Our Fate

Our Fate
Pregnant



Sora merasa keadaan tubuhnya semakin memburuk, nafsu makan semakin berkurang semenjak dia mengetahui kehamilannya sudah memasuki usia dua bulan. Susu kehamilan tidak disentuh sama sekali, setiap dia memasukkan makanan kemulutnya pasti dengan segera makanan itu menuntut keluar. Jika hanya dengan memakan buah-buahan saja dia merasa kenyang, tidak dengan kali ini, karena ada satu nyawa ditubuhnya rasa lapar lebih cepat datang.


Sora sudah memeriksakan dirinya ke Dokter, kondisi setiap ibu hamil pasti berbeda, sekalipun Dokter berkata harus banyak makan tetap saja tubuh menolak bahkan Sora sudah memaksakan untuk makan agar dia dan janin diperutnya tetap sehat selalu. Saat ini Sora hanya bergantung pada vitamin untuk ibu hamil, Sora tidak tahu lagi harus berbuat apa agar nafsu makannya meningkat.


Seperti pagi ini contohnya, dia tidak akan bisa memasukkan makanan dibawah jam sepuluh, buah sekalipun pasti akan dimuntahkannya. Sora menatap kosong makanan yang ada dimeja makan, ini sama sekali bukan dirinya yang tidak bernafsu pada makanan.


Yoongi juga tidak bisa berbuat banyak, awalnya dia sempat marah karena Sora jarang makan, dalam sehari paling banyak dua kali dan tidak pernah habis, selalu bersisa. Sampai satu hari dia mendapat libur, dia menjaga Sora, memperhatikan segala aktivitasnya termasuk bagaimana dia makan dalam sehari. Ayam yang selalu dia sukai ditolak mentah-mentah, alasannya dia tidak suka dengan bau ayam. Sayur mana yang tidak Sora sukai, kali ini lebih pemilih. Buah yang biasanya selalu dia makan dalam porsi banyak sehari, kali ini hanya setengah dari porsi harian biasa.


Sora berulang kali muntah setiap makan sesuatu, dia hanya bisa minum, dan itupun harus asam. Saat itu Yoongi mengerti hari yang selalu dijalani Sora tanpa dirinya, sejak saat itu Yoongi jauh lebih protektif dari biasanya.


Yoongi sempat menawarkan agar mau ditemani oleh ibunya selama masa kehamilan, tapi Sora menolak dengan halus, dia tidak mau mertuanya direpotkan oleh dirinya dengan datang jauh dari Daegu ke Seoul hanya untuk menjaga Sora. Yoongi sudah memberi pengertian jika ibunya akan mengerti tetap saja Sora tidak mau, jika Sora tidak hamil pasti Yoongi sudah berdebat dengannya.


Sora harus mengikuti aturan Yoongi jika tidak mau ditemani oleh ibunya, beberapa hal yang harus dilakukan saat Yoongi tidak ada. Sora harus melaporkan apa saja yang dia lakukan dalam sehari, makan sesuai jam, vitamin yang harus difoto setiap kali dia konsumsi, tidak melakukan banyak aktivitas, hingga jam tidur pun juga dia perhatikan.


Jika  Sora boleh jujur Yoongi yang seperti ini cukup menyebalkan.


Yoongi semakin cerewet akan kondisi tubuh Sora, melarang banyak aktivitas hingga dia bosan karena hanya terduduk tanpa melakukan apapun, hal itu semakin ditakuti oleh Sora karena bisa memicu stres, ditambah lagi obat depresan yang rutin dia minum sudah tidak dia konsumsi lagi semenjak dia tahu sudah berbadan dua.


Penderita psikosomatik pada ibu hamil sangat beresiko tentunya, Sora sudah banyak mencari tahu apa saja yang akan terjadi pada janinnya jika dia tidak menjaga pikiran khawatirnya, dan yang paling menakutkan adalah resiko sakit mental ini menurun pada anak yang akan dilahirkan. Kepala Sora semakin sakit memikirkan itu semua, andai Sora punya teman untuk membagi rasa khawatir pasti akan mengurangi sedikit beban cemas.


Bukan Sora tidak mau membagi dengan Yoongi, jika dia berkata apa yang dia alami pasti akan berpengaruh pada pekerjaan Yoongi. Sora takut jadi beban pikiran Yoongi.


Suara dering telepon membuyarkan lamunan Sora, dia melihat layar ponsel yang menampilkan wajah Yoongi saat masih kecil, imut sekali. Dalam hati dia berharap agar wajah anaknya bisa mirip seperti Yoongi, maksud Sora seperti yang ada dilayar ponsel yang terus berbunyi itu.


Min Yoongi kecil yang imut, bukan menyebalkan seperti saat ini.



"Halo" Sapa Sora.


"Apa yang sudah kau makan pagi ini?"


Oke, tanpa basa basi sedikitpun.


"Belum ada." Balas Sora malas-malasan.


"Kenapa belum? Ini sudah hampir siang, makanlah sesuatu tubuhmu sudah sangat kurus. Apa kau tidak kasihan dengan yang ada diperutmu?" Lanjut Yoongi yang lebih persis seperti rap dibanding rasa peduli.


Yoongi benar-benar limited edition.


Sora melirik jam yang sudah menunjukkan pukul sebelas, sudah berapa lama dia melamun.


"Oppa ini anakmu juga."


"Justru itu aku memaksamu makan."


Sora diam beberapa detik, sampai kapan dia harus mendengar Yoongi yang cerewet seperti ini. Betapa durhaka Sora dengan Yoongi.


"Oppa, bagaimana jika aku tertarik dengan seseorang yang akan menemaniku disaat kau tidak ada?"


"Ada apa?" Tanya Yoongi curiga ada yang tidak beres dengan Sora.


"Tidak apa-apa. Aku rasa, aku butuh teman disini. Aku... kesepian."


"Aku akan telepon Eomma." Yoongi mencapai kesimpulan singkat.


"Jangan!" Potong Sora takut Yoongi salah paham. "Aku akan lebih nyaman jika seseorang yang menemaniku mengerti kondisiku."


Kali ini Yoongi yang terdiam, Sora mengucapkan kalimat seperti belati yang menusuk tepat dijantungnya. Apa ini yang dirasakan Sora selama dia tidak ada, bukannya menjadi seseorang yang bisa diandalkan, Yoongi merasa menjadi seperti orang yang memperburuk keadaan Sora. Pria itu juga baru sadar jika Sora sudah tidak mengkonsumsi obat rutinya, pasti itu penyebab utama rasa cemas hingga dia minta seseorang yang bisa menemani.


Yoongi merasa dirinya buruk dalam menjaga Sora, memperkuat rasa khawatir dirinya.


"Sora-ya..." Yoongi menggantung ucapannya, terasa merdu saat Yoongi menyebut namanya. "Maafkan aku."


Sora hanya bisa diam, saat ini dia juga merasa bersalah.


"Maaf aku tidak bisa menjagamu dengan baik."


Sora ingin menangis saat itu juga.


"Aku akan segera mencari seseorang yang bisa menjagamu. Disaat aku tidak ada."


Sora menutup wajahnya saat Yoongi memutuskan sambungan telepon, rasa yang selama ini dia tahan akhirnya bisa dia luapkan, sekalipun dia tidak ingin membuat Yoongi merasa bersalah, dia hanya takut anak yang sedang dikandung menjadi korban akibat Sora yang tidak bisa menjaga diri sendiri.


Sora takut.


Tangannya meraih mangkuk berisi buah-buahan yang sudah dipotong sebelumnya, dia menusuk potongan buah itu memakan dalam diam, sebisa mungkin dia menjauhkan pikiran buah itu keluar lagi dari mulutnya. Kembali dia meraih gelas yang terisi susu sebagai penambah gizi untuk janinnya, menenggak sebanyak mungkin agar gizi susu itu bisa sampai kepada anaknya.


Tanpa dia sadari air matanya juga ikut mengalir sejak saat dia memasukkan potongan buah kemulutnya.


🍁🍁🍁


Yoongi membuka pintu apartemen tanpa suara, kecuali suara tombol password yang ditekan sebelum masuk. Keadaan saat itu gelap tanpa penerangan, dia berpikir apa Sora keluar tanpa memberitahu sebelumnya. Dia mencari tanda kehidupan Sora dia tidak menemukan dimana pun, Yoongi segera mencari kekamar yang juga dalam keadaan gelap, tidak ada Sora disana.


Yoongi menuju kamar mandi, dia melihat Sora yang sedang berendam, dengan mata tertutup. Yoongi merasa dejàvu.


Yoongi menggapai wajah Sora, menepuk pelan wajah yang sudah dingin itu.


"Sora,... Sora." Ucap Yoongi sembari menggosok pelan pipi Sora.


Tubuh itu mengeluarkan respon, mata yang sudah bengkak mengerjap cepat dan terlihat linglung, Yoongi bernapas lega karena Sora bisa sadar saat itu juga.


"Oppa? Kau pulang?" Tanya Sora yang bingung bagaimana bisa Yoongi ada didepannya.


"Sejak kapan kau disini?"


"Ah, aku... aku juga tidak ingat, aku merasa sangat lelah itu sebabnya aku berendam agar pikiranku tenang. Tapi sepertinya aku ketiduran." Ucap Sora dengan senyum paksa, pengakuannya barusan mendapat respon datar dari Yoongi.


Alarm buruk terdengar ditelinga Sora.


"Aku bantu." Ucap Yoongi.


Sora keluar dari bathtub dengan dibantu Yoongi, sedikit oleng karena sudah terlalu lama duduk disana.


"Hati-hati."


"Bokongku kram." Balas Sora dengan cengiran lebar.


Yoongi membantu Sora mengeringkan badan, memakaikan baju merapikan tempat tidur agar Sora bisa istirahat, terlihat jelas wajah Sora sangat kelelahan. Yoongi membuatkan teh hangat untuk Sora tidak lupa makanan, buah dan juga vitamin.


Yoongi memperhatikan Sora yang meminum teh dengan semangat, ada perasaan senang dihati Yoongi karena Sora mendapat nafsu makan malam ini. Sora melahap roti yang dibuatkan oleh Yoongi, setelah habis dia memakan buah kesukaannya, dan terakhir dia meminum vitamin.


"Sepertinya kau sangat lapar." Yoongi mengusap tangan Sora yang ada digenggamannya.


"Setelah berendam, aku merasa lebih rileks dan juga lapar." Senyum tak lepas dari wajah sembabnya. "Oppa kenapa bisa pulang? Bukankah besok ada jadwal?"


"Aku akan kembali ke dorm besok pagi-pagi, jadi aku sempatkan pulang. Tidak ada salahnya melihat istriku yang kesepian ini 'kan?"


Sora kembali tersenyum mendengar penjelasan Yoongi.


"Kenapa kau menangis?" Yoongi tak tahan untuk tidak bertanya.


"Siapa yang menangis?"


"Jangan coba-coba berbohong Sora, wajahmu tidak bisa bohong." Yoongi kembali memperhatikan wajah sembab Sora.


Sora ragu menjelaskan semuanya pada Yoongi, dia takut akan menjadi beban untuk Yoongi, rasa cemas berlebih ini yang membuatnya menangis hingga tertidur dikamar mandi.


"Tidak apa, jangan khawatir." Yoongi tersenyum tipis.


"Aku... aku merasa rasa khawatir ini semakin lama semakin besar, banyak hal yang terlintas dikepalaku." Ungkap Sora dengan tangan yang bergerak seperti ikut menjelaskan apa yang terjadi padanya.


"Salah satunya aku khawatir menceritakan semuanya padamu." Lanjutnya dengan suara pelan.


"Aku takut tidak bisa menjaga anak kita dengan baik karena nafsu makanku yang turun drastis. Aku takut jika ibumu tahu dia akan kecewa padaku, aku juga takut disaat rasa cemas menyelimutiku terjadi hal yang menakutkan bagiku... seperti... aku mencoba menenangkan diri tapi saat itu juga nyawanya menjadi taruhan."


Yoongi mengerti, yang dimaksud Sora adalah kebiasaan berendam hingga lupa waktu disaat rasa cemas berlebih yang datang tiba-tiba, bukan sekedar berendam biasa, Sora suka menenggelamkan seluruh tubuhnya sampai dia merasa sesak hingga dia bisa melupakan rasa cemas yang terus menekan dirinya.


"Saat aku berendam tadi, aku berusaha agar tidak menenggelamkan diriku, itu sangat menyakitkan. Aku kalah. Aku jauh lebih takut jika dia lahir dengan kondisi seperti diriku. Itu lebih menyakiti hatiku Oppa." Sora tidak bisa menahan air matanya lagi, dari pengakuannya Sora sempat membuat dirinya sesak didalam air.


"Aku mohon tolong selamatkan dia." Sora meminta Yoongi menyelamatkan anak yang dikandung Sora.


Anak hasil cinta mereka.


Yoongi merasa buruk sekarang, dia tidak menyangka akan jadi separah ini. Dia tidak berpikir jika Sora mengalami hari yang berat tanpa dirinya, andai rasa itu bisa dibagi dia rela tersiksa demi Sora dan janin yang ada diperut Sora.


Yoongi memeluk Sora, mengusap punggung yang berguncang hebat, semoga dengan pelukan yang diberikan Yoongi bisa menghisap rasa sakit Sora.


Yoongi merasa gagal bertanggung jawab akan Sora, dia juga tidak ingin menyerahkan Sora pada ayahnya.


Yoongi menghapus air mata Sora yang sudah berhenti, hatinya semakin sakit melihat mata Sora yang semakin bengkak, setelah tenang Yoongi akan mengompresnya. Dia mengarahkan Sora agar menatap wajah Yoongi dengan intens, menatap dalam kedua mata Sora, kemudian mencium kedua mata Sora, berbisik didepan bibir Sora.


"Aku akan menolong kalian berdua."


Yoongi mengusap lembut bibir Sora dengan ibu jarinya, detik berikutnya kedua bibir itu saling bersentuhan, Sora tidak sanggup lagi membuka matanya Yoongi selalu berhasil mengalihkan rasa sakit dengan sentuhan memabukkan. Tidak ada tuntutan dari ciuman itu, hanya ciuman biasa yang terasa hangat dihati Sora. Andai Sora bisa mendapat ini disetiap rasa cemas itu datang, mungkin dia akan baik-baik saja.


Yoongi mulai berpindah, dari bibir menuju rahang dan berakhir ditelinga Sora, dia kembali berbisik yang memicu air mata Sora kembali mengalir.


"Sayang, maafkan aku."


Bahu Sora kembali berguncang, dipeluknya erat suami yang sangat dicintainya itu, dia tidak peduli lagi, dia harus berjuang untuk satu nyawa yang dititipkan Tuhan ditubuh Sora. Dia tidak ingin mendengar lagi kata maaf dari mulut Yoongi, rasa bersalah Yoongi seperti mengatakan besarnya rasa cinta Yoongi pada Sora, satu sisi Yoongi juga tidak bisa berjuang banyak karena inilah resiko menikah dengan seorang idol.


Sora yang harusnya minta maaf bukan Yoongi.


Tapi, entah kenapa dia tidak dapat menyampaikan, bibirnya kelu, Sora tidak mampu.


Dia hanya bisa berkata dalam hati.


"Maaf Yoongi-ya."