
“Apa sekarang kau telah sudah terbiasa dengan mainan baru itu, pria kecil?”
“Ini sedikit rumit. Sebelumnya aku belum pernah menggunakan senapan berburu, jadi rasanya sedikit menyenangkan”
“Hahaha. Itu yang dinamakan semangat masa muda, tapi sebaiknya kau membiasakan diri dengan senapan, dan juga cara menggunakannya.”
Saat ini Randolf dan Adis sedang berjalan menuju rumah terbengkalai di selatan Blightmire. Tempat di mana Adis menerima permintaan Kraun untuk pertama kalinya.
Mengikuti saran Randolf untuk membiasakan dengan senapan baru, pria eksentrik itu menawarkan diri sebagai pendamping dalam latihan Adis. Saat ini mereka mencoba memburu The Rots yang ada di rumah itu dengan senjata baru Adis.
Sebagai tambahan, sebelum latihan ini dimulai. Anak laki-laki dengan senapan di punggungnya itu sudah mempelajari Buku Keahlian Khusus Senapan tingkat pemula selama dua hari dan hari ini ... tepatnya pada hari ketiga, Adis memutuskan untuk mencobanya setelah melewati kegagalan berulang kali.
Ia memang tidak menggunakan peluru dalam sesi latihan itu, tapi latihan yang lakukan adalah mempelajari mekanisme, apa yang tidak dan boleh dilakukan serta bagaimana cara paling efektif dalam memanfaatkan senapan tanpa peluru.
Semua itu ilmu itu ia pelajari dari Buku Keahlian dan kecakapannya juga meningkat hingga 54% dari total sempurna.
“Tempat itu memang menjadi sarang The Rots dan ketika seseorang telah membasmi tikus-tikus busuk itu. Kita setidaknya perlu menunggu selama tiga jam agar mereka bangkit kembali. Dengan memanfaatkan kondisi ini, kau bisa melakukan latihan berulang, dan belajar membiasakan diri melalui pertarungan secara langsung,” tutur Randolf.
“Bukannya kalau sudah dibasmi, makhluk-makhluk itu seharusnya menghilang selamanya, bukan?”
Randolf pun mendecakkan lidahnya beberapa kali.
“Inilah alasan mengapa aku menyebutnya sebagai dunia yang gila. Begitu suatu tempat telah menjadi sarang monster, maka tempat itu akan menjadi kuburan sekaligus tempat kelahiran mereka kembali”
“S-selamanya?!”
“Benar. Karena sebelumnya kau sudah berpengalaman dengan mereka, aku jadi tidak perlu khawatir”
“B-berpengalaman? Yang benar saja. Itu adalah pengalaman pertamaku, kenapa kau menyebutnya sebagai berpengalaman?”
“Sebab ... kau berhasil selamat. Meski kau seorang pemula, faktor keberuntungan bukanlah faktor utama dalam keberhasilanmu. Karena aku sudah sering melihat keberuntungan orang lain lenyap dan pada akhirnya mereka mati sambil mempercayai itu”
“Jadi maksudmu, itu semua berkat kemampuanku sendiri?”
“Begitulah kurang lebih, tapi setidaknya kau juga mendapatkan bantuan tidak terdua dari The Child, bukan?” Randolf memalingkan wajahnya. “Karena itulah kau bisa melewati bahkan membasmi para pengerat menjijikkan itu dalam satu kali percobaan,” lanjutnya dengan seringai kecil.
“E-ermm ... yah. Mau bagaimana lagi? Aku juga tidak bisa mengelak dan jika aku menyangkalnya, mana mungkin aku masih bisa menginjakkan kaki di sini”
“Benar. Jadi banggalah pada dirimu sendiri. Bertahan hidup di Astal bukanlah perkara mudah, karena itu percayalah pada kemampuan serta bakat dan talenta dirimu sendiri, pria kecil,” pungkas Randolf.
“Bakat ... talenta, huh?”
Adis hanya memperhatikan kedua telapak tangannya sebelum ia meremasnya kuat-kuat.
“Kita sudahi dulu percakapan motivasi, sekarang saat kau menunjukkan hasil latihanmu selama dua hari ini.”
Akhirnya mereka tiba di rumah terbengkalai. Masih sama seperti sebelumnya.
Desain eksteriornya kumuh, lusuh, dan kondisi kayunya juga tidak baik. Lumut terlihat di mana-mana dan sarang laba-laba sudah terlihat pada bagian kiri dan ujung depan pintu. Kaca-kaca pada jendela telah pecah, selain itu suara katrol rusak yang tertiup angin terdengar jelas dari belakang rumah itu.
Adis merasa deja vu dengan situasi yang saat ini ia rasakan. Meskipun ia telah merasakannya kemarin, tetapi perasaan yang sama langsung dapat dirasakan olehnya begitu melihat kondisi rumah terbengkalai.
Tidak ada yang berubah, bahkan mungkin terlihat sama seperti saat ia pertama kali datang ke tempat ini.
“Tunggu sebentar. Aku ingin menyiapkan senapanku dulu”
“Mulai merasa menjadi seorang pengelana tersesat, eh?”
“Begitulah ....”
Adis langsung mengambil senapan dari belakang punggungnya. Huntig Riffle yang ia beli dari Diapthora memiliki mekanisme yang cukup unik. Senapan ini tidak membutuhkan mesiu sebagai bahan pelengkapnya, tetapi sebagai pengganti dari bahan utama tersebut, Sang Pengantar Jiwa telah menanamkan sistem konversi yang sesuai dengan para The Odd One.
Untuk menggunakan senapan tersebut diperlukan Mana atau menggantinya dengan stamina. Itu artinya selagi orang tersebut masih memiliki Mana di dalam tubuhnya, maka ia bisa menggunakan senapan itu berapa kali pun. Dan jika seandainya Mana telah habis, maka akan langsung digantikan oleh stamina.
Penggunaan Mana juga mengikuti aturan yang telah berlaku sesuai dengan aturan tingkatan senjata. Untuk senapan yang telah dibeli Adis menggunakan 1% dari total Mana di dalam tubuh sebagai bahan peledaknya. Begitu juga dengan stamina.
Semakin tinggi tingkatan senjata, maka Mana yang diperlukan juga akan semakin meningkat karena tingkat kekuatannya terletak dari keseimbangan antara seberapa besar manfaat yang dapat dikeluarkan oleh benda itu.
Adis telah membacanya dari buku keahlian tingkap pemula dan ia sangat mengerti akan hal itu. Untuk memanfaatkan senjata dengan tingkat pertukaran yang setara, ia tidak boleh menyia-nyiakan satu pun tembakan.
Inilah mengapa kecakapan dan keefektifan dalam menangani senjata diperlukan. Hal ini hanya berlaku pada semua jenis senjata bertipe senapan dan Orb, sedangkan senjata lainnya tidak memiliki sistem mekanisme seperti ini; baik itu pedang, belati, tongkat, tombak, panah, kampak, dan senjata lainnya.
“Sudah siap?”
Adis mengangguk mantap. Menanggapi anggukan itu, Randolf pun tersenyum tipis.
“Berjuanglah. Sekarang mereka adalah milikmu.”
Tiba-tiba saja suara “cicit” bermunculan dari segala sisi rumah terbengkalai, tapi Adis langsung mengarahkan senapannya pada The Rots yang muncul dari bagian luar rumah itu.
Ia pun melepaskan tembakan pertama tanpa ragu-ragu. Dentuman keras dan sekelebat asap kebiruan muncul dari senapan Adis. Bersama dengan sebuah peluru yang melesat cepat ke arah mangsa pertamanya.
Begitu Adis mengedipkan matanya, tikus yang mencuat itu langsung meledak hebat meninggalkan jasad penuh darah, dan tumpukan organ yang berjatuhan.
“Target pertama berhasil dimusnahkan”
“Bagus. Itulah mental yang diperlukan oleh The Odd One, teruslah mengasah kemampuan itu, pria kecil.”
Target kedua muncul dari balkon lantai dua dan Adis langsung mengisi ulang senapannya dengan peluru. Namun, tikus busuk yang keluar dari balkon lantai dua untuk memeriksa keadaan itu berhasil menemukan Adis yang sedang menyiapkan tembakan keduanya.
Alhasil ia pun langsung mengeluarkan suara nyaring yang mana suara tersebut berupa alarm peringatan bagi kawanannya.
“I-ini akan semakin ramai ....”
Target keduanya telah berada dalam jalur tembak dan Adis langsung melepaskan tembakkan kedua. Ketika The Rots itu melompat dari balkon lantai dua dan mendarat, hal pertama yang dijumpai oleh makhluk malang itu adalah sebuah peluru cepat yang masih panas.
【Kau berhasil membasmi The Rots, mendapatkan 10 vial】
【Kau berhasil membasmi The Rots, mendapatkan 10 vial】
Pada awalnya Adis cukup jijik dengan sisa-sisa tubuh The Rots yang meledak hebat menyemburkan semua organ serta darah. Namun, ia perlu membiasakan diri karena semua ini demi keluarganya di Bumi.
Di dalam dunia yang telah menjadi kacau dan semua keanehan yang terjadi. Pemuda itu terpaksa menerimanya mentah-mentah. Kekuatan baru, entitas yang dinamakan Sang Penguasa, mekanisme tidak jelas, dan hal-hal lainnya yang bermunculan satu-persatu di kotanya. Semua itu sama sekali tidak masuk akal, apalagi bagi seorang mahasiswa seperti Adis yang hanya menginginkan kedamaian, dan kebahagiaan bagi keluarganya.
Tentu saja psikisnya terus terkikis dan pikirannya mulai kacau, tapi ia perlu bertahan. Apa pun tantangan dan juga halangannya, ia akan terus maju untuk terus hidup melihat hari esok.
Namun, setelah mangsa ketujuhnya tumbang, kompleksitas wajahnya menjadi sangat pucat. Randolf yang menyadari hal itu menyarankan kawan kecilnya untuk beristirahat, tapi Adis menghiraukannya, dan mengakhirinya dengan tembakan ke delapan.
Setelah berhasil menghabisi delapan tikus busuk di rumah terbengkalai itu, Adis pun jatuh bertekuk lutut sambil memegangi senapannya sebagai penyangga tubuh.
“H-hei ... jangan terlalu memaksakan diri”
“I-ini tidak seberapa dengan penantian keluargaku. A-a-aku tidak ingin membuat mereka menunggu lebih lama, karena itu aku harus melakukannya dengan baik”
“Aku mengerti kekhawatiranmu, tapi jika terus memaksakan diri, mungkin mereka akan sedih ketika tahu bahwa kau hanya tinggal nama”
“H-huh? Apa itu sindiran untukku?”
Randolf pun menghela napasnya panjang.
“Jika itu anggapanmu, aku tidak masalah. Namun, untuk memaksimalkan potensi dari sistem berulang ini ... kau juga perlu memperhatikan kondisi mental dan tubuhmu juga. Dengar ini pria kecil. Dengan menjaga metabolisme tubuh serta memperhatikan tanda-tanda gejala negatif dari dampak atribut kekacauan, kau bisa mendapatkan manfaat yang luar biasa”
“Atribut kekacauan?”
“Ya. Pernah mendengar peribahasa ‘Jika kau melihat jurang, maka jurang itu akan balas melihatmu’?”
“Kurang lebih ... ya?”
“Itulah yang terjadi dengan dirimu sekarang. Karena kau masuk ke dalam sistem dunia yang terbengkalai ini, dunia ini juga akan memberimu sebuah kejutan, dan hal itu adalah atribut kekacauan”
“Intinya hal yang berkaitan dengan mental, ‘kan?”
Randolf mengangguk pelan. Pria eksentrik itu lalu menepuk pundak Adis.
“Kita sudahi dulu sesi latihan kali ini. Untung saja aku ikut pergi menemanimu, seandainya kubiarkan saja sendiri mungkin dirimu sudah menjadi nutrisi para tikus-tikus busuk itu”
“Kenapa jadi pindah topik?” tanya Adis sembari memiringkan kepalanya.
“Untuk hal ini kau perlu pergi menemui Kraun lagi untuk detailnya. Ini bukanlah bidangku, tapi jika kau ingin tahu kasarnya. Singkat kata atribut kekacauan ini seperti parasit, jadi berhati-hatilah ketika kau berhadapan dengan monster-monster yang ada di sini.”
Adis pun meneguk ludahnya sendiri.
【Selamat! Kau telah berhasil menemukan petunjuk mengenai atribut kekacauan. Mendapatkan kepingan kecil informasi baru tentang Dunia Astal】
【Selamat! Berkat kegigihanmu dalam membasmi The Rots, ada kemungkinan mendapatkan kepingan atribut status yang lain】
【Berkat berkahmu sebagai Friend of the Starless Child, pengetahuan atribut baru telah terbuka, sistem dunia bergerak, dan menganugerahimu dengan atribut baru berupa “Resistensi” dan pengubahan sistem “Level” menjadi “Level Jiwa”】
【Berkat berkahmu sebagai Friend of the Starless Child, sistem dunia menilai serta meninjau ulang status atribut kelincahanmu. Berhasil mengubah konstitusi, kini status “Kelincahan” berubah menjadi “Ketangkasan”】
E-ehh ... lagi-lagi berubah? Apa ini gara-gara penjelasan Randolf? Tapi, kenapa mudah sekali untukku mendapatkan hal seperti ini? Apakah berkah dari Pandora sekuat itu? Pikir Adis sembari mengatur napasnya.
Selagi Randolf masih memperhatikan rumah terbengkalai di sana dan memeriksa apakah semua anak prematur The Palgue telah musnah, Adis diam-diam memeriksa statusnya.
【Name: Adistira Wahyu Dharmono】
【Soul Level: 5】
【Status】
Stength: 11
Dexterity: 11
Endurance : 9
Resistance: 4
Intelligence: 7
Wisdom : 9
【Poin Distribusi: 0】
【Title】Friend of the Starless Child—Persahabatanmu dengan The Child adalah berkah terselubung. Berkah yang bisa memberi kenyamanan terhadap segala entitas yang mengakuinya sebagai pembawa pesan perdamaian dan kehancuran.
【Exclusif-Skill】Hand of the Lightless Star—Kemampuan yang dapat membinasakan anak-anak The Plague dan Abbysmal. Hanya dapat digunakan sekali dalam satu minggu, syarat penggunaan ialah pengakuan sejati dari bintang-bintang di langit.
Semua status itu dirangkai dalam sebuah bangun heksagon—segi enam. Di dalam heksagon itu masing-masing status diurutkan dari pojok kiri yang diteruskan ke kanan. Pada bagian tengahnya terdapat enam anak panah yang menunjuk masing-masing atribut.
Semakin tinggi atribut, semakin panjang juga anak panah tersebut membentuk segitiga penunjuk.
“Sekarang jadi terlihat seperti gim RPG beneran, eh?” gumam Adis dengan senyum kecut.