Pandoras Pride

Pandoras Pride
Chapter 24 - Perburuan tak Sempurna II



Selama perjalanan itu, Dani menceritakan semuanya kepada Adis. Suaranya sedikit tersendat karena masih syok dan takut, tapi Adis memberinya keberanian untuk bercerita.


Singkatnya selama satu minggu itu tidak ada yang datang ke panti asuhan untuk melakukan evakuasi. Walaupun beberapa tetangga sudah mengingatkan mereka, tapi apa yang bisa dilakukan oleh seorang wanita berpenyakitan, dan sekelompok anak kecil?


Untuk tiba di beberapa titik evakuasi seperti Alun-alun Bandung, Ujung Berung, Tegalega, dan Balai Kota. Mereka perlu menempuh jarak yang cukup jauh. Tanpa adanya kendaraan pasti, satu-satunya cara untuk pergi ke sana ialah berjalan kaki atau ikut menumpang pada kendaraan tetangga.


Sayangnya tidak ada yang ingin menolong mereka karena panik. Alhasil selama kurang lebih enam hari itu, mereka yang ada di panti asuhan bertahan seadanya. Dengan makanan yang minim, pakaian ganti lusuh serta kebutuhan-kebutuhan lainnya.


“Hmm ... jadi seperti itu, ya?”


“I-iya ... Kakak ... Kakak ke mana aja? Kok gak pulang-pulang?”


Namun, Adis hanya bisa memasang raut suram. Ia tidak tahu harus berkata apa kepada adiknya, satu-satunya hal yang bisa ia beritahukan adalah dirinya terjebak di dalam reruntuhan. Sayangnya itu tidak menjelaskan bagaimana ia bisa mendapatkan senjata, persediaan, dan ramuan penyembuh sebelumnya.


“Kakak habis dari tempat tentara, bawa makanan, sama pakaian,” tutur Adis dengan senyum halus.


“Tentara?”


“Iya ....”


Tidak lama kemudian, mereka pun sampai di panti asuhan. Bangunan seluas 12x16 meter itu ringkih. Dengan jendela kusam pada bagian depannya, memperlihatkan jelas jika tempat itu sama sekali tidak terurus.


Dibatasi oleh pagar kayu berlumut dan beberapa semak-semak di bagian belakang. Seisi dalamnya kosong dan hanya meninggalkan jalanan bebatuan yang langsung menuju pintu masuk.


Bertingkat satu dengan atap yang pucat telah menunjukkan seberapa tuanya bangunan tersebut. Bukan hanya dari segi penampilannya saja, tetapi juga dari sekitar, dan atmosfer yang keluar dari dalamnya.


“Yeyy! Nyampe juga!”


Bertingkah acuh bahkan setelah mengalami kejadian mengerikan, Dani langsung berlari ke arah pintu masuk dengan wajah gembira.


“Kak Adis sudah pulang!” teriaknya ceria.


Bak ledakan penuh semangat, semua orang yang mendengarnya langsung melihat Dani dengan tatapan curiga.


“Adis?”


“Kamu yakin, Dan?”


Dua orang yang menanggapi tingkah laku Dani adalah Melia dan Ibu Rani—atau lebih tepatnya seorang gadis kecil berwajah bundar bermata zamrud dan seorang wanita tua berpenyakitan yang sedang mengaduk sesuatu dalam wadah bulat.


Wajah keriput Sang Ibu sangat terlihat jelas. Peluh keringat yang mengalir dari pipinya langsung membuat Adis tertegun. Sudah lama sekali baginya datang ke rumah ini. Rumah di mana semuanya berawal dan juga sosok harapan terakhir dalam kehidupannya.


Tanpa basa-basi lagi Dani langsung menarik Adis ke dalam rumah. Baik Ibu Rani dan Melia pun kaget melihat sosok Adis berdiri di hadapan mereka, pasalnya ini sudah satu minggu berlalu sejak kejadian itu muncul, dan mereka menganggap bahwa keberadaan sosok pemuda yang kini menggunakan pakaian aneh serta membawa ransel itu sudah tiada.


Namun, siapa sangka bukan saja Dani membawa kabar baik tentang sekantung beras, tapi ia juga membawa Adis bersamanya.


Mulut pemuda itu menyungging kecil. “Aku pulang.”


Sontak Ibu Rani pun menjatuhkan wadah dalam pangkuannya dan bergegas menghampiri Adis. Setelah itu, ia pun memeluk pemuda tersebut dengan erat seakan-akan tidak ingin melepaskannya.


“Selamat pulang, Nak. Kamu ke mana aja?” tanya Sang Ibu dengan mata berkaca-kaca.


Adis terdiam sesaat, mulutnya sedikit gemetar, tetapi ia berhasil menahannya.


“Aku habis dari kamp tentara, Bu. Bawa persediaan buat kita semua ....” Mata Adis menyusuri setiap sudut bagian dalam rumah. “Kata Dani, Dimas pergi buat cari obat, ya?”


Bu Rani hanya terdiam. Di balik pelukan hangat itu tersimpan sebuah ekspresi kusut yang senantiasa menghantuinya setiap saat. Kepergian Dimas sangat membebani pikirannya hingga pertanyaan Adis saja langsung membuatnya menjadi lemas.


Sontak Adis pun kaget dan segera menangkap Bu Rani yang terjatuh.


“Sudah dua hari ... dua hari Dimas tidak pulang. Ibu sangat khawatir, tapi apa daya wanita tua seperti Ibu di luar sana,” tuturnya dengan nada lemah.


“Jangan khawatir. Adis bakal bawa Dimas pulang, tapi sebelum itu ....”


Adis pun mengeluarkan dua ramuan penyembuh. Satu untuk memulihkan kondisi mental dan yang kedua adalah mengatasi kondisi abnormal. Untuk mendapatkan ramuan ini tentunya sangat menguras jumlah Vial, tapi Adis tidak peduli, dan segera mengeluarkannya.


“Minum ini dulu, Bu.” Adis pun menyerahkan satu botol silinder dengan air kuning.


“I-ini?”


“Hehehehe! Jangan khawatir, Bu. Tadi Dani juga minum, kok. Liat? Luka di lutut sama muka Dani langsung sembuh!”


Meski telah diyakinkan oleh Dani, Bu Rani masih tetap ragu, dan melirik Adis dengan tatapan kebingungan seakan menanyakan ulang “Ramuan?”.


Adis mengangguk mantap dan dengan bujukan Dani yang berulang kali. Akhirnya Bu Rani memberanikan diri untuk meminum ramuan tersebut.


Sama seperti gejala Adis dan Dani yang mengeluarkan cahaya semu. Tubuh Bu Rani pun tidak jauh berbeda dari itu, tetapi yang paling membedakannya adalah keluarnya aura hitam dari dalam tubuh Bu Rani.


“Lho? Kok bisa?”


Adis hanya tersenyum lega melihat kondisi Bu Rani yang telah membaik. Sekarang adalah giliran Putri yang masih belum terbangun dari tidur panjangnya.


Pemuda itu langsung meminta Bu Rani untuk memberinya ramuan kedua kepada Putri lalu mengistirahatkan tubuhnya sendiri untuk mendapatkan manfaat secara maksimal.


“Tunggu di sini, Adis bakal bawa Dimas pulang. Oh, satu lagi. Jangan lupa makanan dan minum.”


“Jangan sampai lupa makan. Kalau gitu, Adis pergi dulu.”


Meninggalkan semua yang telah ia persiapkan dari Blightmire. Adis pergi setelah tiba dan bersapa tegur dengan keluarganya dalam beberapa menit, meski begitu ia merasa lega karena kekhawatirannya ternyata tidak terjadi.


▼▼▼


Menapaki jalan aspal rusak, kaki kecilnya terus bergerak tanpa lelah. Peluh keringat terlihat mengalir di wajah kusamnya. Dengan ekspresi tegang dan pucat, setiap napas yang masuk maupun keluar tampak tak tenang.


Di dalam gang itu Dimas berlari, berlari sekencang, dan sekuat mungkin. Akhirnya ia berhasil mendapatkan obat untuk Ibu dan juga Putri, tapi kondisinya sendiri tidak lebih baik dari mereka.


Bukan hanya berada di tempat terpencil dan mengerikan saja, saat ini dirinya berada di pinggiran kota tanpa membawa persediaan serta perlengkapan penunjang kehidupan. Hanya berbekal tas kosong dan satu botol air mineral, ia nekat pergi meninggalkan panti asuhan demi Sang Ibu tercinta.


“S-s-sepertinya sekarang udah aman. Kenapa harus dikejar sama anjing busuk segala?” tanyanya sendiri dengan napas tersengal-sengal.


Dima pun mengambil jalur kiri menuju persimpangan jalan menerobos ke sungai penghubung desa satu dan dua. Panti asuhan berada di desa pertama yang mana tidak jauh dari stadion bola, sedangkan dirinya pergi jauh mencari obat hingga ke desa kedua.


Berpikir bahwa dirinya tidak lagi dikejar oleh anjing-anjing busuk dengan mata merah dan badang berbau amis. Tubuh rampingnya ia bawa paksa untuk pergi menuju ke seberang. Dengan harapan tidak ada lagi monster yang mengejarnya sehingga obat yang berada di dalam tasnya bisa membantu Bu Rani cepat sembuh.


Namun, tanpa sepengetahuannya. Sesosok siluet hitam nan besar sedang mengawasi dirinya dari pojok kanan dekat dengan rumah terbengkalai.


Saat ini satu-satunya cara agar ia bisa selamat adalah memaksakan diri untuk segera berlari tanpa menengok ke belakang.


Ketukan berirama. Napas terengah-engah yang mulai habis. Beberapa mata merah keluar dari bayang-bayang dan kondisi cuaca yang tampaknya mulai mendung serta mengeluarkan gema guntur terdengar hebat.


Dimas pun mendecakkan lidahnya terus berlari sekuat tenaga. Namun, apa yang berada di belakangnya tidak terlihat memiliki niat untuk melepaskan mangsa empuk di depan mata.


Gonggongan serta lolongan mulai membuat Dimas merinding. Tanpa lelah dan henti, ia menapaki jalanan beraspal serta berbatu kecil seakan hanya dengan berlarilah ia bisa selamat dari serangan monster.


“Hahh ... huhh ... hahh. Nggak ... a-a-aku nggak akan berhenti di sini. Ibu ... Ibu masih ada di rumah ... menungguku pulang ....”


Gang pertama berhasil di lewati dan apa yang menunggunya kemudian adalah dua ruas jalan dengan penghalang sungai lebar. Sebuah jembatan kayu penyambung dua sisi terhampar luas di depannya.


Begitu Dimas ingin mengangkat kaki kanannya, seketika itu juga ia berhenti karena mendengar geraman buas dari belakang. ia tidak ingin melakukannya dan juga tidak ingin melihat apa yang sedang menunggunya di belakang.


Sayangnya rasa penasaran dalam hati anak laki-laki itu lebih besar ketimbang keselamatan dirinya sendiri. Kepalanya perlahan menengok ke belakang. Satu lusin anjing busuk dan seekor monster besar setinggi tiga meter kini tengah menatapnya lekat-lekat.


Tanpa bisa menyembunyikan rasa lapar yang kuat. Liur mereka terus menetes tak henti-henti.


“Bangun! Lari ke sini!—“


Tidak hingga teriakan itu menyadarkan dirinya. Sontak Dimas pun melirik ke arah sumber suara tersebut dan sadar bahwa ada seseorang yang kini berdiri di ujung jembatan penghubung.


“Apa yang kamu lakukan di sana, Dimas! Cepet lari ke sini!”


Suara itu berasal dari Kakaknya yang tidak lain adalah Adis.


“Ka ... kak—Kak Adis?!”


DHUARR!


Bunyi dentuman kuat keluar bak petir kejut dilangit kelam. Menyayat rasa rindu dan menyasar seekor anjing busuk yang hendak ingin menerkam Dimas dari belakang. Selongsong peluru pun berdentam, memantul jatuh menciptakan bunyi nyaring yang menggetarkan udara.


Makhluk busuk itu pun lenyap menjadi tubuh tak sempurna yang mana bagian kepalanya hancur disambar oleh peluru cepat dari senapan Adis.


【Kau berhasil membasmi The Martpluge, mendapatkan 40 vial】


Dimas pun sadar, tapi kali ini ia benar-benar sadar bahwa nyawanya sedang diincar oleh sekumpulan makhluk ganas di belakangnya.


Kini matanya menatap lurus menuju ujung jembatan, di mana Sang Kakak yang sedang berdiri tegak terus menembakkan senapannya.


Dua dentuman, kaki Dimas kembali bergerak. Adis menarik napas dan Sang Adik yang kini berlari mengejar kehidupannya terlihat putus asa dengan keadaannya.


【Kau berhasil membasmi The Martpluge , mendapatkan 40 vial】


Tiga dentuman dan Dimas bergerak layaknya seorang hewan liar yang kelaparan. Adis membidik musuh dalam kesunyian [Silent Zone], menembus yang tak terlihat demi menggerakkan Sang Adik yang tak kala kini ingin hidup.


【Kau berhasil membasmi The Martpluge , mendapatkan 40 vial】


Empat dentuman, tepat di saat guntur menggelegar menyapu bersih salju hitam dalam satu ketukan kuat. Adis menyiapkan peluru spesial demi menyambut Sang Monster besar yang kini mulai bergerak mengejar Dimas.


【Kau berhasil membasmi The Martpluge , mendapatkan 40 vial】


【Kau berhasil membasmi The Martpluge , mendapatkan 40 vial】


Lima dentuman dan jarum jam bergerak lambat, tarikan napas penentu, dan sebuah retakan kuat langsung menghancurkan [Silent Zone] milik Adis. Bersama dengan kepingan kaca transparan yang akan segera lenyap. Sang Monster raksasa melompat cepat, menerjang Dimas dari belakang hanya untuk diterkam balik oleh peluru spesial berkecepatan suara.


Begitu Dimas melompat dan menyerahkan segalanya pada Sang Kakak, yaitu Adis. Di sisi lain, jembatan penghubung pun hancur berkeping-keping, membawa semua monster yang ada di ujung lain masuk ke dalam ledakan tornado api.


【Kau berhasil membasmi The Dirtlunge, mendapatkan 200 vial】


Dan bersamaan dengan ledakan itu, papan notifikasi Adis terus keluar menampilkan semua prestasinya membasmi monster pengejar Dimas.