentuk ketidakpastian Avesta terhadap seluruh kehidupan. Bertugas mengantarkan jiwa kepada Sang Ibu dan penuntun bagi para pengelana tersesat yang jatuh ke dalam kegelapan.
【Kau berhasil menarik perhatian Diapthora, Sang Pengantar Jiwa. Ketertarikannya kepadamu bertambah “Sedikit”】
【Keberadaanmu kini menjadi perhatian khusus bagi para Pengantar Jiwa lainnya】
【Berkat berkahmu sebagai Friend of the Starless Child, Diapthora, Sang Pengantar Jiwa mulai penasaran denganmu】
【Berkat berkahmu sebagai Friend of the Starless Child, informasi seputar entitas para Penguasa mulai sedikit terbuka】
【Berkat berkahmu sebagai Friend of the Starless Child, peluangmu mendapatkan informasi mengenai berkah dan kutukan bertambah “Sedikit”】
Pikiran Adis langsung dipenuhi oleh berbagai informasi berat. Ia pun langsung meremas kepalanya sendiri dan terjatuh seperti anak kecil yang sedang meronta-ronta.
Di sisi lain Randolf hanya diam dan tak bergerak. Kini tepat di hadapannya Adis sedang menggeliat sembari memegangi kepalanya sendiri, tapi Randolf sama sekali tidak membantunya, seringai tipis merekah di wajahnya, dan ia tidak akan pernah lupa tentang perasaan itu.
Dahulu sebelum tugasnya sebagai Cartograhper di mulai. Randolf tidak sengaja memecahkan sebuah artefak yang ada di dalam reruntuhan jauh di benua seberang. Berkat kecerobohannya itu, ia secara tidak sengaja mendapat perhatian dari entitas tak terlihat.
Pada saat itulah ia merasakan rasa denyut tak tertahankan di kepalanya, persis seperti apa yang dirasakan oleh Adis saat ini.
【Diapthora, Sang Pengantar Jiwa sedang tersenyum ke arahmu】