
"Eomma! Sora pulang!!!" Teriakan Sora memenuhi seisi ruangan dirumah itu.
Sora segera berlari mencari keberadaan Ibunya, menyusuri setiap ruangan yang ada. Merasa dirinya dipanggil, Ibu Sora bergegas masuk kedalam rumah meninggalkan hal yang paling disukainya. Berkebun.
Sora langsung memeluk setelah melihat Ibunya diambang pintu belakang rumah.
"Sora rindu." Ucapnya sambil menciumi seluruh wajah Ibunya.
"Iya Eomma juga, tapi tidak seperti ini juga." Balas Ibunya kesusahan karena Sora terus menciuminya.
"Hehe... Appa dimana?"
"Dibelakang, seperti biasa."
"Sora kesana dulu!" Seru Sora sambil berlalu.
Sora langsung menuju belakang rumahnya, disana memang terdapat halaman yang cukup luas. Saat keluar dari pintu, langsung disuguhkan sebuah kolam renang dengan gazebo dipinggirnya, jika berbelok sedikit kesebelah kanan, maka banyak tanaman hias juga beberapa pohon yang sengaja ditanam di pekarangan rumah. Sora dan Ibunya memang pecinta tanaman hias, sedangkan adik lelakinya lebih senang menanam pohon buah, dan Ayahnya senang dengan ikan hias. Maka jangan heran dibawah pohon terdapat kolam ikan berukuran 2x3 meter.
Sora melihat Ayahnya yang berjongkok sembari memberi makan ikan, Sora perlahan mendekati Ayahnya. Sora diam-diam memeluk leher Ayahnya dari belakang.
"Anak gadismu pulang, Appa."
Ayah Sora tersenyum kecil menyambut anaknya, tangan kirinya mengusap pelan lengan anaknya yang berada disekitaran lehernya.
"Kenapa lama sekali? Appa sudah menunggumu sejak tadi." Ucap Kang Dae, Ayah Sora.
"Pasti Appa lapar, lebih baik kita makan siang dulu ya?" Balas Sora yang tidak mengindahkan pertanyaan Ayahnya.
Kang Dae bangkit dan berdiri didepan Anaknya, mengusap pelan rambut ikal Sora yang sangat indah itu.
"Ajaklah Adikmu."
Sora bergegas kelantai dua bagian rumah itu, menuju kamar Adik lelaki kesayangannya. Setelah sampai didepan pintu, Sora langsung membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Dia melihat Adiknya berbaring bermain ponsel dengan wajah happy. Tanpa peringatan, Sora menarik kaki Adiknya hingga terjatuh dari tempat tidur.
"Ya! Apa yang kau lakukan Nuna!?" Teriak Han Adik lelaki Sora.
"Waahh... seperti itukah caramu menyambut Nuna tersayangmu?"
"Tapi tidak seperti itu juga caranya pacar Sid!" Han tidak terima dengan perlakuan kakak ajaibnya itu.
"Kenapa kau main fisik?" Balas Sora merasa tidak terima saat Adiknya mengatakan "Pacar Sid".
"Ck. Sekarang siapa yang main fisik? Oh! Mungkin tadi ada siluman perempuan yang tiba-tiba saja menarik kakiku."
Sora tertawa menanggapi Adiknya yang akan bertingkah lucu-- menurut Sora saat dia menjahili Adiknya. Mereka suka menjahili satu sama lain, seperti beberapa saat lalu contohnya. Tetapi keduanya tidak merasa terganggu, karena mereka dikatakan cukup dekat. Mungkin saat ini Adiknya masih diam, karena dia akan membalasnya saat Sora sedang menikmati waktu santainya.
Pernah suatu hari Han mengerjai Sora saat sedang tidur, Sora tipe orang yang cukup sulit untuk tidur nyenyak. Tapi jika sudah nyenyak, Sora akan tidur seperti orang mati. Han memindahkan Sora yang sedang terlelap ke gudang rumah mereka, dan saat terbangun Sora berteriak kesal.
Ayah dan Ibunya sudah sangat paham dengan tingkah anak-anaknya, saat ditegur pun pasti akan mereka ulangi lagi. Saat Sora kesulitan pun Han pasti selalu menjadi nomor satu untuk menolong kakaknya, begitu juga sebaliknya. Bukan hanya sampai disitu, hingga masalah pribadi yang dialami yang tidak mereka ceritakan dengan orang tua pun, dengan sukarela mereka membaginya.
Hubungan mereka sangat dekat, seperti saat dekat dengan lawan jenis pun mereka saling bertukar pendapat. Saudara adalah tempat yang paling nyaman untuk mengadu.
Sora mengulurkan tangannya pada Han, ingin menolong Adiknya itu. Han segera menyambut dengan cengiran lebar, tidak dipungkiri dia juga sangat merindukan kakak ajaibnya ini.
Han langsung memeluk kakaknya saat sudah berdiri sempurna, dia juga sedikit membungkuk saat memeluk kakaknya. Sora sempat protes dengan tubuh jangkung Han yang menyulitkan dirinya untuk menjitak kepala Adiknya.
Sungguh hubungan yang sangat romantis.
"Dasar pendek." Ucap Han dan langsung berlari menghindari serangan bertubi dari Sora.
🍁🍁🍁
Saat ini keluarga Kang sedang menikmati makan siang yang sudah disiapkan Nyonya Kang sejak sejam yang lalu, mereka semua menikmati kelezatan makanan yang dibuat oleh Ibu tercinta. Terutama Sora, dia sangat mencintai masakan Ibunya dan tidak ada yang lebih nikmat dari ini.
Seluruh keluarga Kang tidak ada yang pemilih soal makanan, begitu juga Ayahnya yang keturunan Korea asli, malah dia lebih suka masakan Indonesia yang kaya akan rempah. Sora yang sangat menyukai makanan akhirnya meminta kepada Ibunya belajar memasak, dia belajar memasak sejak umur sepuluh tahun. Jadi, jangan diragukan soal masakan Sora. Pastinya enak walaupun tidak seenak masakan Ibunya.
Tapi satu hal yang membuat Sora tidak gemuk walaupun makan banyak. Tubuh Sora menolak akan nasi, saat memakan nasi perutnya langsung mual. Dia alami itu sejak mereka pindah ke Indonesia. Jadi setiap makan selalu didampingi sayur dan buah, umbian pun dia juga tidak terlalu suka.
"Appa sudah menyiapkan surat pindah ke Jerman, setelah kau wisuda kau bisa langsung kesana." Suara Kang Dae memancing keheningan acara makan siang itu.
"Oppa, Sora baru saja sampai, sebaiknya kita bicarakan nanti malam saja." Potong Kang Rani, Ibu Sora.
"Apa bedanya? Sekarang atau nanti tetap saja harus dibicarakan. Jangan biasakan menunda sesuatu." Kang Dae memberikan kalimat tegas, menunjukkan posisinya didalam keluarga.
Sora yang hanya diam sejak tadi, lalu mengembangkan senyumnya. Menatap Ayahnya penuh rasa sayang.
"Sora akan ikuti apa yang Appa mau." Sora masih tersenyum walaupun tangannya sudah bergetar. Dia tidak mau mengecewakan Ayahnya.
Sora menyumpitkan kimchi dan meletakkannya dimangkuk makan Kang Dae. "Appa harus makan banyak sayuran, lihat perutnya mulai membulat seperti balon."
Kang Dae tersenyum saat kimchi yang ada disumpit Sora mendarat dengan mulus diatas nasinya. Sora kembali melahap ayam goreng kesukaannya, dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Ibu Sora dan Adiknya sedang memperhatikan Sora yang mengunyah ayam gorengnya. Mereka paham apa yang dirasakan Sora saat ini.
Han yang paling mengerti perasaan Kakaknya, setelah ini dia akan mengajak Kakaknya untuk meluapkan perasaannya.
Membagi rasa sakit pada Han agar Sora merasa lebih baik. Han benci ketika melihat Sora menelan pil pahit yang selalu dihindarinya itu. Obat penenang, pereda rasa sakit. Hal yang masih disembunyikan dari kedua orang tuanya.
Sora menderita psikosomatik sejak usia enam belas tahun, awalnya dia merasakan nyeri tengkuk leher dan ulu hati. Sora awalnya tidak terlalu memperdulikan, sampai dia merasa sakit kepala hebat. Merasa ada yang tidak beres Sora pergi ke rumah sakit dan memeriksakan keadaannya, setelah diperiksa berulang kali akhirnya dia diarahkan kebagian psikologi.
Setelah Sora menceritakan apa yang terjadi akhirnya, profesor tersebut setuju untuk menyembunyikan semua rahasia Sora. Karena sejak awal dia tidak ingin keluarganya tahu dia sakit mental, dia menyembunyikannya dengan rapat. Setiap dia mendapat tekanan lebih, atau pikiran yang mengganggunya tidak lama kemudian dia pasti akan merasakan gejalanya. Sakit kepala, sakit tengkuk leher, nafas tidak beraturan hingga nyeri ulu hati. Itu sudah seperti rasa yang tidak bisa lepas dari Sora.
Sampai suatu saat Han menemukan obat yang selalu dikonsumsi oleh Sora, awalnya Han mengira itu hanya obat biasa seperti suplemen. Tapi Han merasa aneh dengan nama obatnya, jadi Han memutuskan untuk mencari tahu tentang obat yang dikonsumsi kakaknya. Betapa terkejutnya Han saat mengetahui obat itu untuk penderita psikosomatik, dan obat ini sudah dosis tinggi.
Han segera mendesak kakaknya untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, Sora yang merasa tidak bisa lagi menutupi akhirnya membuka suaranya. Jadi saat ini hanya Han yang tahu Sora tengah mengidap sakit mental.
"Susu coklat?" Tawar Han pada Sora yang saat itu sedang duduk di gazebo pinggir kolam renang.
Sora menoleh dan tersenyum hangat mendapati Adiknya sedang membawa segelas susu coklat untuknya. "Terima kasih."
"Jangan bilang Nuna mau berenang." Ucap Han saat melihat Sora hanya memakai jubah handuk. Han sangat yakin didalamnya sudah terpasang pakaian renang Sora.
"Hanya untuk melepaskan penat." Balas Sora dengan suara pelan.
"Nanti Nuna bisa sakit!" Han khawatir dengan fisik Sora yang justru melemah jika sudah memikirkan sesuatu, apalagi Sora berenang disaat malam hari.
Sora mengambil tangan Han menggenggamnya dengan kedua tangan, lalu memejamkan matanya.
"Nuna pasti baik-baik saja, jangan khawatir." Kalimat Sora juga seperti mewakilkan perasaannya saat ini dan Han mengerti itu.
Sora kembali membuka matanya, bangkit dan melepas jubah handuknya. Dengan segera Sora melompat ke kolam renang, menghilang didalam air dan tidak lama kemudian Sora muncul, bergerak mengayuh tangan dan kakinya menuju ujung kolam.
Han benar-benar khawatir dengan kondisi Sora saat ini, Sora pernah mengatakan kalau dia sangat bosan dengan belajar. Dia juga tidak tertarik dengan pelajaran tentang hukum. Han mengetahui semua tentang kakaknya, apalagi disaat seperti ini. Tiba-tiba saja berenang, kakaknya akan mencari air disaat tertekan karena tidak ada yang bisa melihat dia menangis. Karena menurutnya hujan tidak selalu ada disaat dia sedih.
Han masih memperhatikan Sora yang bergerak kesana kemari, khawatir Sora akan pingsan sebentar lagi Han berniat ingin menyusul Sora tapi sebuah suara menahan langkahnya.
"Waahhh... lama tidak bertemu badannya semakin sexy saja."
Han melemparkan tatapan kesalnya pada lelaki yang sudah menyanggahkan lengannya dibahu Han. Jengkel dengan sikapnya Han menepis tangan lelaki itu dari bahu.
"Kenapa begitu dengan calon kakak ipar?"
"Kenapa yakin sekali?" Han menunjukkan senyum meremehkan.
Lelaki itu hanya tertawa menanggapi Han.
"Masuklah, aku jinakkan Nuna-mu terlebih dahulu." Ucap Sid sembari memperhatikan Sora yang belum sadar kehadirannya dengan pandangan serius.
"Apa karena Ayah kalian lagi?" Tanya Sid.
Han hanya menghela nafas dan berjalan masuk kedalam rumah, walaupun tingkahnya menjengkelkan Han selalu percaya Sid bisa menjaga Sora.
Sid melepas jaket hitam miliknya, melepas sepatu dan lompat kedalam kolam. Sora masih belum menyadari juga kehadiran Sid, karena saat ini posisinya dia sedang menenggelamkan dirinya didalam air lalu muncul lagi, dan tenggelam lagi. Begitu terus selanjutnya. Dan dia sudah melakukannya selama lima belas menit.
Saat Sora muncul dari dalam air dia terkejut melihat Sid yang sudah tepat didepannya. Sontak Sora langsung menghujam dada Sid dengan kepalan tangannya.
"Brengsek! Kau ingin membuatku mati!?" Sora tidak berhenti memukuli Sid.
Sid tertawa, sambil menghindar dari serangan Sora. Sid menangkap kedua tangan Sora meletakkannya didada Sid.
"Rindu. Kenapa main air malam-malam begini? Apa yang terjadi?" Tanya Sid dengan nada yang sangat lembut.
Sora tidak bisa menahan tangisnya lagi, dia langsung menyembunyikan wajahnya didada Sid. Saat ini hanya Sid yang bisa melihat air mata Sora.
Gadis itu menangis sesenggukkan, sedangkan Sid tidak ada niat untuk menghentikannya. Mereka tetap ditempat sampai Sora merasa sudah cukup.
Sid membawa Sora keluar dari kolam, mendudukkannya di gazebo lalu membalut tubuh Sora dengan jubah handuk. Sid juga mengambil handuk kecil yang ada disamping Sora dan menggosok pelan kepala Sora.
"Jangan siksa diri seperti itu lagi. Aku tidak suka." Ucap Sid sembari melanjutkan kegiatannya.
"Kemarin aku sudah bertemu dengan Ayahmu, dia sudah mengurus kepindahanmu ke Jerman. Dan aku yakin dia juga sudah memberitahumu."
"Dia juga minta pada Ayahku agar kita segera tunangan, tapi aku bilang aku belum siap jadi mereka tidak terlalu memaksa."
"Itu sebabnya aku juga ikut ke Jerman, alasannya sangat konyol. Agar kau tidak tertarik dengan lelaki lain selama belajar disana."
Sid menghela nafas. "Orang tua kita sangat tidak mengenali anaknya masing-masing, semua harus mengikuti mau mereka, ego mereka. Kebebasan kita dikantongi."
"Aku terpaksa harus ikut, karena aku masih mengikuti alurmu seperti apa." Sid meletakkan handuk yang dipakai untuk mengeringkan rambut Sora kesampingnya.
Sid melepas kaos yang sudah basah dan memakai jaketnya.
"Jadi, bisa jelaskan padaku apa rencanamu?"
Sora tidak bereaksi apapun, dia hanya diam menatap Sid. Lelaki yang sangat baik kepadanya itu. Sora sudah terang-terangan mengatakan dia tidak ingin menikah dengan Sid, karena perjodohan konyol kedua orang tua mereka. Tetapi berbeda dengan Sid, dia sangat menerima perjodohan kolot itu.
Hingga Sora memberikan pengertian pada Sid, yang bagusnya diterima dia dengan lapang dada. Jadi mereka sepakat untuk berpura-pura pacaran didepan keluarga mereka, setelah waktunya tepat mereka akan mengatakan jika mereka tidak cocok hingga membatalkan pernikahan yang sudah direncanakan.
"Aku ingin istirahat Sid. Kau pulanglah, besok kita ketemu lagi ya." Ucap Sora setelah diam sekian lama.
"Baiklah Moana. Besok pagi aku jemput, aku bawa motor, jaket tebal jangan lupa." Balas Sid sembari mengacak rambut Sora.
Sora tidak membalas apapun saat Sid pergi meninggalkannya, yang dia butuhkan saat ini hanya berendam di air hangat.
Setelah itu, dia harus melewati hari yang melelahkan lagi.