Our Fate

Our Fate
May I



Yoongi mengalihkan perhatiannya dari komputer yang menampilkan aplikasi pembuat musik, matanya melirik ponselnya yang menerima notifikasi pesan dari istrinya. Sudah sekitar tiga jam Yoongi duduk tanpa istirahat, walau hanya sekedar minum. Dia mengambil ponsel dan membaca pesan dari Sora, hingga menimbulkan senyum diwajahnya.


From: Sora


Jangan pesan makanan, aku kesana.


Baiklah Yoongi merasa istimewa sekarang, segala sesuatu yang biasa dia lakukan sendiri dengan senang hati Sora membantu. Pagi tadi dia menyiapkan sarapan juga pakaian yang akan dikenakan Yoongi, hanya pakaian biasa dan Sora sudah tahu bagaimana style Yoongi.


Dengan kata lain Yoongi menikah dengan fans dia sendiri, Sora sudah mengetahui semuanya tanpa dia beri tahu.


Yoongi tidak membalas pesan dari Sora karena merasa tidak perlu, Yoongi yakin Sora pasti akan mengerti. Pria itu berjalan menuju ruang latihan, disana sudah ada member lain, Seokjin, Namjoon dan Hoseok. Seperti biasa Hoseok mengajari mereka latihan dance.


Yoongi duduk dan mengambil air minum matanya fokus memperhatikan tiga teman terbaiknya itu, sejak pagi dia berusaha menghindari teman-temannya karena rasa ingin tahu mereka yang sangat tinggi. Apalagi jika tidak bertanya tentang bagaimana malam pertamanya dengan Sora, dia terlalu malas untuk bercerita.


"Berhenti menempel denganku bocah!" Seru seorang perempuan yang diyakini Yoongi adalah Sora, telinganya sudah terbiasa dengan teriakan Sora.


Pintu itu terbuka, detik berikutnya Sora muncul setelahnya Jimin, Taehyung dan Jungkook mengekorinya. Seisi ruangan itu melihat kearah pintu dan kembali keaktivitas masing-masing, seolah semua staff disitu sudah paham dengan sifat Sora yang heboh, ditambah tiga anggota grup yang paling muda yang tidak jauh berbeda dengan Sora.


Sora segera menghampiri Yoongi dengan banyak bungkusan ditangannya, wajah kecut pertama kali ditunjukkan pada suaminya itu.


"Apa semua yang ada disini menggila setiap melihat makanan?" Tanya Sora sembari meletakkan bungkusan diatas meja.


Sora segera menyingkirkan bagian Yoongi, selanjutnya dia membuka semua bungkusan dan dengan cepat semua member menghampiri.


"Wahh... wanginya sangat enak." Seru Jungkook yang segera mengambil sumpit.


Sora juga memberikan sebagian makanan kepada staff yang ada diruangan itu, mereka sangat senang jika Sora datang membawa makanan, apalagi jika buatan sendiri. Sora duduk disamping Yoongi, membuka kotak makan Yoongi dan menyerahkan pada pria yang tidak pandai dalam berekspresi itu.


"Kenapa punya Yoongi Hyung beda sendiri?" Tanya Taehyung.


"Any probs?" 


Yang lain tertawa karena pertanyaan polos Taehyung, sedangkan sang empu hanya memandang polos member satu-persatu.


"Kenapa kalian tertawa?" Tanya Taehyung lagi.


"Jelas berbeda, Yoongi Hyung suami Nuna pasti makanannya jauh lebih istimewa." Balas Jungkook dengan mulut penuh.


Taehyung hanya mengangguk dengan polos yang menambah kesan lucu diwajahnya, sumpitnya kembali mencapit makanan dan memakannya dengan lahap.


Saat asik dengan makanan yang tersedia Hyeri datang dan menghampiri Yoongi, dia bertanya untuk jadwal kepergian Bangtan ke Jepang untuk konser mereka.


"Kenapa aku tidak tahu kau akan pergi?" Tanya Sora, terdengar sedikit kesal.


"Aku ingin memberitahumu saat pulang nanti, ternyata kau kesini."


Sora memutuskan obrolan singkat siang itu, dia hanya tidak mau terlalu cemburu dengan asisten pribadi Yoongi yang sudah pernah tidur dengannya. Mengingat hal itu membuat Sora panas.


🍁🍁🍁


"Bolehkah aku yang melanjutkan Eonnie?" Tanya Sora pada Hyeri yang sedang merapikan barang bawaan Yoongi.


"Silahkan." Balas Hyeri dan segera pergi dari studio milik Yoongi.


Sora berjongkok didepan tas Yoongi, isi tas tersebut alat-alat yang biasa dipakai Yoongi jika dia ingin membuat lagu saat diluar negeri. Sora bingung saat itu juga, dia tidak pernah melakukan ini, dia bingung.


"Apa kau punya list apa saja yang akan dibawa Oppa?" 


"Untuk kali ini biarkan saja dia yang merapikan, aku tidak punya list. Lain kali aku buatkan untukmu." Jawab Yoongi tanpa melihat Sora sedikit pun.


"Apa dia akan ikut juga kesana?" Sora bertanya tentang Hyeri.


"Hm."


Sora menghela nafasnya berat, hatinya tidak bisa bersikap biasa saja. Sekalipun hanya hubungan kerja tetap saja Sora cemburu, ditambah selama dia duduk disofa milik Yoongi, dia tidak berhenti melihat Hyeri mondar-mandir menyiapkan kebutuhan musik Yoongi yang sudah dia hafal luar kepala.


Interaksi keduanya pun sangat dekat, Yoongi banyak berbicara dengannya, entah karena Yoongi sangat protektif dengan benda kesayangannya itu atau memang mereka dekat karena sudah kenal dari lama. Mata Sora tidak tahan melihatnya, itu sebabnya dia meminta pada Hyeri untuk bergantian. Padahal sebenarnya dia mengusir Hyeri dengan cara yang halus.


Sora memandang kosong tas itu lagi, tidak ada gunanya dia disini.


"Aku pulang." Ucap Sora meraih gagang pintu. "Aku akan minta dia melanjutkan kembali pekerjaannya."


"Tidak perlu."


Sora menutup pintunya, Yoongi hanya memperhatikan pintu itu, dia tahu Sora sedang cemburu tapi dia lebih memilih diam. Dia juga tidak mau ribut dikantor seperti ini, masalah pribadi tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Dia harus siap jika Sora mendadak diam saat pulang nanti, bahkan dia sudah rindu dengan suara heboh Sora.


Yoongi memilih melanjutkan pekerjaannya, tak lama kemudian pintunya terbuka lagi menampilkan Hyeri disana.


"Kenapa Sora pulang?" Tanya Hyeri yang melanjutkan kembali pekerjaannya.


"Ada hal yang harus dikerjakan." Jawab Yoongi yang tidak mungkin mengatakan jika Sora cemburu.


"Aku tidak menyangka kau menikah dengannya."


"Tidak perlu dibahas." Yoongi menutup obrolan dengan Hyeri saat perempuan itu ingin memulainya.


🍁🍁🍁


Sora memakan saladnya dengan penuh emosi, mengingat semua kejadian siang tadi dimana Yoongi lebih memilih Hyeri yang membantunya dibanding istrinya sendiri. Sora sebenarnya paham jika itu hanya sebatas pekerjaan, tapi mengetahui fakta Yoongi sering tidur dengan Hyeri menambah rasa sakit dikepalanya.


Sora mendengar suara seorang menekan tombol dipintu apartemen mereka, yang diyakini Sora pasti Yoongi. Sora belum membeli rumah, dia masih menunggu Yoongi memberikan uang. Tabungannya tidak berani dipakai karena akan membayar taruhan pada Han.


Yoongi masuk kedalam dan langsung mencari Sora, detik berikutnya dia melihat Sora menghampiri Yoongi, membawa tas jinjing Dior dengan harga selangit itu tanpa berkata apa-apa.


Tebakan Yoongi benar.


Setelah selesai dengan aktivitas malam, Yoongi mengeringkan rambut basahnya. Dia melirik Sora yang sedang duduk bersimpuh melipat kaki dipinggir tempat tidur, Sora menghadap kepala tempat tidur sehingga membelakangi Yoongi. Pria itu berpikir keras dengan tingkah aneh Sora, cara duduknya mirip seperti seorang gadis Jepang menggunakan Kimono yang sedang menikmati teh tradisional.


"Tidak bisakah aku ikut denganmu?" Sora menyampaikan apa yang ada dikepalanya.


Yoongi menarik nafas lalu menghembuskan pelan.


"Bukan aku tidak mau mengajakmu, aku belum meminta izin lagi dengan Bang Si Hyuk agar kau bisa mengikuti seluruh jadwalku."


"Aku akan beli tiket sendiri." Balas Sora yang masih bertahan dengan posisinya.


"Bukankah uangmu sudah habis karena kalah taruhan dengan Han?"


"Aku belum memberikannya, dia juga tidak akan tahu jika aku pakai sedikit. Lagian, kau tidak ingin membayar tiketku?" Sora mulai kesal.


Yoongi harus menahan emosinya.


"Sora, sekarang bukan tentang aku tidak mau membayar tiketmu. Agensi juga mempunyai peraturan, aku tidak suka masalah pribadi dibawa kepekerjaan." Yoongi menjelaskan sehalus mungkin agar Sora tidak terpancing emosi.


"Aku sudah meminta jadwal selama enam bulan kedepan, dan aku sudah menulis apa saja yang aku perlukan saat aku keluar Negeri." Lanjut Yoongi yang meletakkan buku kecil dan kertas berukuran besar yang sudah dilipat kecil tentunya, dimeja tempat Yoongi mengeringkan rambut.


Sora menghela nafas. Dia menjatuhkan kepalanya diatas lututnya sendiri, dia persis seperti seorang yang sedang menyembah. Tidak lama kemudian Yoongi menghampirinya dan menyentuh punggung Sora.


"Beri aku waktu." Ucap Yoongi pelan diatas punggung Sora.


Sora merasakan punggungnya diusap, wajahnya masih tenggelam disana, sesak dirasa. Ingin menangis tapi dia tahan karena tidak ingin terlihat seperti anak-anak didepan Yoongi, dia harus menekan lagi rasa cemburu yang sudah membakar dirinya.


"Aku cemburu." Suara Sora tenggelam dibalik lutut.


"Maaf."


Yoongi tidak melewatkan kesempatan ini, bibir itu sudah menempel ditengkuk leher Sora sedikit ******* agar Sora hanyut dan melupakan rasa cemburunya. Tangannya sudah mengitari seluruh punggung Sora, Yoongi juga meremas gemas tubuh Sora yang paling banyak menyimpan daging.


Yoongi menaikkan baju tidur Sora yang kali itu menggunakan terusan berwarna abu tanpa lengan dengan panjang hingga kepaha, jika meringkuk seperti ini pendek terusan itu semakin terlihat. Tangannya mengarah langsung kebagian sensitif Sora, istrinya mulai tidak nyaman, Yoongi menangkap pergerakan Sora yang akan merubah posisinya, tapi ditahan oleh Yoongi.


"Biar seperti ini." Bisik Yoongi sembari jari-jari itu menari diatas bagian sensitif Sora. "Kau harus mencoba sesuatu yang baru." Lanjutnya lagi dengan jari yang sudah masuk kedalam Sora.


Lenguhan pertama keluar dari mulut Sora, gerakan cepat jari itu menjemput kenikmatan Sora terlebih dahulu. Yoongi tersenyum melihat Sora yang hilang akal hanya dengan jari-jari miliknya, Yoongi mengeluarkan jari itu, bergerak mengusap disekitaran seperti meratakan cairan kenikmatan, terlihat kilat ditimpa cahaya lampu.


Yoongi sedikit menaikkan bagian belakang itu agar sejajar dengan milik Yoongi, setelah pas dia masuk dengan perlahan, Sora hanya bisa menyembunyikan wajahnya karena malu dengan posisi yang aneh seperti ini. Posisi aneh yang mirip seperti makhluk berkaki empat, bertambah nikmat saat Yoongi memulainya, Sora kesal kenapa dia selalu lemah oleh Yoongi. Jika diingat kembali Sora masih kesal dengan Yoongi yang tidak mengizinkan dia untuk ikut bersamanya.


"Mulai sekarang kau harus terbiasa dengan posisi seperti ini, terasa berbeda bukan?"


Sora hanya mengangguk karena mulutnya sudah sibuk dengan racauan kenikmatan, walaupun posisi aneh, dia setuju jika rasanya memang berbeda.