
Langit dikala itu mendung. Dengan butiran salju yang turun menyelimuti setengah bagian dunia, gelak tawanya tak kunjung henti.
Sosoknya yang kecil itu duduk di atas menara tertinggi di Kota Tokyo. Kaki terayun beberapa kali. Pipinya yang sembab memerah, ujung hidung pun tak mau kalah, dan memperlihatkan warna kemerahan muda yang lembut.
Tidak ada yang menyadari keberadaannya meski ia duduk di atas menara tertinggi itu. Semua orang beraktivitas dengan normal, tanpa ada kejanggalan, masalah ataupun bencana yang mengguncang seisi kota.
Anehnya lagi anak kecil itu tidak terlihat kedinginan dan malah terlihat senang sambil menyenandungkan lantunan lagu kecil. Meski napasnya mengeluarkan uap semu yang dingin, ia tetap tersenyum manis.
"Ahh~ jadi inilah kehidupan, ya? Aku sama sekali tidak pernah merasakan hal ini. Kakek tua itu selalu mengurungku dalam kotak 'ajaib'. Aku sendiri bahkan tidak mengerti dan selalu bertanya ... kenapa hanya diriku, begitu? Hehehehe."
Rambut putih pucat pasi acak-acakannya tertiup angin. Sedikit bergerak dan ikut senang menantikan kabar dunia. Selain itu, pakaiannya yang dikenakan olehnya juga mungkin akan memunculkan tanda tanya besar.
Bagaimana mungkin seorang anak kecil yang hanya mengenakan sehelai kain yang diselendangkan dapat bertahan dalam cuaca dingin seperti itu? Ia mungkin tidak memakai celana, tapi kain itu sudah cukup menutupi separuh tubuh hingga bagian bawahnya sekaligus.
Ia pun bangkit dan berdiri menapaki dinginnya baja bersalju dengan kaki telanjang.
"Aku baru ingat, bukankah kota ini memiliki banyak hal yang menarik?"
Dengan kepala yang memiring, ia pun memikirkan berbagai macam hal menarik. Mengumpulkannya di dalam benaknya yang kecil, setelah itu ia melompat pelan sambil mengelus dagunya beberapa kali.
"Umm! Baiklah, kalau begitu aku akan pergi sebentar. Mungkin tidak ada salahnya bagi pria kecil seperti diriku ikut menikmati kekayaan budaya ini, bukan? Tidak seperti 'Kakek tua' itu yang selalu melarangku untuk berkeliaran. Apa katanya? Berbahaya? Hahahaha ... bagaimana mungkin tubuh ringkih, ramping, dan mungil seperti ini dapat menimbulkan bencana?" tanyanya sendiri lalu melirik tubuh kecilnya.
Ia pun berdeham. Ketika mulutnya perlahan-lahan menyungging, di sisi lain kedua matanya memancarkan rasa penasaran tinggi, dan juga penuh ketertarikan.
"Kalau begitu aku tak akan menunggu lagi. Ayo kita terjun!—e-ehh! T-tunggu sebentar. Kalau ada yang menanyakan namaku bagaimana?"
Setelah hampir sempat ingin menerjunkan diri dari atas menara. Sang pria kecil tiba-tiba saja menghentikan langkahnya dan masuk ke dalam mode berpikir.
"Sebenarnya aku itu benda apa makhluk, sih?" tanyanya sendiri sembari menggaruk kepala. "Oh! Aku baru ingat, kata 'Ayah' kalau aku ini sebenarnya adalah benda, tapi diberi jiwa, dan akhirnya menjadi makhluk hidup, hmm. Benar, tidak salah lagi. Sepertinya aku harus menggunakan nama itu."
Ia pun tersenyum lebar ke arah langit kelabu.
"Pandora ... namaku bagus, 'kan?"
Ia—Pandora hanya tersenyum dan berdiri mematung beberapa saat. Jauh di dalam 'hati' miliknya, ia tahu kalau itu hanya sebuah perumpamaan yang tidak terlalu penting. Namun, karena saat ini ia berkesempatan untuk menikmati kehidupan, tubuh kecil penuh tenaga miliknya tak sabar, dan ingin segera menikmati dunia yang kini sedang dilihat olehnya.
"Bagus! Dengan ini semuanya selesai, hehehehe. Saatnya pergi, yahuuu~"
Kaki kecilnya melangkah ke depan dan langsung menerjunkan dirinya ke bawah.
Tanpa rasa takut, gemetar, atau bimbang. Pandora membawa tubuhnya terjun bebas dan merasakan embusan angin dingin di akhir tahun.
Orang-orang berkata bahwa bulan terakhir di penghujung tahun adalah waktu yang langka. Banyak dari mereka yang menghabiskan waktunya bersama dengan orang terkasih atau hanya sekedar menikmati meriahnya jalanan kota yang dipenuhi oleh berbagai macam pemandangan.
Mereka yang berjalan saling bergandengan tangan, mereka yang menjajakan makanan dan memberikan sampel gratis, atau hingga mereka yang berdiri memakai kostum lucu sembari memegang papan pengumuman bertuliskan "Selamat Bersenang-senang".
Tidak ada yang lebih meriah dari pada melihat kerumunan orang-orang yang menantikan sesuatu. Seperti namanya ... akhir tahun dan akan segera berganti menjadi awal tahun. Hari berlalu, bulan berganti, dan tahun berubah.
Seperti menggambarkan setetes embun pagi yang masuk ke dalam kubangan air. Penuh kehangatan yang segar, cepat, dan juga sangat singkat. Begitulah setiap momen berubah dan memperlihatkan pemandangan yang tak biasa.
Di sisi lain, Pandora yang telah berhasil mendaratkan dirinya di tengah-tengah kerumunan banyak orang sedang berpose layaknya seorang atlet juara pertama. Kedua tangan diangkat ke atas dan ekspresi bahagia terpancar secara jelas dari wajah bundar miliknya.
"Hehehehe. Ini menyenangkan, tidak biasanya aku bisa melakukan hal-hal seperti ini."
Setelah itu ia berjalan melewati orang-orang yang berlalu-lalang. Kedua matanya memancarkan sinar rasa penasaran, Sang Pandora kecil pun memperhatikan mereka diam-diam. Walaupun pada kenyataannya tidak ada seorang pun yang dapat menyadari hawa keberadaannya. Meski begitu ia sama sekali tidak terganggu dengan fakta tersebut.
Pria kecil yang polos, sosok kecilnya itu berkeliaran seperti anak-anak pada biasanya. Namun, bagi dirinya yang sadar akan hal itu, sang Pandora kecil tampak tidak peduli. Ia yang dikatakan sebagai sosok pembawa kehancuran dan membawa segala macam petaka tengah berkeliaran di antara kumpulan orang.
Ia penasaran dengan benda yang mereka gunakan.
"Benda apa itu? Kalau yang ditangan itu, jam, 'kan? Kenapa bentuknya kecil? Biasanya aku selalu melihat bentuknya yang besar dan selalu menyesuaikan dengan arah matahari. Hmm, ini menarik!"
Seperti percikan kecil yang menyengat, Pandora menyadari hal itu, dan langsung berbalik.
Kini keduanya saling memandangi satu sama lain. Mata bertemu mata dan raga bertemu raga. Ketika anak kecil itu mengambil satu langkah, Pandora pun melakukan hal yang sama.
Menurut Pandora, anak kecil di depannya aneh. Orang-orang tidak bisa melihat wujudnya, tapi anak itu bisa melihatnya. Sontak hal itu memunculkan pertanyaan besar di dalam benaknya.
Perlahan-lahan jarak mereka semakin dekat, dekat, dekat, dan akhirnya hanya menyisakan langkah terakhir. Dengan jarak sedekat itu, Pandora pun memiringkan kepalanya.
"Siapa kau? Kenapa kau bisa melihatku?"
"Melihatmu? Hmm ... apa itu aneh?"
"Umm. Begitulah, aku rasa memang sedikit aneh."
Tiba-tiba saja seluruh tubuh Pandora merinding. Ia tidak mengerti, tapi dirinya tahu betul jika perasaannya saat ini sangat berbeda dengan semua perasaan yang pernah ia rasakan.
"H-hei!"
"Y-ya?"
"Maukah kau berteman diriku?" tanya Pandora dengan antusias.
"Teman? Oh, umm, tunggu sebentar ...."
Untuk beberapa saat anak kecil itu berpikir dan Pandora tak sabar mendengar jawaban darinya. Bahkan saat ini "Jantungnya" berdebar-debar tak karuan melebihi rasa penasarannya akan semua benda dan teknologi yang dilihatnya.
"Baiklah. Ayo kita berteman," jawabnya dengan senyum lebar.
"Benarkah? Akhirnya! Akhirnya aku punya teman juga!"
Pandora pun langsung menarik kedua tangan anak kecil itu kemudian mengangkatnya ke atas lalu ke bawah. Senyum penuh kelegaan, ekspektasi, dan kebahagiaan merekah di wajah Pandora.
Ia tak menyangka akan mendapatkan teman pertamanya di tempat seperti ini, tapi semua kebahagiaan itu tiba-tiba saja memudar begitu sang anak kecil terheran-heran.
"Salju ... hitam?"
"H-hitam?!"
Sontak Pandora pun terkejut dan langsung pergi dari tempat itu sambil menggandeng teman pertamanya.
"A-ada apa? Kenapa kita berlari?" tanya sang anak kecil.
Namun, mendengar pertanyaan polos dari temannya, ia pun berhenti lalu menghadap ke arahnya dengan tatapan tegar.
"Berjanjilah padaku. Berjanjilah ... apa pun yang terjadi kita akan tetap berteman," ucapnya sungguh-sungguh.
"A-aku tidak mengerti, t-tapi baiklah. Aku berjanji—"
Begitu Pandora ingin memeluknya, tubuh kecilnya tiba-tiba saja langsung di tarik oleh sesuatu dari belakang.
"G-guhh ... sebelum itu, bisakah aku mengetahui namamu? Ahhhh!! ... "
"H-hei! Apa yang kau lakukan kepada temanku?!—Adistira! Namaku Adistira ... jangan lupakan hal itu!" jawab Adistira sembari berlari mengejar Pandora yang dibawa oleh sesosok entitas hitam.
Sayangnya sosok yang menarik Pandora itu tidak menjawab dan terus menarik Pandora menjauh darinya. Membawanya jauh ke langit dan tidak lama kemudian Pandora bersama dengan sosok itu pun lenyap ditelan oleh awan hitam.
Tepat pada tanggal 28 Desember 2008 adalah sebuah hari yang tidak akan pernah dilupakan oleh Adistira. Karena sejak saat itulah seluruh dunia berubah setelah hujan salju hitam turun menerpa setiap belahan bumi—tak terkecuali dengan daerah tropis lainnya.