Pandoras Pride

Pandoras Pride
Chapter 25 - Tirai Putih



Tiga minggu berlalu sangat cepat, bagai angin yang berembus lembut, terasa, dan sangat singkat.


Dalam tiga minggu itu juga Adis membantu keluarganya untuk beradaptasi dengan tatanan dunia yang tampaknya telah hancur. Baik dari segi pemahaman, kemampuan, persediaan dan perlengkapan serta beberapa hal lainnya yang menyangkut cara untuk bertahan hidup.


Ia juga memberikan buku keahlian kepada Bu Rani, Dimas, dan Putri. Dengan buku tersebut setidaknya dapat membantu mereka dalam mengelola panti asuhan dengan lebih baik.


Bu Rani mendapatkan keahlian berupa Seni Penyembuhan. Semua jenis hal yang menyangkut bagaimana cara menyembuhkan luka dalam dan luar kini ia pelajari dengan baik-baik. Di sisi lain Putri mendapatkan keahlian dalam menggunakan busur, sebuah kelas Job yang serupa dengan Adis, tapi perbedaannya terletak pada senjata yang digunakan olehnya. Sedangkan Dimas mendapatkan keahlian yang berfokus pada pertahanan diri, yaitu seorang Kesatria.


Secara sekilas mungkin terdengar aneh, tapi jenis kemampuan seorang Kesatria memang terletak pada sekitar pertahanan diri. Berbeda dengan petarung yang mana tingkat ofensifnya lebih tinggi jika dibandingkan dengan Kesatria.


Kedengarannya memang seperti mereka telah mendapatkan sebuah “Job”, tapi pada kenyataannya mereka semua masih berada di level lima dan tidak lebih. Dua sisanya, yaitu Melia dan Dani membantu pekerjaan rumah. Mereka lebih memilih untuk meringankan pekerjaan Bu Rani.


“Kak, Diapthora itu kok lucu, ya?”


Mendengar itu dari Putri, Adis yang sedang mengencangkan tali kawat pada kayu depan pun membeku. Ia pun langsung menengok ke arah Melia yang sedang memegang sekeranjang roti hangat di sampingnya.


“Lucu?”


Adis tak habis pikir sosok mengerikan yang selalu menggunakan celah hati seseorang itu dikatai lucu oleh Adiknya. Memang benar setiap orang melihatnya dengan sosok yang berbeda. Namun, lucu? Adis hanya menggelengkan kepalanya sedikit.


“Lucu dari mananya, Put?”


“Habisnya yang aku liat itu seekor kucing persia. Udah gitu bisa bicara lagi”


“Kucing persia, eh?” Adis memelintir bagian ujung tali kawat lalu memotongnya dengan tang kecil. “Kalau seandainya memang kayak begitu, mungkin setiap kali Kakak ketemu sama Diapthora mungkin gak akan setegang waktu ujian akhir semester”


“Hmm?”


“Ah. Jangan dianggap ... terus, keranjang apa yang kamu bawa?”


“Oh! Aku baru inget, ini roti baru mateng dari oven. Kakak mau mencobanya?”


Bukan hanya kemampuan serta keahlian saja, tapi Adis juga membuat beberapa barang kebutuhan sehari-hari. Salah satunya adalah oven besar yang terbuat dari tanah liat.


Pada awalnya ia tidak yakin bisa menciptakan barang seperti itu, tapi pada akhirnya dengan bantuan Dimas, dan Bu Rani.


Jika kalian penasaran dari mana Adis bisa mendapatkan semua peralatan itu? Maka jawabannya adalah menjarah rumah kosong yang telah ditinggalkan. Setelah ia memasang Luks sementara di pojok kanan halaman depan rumah panti asuhan, rumah itu akan dilindungi oleh energi Astal selama satu hari.


Memanfaatkan waktu kosong dan juga lenggang tanpa perlu mengkhawatirkan keselamatan anggota keluarganya. Adis langsung pergi menjelajahi daerah sekitar sembari menjarah semua barang yang bisa ia bawa ke dalam tas ranselnya.


Hal ini ia lakukan dari pagi sampai malam hari dan pada akhirnya Adis berhasil mengumpulkan banyak barang berguna. Salah satunya adalah satu kotak perlatan berkebun yang kini ia gunakan untuk memperkuat pertahanan pagar halaman rumah.


“Hmm~ lumayan. Yang buat ini pasti Ibu, ya?”


Putri mengangguk cepat sembari menunjuk dirinya sendiri. “Aku juga ikut membantu. Hehehe”


“Hooo ... jadi Putri juga ikut bantu. Kerja bagus.”


Putri pun hanya tersenyum lebar dengan pipi yang kemerahan muda.


Ada beberapa hal lain lagi yang perlu aku perhatikan sekarang. Ini sudah dua minggu lebih sejak peristiwa itu, apa pemerintah masih mempertimbangkan untuk melakukan proses evakuasi ke tempat ini atau tidak?


Seandainya dalam keadaan buruk, hal ini tentu akan berdampak sekali pada kondisi psikologis anak-anak. Apa satu-satunya jalan adalah untuk pergi menuju ke alun-alun? Itulah yang dipikirkan Adis sambil mengunyah roti hangat.


“Kak Adis! Bisa tolong bantu aku pergi mengalahkan monster-monster lagi, nggak?”


Tiba-tiba saja dari pintu depan Dimas muncul sambil membawa sebuah pipa besi. Raut wajahnya yang ceria dan bersemangat terkadang membuat Adis khawatir. Pasalnya Adik laki-lakinya yang satu ini selalu saja mengatakan hal-hal berbahaya seperti itu setelah mendapatkan kekuatannya.


Adis menggelengkan kepalanya. “Jangan sekarang. Ini udah mau malem, nanti lagi kalau kamu udah bisa nguasain apa yang udah Kakak ajarin, ngerti?”


“T-tapi ... “


“Dimas ... Dimas ... dasar. Padahal kan Kak Adis lagi sibuk beresin masalah kamu, masa kamu mau nambah masalah lagi, sih?”


“Kamu gak usah ikut campur, Put. Ini urusan antara sesama laki-laki”


“Ihh! Kamu ini, ya. Kan udah aku bilangin jangan ngerepotin Kak Adis lagi.”


Sementara kedua Adiknya bertengkar karena masalah yang sepele, Adis hanya bisa menahan tawanya sembari berpura-pura mengunyah roti.


Namun, ketika suatu kebahagiaan muncul dengan aroma manis nan hangat. Sesuatu dari kegelapan pasti akan mengintai dan berusaha merebutnya dengan cara apa pun. Begitulah yang terjadi pada keluarga kecil sederhana tempat Adis tinggal.


Tanpa mengetahui apa yang terjadi di luar sana. Sesosok entitas memandangi makhluk Bumi dengan seringai licik.


▼▼▼


【Curtain of Disdain】Mereka yang tertidur dan mendapat anugerah dari para Penguasa akan ditakdirkan untuk berjuang dalam medan pertempuran penuh darah. Tirai telah dibuka dan pertunjukan abstrak yang dimulai dari kebengisan dunia mulai terlihat jelas.


【Misi Utama—Semua orang yang telah mendapatkan berkah dan berhasil bertahan selama ini  akan dikirim ke tempat lain secara acak. Bertahanlah selama tujuh hari [Hadiah: Petunjuk kebenaran dunia, 1500 Vial, Perlengkapan Caeruls acak]】


【Kegagalan—5 Tahun Waktu Kehidupan/Kematian [Tersisa 68 Jam 34 Menit 19 Detik sebelum Misi Utama di mulai]】


Melihat pengumuman tiba-tiba yang muncul dari notifikasi itu Adis pun tercengang. Selama ini semua misinya tidak mencantumkan “kegagalan” dan seberapa bahayanya jika sebuah misi tidak berhasil diselesaikan.


Namun, kali ini semua itu muncul seperti tamparan keras baginya. Ia tidak takut dengan rintangan yang menghadangnya di depan kelak nanti, tapi apa yang ditakutkan olehnya adalah semua anggota keluarga panti asuhan—Bu Rani, Dimas, Dani, Putri, dan juga Melia.


Ia juga tidak yakin dapat melindungi keempat lainnya. Apalagi dengan misi acak seperti ini, ketakutan Adis semakin menjadi-jadi.


“I-ini mustahil!” bentak Adis sembari memukul pohon di samping kanannya.


Bukan hanya dirinya saja yang mendapatkan pengumuman ini, ia juga pasti tahu bahwa semua orang yang bersangkutan pun akan terlibat. Tidak hanya mereka yang memiliki kekuatan, tapi juga mereka yang tidak ingin ikut pasti akan ditarik ke dalam misi kekacauan ini.


Ekspresi Adis memucat. Untuk beberapa alasan ia pun jatuh berlutut sambil memejamkan matanya. Semua emosi yang sudah lama tersimpan kembali bermunculan satu-persatu. Kenangan-kenangan bersama dengan orang tua kandungnya pun ikut muncul.


Momen terakhir dan momen paling mengerikan bagi Adis adalah bertepatan dengan hari yang selalu dinanti-nantikan banyak orang. Bertepatan setelah tanggal 25 dan hari libur panjang. Dengan suasana yang mirip seperti saat ini—bersalju.


Napasnya menguap semu. Tangannya gemetar memegangi senapan di tangan kanan.


Tepat pada saat itu, ketika orang tuanya ingin membeli sebuah oleh-oleh di toko seberang. Mereka tiba-tiba saja diserang oleh sesuatu yang misterius hingga menyebabkan mereka mengalami luka serius.


Selama dua hari itu Adis menangis karena melihat kedua orang tuanya terbaring di rumah sakit. Tak sadarkan diri dengan mata terpejam selagi selang infus terlihat memompa vitamin ke dalam tubuh mereka berdua.


Bunyi “tit” terdengar berulang kali, tapi begitu menjelang malam bunyi “tit” terdengar sangat panjang. Pada saat itulah Adis mengerti bahwa semuanya sudah terlambat dan tidak ada yang bisa ia lakukan lagi selain berdoa memohon sebuah keajaiban.


“Tch ... aku nggak akan ngebiarin hal itu terulang lagi—aaaAArrGHHhhh!!”


Adis mengeratkan giginya lalu bangkit dan menatap langit sambil berteriak keras dalam [Silent Zone]. Teriakan penuh emosi dan juga rasa kesal itu menjadi senyap seketika. Meninggalkan sosok Adis dengan mulutnya yang terbuka lebar seperti berusaha melahap sesuatu.


Tidak lama kemudian setelah ia tiba di rumah. Lankah kakinya terhenti begitu melihat Bu Rani tersenyum dengan raut yang seakan telah merelakan segalanya.


Dengan kondisi hening yang hanya diterangi oleh lampu lampion. Semua orang selain Bu Rani telah tidur dan kini hanya meninggalkan dirinya bersama sosok Sang Ibu.


“Tumben, Bu. Belum tidur? Padahal Adis yakin sudah sesenyap mungkin”


“Adis ... “


“Oh? Mau Adis buatin makanan? Adis yakin kalai Ibu pasti capek, ya? Apalagi ngurusin keempat anak rewel kayak mereka”


“Adis ... “


“Hmm. Tunggu sebentar, Adis pasti bisa nebak apa yang sekarang Ibu pikirin. Gimana kalau piknik aja? Ini memang aneh sih, tapi Adis yakin kalau anak-anak pasti suka dengan ide ini. Gimana, Bu?


“Adis ... “


“Oh, oh! Adis tau! Ibu mau Adis pijetin, ‘kan? Hahahaha. Jangan gak enakan gitu, Adis pasti gak akan nolak kok kalau Ibu mau dipijetin.”


Setiap kali Bu Rani memanggil anak paling besarnya itu, Adis selalu memotongnya dengan bujukan atau tawaran. Sayangnya nada lemah nan lembut dari Sang Ibu meluluhkan Adis begitu ia melihat ekspresi wanita yang ia sangat sayangi tersebut.


Langkahnya yang sempat terhenti pun kini kembali bergerak. Namun, kali ini sangat lambat, dan bahkan terkesan tidak ingin mendekati Sang Ibu. Matanya pun mulai berkaca-kaca dengan bibir bergetar hebat.


Pipinya ikut sembab dan tubuhnya seolah-olah akan tumbang setiap saat. Mesi begitu, Bu Rani tetap memberinya senyum paling lembut dan hangat yang bisa ia perlihatkan kepada Anak tercintanya.


Namun, belum sempat Adis sampai di hadapan Sang Ibu. Ia sudah lebih dahulu jatuh dengan bercucuran air mata. Tangisan yang tulus dan rasa sakit pada hatinya kembali muncul. Ia sama sekali tidak mengira bahwa hari ini akan tiba juga.


Hari di mana sosok wanita yang paling ia sayangi tersenyum dengan wajah lega dan tanpa beban. Meski dirinya ingin menyangkal, tapi kenyataan itu tetap tidak bisa ditepis begitu saja. Karena semua yang hidup pasti akan kembali pada tempatnya semula.


Semua yang tercipta akan kembali pada Sang Pencipta. Dan seajaib apa pun suatu anugerah ataupun berkah maupun keajaiban itu sendiri tidak akan bisa membuatnya hidup selamanya. Karena inilah takdir bagi semua makhluk hidup.


Bu Rani yang sedari berdiri memandangi Adis dengan tulus kini merendahkan tubuhnya kemudian memeluk Anak laki-laki di hadapannya. Sontak tangisan Adis pun semakin menjadi, kini ia hanya memendamkan wajahnya pada pelukan Sang Ibu.


Di dalam malam bersalju yang penuh duka dan kesengsaraan itu, hati Adis kembali lagi ditusuk oleh pasak tak terlihat. Rasa sakitnya tidak bisa dijelaskan hanya dengan kata-kata dan perasaan abstrak penuh emosi yang berguncang hebat redup seketika setelah rangkulan San Ibu mengusap kepalanya perlahan-lahan.


Seorang pemuda berusia 21 tahun itu kini terlihat kembali seperti dirinya saat kecil.


Keesokan paginya ....


“Ibu ... “


“Huaaaaaa!”


“I-I-Ibu ... “


“A-aku kuat ... aku l-l-laki ....”


Tepat pukul tujuh pagi, dengan wajah suram, dan sedih Adis memangku Bu Rani yang telah ia kafani lalu membawanya ke samping rumah. Dani, Putri, Melia, dan Dimas yang saat itu sudah bangun kebingungan karena tidak melihat Kakak dan Ibu mereka. Alhasil keempat anak itu pergi keluar dan mendapati kedua orang yang mereka cari tengah berada di samping rumah.


Seketika itu juga Dimas bertanya kepada Adis di mana Ibu mereka, tapi Adis tidak merespons lalu memeluknya erat-erat. Sembari mengelus kepalanya seperti apa yang ia dapatkan dari Bu Rani.


Mulutnya masih bergetar hebat, tapi Adis harus memberitahu mereka bahwa Sang Ibu telah pergi meninggalkan mereka untuk selamanya.


“Maafin Kakak, tapi Ibu udah pergi jauh ke langit sana, dan kayaknya gak akan bisa pulang lagi” perkataan itu sontak membuat keempatnya langsung menangis.


Diawali dengan tangisan Putri yang keras lalu diikuti oleh Dani. Dimas berusaha untuk tidak menangis, tapi pada akhirnya ia juga ikut menangis di dalam pelukan Adis. Sementara itu, Melia terlihat kebingungan, tapi Sang Kakak menjelaskannya dengan pahit bahwa Ibu mereka sudah pergi.


Perlahan-lahan Melia pun ikut menangis dan kini keempatnya menyaksikan proses penguburan jasad Sang Ibu di samping rumah mereka. Adis mulai menguburkan jasad Sang Ibu perlahan-lahan kemudian menutupinya lagi dengan pasir bekas galian.


“T-tenang saja, Bu. Adis pasti bakal ngejagain mereka dengan sekuat tenaga dan gak akan ngebuat Ibu kecewa.”


Setelah itu, Adis pun mengusap gundukan tanah di hadapannya dengan perlahan-lahan