Our Fate

Our Fate
Stop It



Sid sudah terkapar didepan pintu flat yang dihuni Sora sekitar dua bulan ini, dia menunggu gadis yang dengan kurang ajarnya tidak mau memberitahu kode akses pintu masuk flat-nya hanya dengan alasan Sid seorang lelaki yang tidak pantas masuk kehunian seorang gadis.


Sid sudah berulang kali menghela nafas karena Sora tidak menampakkan batang hidungnya, ditambah perutnya yang lapar membuat dia ingin mengumpat dengan kejam. Sid juga berulang kali menelepon Sora yang tidak diangkat lagi sejak dua jam yang lalu. Sid benar-benar kesal dengan gadis begajulan itu.


Suara kaki menaiki tangga yang terbuat dari kayu itu menyadarkan Sid yang mulai diserang rasa kantuk, saat Sid menoleh kekanan muncullah gadis yang ditunggu. Sora terduduk terengah karena berlari menaiki tangga. Flat Sora berada dilantai dua yang memang sengaja dipilih Ibunya karena tempatnya yang nyaman.


"Kenapa kau lama sekali!" Sid meninggikan nada suaranya karena kesal dengan Sora.


"Maaf... aku... dari sana..." Balas Sora yang masih mengatur nafasnya.


"Sudahlah, cepat buka pintunya aku ingin istirahat." Sid beranjak dari lesehan demi menggeser tubuhnya agar Sora bisa menekan tombol flat.


"Jika lima menit lagi kau tidak muncul mungkin tubuhku sudah penuh belatung."


Sora tertawa dengan candaan Sid yang terkadang sedikit aneh ditelinganya, tapi Sora menyukai selera humor Sid. Dia langsung masuk setelah pintu terbuka lebar, merebahkan dirinya di sofa empuk milik Sora.


"Kenapa kau tidak memberikan saja kode pintu sialanmu itu?"


"Tidak." Balas Sora sembari mengambil air dari dalam kulkas dan memberikannya pada Sid. "Aku tidak menampung Gorilla disini."


"Hey! Begitukah caramu berterima kasih padaku?" Sid bangkit meraih air minum yang diberikan Sora.


Sora terkekeh kecil dengan tingkah Sid yang jauh dari kata dewasa itu, walaupun terkadang dia memang sangat dewasa itupun hanya pada saat terdesak saja. Sid sangat mengerti dirinya juga mencintainya, berulang kali Sid mengajak Sora agar menerima perjodohan yang sangat ditentang Sora. Sid tetap bertahan untuk disamping gadis ini.


Sid bahkan sudah mengetahui sifat pembangkang Sora dan dia tidak terlalu mengambil pusing itu, Sid hanya terlalu menyayangi Sora.


Sora bukan tidak mau memberikan tempat tinggal Sid di flat nyaman itu, Sora hanya takut Sid berlaku kurang ajar lagi padanya. Sid pernah mengerjai Sora dengan berpura-pura tidur dengannya agar Sora mau menikah dengan Sid. Kejadian itu terjadi sewaktu mereka ke Jerman untuk pertama kalinya buat Sora, Sid merekam segala aktivitas mereka selama disana. Termasuk Sora yang mabuk di klub malam.


Sora yang mabuk dan tidak sadar itu akhirnya tidur disamping Sid yang berpura-pura sudah melakukan hubungan dengannya, saat itu Sora panik dan menuntut kejelasan dari Sid dengan cara melempar semua barang yang ada didekatnya. Sid yang tidak tahan dengan amukan Sora akhirnya mengaku jika dia hanya berpura-pura saja.


Sid memang sedikit gila jika menyangkut tentang Sora, lelaki itu hanya ingin menjaga Sora karena gadis itu terlalu mandiri dan tidak suka bergantung pada orang lain. Niat Sid yang sangat ditentang Sora yang memang tidak ingin menjadi pribadi yang manja, dia terlalu takut jika bergantung pada orang lain jika itu terjadi dia pasti akan bisa dibuang kapan saja.


"Aku ingin masuk ke perusahaan Nenekku."


"Apa maksudmu?" Tanya Sid yang langsung menegakkan badannya karena khawatir dengan trauma Sora.


"Aku ingin Nenek bisa menerima Ayahku lagi. Ayahku cukup menderita hanya karena seorang anak yang tidak berguna sepertiku, anak yang tidak bisa dibanggakan, anak yang tidak pantas untuk menjadi cucu dari keluarga Kang. Aku tahu Ayah sangat merindukan Nenek."


"Lalu bagaimana denganmu?" Tanya Sid yang memang khawatir dengan Sora.


"Aku harus berusaha lebih agar tidak mencurigakan, entahlah aku akan memikirkannya lagi nanti."


Sid tidak menjawab lagi, dia terlalu fokus dengan wajah Sora yang sekarang ini sedang menatap meja makan dengan raut wajah sedih. Sid mengerti perasaan Sora, Sid juga mengerti masalah yang terjadi di keluarga Kang, sepertinya ini saat yang tepat untuk mengatakannya.


"Menikahlah denganku."


Sora segera mengalihkan wajahnya kearah Sid, walaupun dia sering mendengar kalimat itu Sora merasakan keseriusan dari Sid.


"Sudahlah, aku sedang tidak ingin mendengar itu."


"Kenapa?" Sid berdiri dan menuju kearah Sora kemudian duduk dihadapan gadis itu.


"Apa karena lelaki itu? Karena seorang rapper itu?"


Sora kembali menatap mata Sid yang kali ini terlihat seperti menunjukkan kemarahan.


Sora harus tenang.


"Selama kau disini kemajuan apa yang kau dapat selain penolakan?"


"Bukan seperti itu, Sid..."


"Lalu apa?"


"Aku yakin jika lelaki itu menerimamu, pasti hanya sebatas teman tidur saja. Kau tahu aku mau datang kesini untuk siapa? Untukmu Sora."


"Aku masih bertahan karena aku memang menyayangimu, aku ingin kita menikah karena kau sudah cukup tersiksa selama ini karena Ayahmu. Aku tahu kau sangat sangat sayang dengan Ayahmu, tapi bukan berarti kau melupakan kebahagianmu. Setelah kita menikah, aku akan bilang pada Ayahmu untuk melupakan dendam pribadinya karena disini kau korbannya."


Sid tidak bisa menahan emosinya lagi kali ini, faktor lelah menjadi pemicu utama emosi Sid.


"Aku sangat mengerti dirimu Sora, aku tahu rasa sakit itu. Kau hanya tinggal mengatakan setuju atas perjodohan ini setelah itu kau tidak akan merasakan sakit lagi."


"Sid, tolong hentikan." Ucap Sora yang sekarang ini sedang mengurut kecil bagian dahinya yang terasa sakit.


Suara Sid yang cukup kuat memunculkan rasa sakit yang selama ini ditahan Sora, sakit yang selama dua bulan ini menghilang tiba-tiba saja muncul kembali.


Sid yang secara mendadak marah dengan Sora, ditambah pikiran Sora tentang Nenek yang selalu muncul setiap hari.


Sora menambah tekanan pada pijitan kepalanya, Sid tidak mengerti apa yang dirasakannya. Sid harus pergi dari sini.


"Sid, bisakah kau pergi?"


"Kau ingin lari lagi dari pembahasan ini?"


Sid salah paham.


"Sid... kau tidak mengerti..." Sora semakin merasakan tengkuknya seperti ditekan kuat.


"Apa yang tidak aku mengerti!!" Kali ini Sid meneriaki Sora, gadis itu sedikit tersentak.


Sora merasa sakit, nafasnya mulai tersengal, denyut dikepala Sora semakin kuat, dan juga tengkuk leher yang semakin terasa berat. Dia butuh obat.


Sid merasa ada yang aneh dengan Sora, gadis itu seperti merasakan sakit yang luar biasa Sid bahkan melihat Sora seperti menangis saat menahan rasa sakitnya. Sid berpikir keras apa yang terjadi dengan Sora.


Sid sadar dia terlalu keras dengan Sora.


"Sial!" Sid segera menahan tubuh Sora yang akan jatuh kelantai.


"Apa yang sakit? Tolong katakan." Sid mulai panik.


Sora tidak menjawab, nafasnya tidak beraturan. Tangannya tidak lepas dari dada.


"Sora, dengar aku. Apa kau butuh dokter? Kita ke rumah sakit?"


Sora hanya menunjuk tas yang ada disofa, meminta Sid untuk mengambilnya. Sid segera mengambil tas Sora dan mengeluarkan apa yang ada ditas tersebut, Sid terlalu bingung karena dia tidak menemukan obat sama sekali. Dia terus mengacak isi tas Sora dan menemukan sebuah dompet kecil berwarna hitam, lebih mirip tempat koin dan membuka dengan cepat dan menemukan obat yang dimaksud Sora disana.


Sid bergerak mengambil air minum dan berjongkok didepan Sora.


"Mana yang harus diminum?" Tanya Sid saat melihat ada empat jenis obat disana.


Sora meraih dompet kecil yang didalamnya ada obat yang dibungkus plastik transparan, membuka zip lock plastik itu dan mengambil dua butir obat yang berbentuk bulat kecil. Sora segera menelan obat itu dengan tangan bergetar, Sid dengan inisiatifnya memberikan air minum yang ditenggak habis oleh Sora.


Sid mengangkat tubuh Sora menuju kamar, membaringkan gadis itu kemudian menyelimutinya. Sora segera berbalik dari Sid menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Sora ingin sendiri, sakit kepala yang dideritanya tidak bisa ditolerir lagi.


"Apa kau ingin sesuatu?" Tanya Sid mengusap kepala Sora.


"Pergilah."


"Tapi..."


"Pergilah." Suara Sora terdengar sangat dingin, sebelumnya Sid tidak pernah mendengar suara Sora seperti ini.


Sid segera keluar dari kamar Sora walaupun masih berat meninggalkan gadis itu, dia ingin menolong Sora yang sedang sakit itu. Sid akan menunggunya diluar.


Sora beranjak dari tempat tidur, masuk ke kamar mandi, mengunci pintunya mengarah ke bak mandi menghidupkan air sederas mungkin setelahnya Sora masuk ke dalam bak mandi. Mungkin dengan begitu dia akan segera mati kedinginan.


Sora kembali menangisi hidupnya yang terlalu drama, tentang hidupnya yang selalu tertekan hanya karena dendam pribadi, trauma yang menyakitkan hati. Sora sangat kesal dengan dirinya sendiri.


Air di bak mandi sudah meluap karena Sora sama sekali belum mematikan kran air, Sora menenggelamkan wajahnya didalam air sebisa mungkin untuk menangis hatinya sakit karena sama sekali tidak ada yang mengerti dia. Saat seperti ini dia butuh Adiknya. Hanya Han yang sangat mengerti dirinya.


Sora merindukan Han.


🍁🍁🍁


Yoongi tidak fokus sejak tadi alasannya cuma satu, Sora. Gadis yang dengan percaya dirinya mengatakan jika dia belum pernah tidur dengan siapapun, tetapi fakta yang ditemukan Yoongi adalah dia sudah pernah tidur dengan lelaki bernama Sid.


Yoongi juga tidak tahu kenapa dirinya kesal setelah melihat video Sora mabuk dengan pakaian minim seperti itu, ditambah Sora dan Sid yang menginap dikamar hotel yang sama sangat tidak masuk akal jika mereka tidak melakukan apapun.


Matanya berulang kali melirik kearah ponselnya, biasanya gadis itu selalu memberi kabar jika sudah sampai dirumah yang tentunya tidak dibalas Yoongi sama sekali. Tapi sampai sekarang Yoongi tidak menerima pesan apapun dari Sora.


Yoongi kesal.


Lelaki itu terus memikirkan apa yang terjadi dengan Sora dan Sid saat ini, apa mereka sedang melepaskan rindu dengan berciuman atau bahkan bercinta. Yoongi tidak bisa memikirkannya lagi.


Dia heran kenapa pikirannya tidak berhenti tentang Sora, ada rasa kesal dan cemburu karena saat ini Sora sedang bersama lelaki.


Pikirannya semakin kusut saat dia teringat kembali video yang dimana Sid sedang menjelajahi tubuh Sora. Tanpa pikir panjang Yoongi mengambil kunci mobil menuju flat Sora.


🍁🍁🍁


Sid masih berpikir keras soal obat yang dikonsumsi Sora , dia ingin mencari diinternet tapi tidak ada sedikit pun petunjuk yang dia punya, nama obat tersebut tidak ada sama sekali yang bisa dipastikan Sid itu obat racikan dengan resep dokter. Dia masih duduk di sofa sembari memperhatikan dengan serius obat didalam plastik kecil yang ada diatas meja, dia tetap diam berkutat dengan pikirannya sampai suara bel mengacaukan lamunannya.


Sid bingung harus membukanya atau tidak, Sora masih didalam kamar apa yang harus dilakukannya.


Suara bel yang ditekan dengan cara tidak sabaran itu membuat Sid kesal sendiri dan terpaksa membuka pintunya dengan wajah tertekuk sembilan.


Sid tidak bereaksi, atau bisa dibilang dia sangat terkejut dengan kedatangan tamu yang tak diundang sama sekali ini. Lelaki memakai pakaian serba hitam dengan outer yang panjangnya melebihi lutut ditambah masker hitam khas seorang idol, lelaki yang dipuja Sora setengah mati.


Yoongi juga tidak bisa bereaksi lebih wajah datar yang menghiasi wajahnya menjadi ekspresi andalannya saat ini, melihat lelaki yang sangat ingin dilenyapkan ini muncul tepat dibelakang pintu Sora.


"Dimana dia?" Tanya Yoongi tanpa basa-basi sedikit pun.


"Sorry?" Balas Sid yang tidak mengerti bahasa Korea.


"Dimana dia?" Balas Yoongi yang kali ini menggunakan bahasa Inggris.


"Maaf anda siapa?" Sid cukup kesal dengan kesan pertama bertemu dengan Yoongi.


"Ada hal penting yang ingin aku tanyakan."


"Dia sedang tidur, dia tidak ingin bertemu siapapun sebaiknya kau pulang."


Tapi Yoongi lebih memilih menerobos masuk dan tidak menemukan Sora disana.


"Sudah kubilang dia tidur, dia tidak ingin bertemu siapapun."


Yoongi hanya melihat Sid dengan wajah tidak peduli, dia harus bertemu Sora. Yoongi menuju kekamar Sora tidak peduli Sid yang berusaha menahannya agar tidak menerobos pintu kamar Sora.


"Apa yang kau lakukan?!" Seru Sid yang sudah sangat marah dengan kelakuan tidak sopan Yoongi.


Yoongi kembali mengacuhkan Sid yang semakin memicu kemarahan Sid yang dia tahan sejak tadi. Sid meraih lengan Yoongi dan memukul tepat diulu hati Yoongi yang langsung terjatuh, Yoongi bersyukur wajahnya tidak terbentur pinggiran meja yang pastinya akan mengundang kemarahan agensi karena tidak menjaga tubuhnya.


Yoongi membenarkan posisinya agar terduduk, setelah merasa nyaman tidak sengaja mata Yoongi menangkap bungkusan obat yang tidak asing dimatanya. Obat itu pernah dia konsumsi, Yoongi sangat yakin itu obat depresi dia menandainya dengan bentuk oval dengan tiga warna berbeda merah muda, biru dan putih. Tapi ada satu obat yang bentuknya seperti balok kecil berwarna putih, Yoongi semakin yakin itu obat depresan dengan dosis tinggi.


Dia mengambil bungkusan tersebut dan bertanya pada Sid siapa pemilik obat ini.


"Apa ini milikmu?" Sejak kapan Yoongi peduli dengan kehidupan orang lain.


"Bukan. Itu milik Sora, dia meminumnya sebelum masuk kekamar itu sebabnya aku bilang dia tidak bisa bertemu dengan siapapun karena dia sedang sakit. Aku mohon, pulanglah sekarang." Sid benar-benar lelah dengan Yoongi.


Yoongi menoleh cepat dan menatap tajam lelaki yang sedang berdiri didepannya ini, Yoongi segera berdiri dan menerobos masuk kedalam kamar Sora yang tidak terkunci. Tidak ada Sora ditempat tidur, Yoongi menuju jendela dan memeriksa sekitar dan hasilnya nihil.


Yoongi menuju kekamar mandi dan mendapati pintunya terkunci, dia coba sedikit menyentak pintunya agar terbuka tapi sia-sia saja.


Sid yang hanya memperhatikan Yoongi terlihat cukup panik setelah melihat obat yang diminum Sora, sepertinya dia tahu sesuatu tentang obat itu.


"Sudah berapa lama dia didalam?" Tanya Yoongi sambil mencari benda untuk mencongkel pintu tersebut.


"Sekitar setengah jam yang lalu, apa kau tahu sesuatu? Obat apa itu?" Cecar Sid yang merasa ada yang tidak beres.


"Entahlah, aku juga tidak terlalu yakin tapi itu mirip dengan obat depresi." Jawab Yoongi sambil berusaha mencongkel pintu dengan pisau dapur.


"Apa fungsimu hanya berdiri saja disitu?" Tanya Yoongi ketus.


Sid segera menolongnya dengan mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk mendobrak pintu itu, lagi-lagi Sid berurusan dengan pintu sialan yang selalu terkunci untuknya. Sid kembali saat Yoongi sudah berhasil mendobrak pintu dengan tendangan kakinya, Sid juga sempat mendengar lima kali suara kaki menendang benda padat itu dan akhirnya sipintu menyerah hingga terbuka.


Yoong dan Sid dengan cepat masuk kekamar mandi dan menemukan tubuh Sora sudah tenggelam sebagian dan tidak sadarkan diri. Yoongi segera menarik kerah baju Sora agar tubuh yang sudah pucat itu terangkat, Yoongi menepuk pipi Sora, berharap Sora hanya tertidur dan terbangun dari mimpi indahnya.


Tubuh Sora diangkat dari bak mandi dan dibawa menuju tempat tidur, seluruh pakaian Sora basah begitu pun dengan baju Yoongi. Sid menaikkan selimut Sora agar tidak kedinginan, tapi tangan Sid ditepis oleh Yoongi.


"Apa kau sudah gila? Tubuh basah seperti ini kau malah menyelimutinya?" Yoongi benar-benar kesal setengah mati.


Sid terdiam ditempat, dia juga panik dan tidak tahu apa yang harus dilakukan ditambah cuaca dingin seperti ini yang berefek pada kebekuan otaknya. Sid hanya memperhatikan Yoongi yang sangat sigap menurutnya dalam menangani Sora, seperti mencari hotpack, handuk dan pakaian kering sebagai pengganti. Yoongi juga tidak lupa menyalakan penghangat ruangan dikamar yang ternyata sudah rusak, Yoongi mengumpat kesal.


Yoongi mendekatkan telinganya didepan hidung Sora, kemudian bersyukur karena masih merasakan nafas yang cukup samar.


Yoongi kembali mengumpat karena Sora memakai kaos ketat dan jeans yang sama ketatnya, Yoongi bersumpah setelah ini dia akan menertibkan cara berpakaian Sora.


Yoongi ingin membuka baju Sora yang basah karena sekarang ini pakaian kering lebih tepat untuknya, tapi kesulitan karena kaos ketat itu. Yoongi kembali mengacak kamar Sora demi mendapatkan apa yang diinginkannya. Setelah membuka beberapa laci dia menemukan gunting kemudian kembali lagi disamping Sora.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Sid saat melihat Yoongi mengarahkan gunting tajam itu keperut Sora.


"Aku kesulitan membuka baju ketat ini, lebih baik digunting saja."


"Apa kau bilang?! Kau ingin membuka bajunya? Apa kau gila?"


"Bukankah kau yang jauh lebih gila membiarkan dia basah dicuaca dingin seperti ini??" Balas Yoongi yang tidak mau kalah.


Yoongi tidak peduli lagi dengan Sid, menuruti lelaki itu sama saja membunuh Sora. Yoongi belum siap dengan itu.


Baju Sora sudah tidak berbentuk lagi begitu pun celananya saat ini hanya pakaian dalam saja yang tersisa, Sid terkejut saat melihat tato yang ada dibahu Sora. Dia juga bingung sejak kapan Sora mentato tubuhnya, Sid kelolosan kali ini. Yoongi segera menyelimuti tubuh Sora dengan selimut tebal yang sudah disiapkan dia terlebih dahulu sedangkan Sid sudah terduduk lemas karena aset yang selama ini dijaganya terpampang jelas dihadapan lelaki lain.


Yoongi mengangkat tubuh Sora membawanya menuju mobil agar segera ditangani yang lebih ahli, jantung Yoongi berdegup kencang tentang apa yang akan dikatakan dokter nanti.


Yoongi takut.


Sangat takut.


Takut kehilangan Sora.


Please Vote & Comment ya guys.


Purple u 💜