
“Baik, Pak. Akan segera saya laksanakan!”
Ferdinan yang telah melaporkan situasi terkini tentang keadaan kota langsung bergegas keluar ruang rapat setelah dirinya mendapatkan tugas baru dari atasannya.
Mata hitam tajamnya kokoh, tak gentar. Dengan perawakan tubuh yang besar dan penuh energi itu, ia membawa dua anak buahnya menuju kamp evakuasi.
“Bagaimana dengan kondisi para warga?”
“Siap, Pak. Saat ini para warga telah mendapatkan suplai makanan sesuai dengan arahan yang telah kami dapatkan”
“Bagus. Selebihnya?”
“Untuk hal lain seperti pengungsi baru dan barang-barang baru saja datang.”
Ferdinan pun menyentuh dagunya lalu berpikir.
Saat ini kamp evakuasi berada di bagian utara kota, sedangkan kebanyakan penduduk sendiri berada di barat, timur, dan tengah. Peluang bagi mereka yang selamat dari serangan para monster mungkin sedikit, tapi ia tidak bisa meminta lebih dalam hal penanganan penduduk sekitar.
Satu-satunya hal yang bisa ia berikan sebagai pasukan khusus siaga darurat seperti ini adalah membantu para pengungsi yang membutuhkan bantuan. Tidak terkecuali mau seperti apa pun mereka, penduduk tetaplah penduduk. Tidak ada pembeda.
“Berapa jumlah pengungsi baru yang datang?”
“Dua orang. Dua-duanya laki-laki, identitas mereka adalah seorang mahasiswa dan dosen”
“Bagaimana dengan keluarga mereka?”
Bawahan Ferdinan menggeleng pelan.
“Kami tidak bisa menemukan mereka dalam daftar para pengungsi. Mungkin mereka masih bertahan di rumah mereka masing-masing”
“Hmmm. Kita tidak bisa melakukan apa pun selain ini. Bagus, kalian bisa pergi kembali pada tugas masing-masing.”
Kedua bawahannya pun langsung memberi hormat sigap lalu berbalik dan meninggalkan Ferdinan sendirian. Kini di hadapan sang petugas khusus itu terdapat beberapa tenda buatan yang besar, cukup untuk menampung ribuan orang.
Lokasi kamp pengungsian juga terletak di daerah utara kota. Tempat strategis bagi para TNI untuk memantau keadaan. Selain daerahnya yang tinggi karena berada di bagian atas kota, tempat tersebut juga memiliki beberapa pangkalan militer.
Ferdinan melihat ke arah kiri dan kanannya. Hanya sekumpulan orang-orang berwajah pucatlah yang bisa ia lihat.
“Ini adalah tugas. Aku tidak bisa membawa emosiku ke dalam tugas ini, mereka juga memiliki keluarga, dan tidak sedikit dari mereka yang masih anak-anak.”
Pria bertubuh besar itu pun menunduk prihatin lalu kembali mengambil langkah untuk memasuki tenda pengungsi.
▼▼▼
“Menurut Kompas Arcana milikku, inilah tempatnya”
“Ini? Apa kamu yakin, Randolf. Tempat persimpangan distorsi ruang dan waktu ada di kantin kampus?”
Adis pun menggelengkan kepalanya lalu melirik Randolf dengan tatapan tidak percaya.
“Percayalah. Setelah fenomena aneh ini datang, kau harus bisa mempercayai apa yang selama ini tidak kau percayai,” jawabnya dengan ekspresi serius.
“Mungkin kau benar”
“Bagus. Kalau begitu kita masuk.”
Setelah itu, mereka berdua pun masuk ke dalam sebuah retakan yang cukup besar di bagian paling dalam kantin universitas. Retakan-retakan itu berwarna hijau kehitaman dan sesekali berdenyut memantulkan gema samar.
Begitu Adis melangkahkan kakinya ke dalam, tubuhnya pun mulai goyah, tapi Randolf dengan refleks yang cepat langsung menangkap tangannya.
“Atta boi! Hati-hati dengan langkahmu, apalagi celah seperti ini bisa langsung mempengaruhi pikiranmu begitu melangkah masuk ke dalamnya”
“T-terima kasih. Lagi-lagi kamu menyelamatkanku”
“Tidak masalah. Kalau begitu, kita bisa melanjutkannya, bukan?” Randolf mengangkat ujung topinya sedikit seperti memberi isyarat “Tidak masalah, ‘kan?” kurang lebih.
Adis mengangguk pelan. Senyum tipis merekah dimulut Randolf setelah melihat tanggapan kawan barunya itu.
“Baik. Ayo kita masuk.”
Begitu keduanya masuk ke dalam celah tersebut. Kabut yang tebal tiba-tiba saja menyelimuti mereka dan beberapa sorot mata tajam kemerahan dari balik kabut tersebut seperti memandangi keduanya dalam diam.
Beberapa saat kemudian Randolf pun menginjakkan kakinya di atas tanah subur. Adis mengikutinya dari belakang dan betapa kagetnya ia ketika mendapatkan pemandangan baru muncul tiba-tiba saja tepat di depan matanya sendiri.
Langit senja bertabur bintang samar. Tanah subur dengan rumput hijau tipis mengambai terbawa aliran angin. Dinding batu di ujung tempat itu terlihat masif, besar, dan membentuk beberapa pahatan patung kesatria.
Namun, begitu ia berbalik, dan menghadap ujung horizon. Matanya terbelalak tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sebuah laut lepas bak seperti pada dongeng malam hari, deburan ombak, dan beberapa burung camar yang terbang terpampang dengan jelas.
Di bagian kiri dari tempatnya berdiri terdapat sebuah tugu yang tinggi. Pahatan huruf di permukaannya bersinar samar memancarkan aura dengan bintik-bintik berpendar.
Ia juga bisa melihat jajaran tenda khusus dan orang-orang saling berinteraksi di dekat sana. Jauh di belakangnya terdapat tiga rumah yang berbeda dengan gaya khas tersendiri. Meski terbuat dari jenis kayu yang berbeda, tapi hal itu tidak mengaburkan kesan elegan yang muncul dari luarnya.
“Selamat datang di Blightmire wahai kawan pengelanaku. Inilah tempat para pengelana tersesat beristirahat dan merenungkan takdir mereka masing-masing. Tempat ini ada di ujung Benua Lafias dekat dengan Kerajaan Magnark. Tugu di sana adalah monumen khusus yang diperuntukkan bagi para pengelana yang telah gugur. Sebagai tambahan, Blightmire ini juga sering disebut Kota Senja.”
Sayangnya saat ini Adis sedang berada di dalam imajinasinya lagi. Hal pertama yang mendapatkan perhatiannya penuh adalah sebuah keping salju hitam yang mendarat di ujung hidungnya.
“Salju hitam ... “
“Benar. Fenomena ini juga muncul di tempatmu berasal, bukan?”
Adis mengangguk lalu menyentuh kepingan salju yang ada di ujung hidungnya. Namun, sebelum ia berhasil menyentuhnya, kepingan salju itu tiba-tiba saja hancur lebih menjadi partikel bintik-bintik hitam.
“Tidak dingin”
“Itu juga salah satu hal yang ingin aku tanyakan, tapi sepertinya kau juga tidak tahu tentang hal ini, ya?”
“Ya. Aku terlalu takut dan bimbang untuk menyadari hal sekecil ini”
“Wajar saja. Setiap orang yang menghadapi monster-monster itu pasti merasakan hal yang sama seperti dirimu. Sudahlah, daripada terus memikirkan hal itu, mari aku ajak kau menemui kenalan yang sebelumnya pernah aku katakan.”
Setelah itu, Randolf pun berjalan menuju ke arah salah satu rumah. Di belakangnya Adis mengikuti sambil celingak-celinguk seperti anak tersesat.
Namun, tidak ada satu pun orang di sana yang memperhatikan keanehan sifat Adis. Itu semua karena mereka telah terbiasa dengan kondisi Adis, seperti namanya, Blightmire adalah tempat para pengelana tersesat.
Bagi mereka yang baru saja datang ke tempat ini pasti memiliki reaksi yang sama seperti Adis. Dan itu pun pernah mereka lalui ketika pertama kali tiba di ujung Benua Lafias ini.
Beberapa saat kemudian mereka tiba di sebuah rumah yang cukup bobrok. Lantai luarnya berlubang, papan penyangga berdecit, dan pintu depannya yang usang membuat Adis tidak nyaman.
“Jangan takut. Meski begini, tapi orang di dalamnya adalah orang yang mungkin bisa menjawab keraguanmu. Jadi jangan sungkan-sungkan.” Randolf pun mendorong Adis terlebih dahulu ke dalam. “Aku akan menunggu di luar. Semoga beruntung”
“H-h-hei! Randolf!—“
Namun, sebelum Adis ingin kembali keluar, kakinya seperti ditarik oleh sesuatu yang tak terlihat. Padahal tidak ada yang menarik kakinya sama sekali terkecuali oleh suara dengan nada yang jernih.
“A-a-anu—eh?!”
Asal suara tersebut bukanlah berasal dari manusia seperti yang pernah diceritakan oleh Randolf. Sebaliknya, sosok di depan Adis saat ini kurang lebih menyerupai seorang manusia dengan fisik yang sama, terkecuali bagian kepalanya yang menyerupai seekor Rakun berbulu cokelat-hitam keabuan.
Telinganya runcing, moncong hidungnya cukup panjang, dan terlihat ada tiga kumis di samping kiri dan kanan wajahnya.
【Selamat. Kau baru saja bertemu dengan salah satu kunci pengetahuan Dunia Astal yang lain. Mendapatkan sebagian kecil informasi Dunia Astal】
【Kraun, the Linguistik Master】Seorang mantan pustakawan besar di Ibu Kota Kerajaan Lavinus yang jatuh. Keingintahuannya terhadap pengetahuan tak pernah kunjung reda. Selain penyembah Dewi Kesuburan dan Dewa Kebijaksanaan, ia adalah seorang pedagang apik yang memperjualbelikan pengetahuan seputar fenomena astral, keajaiban para penguasa, dan informasi terkini yang berkaitan dengan perkembangan Dunia Astal.
【Berkat berkahmu sebagai Friend of the Starless Child, Kraun mulai tertarik dengan dirimu】
【Berkat berkahmu sebagai Friend of the Starless Child, afeksi Kraun terhadapmu meningkat “Sedikit”】
【Opsi pilihan barang mulai terbuka. Pecahan Dunia Astal mulai memasuki pustaka alam bawah sadarmu. Status distribusi mengenai fenomena astral serta hal-hal berkaitan dengan keajaiban melalui berkah telah tersimpan dan mulai mengalir di sekitar jantungmu. Menambahkan status pengetahuan ke dalam statusmu】
Tiba-tiba saja panel pemberitahuan muncul dengan tanda seru di hadapan Adis. Setelah itu, panel tersebut terbuka sendiri, dan menampilkan status tambahan baru.
【Status】
Stenght: 6
Agility : 4
Endurance :4
Intelegence: 1
【Poin Distribusi: 2】
Di sisi lain Kraun yang sedang memperhatikan Adis sedikit kaget karena melihat ada sesuatu yang unik di sekitar pemuda tersebut. Lantas sang mantan pustakawan itu langsung meletakan buku yang sedang dibacanya ke atas meja.
“Sepertinya saya kedatangan tamu yang cukup spesial hari ini. Sebelumnya perkenalkan, saya adalah Kraun, pemilik toko pengetahuan di ujung benua ini. Mereka yang mendatangi tempat ini selalu menjuluki saya sebagai si Kutu Buku. Namun, Anda cukup memanggil saya Kraun.”
Sang Pustakawan tersebut memberi Adis sebuah senyuman hangat. Pemuda yang sedari tadi itu masih belum pulih dari keterkejutannya dengan panel pemberitahuan yang tiba-tiba muncul pun langsung tersadar begitu saja ketika mendengar suara Kraun menggema di telinganya.
“A-ahh ... maaf. Aku tadi sempat melamun. K-kamu ... “
“Tampaknya ini adalah pengalaman pertama Anda melihat anak The Manas, ya?”
“The Manas? Maksudmu salah satu penguasa juga, bukan?”
Kraun pun terkekeh kecil melihat jawaban polos Adis.
“Benar. Mungkin ini sedikit tidak sopan, tapi bolehkah saya menanyakan sesuatu kepada Anda? Tentu saja tidak dengan cuma-cuma. Sebagai gantinya Anda dapat menanyakan sesuatu juga kepada saya.”
Adis mengangguk pelan. “Tentu”
“Bravo! Terima kasih wahai pengelana tersesat. Meski ini dapat dikatakan tidak sopan, tapi rasa pengetahuan di kepala saya sangat menggelitik setelah melihat Anda di sini. Jadi mari langsung saja ke pertanyaannya ....”
Adis pun hanya bisa menenggak ludahnya sendiri.
“Tenang. Ini tidaklah sulit.”
Meskipun seperti itu, tapi Adis masih sedikit grogi karena langsung dihadapkan oleh sebuah pertanyaan misterius yang muncul dari makhluk berkepala Rakun. Meski penampilannya rapi layaknya seorang bangsawan, tapi tetap saja kepala Rakun itu membuat Adis tidak bisa tenang.
Kraun pun berdeham pelan untuk membersihkan tenggorokannya. “Apa Anda pernah bertemu dengan Sang Pembawa Kabar Baik dan Kehancuran, The Child?”
Adis mengangguk pelan. “Kurang ... lebih, ya”
“Hmm. Menarik. Selebihnya saya sudah mengerti, terima kasih atas kebaikan Anda yang telah mempersilahkan saya bertanya dengan gamblang. Apakah Anda ingin menanyakan sesuatu?”
“Kenapa kamu bisa tahu?”
“Hahahaha. Jika orang itulah yang menyarankan Anda untuk datang kemari, pasti bukan hanya duduk santai, dan menikmati bacaan buku saja, bukan?”
“Lalu?”
“Baiklah. Katakan saja, jangan sungkan”
“Baiklah kalau begitu ....”
Adis pun mulai menceritakan semuanya kepada Kraun, tapi bukan semua yang terjadi padanya, melainkan hanya berkisar di seputar berkah yang ia dapatkan dari Pandora.
“Hooo~ luar biasa, ini membuat saya bersemangat! Sudah lama sekali saya tidak mendapatkan informasi seperti ini. Tunggu sebentar, saya akan segera kembali”
“Eh?”
Tidak lama kemudian Kraun pun datang dari balik tirai konter lalu meletakkan dua buah buku ke atas meja di depan Adis.
“Yang pertama adalah sejarah berkah para penguasa dan yang kedua adalah penerapan, cara penggunaan, dan penguasaan serta efek samping dari adanya berkah”
“Ini untuk apa?”
“Tentu saja untuk memberitahu Anda semua tentang berkah dan bagaimana memanfaatkannya.”
Kraun pun mendorong pelan buku pertama ke arah Adis.
“Saya sarangkan agar Anda membaca buku yang pertama terlebih dahulu. Saya akan meminjamkannya kepada Anda selama satu haru, setelah itu tolong kembalikan buku tersebut. Apabila Anda tertarik dan ingin mempelajarinya lebih dalam, buku kedua ini bisa menjadi penunjuk arah. Anda bisa mendapatkannya hanya dengan membayar lima jiwa hampa,” tutur Kraun ramah dengan senyum bisnis.
【Jiwa hampa adalah penyebutan Soul biasa di Dunia Astal. Namun, jiwa hampa juga biasa dikenal sebagai Vial. Perbandingan White Soul dan Vial adalah satu banding dua. Itu artinya jika kau berniat ingin menukarkan White Soul menjadi Vial, maka kau akan mendapatkan dua Vial】
Sekali lagi panel itu muncul dengan tiba-tiba, tapi berkat kemunculan panel juga Adis jadi mendapatkan pengetahuan baru seputar Dunia Astal. Dan salah satunya adalah perbandingan tukar antara White Soul dan Vial.
“Karena membahasnya akan memakan waktu lama dan mungkin saja ingatan saya kurang, buku ini bisa menjadi perantara mutlak untuk pengetahuan tersebut. Tolong dibaca dengan seksama agar Anda tidak terjerumus ke dalam budak jiwa dan menjadi makhluk hina seperti anak-anak The Plague dan Abbysmal.”
Kali ini ekspresi Kraun tidak seperti orang yang baru pertama kali bertemu. Namun, raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang mendalam akan keselamatan Adis.
Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, ia menawarkan buku pengetahuan seputar berkah kepada Adis.
“Baiklah”
“Ya. Saya harap di kesempatan berikutnya akan menjadi pertemuan yang lebih menakjubkan. Senang bertemu dengan Anda ... maaf?”
“Adis,” jawabnya singkat dengan senyum remeh.
“Ahahaha. Saking dalamnya, saya jadi lupa untuk menanyakan nama Anda. Kalau begitu sampai berjumpa lagi di lain waktu, Tuan Adis”
“Ya.”
Adis pun mengambil buku pertama lalu beranjak pergi meninggalkan tempat Kraun.