Our Fate

Our Fate
I'm Sorry (2)



Yoongi baru saja menginjakkan kakinya di Indonesia, dia dan Sejin terbang dari Korea malam itu juga. Sejin harus ikut atas permintaan Bang Si Hyuk, biar bagaimanapun Yoongi adalah seorang idola.


Dia sampai di Indonesia pukul lima pagi, dari Bandara menuju rumah sakit memakan waktu satu jam, Yoongi tidak bisa tidur sama sekali, dikepalanya hanya ada Sora dia sangat khawatir jika keguguran bisa membuatnya kembali depresi.


Yoongi juga bersyukur karena tidak ada yang tahu tentang keberadaannya di Indonesia, mungkin karena penerbangan mendadak sehingga tidak ada yang tahu jika Yoongi sedang berkeliaran disaat jadwal syutingnya.


Saat baru saja sampai diparkiran rumah sakit Yoongi mengirim pesan pada Han agar menjemputnya, karena Yoongi dan Sejin tidak ingin keberadaannya diketahui pihak rumah sakit, ditambah mereka yang tidak bisa berbahasa Indonesia. Han menyambut diparkiran dan segera menuju kamar dimana Sora dirawat, jantung Yoongi berdetak tidak karuan saat akan bertemu dengan Sora, berdetak seperti saat pertama kali mereka bertemu setelah berpisah cukup lama.


Bedanya kali ini diliputi rasa sedih dan khawatir.


Han membuka pintu kamar rawat Sora, yang kemudian disusul Yoongi masuk kedalam ruangan tersebut, Sora belum sadar karena Kang Rani masih sibuk menghapus air mata Sora, sampai akhirnya Yoongi berdiri diujung ranjang Sora menatap sedih istri yang tengah kehilangan itu.


Sora terkejut bukan main saat menolehkan kepalanya, Yoongi yang paling takut untuk dia temui tiba-tiba saja ada didepan mata. Tangan Sora reflek menyentuh dada kirinya, rasa sakit itu muncul tiba-tiba. Apa yang harus dia katakan pada Yoongi.


Yoongi membungkuk pada Kang Rani, setelah itu Kang Rani keluar dari kamar disusul Han dan Sejin, tersisa hanya Yoongi dan Sora masih dalam keterkejutannya.


Yoongi mendekat kearah Sora, hatinya semakin sakit setiap senti Yoongi mendekat, dia belum siap dengan semua ini.


"Oppa..."


"Sudah, jangan dipikirkan." Yoongi meraih tubuh Sora, memeluk tubuh yang terlihat ringkih saat itu.


Sora melepaskan tangisan yang baru saja berhenti, lebih tidak menyangka dari respon Yoongi yang terlihat tegar menghadapi kehilangan, Sora sempat melihat mata Yoongi yang tidak bisa berbohong, rasa sedih dan kecewa terpancar jelas dari mata Yoongi.


"Maaf..." Ucap Sora yang diselingi tangis. "Maafkan aku yang tidak bisa menjaganya. Aku tidak tahu, aku--"


"Jangan meminta maaf, aku sudah mendengar semuanya dari Han. Aku janji akan menemukan pelakunya." Potong Yoongi demi menenangkan hati Sora.


Sora menjadi semakin merasa bersalah, dia paham Yoongi kecewa dengannya tapi Yoongi tidak memperdulikan perasaannya, dia lebih memilih menjaga perasaan Sora.


Yoongi melepas pelukannya pada Sora kemudian duduk disamping Sora, mengarahkan kepala Sora agar menyandar dibahunya, semoga dengan itu bisa menyalurkan rasa sedih Sora kepada Yoongi. Walau sebenarnya dia juga merasa sedih, kesehatan mental Sora paling utama.


"Aku akan sulit mengandung kembali, aku mengalami radang panggul. Ternyata malam sebelumnya janin itu sudah mati, aku merasakan sakit keesokan hari saat itulah virus menyerang karena tidak ditangani langsung." Jelas Sora sembari sesenggukan.


Yoongi diam, tidak merespon ucapan Sora.


"Jangan tinggalkan aku, Yoongi-ya." Timpal Sora yang mendapat dekapan erat dari Yoongi.


"Tidak akan."


Suara ponsel Yoongi yang tak berhenti sejak tadi menjadi perusak suasana pasangan suami istri tersebut, notifikasi pesan yang diyakini Yoongi pasti teman satu grup dia, Yoongi sangat malas sekedar mengetik kepada mereka semua bahwa dia baik-baik saja. Merasa risih Yoongi mematikan ponsel tersebut, mungkin lebih baik seperti itu.


Pintu kamar kembali terbuka, kali ini menampilkan wajah Kang Dae dengan raut wajah yang sulit diartikan. Perasaan Yoongi tidak enak saat melihat mertuanya itu, pasti banyak hal yang ingin dia katakan pada Yoongi.


Yoongi turun dari ranjang, berdiri tegak dan membungkuk pada Kang Dae, sekalipun marah Kang Dae tetap membalas rasa hormat Yoongi. Kang Dae mendekat kesamping Sora, tangannya mengusap lembut rambut anaknya itu, wajahnya sudah merah menahan amarah pada Yoongi.


"Seharusnya kau lebih perhatikan lagi obat yang kau beri padanya." Ucap Kang Dae memulai obrolan pagi itu.


"Maaf, ini salahku." Balas Yoongi.


"Bagaimana bisa obat aborsi ada didalam botol vitamin? Kau yang memberikannya, jika kau tidak ingin punya anak karena tuntutan pekerjaanmu kau tidak perlu melakukan ini."


"Appa jangan seperti itu, tidak mungkin Yoongi berbuat hal aneh." Jeda Sora merasa perang akan dimulai sebentar lagi.


Yoongi diam tidak membalas rasa kesal Kang Dae pada dirinya.


"Jika kau menikahinya kau harus siap menjaganya. Tidak seperti ini."


"Appa..."


"Selama ini dia sudah cukup menderita, dan kau menambah deritanya."


"Appa jangan seperti ini, Yoongi tidak salah."


"Aku sudah pernah berkata padamu, jika kau tidak mampu menjaganya aku masih sanggup untuk menjaganya."


"Appa CUKUP!!" Teriak Sora tidak tahan dengan sikap ayahnya yang menyudutkan Yoongi.


Ibu dan adiknya juga Sejin berhambur masuk kedalam kamar, mereka terkejut dengan teriakan Sora. Mereka melihat Sora sudah kembali menangis hebat, mereka bertiga bingung dengan apa yang terjadi.


"Bisakah kalian semua keluar? Aku ingin istirahat." Ucap Sora dengan suara bergetar.


"Semua. Tanpa terkecuali."


Semua yang ada diruangan itu saling menatap heran, Sora menarik selimut dan menyembunyikan seluruh tubuhnya dibawah kain tipis berwarna putih. Kang Dae menatap marah Yoongi, sedangkan pria itu hanya diam menatap Sora yang sudah terkurung selimut. Saat itu juga hati Yoongi ingin menjerit, meneriakkan apa yang dia rasakan.


Yoongi berpikir dia tidak berguna.


"Sora, bangunlah kau harus makan." Kang Dae berusaha membangunkan Sora dari tidurnya.


Setelah mereka semua keluar dari kamar, Sora menangis dibalik selimut sampai akhirnya tertidur, Sora juga membutuhkan tidur karena semalaman dia tidak tidur, wajar tubuhnya butuh istirahat.


Sora merasa tidurnya terganggu saat telinganya mendengar seseorang memanggil namanya, Sora menyesuaikan mata dari cahaya langit siang. Setelah sadar sepenuhnya dia seolah mencari seseorang, rasa takut itu muncul saat Yoongi tidak ada disisinya. Apa benar Yoongi meninggalkannya, ditambah ayahnya terus menerus menyalahkan Yoongi.


"Dimana Yoongi Oppa?" Tanya Sora pada Kang Dae dan juga Kang Rani.


"Sebaiknya kau makan terlebih dahulu baru kau bertanya tentangnya." Balas Kang Dae.


"Dia mengajak Han kebagian administrasi, mungkin menyelesaikan masalah biaya." Tambah Kang Rani lembut.


"Sebaiknya Appa meminta maaf padanya." Sora menatap Kang Dae.


"Kenapa Appa harus meminta maaf padanya?" Kang Dae merasa tidak terima.


"Karena Appa sudah menuduhnya."


"Jika dia memperha--"


"Dia juga kehilangan, sama seperti Sora, ini anak dia juga. Tolong Appa jangan seperti anak kecil yang saling menyalahkan. Dia juga tidak menyangka akan seperti ini." Jelas Sora, terpaksa sedikit keras dengan ayahnya yang salah paham.


"Tapi Sora..."


"Sora mengerti perasaan Appa. Sora akan lebih baik jika bersamanya." Lanjut Sora yang tidak bisa dibalas lagi oleh Kang Dae.


Suara ketukan pintu terdengar dan setelahnya pintu itu terbuka, sudah ada Han dan Yoongi, mereka masuk menghampiri Sora.


"Aku akan membawa Sora ke Korea malam ini." Ucap Yoongi tanpa basa-basi yang memicu keterkejutan bagi semuanya kecuali Han.


"Apa-apaan ini Yoongi-ssi?" Kang Dae sedang berusaha menahan emosinya. "Apa kau berpikir ini hanya sakit demam biasa? Seenaknya membawa anakku. Dia baru saja keguguran, apa kau tidak bisa berpikir normal?"


"Dengarkan alasan dia terlebih dahulu." Han harus menengahi kekacauan ini.


Yoongi menarik nafas dan menghembuskan secara samar, dia harus tenang.


"Mungkin kalian akan marah jika aku mengatakan alasannya, tapi jika Sora tetap dirawat disini aku akan sulit memantaunya, lalu tiga hari lagi aku akan keluar negeri itu semakin menyulitkanku." Jelas Yoongi hati-hati. "Aku sudah menemui dokter agar diberikan izin membawa Sora untuk pindah rumah sakit di Korea, aku juga meminta agar salah satu perawat disini ikut menemani kesana, jika terjadi sesuatu ada perawat yang bisa menanganinya."


"Aku harap kalian mengerti." Tutup Yoongi sembari membungkuk dalam.


"Kau--" Tubuh Kang Dae tertahan oleh tangan Sora saat ingin mendekat dengan Yoongi, menantu satu ini harus mendapat pelajaran agar otaknya bekerja dengan baik.


"Sora sudah menikah dengannya, tugas Sora adalah menghormati segala keputusannya. Sora yakin itu yang terbaik untuk Sora."


Kang Dae hanya bisa menelan bulat-bulat rasa kesalnya, jika Sora sudah berkata seperti itu dia tidak bisa berbuat banyak. Jujur Kang Dae sangat khawatir dengan kondisi Sora dan itu hal yang wajar bagi orang tua, Kang Dae juga berat jika kembali ke Korea terlalu banyak kenangan pahit disana.


"Aku janji akan menjaganya dengan baik." Tambah Yoongi dengan berani menatap mata Kang Dae.


Yoongi meminta izin pada Kang Rani untuk mengambil makanan Sora dari tangan mertua perempuannya itu, Kang Rani memberikan dengan senyuman yang menyejukkan hati Yoongi, setidaknya Kang Rani tidak keras kepala seperti Kang Dae.


Setelah Sora menyelesaikan makanannya, Yoongi membantu Sora menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan, perawat yang akan ikut ke Korea pun juga menyiapkan apa saja yang akan dibawa. Semua diselesaikan dengan cepat demi mengejar pesawat, Sora juga harus menggunakan kursi roda sepanjang perjalanan sampai ke Bandara, kondisinya tidak memungkinkan dia berjalan.


Sora juga membawa janin yang sudah tidak bernyawa, Sora meminta pada Yoongi agar boleh membawanya sehingga bisa dikubur di Korea. Janin yang sudah terbentuk itu sangat memilukan saat Sora memandang lekat sebelum mereka menuju Bandara.


Sora menyentuh telapak kaki mungil yang besarnya pun tidak sebesar ruas jari telunjuk Sora, tangan dengan jari-jari kecil yang sekilas terlihat seperti transparan sangat menyayat hati Sora. Panjang janin itu tidak lebih besar dari telapak tangan Sora, sangat kecil.



Inikah rasanya kehilangan?


Sora tampak terpukul dengan kejadian yang dialaminya, Yoongi hanya bisa memeluk erat Sora, dia juga tidak bisa berbuat banyak dia juga merasa sedih dan kehilangan. Bahkan Yoongi tidak sanggup menatap tubuh kecil anaknya itu, dia tidak ingin menangis didepan Sora.


Sora memegang erat tabung kaca yang didalamnya berisi janin yang sudah diawetkan, dibungkus oleh coolerbag agar aman sampai di Korea. Yoongi mengarahkan Sora agar tidur dengan nyaman dipesawat, dia meraih coolerbag yang sejak tadi tidak dilepasnya, meletakkan ditempat aman.


Dia membaringkan Sora dikursi VIP pesawat, menyelimuti tubuh pucat itu. Sora tidak bisa melepaskan pandangannya dari Yoongi, rasa khawatir itu belum hilang sama sekali.


"Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku." Ucap Sora sembari menggenggam erat pergelangan tangan Yoongi.


Yoongi paham rasa khawatir Sora, saat ini dia merasa paling gagal dalam menjaga anak mereka, tapi Yoongi sekalipun tidak pernah berpikir akan meninggalkan Sora.


"Aku janji tidak akan meninggalkanmu." Yoongi mengusap tangan Sora. "Istirahatlah."


Yoongi berharap Sora bisa beristirahat dengan tenang tanpa rasa cemas menyelimuti dirinya.


Semoga saja.