
Entah apa yang terjadi saat ini ketika Yoongi melihat Sora yang tubuhnya menggunakan pakaian Yoongi. Kaos yang sangat kebesaran ditubuh kecilnya ditambah celana pendek hitam yang juga kebesaran bagaimana bisa terlihat bagus ditubuh Sora, lelaki itu cukup bersyukur karena celana yang digunakan Sora memiliki tali yang bisa diatur sedemikian rupa agar pas dipinggang. Bayangkan jika celana itu tidak mempunyai tali pasti Sora tidak akan menggunakan celana, kepala Yoongi sakit memikirkannya.
Yoongi yang awalnya mengira Sora akan pergi saat dia meminta Sora untuk menanggalkan bajunya, kaget luar biasa saat gadis itu benar-benar melepas terusan yang digunakan. Yoongi lelaki normal, munafik jika dia tidak tertarik dengan tubuh kecil Sora yang tampak indah tanpa busana itu. Tapi disisi lain dia masih punya perasaan dia tidak ingin menghancurkan gadis yang sangat mempertahankan dirinya agar tidak terjerumus kedalam **** bebas.
Yoongi sangat menghargai itu.
Dan yang lebih gilanya lagi, gadis itu meminta pada Yoongi agar diizinkan untuk menginap ditempatnya. Entah apalagi yang akan terjadi malam ini.
"Pulanglah, aku akan antar kau pulang." Ucap Yoongi dengan nada frustasi karena Sora tetap tidak mau pulang.
"Tidak mau Yoongi-ya." Balas Sora sembari menyiapkan makanan untuk Yoongi.
"Itu sangat menyiksaku." Tambah Yoongi yang memang tidak tahan dengan pakaian Sora yang menurutnya sangat menggoda itu.
"Kalau begitu kita menikah saja, simple 'kan?"
"Kau memang benar-benar gila." Yoongi merebahkan badannya diatas sofa yang sejak tadi didudukinya.
Sora meletakkan sepiring nasi goreng diatas meja yang wanginya langsung memenuhi ruangan, Yoongi yang awalnya menutup wajahnya demi menghindari Sora kembali bangkit karena aroma makanan yang mengundang lapar.
"Apa ini?" Tanya Yoongi.
"Nasi goreng, cobalah aku membuatkannya untukmu."
"Hanya satu?" Yoongi heran karena cuma sepiring yang ada dimeja.
"Aku tidak makan nasi."
"Diet?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Phobia yang berawal dari trauma." Jawab Sora yang langsung mendapat perhatian penuh dari Yoongi.
Wajahnya seolah bertanya ada apa dengan nasi. Tapi Sora malah membalas dengan senyuman hangat yang membuat Yoongi bergidik seketika.
"Satu hal yang tidak pernah aku mengerti darimu adalah senyumanmu itu. Terlalu sulit untuk diartikan." Yoongi akan gila sebentar lagi jika terus-terusan didekat Sora.
"Habiskan dulu, setelah itu kita minum soju."
Yoongi hanya menuruti perkataan Sora yang cukup menghipnotis saat itu juga, atau memang dia sudah terlalu lapar karena sejak pagi belum ada makanan yang masuk keperutnya.
Yoongi mulai menyuap nasi tersebut masuk kemulutnya dan mengunyah secara perlahan, takut kalau masakan yang dibuat Sora tidak selezat tampilannya. Yoongi membulatkan matanya yang sipit karena terkejut dengan rasa yang menjalar diseluruh indera perasa.
"Terkejut dengan masakanku?" Sora tersenyum nakal saat melihat ekspresi Yoongi yang seperti tidak menyangka seorang Sora bisa memasak dengan rasa yang cukup enak.
"Tidak buruk." Balas Yoongi dan melanjutkan makannya.
Sora duduk bersila disamping Yoongi dengan memangku dagunya dengan kedua tangan, melihat lelaki itu dari jarak dekat sudah menjadi salah satu hal yang paling disukainya.
Yoongi berusaha untuk tidak perduli dengan Sora yang cukup mengganggu konsentrasinya, walaupun celana yang dipakainya kebesaran tetap saja paha yang terlihat mulus itu kelihatan karena Sora yang tidak memperhatikan cara duduknya.
Sepiring nasi goreng yang disediakan Sora sudah habis tak bersisa dilenyapkan Yoongi, dia menggeser piringnya dan ikut duduk menghadap Sora yang masih setia dengan posisinya. Yoongi melirik sedikit kearah bawah Sora yang tidak tertutup juga sejak tadi, bagaimana caranya agar gadis ini sadar apa yang sedang dilakukannya.
"Berhentilah menatapku seperti itu."
"Aku suka melihatmu, sampai-sampai aku ingin terus memelukmu."
"Aku tidak melihatmu makan apapun sejak tadi." Tanya Yoongi yang lebih memilih mengalihkan pertanyaan Sora agar tidak berlanjut lebih.
Sora mengambil semangkuk buah-buahan sebagai pengganti makan malamnya, dia menusuk potongan buah dan melahapnya.
"Ini makan malamku." Balas Sora.
"Sebenarnya ada apa denganmu?"
Sora menghela nafas panjang saat Yoongi juga ikut penasaran dengan dirinya, walau berat ingin menceritakannya tapi dia harus bersyukur karena Yoongi ingin tahu tentang dirinya walaupun hanya basa-basi, Sora menganggap ini sebagai kemajuan karena Yoongi sedikit mulai peduli dengannya.
"Dulu, Ayah dan Ibuku menikah tanpa restu dari orang tua Ayahku sedangkan Ibuku yatim piatu. Waktu itu Ibuku bekerja diperusahaan keluarga Ayahku, sebagai staff biasa. Karena pekerjaan Ibuku sangat teliti dan rapi Ayahku mengangkatnya menjadi sekretaris pribadinya, ya karena Ayahku sering pergi ke luar negeri yang mengharuskan Ibu juga ikut dari situlah perasaan cinta muncul."
"Singkat cerita mereka saling suka hingga Ibuku hamil karena Ayahku. Karena memang Ayahku pada dasarnya cinta dengan Ibuku mereka memilih untuk menikah, tapi hal itu ditentang oleh Nenekku yang sudah punya pendamping untuk Ayahku. Karena menurut Nenek yang kaya untuk kaya, yang miskin untuk miskin."
"Tapi Ayah tetap nekat menikahi Ibuku dan memancing amarah Nenek yang saat itulah masalah dimulai."
Sora kembali melanjutkan memakan buahnya dan Yoongi yang tetap diam mendengarkan tanpa bermaksud menjeda cerita Sora.
"Konflik hati terus terjadi sampai puncaknya saat aku sekolah dasar, Nenekku sangat membenciku dan Ibu. Saat itu aku sangat lapar aku makan dengan lahap dan aku meminta pada Ibu untuk menambah nasi dimangkuk makanku, lalu Nenek berkata yang sangat menyakiti hatiku juga Ayahku."
"Dia berkata jika aku terus menerus makan banyak nasi dirumah itu nasinya akan cepat habis dan tidak akan bisa memberi makan cucunya yang lain." Sora menghela nafasnya lagi sambil meremas kaos bagian sebelah kirinya.
Yoongi yang melihat itu merasa tidak tega dengan Sora yang kembali mengingat masa lalunya yang menyakitkan.
"Sudahlah jangan dilanjutkan."
"Tidak apa, kau lelaki pertama yang tahu kisah ini karena aku percaya padamu. Bahkan adikku pun tidak tahu tentang hal ini."
"Jadi Ayahku kesal karena Nenek berkata seperti itu yang tidak pantas diucapkan pada anak kecil sepertiku, dan akhirnya perang antara Nenek dan Ayah kemudian Ayahku diusir dari rumah itu dan seluruh kekayaan Nenek tidak ada sedikitpun diberikan untuk Ayah."
"Malam itu juga kami keluar dari rumah Nenek dan menginap di flat Ibu, setelah itu kami ke Indonesia memulai hidup baru tanpa membawa kenangan Korea sedikit pun."
"Sejak saat itu berat badanku turun drastis, sampai Ibu membawaku ke psikiater tapi hasilnya sia-sia, semua ucapan Nenek sangat membekas dihati. Yang ada dipikiranku adalah jika aku makan nasi orang lain tidak bisa makan."
"Aku juga harus beradaptasi ulang sejak tinggal di Indonesia, anak sepertiku dianggap aneh jadi aku lebih memilih menjadi anak biasa dibanding aku tidak mempunyai teman."
"Itu berarti kau tidak menjadi dirimu sendiri." Potong Yoongi.
"Aku tahu, tapi itu jauh lebih baik daripada tidak punya teman. Jika aku mau, aku sudah selesai kuliah diumur dua belas tahun."
"Ternyata saat aku mencoba jadi anak biasa pun tetap saja ada yang tidak menyukaiku, walaupun aku berpura-pura menjadi biasa prestasiku tidak bisa ditutupi, ditambah perbedaan fisikku yang memang keturunan Korea sehingga sangat kontras diantara anak-anak yang lain."
"Aku ditindas teman sekolah, aku tidak melawan karena aku ingat Ibu yang mengajarkanku untuk tidak berbuat jahat pada orang lain, cukup balas dengan kebaikan. Sampai akhirnya aku merasa lega saat aku selesai dari sekolah. Aku merasa bisa jadi diriku sendiri saat Ibu membebaskanku untuk belajar apa yang aku suka. Ibuku memang yang terbaik."
Sora menoleh pada Yoongi yang masih tetap menatapnya tanpa bergerak sedikitpun. Sora meraih tangan Yoongi dan meletakkannya didada Sora, seolah dengan itu cara yang dilakukan agar Yoongi tahu jika Sora juga mengerti apa yang Yoongi rasakan.
"Itu sebabnya aku memaksamu untuk membagi rasa sakitmu, aku tahu persis apa yang kau rasakan. Saat semua orang tidak mengharapkanmu aku ingin jadi seseorang yang bisa memberikanmu sayap agar kau bisa terbang dan pergi dari tempat yang tidak mengharapkanmu."
"Hanya itu Yoongi. Hanya itu."
Jika ada yang bertanya seperti apa yang dirasakan Yoongi saat ini dia akan menjawab dengan lantang, jika dia tidak sendiri. Ternyata ada orang lain yang mengalami hal yang lebih sulit dari dia, perasaan itu muncul dengan sendirinya ingin memeluk gadis disampingnya ini.
Sora mengembalikan tangan Yoongi yang sejak tadi dipegangnya, mengambil soju milik Yoongi dan meminumnya. Gadis itu tidak jijik sama sekali meminum langsung dari botol, padahal sebelumnya Yoongi sudah meminum cairan itu langsung dari botolnya.
"Aku tahu kau sedang ada masalah hari ini, jadi jangan usir aku. Aku ingin tidur disini malam ini."
Yoongi tetap diam, tanpa Sora minta pun dia tidak akan mengusirnya, gadis ini sudah menarik hati Yoongi secara perlahan. Gadis yang dia kira "nakal" ini ternyata seorang gadis yang sangat baik, rela dihina agar bisa menjadi sandaran untuk Yoongi.
"Kepalaku pusing." Gumam Sora yang disangka Yoongi efek dari soju yang diminumnya. Tapi gadis itu malah kembali menenggak sampai habis.
Yoongi kaget dan langsung merampas botol yang dipegang Sora, lelaki itu menebak jika Sora sudah mabuk.
"Aku masih sadar seratus persen, jangan khawatir." Sora tertawa kecil karena Yoongi khawatir dia sudah mabuk.
"Aku pusing karena ingat Nenek, kenapa dia membenciku."
"Sudahlah, jangan dipikirkan." Balas Yoongi yang berharap Sora akan cepat melupakannya. Ini semua salah dia yang memancing Sora mengingat kembali kenangan buruknya.
Tapi yang terjadi adalah, Sora menenggelamkan wajahnya dilutut yang sudah ditekuknya terlebih dahulu memeluk kakinya dan menangis disana. Tidak ada yang bisa Yoongi lakukan, dia terlalu bingung. Saat melihat Sora menangis seperti itu hatinya terasa sakit, dia ingin rasa sakit itu bisa dia rasakan juga.
Mungkin ini yang dimaksud oleh Sora.
Yoongi mengerti sekarang.
Tangan pucat itu meraih tangan Sora menariknya dan memeluk seluruh tubuh gadis itu, bahkan dia sedikit mengangkat tubuh Sora kepangkuannya agar lebih leluasa memeluknya, berharap dari pelukan ini mereka bisa saling terhubung dan melupakan rasa sakit dihati masing-masing.
Sora menangis sejadi-jadinya dipundak Yoongi mungkin baju lelaki itupun sudah basah karena air mata Sora, tapi Yoongi tidak mempermasalahkan itu. Yoongi tetap memeluk bahkan mengeratkan pelukannya agar gadis itu lebih merasa tenang.
Usaha Yoongi tidak sia-sia setelah lima belas menit, Sora mulai menghentikan tangisnya Yoongi lega akan hal itu. Sora menarik kepalanya dari pundak Yoongi dan menghapus jejak-jejak air matanya.
"Maaf.. bajumu jadi basah, aku akan mencucinya." Ucap Sora dengan terbata karena tangisnya masih menyisakan sedikit senggukan.
Yoongi lagi-lagi tidak menjawab, dia diam tanpa kata. Dia memperhatikan seluruh lekuk wajah Sora yang mulai dikaguminya sejak Sora membagi kisah dirinya pada Yoongi. Ingin rasanya dia memeluk Sora sepanjang malam.
"Bahu sebelah kiri belum basah, jika merasa belum cukup."
Sora tersenyum dengan perkataan Yoongi ternyata lelaki ini bisa menjadi romantis dengan caranya sendiri.
Sora menggeleng karena merasa dirinya sudah cukup merepotkan Yoongi, dia tidak ingin melanjutkan kesedihan yang terus menekan dirinya.
Saat ingin turun dari pangkuan Yoongi, Sora merasa pinggangnya ditahan oleh lengan pucat itu, seolah tidak memperbolehkan Sora pergi dari sisinya. Sora menatap Yoongi yang sudah ditatap lebih dulu oleh lelaki itu, Sora langsung merasakan jantungnya berdegup tak karuan seperti saat mereka berciuman dimalam itu.
Yoongi semakin mengeratkan lingkaran tangannya dipinggang Sora hingga tangan Sora mencoba menahan didada Yoongi agar tidak terlalu dekat sehingga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Sora juga merasakan debaran didada Yoongi, apa lelaki itu juga takut akan terjadi hal diluar perkiraan dia. Entahlah mereka terlalu sulit menebak apa yang akan terjadi.
Sora mulai gelisah, karena Yoongi tidak berhenti menatapnya. Apa yang sebenarnya yang ada dikepala lelaki itu.
"Ehm, Yoon..."
"Hanya sampai leher 'kan?" Potong Yoongi sebelum Sora menyelesaikan kalimatnya.
Sora cukup panik didalam hati, dia ingin menolak tapi dia harus menepati janjinya. Apa yang harus dia lakukan sekarang ini.
"Percayalah padaku." Bisik Yoongi ditelinga Sora yang entah sejak kapan berada disana.
Yoongi menyelusupkan lidahnya dibelakang telinga Sora, hal yang seketika memberikan efek sensasi luar biasa. Sora belum pernah seperti ini. Yoongi lanjut menciumi bawah telinga Sora, menghirup bau gadis itu, yang pastinya setelah ini akan menjadi candu buat Yoongi. Wangi yang tidak menyengat, wangi yang sangat lembut seperti wangi sabun bayi sejak kapan dia menyukai wangi seperti ini.
Dia lanjut menciumi leher Sora hingga gadis itu menggigit bibirnya, menelusuri sekitar leher dan naik kedagu Sora. Menggigit kecil hingga menciptakan pekikan kecil nan seksi yang semakin menambah gairah Yoongi, tapi dia harus menahannya.
Setelah puas menjelajahi sekitaran rahang Sora, Yoongi memutuskan sentuhan perasanya dikulit leher Sora. Meraih pipi gadis itu dengan tangannya, menelusupkan jari-jari panjangnya kebelakang leher lalu tanpa ragu bibirnya menyentuh bibir Sora.
Berawal dari ******* kecil yang manis mampu membuat Sora melayang bebas, tapi otaknya tetap menolak untuk tidak melanjutkan ini. Ini sudah tidak benar. Sora sedikit mendorong tubuh Yoongi tetapi tidak sebanding dengan tarikan untuk semakin rapat yang Yoongi ciptakan. Dia malah menambah tempo lumatannya agar Sora tidak terlalu khawatir dan hanyut dalam ciuman Yoongi.
Sora sudah tidak bisa menghitung lagi berapa kali lelaki itu menggigit bibirnya, bahkan dia sudah merasakan kebas dan bengkak dibibir. Sora tadi juga sempat merasakan sedikit darah yang keluar dari bibir akibat ulah Yoongi, gadis itu juga tidak tahu kapan Yoongi akan mengakhiri ciuman yang terasa cukup lama ini.
Sora sedikit memukul bahu Yoongi saat dirasa dia perlu oksigen untuk bertahan hidup, Yoongi seolah tidak peduli dengan itu semua dia tetap melakukan ******* dalam diciuman mereka.
Saat awal ciuman tadi Sora masih bisa mengimbangi permainan Yoongi, tapi semakin lama ciuman mereka semakin dalam Sora hanya bisa menerima dan pasrah, selanjutnya lidah Itu juga ikut masuk kedalam rongga mulut Sora yang terasa sangat aneh baginya.
Lidahnya terasa ingin menggapai sesuatu yang tidak ada sama sekali, menyentuh rongga atas mulut Sora dan lagi-lagi memberikan sensasi aneh yang sulit untuk dijelaskan. Sora benar-benar sudah tidak tahan dengan ciuman Yoongi yang cukup brutal untuknya, dia kembali memukul dada Yoongi agar segera menghentikan tindakan gilanya.
Yoongi mengerti jika Sora ingin menghentikan ciuman yang dilakukannya, Yoongi juga hampir kelepasan jika Sora tidak memperingatinya, sebelum melepaskan pagutan diantara keduanya Yoongi kembali menyesap kuat bibir Sora dan tidak lupa gigitan kecil dan menariknya cukup kasar darah yang sempat terhenti tadi kembali mengalir dibibir Sora.
Keduanya segera mengambil nafas masing-masing, bernapas tidak teratur seolah besok tidak akan ada lagi oksigen dipermukaan bumi ini. Hingga akhirnya Yoongi menyatukan kedua dahi mereka mengusap pelan pinggang Sora yang mulus.
"Maaf. Aku harap kau mengerti." Ucap Yoongi sembari menghapus darah yang ada dibibir Sora.
Sora merasa dunianya runtuh seketika, saat Yoongi yang mengatakan kalimat itu jauh lebih sakit dibanding dia yang mengatakan. Sora sangat mengerti maksud Yoongi karena ini juga Sora yang memintanya.
Menjalin hubungan tanpa ada ikatan.
Tbc
Terima kasih buat yang udah baca 🤗
Vote & Comment sangat berarti bagiku.
Terima kasih
Purple u 💜