
Randolf masih berkutat pada buku catatannya, sedangkan Adis duduk seperti orang bodoh sembari menikmati daging bakar.
(Rasanya tidak seenak yang kupikirkan, tapi mungkin saja ini makanan terakhirku. Aku tidak bisa menyia-nyiakannya begitu saja)
Pria eksentrik itu pun menengok ke arah Adis.
“Apa jangan-jangan kau belum terbiasa dengan daging seperti ini? Padahal di kampung halamanku daging kelinci liar sangat digemari. Kalau kau merasa pahit, cobalah dengan menambahkan serbuk rempah-rempah ini.”
Randolf pun mengambil sesuatu dari bagian luar ranselnya kemudian meletakannya tepat di samping Adis.
“Ini ... “
“Itu adalah bumbu perasa. Ada orang yang suka dengan daging bakar mentah, ada juga yang tidak, dan sepertinya engkau adalah golongan orang kedua. Cobalah. Tidak ada salahnya mencoba hal baru.”
Setelah itu, ia kembali pada buku catatannya. Menuliskan semua cerita dan juga pengetahuan baru yang baru ia saja dapatkan dari Adis ke dalam buku catatan kecil itu.
Adis hanya mengangguk pelan kemudian menaburkan bumbu ke atas daging bakarnya.
(Uoahhh! Enak! K-kenapa rasanya bisa bercampur sesempurna seperti ini? Padahal biasanya dimarinasi dulu baru dibakar, tapi orang ini menggunakan cara yang terbalik, dan anehnya berhasil)
Randolf menyunggingkan mulutnya. Ia seperti bisa menebak reaksi seperti apa yang dibuat oleh Adis saat itu juga. Tentu saja itu semua berasal dari pengalamannya bertemu dengan banyak orang.
Banyak yang meragukan, tapi setelah mencobanya, kesan pertama mereka pu langsung berubah. Terlepas dari rasa pahit akibat beberapa bagian yang hitam, bumbu rempah ajaib milik Randolf dapat mengatasinya, dan mengubah rasa pahit itu menjadi sesuatu yang enak.
Tidak lama kemudian Randolf selesai dengan buku catatan kecilnya. Ia pun memasukkannya kembali ke dalam tas ransel lalu berbalik ke arah Adis dengan ekspresi lega.
“Berbicara tentang makhluk biadab itu. Apa dunia ini memiliki kuil atau semacam reruntuhan yang bisa didatangi?”
“Kuil? Reruntuhan?”
Adis yang masih menikmati daging bakar di tangannya seketika itu juga berhenti. Kepalanya memiring sembari menatap Randolf dengan mata keraguan.
“Aku tidak tahu tentang kuil, tapi kalau reruntuhan aku sedikit mengetahuinya,” jawabnya lalu mengambil satu gigitan.
“Ohhh!! Bisakah kau memberitahuku di mana letak reruntuhan itu? Kalau kuil ... hmmm.”
Bagi seorang Randolf, reruntuhan sama dengan harta karun terpendam. Tidak ada yang lebih menakjubkan dari pada bisa menemukan reruntuhan tersembunyi di seluruh penjuru dunia, tapi sayangnya menemukan satu reruntuhan tidak semudah itu.
Dunia yang ditempati oleh pria eksentrik tersebut sangat berbeda dari Bumi. Perbedaan cuaca, kondisi, budaya, orang-orang, dan beberapa misteri lainnya. Namun, hal itu tidak membuat semangatnya dalam mencari misteri terdahulu runtuh.
Ia masih optimis dalam menggapai mimpinya untuk memetakan seluruh reruntuhan yang ada di seluruh penjuru dunia.
“Negara ini memang memiliki reruntuhan, tapi tidak sekaya reruntuhan yang ada di negara lain”
“Negara? Menarik. Jadi sekarang kita berada di mana tepatnya?”
Adis menghela napas. “Kita berada di Negara Kepulauan Republik Indonesia, tepatnya di ibukota jantung Pulau Jawa, Kota Bandung,” tuturnya lalu meletakan potongan daging ke atas pelepah daun.
“Republik?! Oh! Aku tidak menyangka bahwa tempat ini adalah suatu negara, aku kira hanya kota kecil di pulau seberang Goreford.” Randolf mengelus dagunya sembari membayangkan perkataan Adis.
“Justru yang lebih aneh adalah ....”
Kini alis kiri Randolf terangkat sebelah. “Adalah?”
“Bahasa. Aku tidak yakin bagaimana mengatakannya, tetapi jika apa yang kamu katakan benar, dan nyata adanya. Mana mungkin aku bisa memahami bahasa yang kamu ucapkan”
“Benar! Bahasa. Aku sungguh beruntung karena bisa mengetahuinya. Fakta bahwa kita berbeda dunia dan juga bencana ini sampai-sampai membuatku lupa tentang hal ini”
“Jadi apa langkah selanjutnya yang akan kamu ambil?”
Untuk beberapa saat Randolf tidak merespons Adis, ia saat ini tampak sedang berpikir. Wajahnya yang sedikit mengerut dan tampak mengeras itu pertanda jika sesuatu yang sedang dipikirkannya saat ini benar-benar berat.
“Ah .. ya. Baiklah.” Randolf pun mengambil napas lalu mengeluarkannya perlahan-lahan. “Aku belum yakin, tapi setidaknya aku akan mencoba kembali ke Blightmire untuk memasok beberapa barang terlebih dahulu”
“Blightmire?”
Pria eksentrik itu menganggukkan kepalanya. “Ya. Blightmire sendiri adalah tempat permulaan. Bukan kota ataupun kerajaan, tapi seperti daerah terpencil di tepi laut yang sering didatangi oleh para pengelana tersesat”
“Apa itu seperti pelabuhan?”
“Sayangnya bukan. Lalu apa yang akan gerangan Adis lakukan setelah ini? Aku memang tidak mengenali tempat ini, tetapi setidaknya Kompas Arcana milikku sudah mendapatkan lokasi pecahan distorsi ruang dan waktu. Dengan ini aku yakin bisa kembali ke duniaku.”
Randolf pun mengeluarkan sebuah kompas bundar yang menyembul. Di bagian permukaannya terdapat banyak garis-garis penghubung dan beberapa huruf asing yang berpendar.
Untuk sekilas Adis mengetahui bentuknya memang mirip kompas, tapi ia sama sekali tidak tahu kegunaan Kompas Arcana milik Randolf tersebut, apalagi dengan huruf-huruf aneh yang keluar mengambang.
“Jika dilihat dari titik kita sekarang, maka pecahan distorsi ruang dan waktu—Aenorst berada tidak jauh dari sini”
“Pecahan ... distorsi ruang dan waktu?”
“Terdengar keren bukan. Aku sendiri waktu pertama kali mendapatkan kompas ini dari reruntuhan yang ada di Benua Svellfold tidak menyangka memiliki kegunaan seperti ini.”
Alis Adis tiba-tiba saja terangkat sebelah ketika mendengar hal itu. “Mungkin saja kamu tersesat ke dunia ini gara-gara kompas itu”
“Hmm. Masuk akal juga, tapi itu belum tentu membuktikan kenapa semua monster terkutuk bisa bermunculan di tempat ini. Selain itu, jika memang kompas ini bisa membawaku ke duniamu ..., maka seharusnya fungsi seperti itu sudah lama aku ketahui. Namun, sejauh ini aku sama sekali tidak tahu tentang hal itu”
“Dengan kata lain kamu sama sekali benar-benar tidak mengetahuinya?”
Randolf mengangguk mantap.
“Kalau begitu, apa ada sesuatu yang kamu kenali di tempat ini yang memiliki keterkaitan dengan duniamu?”
“Keterkaitan, huh? Tunggu sebentar ... ah!”
“Kamu sudah menemukannya?”
“Salju hitam ini!”
(Salju hitam ini? Apa maksudnya fenomena aneh ini juga muncul di tempatnya?)
“Aku mengerti jika Svellfold adalah benua es, tapi jika kemunculan salju hitam itu ada di tempat hangat seperti Blightmire. Aku rasa ada yang aneh”
“Blightmire?”
Sebagai daerah hutan hujan tropis sendiri, Indonesia hanya memiliki dua musim, yaitu musim hujan dan kering. Seandainya salju muncul, hal itu hanya terjadi di tepi puncak Gunung Jayawijaya.
Tempat paling tinggi dan sangat dingin yang ada di daerah Papua. Sehingga kemunculan salju selain di tepi puncak gunung tersebut adalah suatu hal yang mustahil.
“Lalu setelah itu apa yang terjadi?”
“Apa yang terjadi? Tunggu sebentar, biar aku mencoba mengingat-ingatnya lagi.”
Blightmire adalah tempat perkumpulan para pengelana tersesat yang ingin beristirahat tenang tanpa mengkhawatirkan kemunculan monster dan makhluk astral lainnya. Dapat dikatakan bahwa tempat itu adalah suatu tempat penyelamat.
Mirip seperti rumah, tapi membawa aura kesedihan karena banyaknya para pengelana yang bersedih atas kepergian rekan mereka.
Randolf yang pada saat itu sedang beristirahat di dekat monumen sambil mencatat perjalanannya tidak ingat dengan apa yang terjadi kepadanya. Namun, satu hal yang pasti adalah fenomena salju hitam itu juga telah melanda Blightmire.
Hal itu tentu saja menimbulkan pertanyaan pada dirinya dan juga semua orang yang ada di sana. Mengetahui jenis fenomena serta kejanggalan yang pernah terjadi di dunianya, Randolf mengerti jika salju hitam itu bukanlah hal yang biasa.
Namun, jika harus berpikir lebih hanya untuk mendapatkan jawaban, maka munculnya fenomena tersebut bukanlah suatu pertanda yang baik.
“Saat itu aku sedang beristirahat, persis seperti saat ini, tapi semua berubah ketika salju hitam itu turun. Kesadaranku tiba-tiba saja menghilang dan begitu aku sadar, hal pertama yang kulihat adalah langit-langit bangunan yang akan runtuh”
“Itu artinya kamu berpindah tempat tanpa tahu alasannya, ya?”
(Aku merasa ada sesuatu yang aneh dengan salju ini, tapi jika fenomena supernatural ini terjadi di seluruh dunia, maka tidak ada tempat yang benar-benar aman)
“Sebelumnya kamu berkata tentang daerah benua es bernama Svellfold, terus ada Goreford, dan Blightmire, bukan? Seingatku tidak ada nama daerah seperti itu di dunia ini”
(Memang benar, dari gelagat dan pakaiannya, aku merasa orang ini benar-benar bukan berasal dari Bumi)
“Hahahaha. Tentu saja bukan, apalagi setelah mendengar ceritamu tadi. Kesimpulan yang bisa aku ambil adalah ... dunia kita berbeda. Kau mengatakan kalau tempat ini adalah Negara Kepulauan Republik Indonesia, bukan?”
Adis mengangguk.
“Aku pun tidak ingat ada negara republik di duniaku dan mengetahui semua hal tentang tempat ini dari perspektif yang telah kau bagikan. Aku hanya bisa menyebutnya sebagai persimpangan kehendak Sang Penguasa”
“Kehendak Sang Penguasa?”
Kali ini Randolf yang mengangguk. Kemudian ia mulai menceritakan apa-apa saja yang ia ketahui tentang dunianya sambil membuat segelas minuman hangat.
Api unggun yang dibuatnya juga masih terlihat kuat. Meski hujan salju berjatuhan dari langit, untungnya mereka berada di dalam bawah tanah dengan sedikit akses lubang atas sehingga asap dari api unggun dapat keluar.
“Jadi maksudmu mereka yang memiliki nama ‘Sang’ adalah entitas yang setara dengan Demigod?”
“Jika prafrasa itu yang bisa kau mengerti, maka aku sama sekali tidak keberatan. Namun, setiap entitas tersebut selalu memiliki kekuatan yang tidak masuk akal bahkan ada beberapa orang yang menyembah entitas-entitas tersebut”
“Lalu The Mother yang sebelumnya sempat kau singgung?”
“The Mother sendiri merupakan sebuah julukan yang ditunjukkan kepada dewi Sang Pencipta. Dewi yang memberi kehidupan serta tanah yang subur pada dunia tempatku tinggal. Dalam sejarah yang tercatat pada gulungan artefak beberapa ribu tahun lalu. The Mother digambarkan seperti wanita dewasa yang sahaja, tapi itu hanyalah bentuk fana agar kami sebagai manusia bisa melihat keajaiban besarnya. Pada kenyataannya, The Mother sendiri masih menjadi teka-teki misteri hingga saat ini.”
Randolf bisa melihat pantulan wajahnya dari atas permukaan air hangat pada gelas digenggamannya. Terlihat kelelahan dan tampak seperti orang yang linglung.
“Namun, selain The Mother ada juga yang lainnya. Mereka tidak sebaik dan semurah The Mother ... mereka adalah entitas penguasa yang dipenuhi oleh hasrat serta perasaan kosong dari kehadiran mereka sendiri. Dengan kata lain entitas yang perlu kami waspadai dan hadapi jika sewaktu-waktu berhadapan dengan mereka ... dan monster yang baru saja gerangan kalahkan adalah salah satu dari anak mereka,” lanjut Randolf lalu menyesap minumannya pelan-pelan.
“Penjelasan yang cukup panjang, tapi apa kamu baik-baik saja membagikan hal itu kepadaku?”
Randolf pun tersenyum tipis. “Tentu, sebagai orang yang mendapatkan berkah dari The Child. Dirimu patut mengetahui hal ini, karena kelak nanti mungkin saja kau akan berhadapan secara langsung dengan mereka”
“The Child?”
“Entitas yang digambarkan sebagai pengelana, penyendiri pembawa kabar baik dan buruk serta pertanda kehancuran yang akan datang. Seperti namanya, entitas ini menyerupai anak kecil periang, tapi dari balik senyum dan polosnya tersirat maksud lain.”
Saat itulah ingatan Adis dibawa ke masa lampau, di mana dirinya pernah bertemu dengan sesosok anak kecil aneh. Ia tidak mengenakan apa-apa selain kain tipis yang menutupi tubuhnya. Bertelanjang kaki dan periang, tapi entah karena apa dirinya dibawa oleh sesuatu yang mengerikan.
Adis sendiri tidak yakin dengan ingatannya tentang hal itu, lagi pula pertemuannya dengan anak kecil itu sudah lebih dari 10 tahun yang lalu.
Saat ini Adis hanya bisa menyambungkan setiap benang merah tipis dan merajutnya menjadi satu-kesatuan yang utuh. Apakah pertemuannya dengan sosok anak kecil itu ada kaitannya dengan fenomena ini atau tidak?
“Terus tentang berkah yang kau singgung tadi?”
Randolf menoleh ke arah Adis lalu menyimpan gelas di tangannya ke bawah.
“Seperti ini?”
Pria eksentrik itu hanya membuka telapak tangan dan tiba-tiba saja sebuah kobaran api lembut muncul di atasnya.
“Inilah berkah yang ingin kau tanyakan, ‘bukan?”
Adis pun menenggak ludahnya sendiri karena terkesiap melihatnya.
“Aku tidak terlalu kompeten tentang pembahasan ini, tapi mungkin saja salah satu kenalanku bisa membantumu menjawab setiap keraguan yang kau miliki.”
Randolf kemudian menutup telapak tangannya, api itu pun lenyap seketika.
“Bagaimana? Apa kau tertarik berkunjung ke duniaku?”
“A-aku tidak yakin. Di luar sana masih ada orang-orang yang menungguku”
“Dengan keadaan seperti dirimu sekarang. Jujur saja, mustahil bagi dirimu untuk dapat bertahan melawan para makhluk terkutuk itu”
“A-aku akan berusaha, nyatanya aku bisa mengalahkan monster tadi!”
Randolf hanya menggelengkan kepalanya. “Semua itu karena pertolongan berkahmu. Kau bahkan tidak mengetahui tentang itu dan apa kau masih yakin bisa bertahan melawan mereka?”
“Ughh ... i-i-itu ... “
“Lihat? Kau sendiri ragu. Mungkin kau berhasil, tapi sampai berapa lama kau bisa bertahan?”
Adis pun menundukkan kepalanya dengan perasaan kecewa.
“Dengar anak muda. Saat ini di luar sana sudah menjadi medan perang, kita tidak tahu masa depan apa yang menanti kita di sana. Namun, seandainya kau memiliki kesempatan untuk mengubah itu, apa kau bersedia mengambil risiko untuk dapat melakukannya?”
“Kesempatan? Seperti apa?”
Randolf pun tersenyum usil. Perasaan kelam yang ia rasakan mulai memudar dan ia merasa sebentar lagi akan ada badai baru yang dapat mengubah kondisi mereka saat ini.
“Ikutlah denganku ke Blightmire,” tuturnya dengan ekspresi serius.
“Ikut denganmu ke Blightmire? Lalu bagaimana dengan keluargaku di luar sana?”
“Apa kau ingin bertemu mereka sebagai dirimu atau sebagai mayat?”
“U-ughh ... “
“Karena itulah kau perlu mempersiapkan segalanya demi keluargamu. Meski kau harus menunggu lebih lama, tapi setidaknya itu lebih baik daripada mengantarkan mayatmu kepada mereka, ‘bukan?” tanya Randolf dengan tawa kecil.
Adis pun menghela napas lalu mendongakkan kepalanya ke atas sambil memejamkan mata.
(Apa aku harus mengambil tawarannya? Namun, keluargaku? ....)
“Agar kau tidak ragu lagi, coba lihat ke sini”
“Hmm?”
Randolf menunjukkan Kompas Arcananya kepada Adis, tapi pemuda itu sama sekali tidak mengerti apa maksudnya.
“Bayangkan keluargamu dan posisikan dirimu sejelas mungkin. Kau bisa melihat kondisi mereka dari sini, anggaplah ini sebuah binocular yang dapat menerawang keadaan mereka”
“Baiklah,” sahut Adis sembari mengangguk.
Adis pun kembali memejamkan matanya dan membayangkan semua anggota “keluarga” yang ia miliki di panti asuhan.
“Setelah itu letakan telapak tanganmu di atasnya.”
Mengikuti arahan dari Randolf, Adis langsung meletakan telapak tangannya ke atas Kompas Arcana. Seketika itu juga kompas tersebut mengeluarkan cahaya samar dan memunculkan sebuah titik hijau muda yang terang.
“Bukalah matamu dan lihat sendiri”
“B-baik ... “
“Jangan malu-malu. Buka saja langsung,” ucap Randolf sembari menepuk lengan kiri Adis.
“Ughh—Titik hijau ini ... keluargaku?”
Randolf mengangguk pelan. “Karena tujuanmu ditunjukkan sebagai perwakilan, titik hijau inilah yang mewakilkan kondisi keluargamu saat ini. Lihat, titik hijau muda yang terang, artinya mereka baik-baik saja, dan tidak ada dari mereka yang terluka ataupun mengalami suatu masalah”
“Benarkah?!”
“Ya. Aku tidak akan berbohong kepadamu, apalagi kita adalah sesama pengelana. Hanya kejujuranlah yang dapat menolong kita di saat seperti ini”
“Syukurlah. Aku kira mereka sedang dalam bahaya.” Adis pun mengeluarkan napas lega.
“Lalu keputusanmu?”
Mata Adis kini bertemu dengan mata hijau zamrud milik Randolf. Mata indah milik pria eksentrik itu sama sekali tidak memperlihatkan kebohongan. Mata yang jujur dan penuh kehangatan.
“Baik. Aku akan ikut denganmu,” ucap Adis dengan ekspresi sungguh-sungguh.
[Afeksi Randlof bertambah “Sedikit”]
[Randolf mulai menganggapmu sebagai kawan seperjuangan. Mendapatkan kepingan kecil informasi baru tentang Dunia Astal]
[Kau telah mencatat sejarah baru sebagai Pengelana dari dunia lain yang mendapatkan poin afeksi. Mendapatkan tambahan poin kemampuan +2]
[Keterlibatanmu terhadap takdir para penguasa menunjukkan tanda-tanda era baru. Mendapatkan white soul x20]
【Status】
Stenght: 6
Agility : 4
Endurance :4
【Poin Distribusi: 2】
【Title】Friend of the Starless Child—Persahabatanmu dengan The Child adalah berkah terselubung. Berkah yang bisa memberi kenyamanan terhadap segala entitas yang mengakuinya sebagai pembawa pesan perdamaian dan kehancuran.
【Exclusif-Skill】Hand of the Lightless Star—Kemampuan yang dapat membinasakan anak-anak The Plague dan Abbysmal. Hanya dapat digunakan sekali dalam satu minggu, syarat penggunaan ialah pengakuan sejati dari bintang-bintang di langit.
Randolf pun tersenyum lebar.
“Itulah kata-kata yang dari tadi kutunggu ....”