Our Fate

Our Fate
New Day



New York, USA


April 2012


Suara roda koper yang berputar berwarna hitam, seolah menjadi suara pendukung dari langkah kaki seorang gadis berusia sembilan belas tahun. Dia baru saja menapakkan kakinya di Bandara Internasional John F. Kennedy kota New York, USA.


Sebulan yang lalu dia menerima email dari PBB, yang berisikan penerimaan magang selama tiga bulan. Gadis itu juga tidak menyangka bisa masuk kekantor PBB yang selalu diimpikannya itu.


Awalnya dia hanya iseng mencoba mengirimkan CV dirinya melalui email, karena dia ingin mengetahui selain menjadi Dosen atau Pegawai Negeri, pekerjaan apalagi yang bisa dimasuki oleh sarjana Antropologi. Dan beruntungnya dia yang bisa mendapatkan kesempatan emas ini, bisa dijadikan bahan skripsinya. Saat ini gadis itu sedang menyusun skripsi, demi mengejar gelar S1 di Universitasnya.


Jika ada yang bertanya, bagaimana bisa umur sembilan belas tahun sudah bisa menyusun skripsi? Sedangkan di Indonesia sendiri rata-rata mahasiswa dapat menyelesaikan S1, antara tiga atau empat tahunan. Tetapi itu tidak berlaku untuk gadis keturunan Korea-Indonesia ini.


Kang Sora, memiliki otak cerdas yang sudah didapatnya sejak kecil. Orang tuanya pun juga sudah sadar saat dia berusia tiga tahun, tiga tahun Sora diisi dengan buku-buku. Diusianya yang dini tersebut sudah bisa membaca dengan lancar.


Disaat usianya sudah lima tahun, dia lebih tertarik dengan buku mengenai hubungan antar manusia. Orang tuanya juga merasa sedikit takut jika anaknya tidak memiliki teman, karena kesehariannya hanya membaca buku.


Jika anak ber-IQ tinggi lebih tertarik dengan buku yang isinya didominasi dengan angka, tapi tidak dengan Sora. Hubungan sosialisasi antar manusia sangat menarik perhatiannya, itu sebabnya dia mengambil jurusan Antropologi; Ilmu yang mempelajari tentang manusia.


Saat Sora masuk ke sekolah dasar, dia sedikit terkejut. Semua yang diajarkan oleh gurunya sudah lebih dulu dia pelajari, apalagi dengan teman-temannya. Disaat yang lain masih belajar menulis dan membaca, Sora malah sudah tahu isi buku yang dipegangnya saat itu.


Pulang sekolah Sora menceritakan pengalamannya, Ibunya hanya tersenyum menyikapi celotehan anak yang istimewa ini. Ibunya kemudian memberikan pengertian tentang keistimewaan yang dimilikinya, Sora yang sudah bisa berpikir diatas anak-anak seusianya mengangguk mengerti. Dan diakhir kalimat Ibunya mengatakan, "Bukankah Sora sudah membacanya dibuku? Ini hanya tinggal prakteknya saja."


Setelah sadar dirinya sedikit "berbeda" dengan teman-teman seumurannya, Sora mengikuti saran Ibunya untuk tetap bersekolah seperti anak lain seusianya. Walaupun dia sudah mengerti, tetapi dia tetap memperhatikan gurunya. Ketika ada temannya yang sedikit bingung dengan soal yang diberikan guru dengan senang hati dia membantunya.


Ibunya juga pernah berkata, dia tidak ingin Sora kehilangan masa kecilnya hanya karena dia "istimewa". Sora sangat paham apa maksud Ibunya.


Sora juga sangat pandai bergaul, tidak ada disekolah yang tidak mengenal dia. Bukan hanya karena dia selalu mendapatkan semua julukan yang terbaik, tapi juga karena sifat ramahnya kepada semua orang. Beasiswa, pertukaran pelajar, hingga mengharumkan nama sekolah sudah menjadi makanan wajibnya.


Tapi masalah Sora dimulai saat dia duduk dibangku menengah atas, ada banyak murid yang iri dengannya atas prestasi yang didapatnya. Dia menjadi kesayangan semua guru. Jika sewaktu sekolah dasar dan menengah pertama dia sangat disayang oleh semua orang, tidak berlaku sama dikehidupan SMA. Dia mulai di bully karena kepintarannya, apalagi di Indonesia sendiri masih banyak kasus soal bullying.


Bentuk tindas yang didapatkan Sora cukup serius, sering mendapat kekerasan fisik dari teman yang membenci dirinya. Apalagi Sora memiliki wajah yang tidak seperti gadis Indonesia pada umunya. Wajah Korea Ayahnya sangat mendominasi, apalagi kulit putih yang semakin menambah kebencian teman yang tidak menyukainya.


Sora tidak membalas perlakuan orang yang membencinya, justru dia hanya tersenyum. Sora melakukan itu karena Ibunya selalu mengajarkan untuk bersikap tenang saat menghadapi masalah. Ditambah jalan pikiran Sora yang sudah cukup dewasa dibanding teman seusianya, jadi saat terjadi kekerasan bukan berarti dibalas kekerasan.


Teman-teman Sora tidak suka dengan sikapnya yang hanya diam tersenyum tanpa membalas apapun, hingga teman-temannya pun melaporkan kejadian yang dialami Sora pada kepala sekolah. Pihak sekolah mengancam akan membawa kasus ini ke Polisi jika tidak ada yang mau mengakui perbuatannya, dan akhirnya teman yang mengintimidasi Sora pun menangis meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya.


Sebelum masuk Universitas, Sora berdiskusi dengan Ibu juga Ayahnya soal jurusan yang akan dia ambil. Ibunya mendukung penuh apapun jurusan yang akan dipilih Sora, sangat bertentangan dengan Ayahnya yang sangat menginginkan Sora mengambil jurusan hukum. Tentu saja Sora menolaknya dengan cara halus, tapi yang ada Ayahnya tidak peduli sama sekali. Ayah Sora cukup keras dalam mendidik anaknya, itu juga yang menyebabkan Sora sedikit takut untuk menolak.


Setelah berdiskusi panjang sampai memakan waktu seminggu lamanya, mereka mendapat keputusan akhir. Sora harus segera menyelesaikan kuliah antropologinya agar bisa melanjutkan kuliah jurusan hukum, yang tentunya kuliah antropologi tidak bisa memakan waktu sebentar.


Seringnya mendatangi desa-desa terpencil demi bahan kuliahnya, sampai suku-suku pedalaman yang sebagaian besar tidak mengenal dunia luar, membutuhkan waktu ekstra untuk bisa lebih mendekati orang-orang yang tidak suka dengan kemajuan dunia.


Bukan Sora namanya jika dia tidak mampu menyelesaikan apa yang dia mulai, sekarang hanya tinggal selangkah lagi dia mendapatkan gelar sarjananya.


Sora kembali melihat jam tangan pemberian adik lelakinya, sudah pukul lima sore. Sebaiknya dia pergi ke penginapan yang sudah dipesannya jauh hari. Inilah salah satu didikan Ayahnya, hidup mandiri. Saat Sora mengatakan akan magang di New York selama tiga bulan, Ayahnya melarang Ibunya untuk membantu. Segala keperluan Sora, dia tangani sendiri.


Untuk urusan uang saku pun Ayahnya tidak memberikan lebih, hanya cukup untuk makan. Sedangkan transportasi Ayahnya menyarankan untuk jalan kaki saja, banyak penduduk sana yang lebih memilih jalan kaki. Sora tidak khawatir soal biaya, karena dia punya cukup tabungan untuk biaya hidupnya disana.


Jangan tanya dari mana uangnya, tentu saja hasil dari otak cerdasnya. Menjual buku tentang pelajaran juga les private yang bukan hanya untuk anak sekolah saja, termasuk juga mahasiswa. Bayangkan uang yang ditabungnya sejak sekolah menengah pertama.


"Sebaiknya aku naik taksi saja." Ucap Sora yang berbicara dengan dirinya sendiri.


Dia akan memulai kehidupan barunya untuk tiga bulan kedepan.


🍁🍁🍁


Seoul, Korea Selatan


April 2012


Perasaan gelisah dari ketiga lelaki yang sedang duduk disebuah ruangan, lebih tepatnya lebih mirip seperti ruang rapat. Menguar jelas diwajah masing-masing. Saat ini mereka dipanggil oleh pemilik dari agensi tempat mereka bernaung, untuk membahas tanggal debut mereka.


"Apa tanggal debut kita diundur lagi Hyung?" Tanya Hoseok.


Lelaki yang dipanggil kakak itu hanya menghela nafas, sebelum menjawab pertanyaan dari rekan satu grupnya itu.


"Entahlah, aku juga tidak tahu." Balas Yoongi.


"Lebih baik kita tunggu saja untuk kabar hari ini, menebak seperti itu membuat perasaanku semakin tidak karuan." Balas Namjoon yang berusaha menengahi obrolan siang itu.


Tidak lama setelah ucapan Namjoon keluar dari mulutnya, seorang pria bertubuh gempal memasuki ruangan. Ketiga lelaki itu langsung berdiri dan membungkuk hormat dengan lelaki yang bernama Bang Si Hyuk itu.


"Baiklah, aku tidak ingin membuang waktu. Aku tahu kalian sudah lama menunggu." Ucap pria itu sambil tersenyum.


Ketiga lelaki itupun langsung menegakkan badannya, masih sedikit cemas dengan apa yang akan diucapkan pria didepannya ini.


"Aku sudah memikirkan tanggal debut kalian, dan yang pasti tidak tahun ini seperti terakhir kali kita bicarakan." Pria tersebut memandang anak didiknya satu persatu dan melanjutkan kalimatnya.


"Tahun depan akan menjadi tahun debut kalian."


Ketiga lelaki tersebut pun sedikit melepaskan nafas lega saat mendengarnya, penantian mereka selama tiga tahun terakhir ini membuahkan hasil.


"Tapi, sebelum kalian debut. Aku harus memastikan kalian sudah layak untuk debut."


"Kalian akan ke New York untuk menjalani pelatihan bersama Warren G."


Sontak ketiga lelaki itu membesarkan matanya, memastikan kebenaran dari ucapan Bang Si Hyuk.


Tapi setelahnya mereka bertiga tertawa canggung, masih tidak percaya dengan apa yang didengar.


"Jangan terlalu banyak memberi angin surga PD-nim." Ucap Namjoon yang masih belum percaya.


"Sudah cukup omong kosongnya." Timpal Yoongi, tidak peduli bagaimana bahasa yang digunakannya.


Sedangkan pria itu hanya tertawa, tidak mengira anak didiknya tidak mempercayai dia.


"Apa aku terlihat seperti pembohong?" Tanya Bang Si Hyuk.


"Ya." Timpal Yoongi.


Namjoon, Hoseok juga Manager mereka berusaha menahan tawanya, jawaban Yoongi memang terlalu jujur. Setelahnya Bang Si Hyuk menegakkan posisi duduknya, berusaha mengembalikan harga dirinya yang sudah terjatuh kelantai sebelumnya.


"Aku tidak bercanda, lebih detailnya kalian bisa bertanya pada Manager kalian. Jika ada yang kurang jelas, kalian bisa ke ruanganku." Tutup Bang Si Hyuk mengakhiri rapat kali ini.


Setelahnya dia bangkit keluar dari ruangan, dengan membawa laptop ditangannya. Setelah pria itu menghilang dari pandangan, Namjoon dan Hoseok tertawa. Mengingat kembali percakapan antara sang pemilik agensi dengan sang artis yang bahkan belum debut.


"Sebaiknya kau harus mulai menjaga omonganmu saat kau debut nanti." Ucap sang Manager yang menghentikan tawa Namjoon dan Hoseok.


"Aku berkata jujur." Balas Yoongi.


"Tapi tidak seperti itu caranya."


"Aku tahu apa yang harus aku lakukan, lebih baik jelaskan saja pada kami apa yang harus dilakukan saat disana."


Manager itu pun hanya bisa menghela nafas, Yoongi bukan tipe orang yang suka mengulur waktu. Sifatnya yang seperti tidak peduli akan perasaan orang lain itupun, sudah menjadi makanan sehari-hari bagi mereka. Managernya sudah sangat paham dengan karakter Yoongi.


Jika ada yang belum mengenalnya, pasti akan sakit hati dengan mulut tajamnya.


Yoongi mendengarkan dengan serius apa yang diucapkan Managernya. Gerbang menuju debut akan menjadi kenyataan, dia akan segera bertemu dengan impiannya.


Juga cintanya.