Our Fate

Our Fate
Last Day



Namjoon berjalan santai saat ingin memasuki kamar Yoongi, ada satu hal yang ingin dia sampaikan pada Yoongi. Tentang Sora. Gadis yang membuatnya betah selama di negara orang. Dia mengetuk pintu kamar Yoongi, berharap lelaki itu tidak tidur.


Suara ketukan pintu terdengar jelas ditelinga Yoongi, dia mengumpat pelan karena merasa terganggu. Yoongi tidak mau repot-repot bersuara untuk menyuruh si pengetuk pintu untuk masuk, dia diam sampe dia melihat Namjoon masuk kedalam kamarnya dengan wajah lesu.


Yoongi masih berkutat dengan pekerjaannya, tidak peduli dengan Namjoon sedikitpun. Masih banyak hal yang lebih penting dari dia.


"Hyung..." suara Namjoon mengisi pendengaran Yoongi.


Yoongi tidak menjawabnya sama sekali, tidak perlu mungkin. Dia hanya sedikit melirik lelaki yang sedang memperbaiki posisi duduknya itu, sedangkan Namjoon sudah terbiasa dengan sikap Yoongi yang payah itu.


"Sora menanyakan kabarmu." Ucap Namjoon yang tidak mendapat respon sama sekali dari Yoongi.


"Hhaaa... dia gadis yang sangat pintar Hyung." Namjoon menyandarkan punggungnya dikursi.


"Hanya butuh dua tahun kuliah, dan akan melanjutkan jurusan yang lain. Otaknya sangat baik dipelajaran. Wajar saja sih dia cerdas." Lanjut Namjoon.


"Dan lagi dia seorang Nuna." Namjoon tertawa kecil saat dengan percaya dirinya memanggil Sora tanpa embel-embel Nuna dibelakangnya.


"Dia seumuran denganmu Hyung. Dia..."


"Kalau kau suka, katakan. Setelah itu cepatlah pergi dari sini, aku sibuk." Balas Yoongi seadanya.


Namjoon tertawa lagi. "Kalau semudah itu pasti sudah kukatakan sejak kemarin."


Kurang lebih sudah dua bulan ini Sora juga Namjoon sering berkomunikasi, begitu juga dengan Hoseok. Tapi tidak dengan Yoongi. Setiap mereka mengajak keluar dia selalu menolaknya, karena menurutnya berurusan dengan perempuan hanya akan menambah beban.


Bukan dia tidak suka dengan perempuan, tapi saat ini dia hanya ingin fokus dengan debutnya.


Namjoon sangat berbeda dengan Yoongi, saat dia sedang jenuh dengan karirnya yang tak kunjung datang, dia pasti akan mencari kesenangan lain. Seperti cinta misalnya, ditambah lagi dia tidak sengaja bertemu dengan Sora yang semakin menambah daya semangatnya.


Tapi semua tidak seperti yang dibayangkan. Namjoon yang sudah suka dengan Sora sejak awal, ternyata tidak tertarik dengannya. Sora sangat terbuka, itu yang membuat Namjoon yakin kalau Sora tidak membalas perasaannya.


Namjoon juga tidak berharap lebih agar Sora mau menjadi kekasihnya, tapi Namjoon ingin Sora bisa membuka diri untuk Namjoon. Sora menegaskan pada Namjoon tentang perasaannya dengan halus, "Aku lebih suka berusaha dengan perasaanku sendiri, dibanding orang lain yang berjuang untuk perasaanku."


Namjoon sangat yakin Sora sudah mengetahui perasaannya, jadi seperti memberi peringatan dari awal tidak ada gunanya mengatakan perasaan suka jika Sora tidak mempunyai perasaan yang sama.


Sejak saat itu Namjoon lebih memilih untuk menjadi teman Sora saja, tidak lebih.


Walaupun begitu, Sora tetap ramah dan cukup terbuka dengan Namjoon.


Hal lain yang membuat Namjoon menyerah adalah fakta kalau Sora tertarik dengan Yoongi, dia tahu itu saat Sora mengatakan ketertarikannya dengan sikap tidak peduli Yoongi.


Sora sering mengajak Namjoon dan Hoseok keluar sekedar makan diluar atau menikmati kota New York, dan tidak lupa mengajak Yoongi yang tidak pernah mau ikut sama sekali. Tapi Sora tidak menunjukkan rasa kecewanya, Namjoon takjub dengan itu.


"Dia hanya tertarik denganmu Hyung. Dia ingin mengenalmu lebih dekat. Tapi kau selalu menghindar. Dan... tidak ada yang salah dengan berteman 'kan?"


Ucapan Namjoon seolah kalimat yang dapat menembus dinding rasa tidak peduli Yoongi, bagaimana seorang gadis manis bisa menyukainya. Biasanya orang-orang akan menjauhinya, atau terkesan takut karena Yoongi tidak banyak omong.


Yoongi jadi merasa tidak enak hati karena selalu menghindari Sora, padahal gadis itu hanya ingin berteman dengannya. Tapi Yoongi sudah menolaknya mentah-mentah. Mungkin  Yoongi yang terlalu percaya diri jika Sora akan mengatakan rasa suka, yang faktanya adalah dia hanya ingin berteman.


Yoongi akui dia sangat buruk dalam bersosialisasi, sebab depresi yang pernah menyerangnya menjadikan dirinya semakin tertutup. Kisah kelam masa lalunya yang menjadikan dirinya seperti sekarang ini.


Namjoon bangkit dan meletakkan kartu nama Sora disamping Laptop, semoga saja lelaki didepannya ini bisa berubah pikiran.


"Lusa dia akan kembali ke Indonesia, temui dia jika kau ingin." Ucap Namjoon dan pergi dari kamar Yoongi.


Yoongi memperhatikan kartu itu dengan seksama, kartu nama dengan lambang PBB dipojoknya. Dia bingung apa yang harus dia lakukan.


"Merepotkan."


🍁🍁🍁


Sora sedikit berlari menuju kedai kopi tempatnya bertemu dengan tiga lelaki yang berasal dari Korea, dia sedikit terlambat karena dia harus mengurus kepulangannya esok hari. Masa magangnya sudah berakhir sejak dua hari yang lalu, Sora pun sempat berpikir untuk kembali hari ini, tapi tiba-tiba saja tepat pukul dua pagi dia menerima pesan dari Yoongi. Ya, Yoongi yang selama ini menjadi pikiran Sora selain skripsi.


Entah kerasukan apa sehingga lelaki itu mengiriminya pesan mengajak untuk bertemu, sehingga Sora memikirkan ulang soal kepulangannya hari ini.


Sora memperhatikan sekeliling mencari eksistensi Yoongi, cukup sulit menemukan Yoongi disaat keadaan ramai seperti ini. Apalagi Yoongi tidak suka terlalu menjadi pusat perhatian-- itu yang dia tahu dari Namjoon. Yang menjadi patokan Sora hanya kulit pucat seperti vampire.


Sora sedikit tersenyum saat mengingat hal konyol yang menjadi fantasinya, demi menarik perhatian Yoongi, Sora yang sempat berpikir kalau Yoongi adalah sepupu Edward Cullen-- vampire tampan dalam film Twilight. Dia mencari tahu tentang makhluk yang masih belum bisa dipastikan kebenarannya. Sora sudah gila. Dia bahkan ingin merubah penampilannya menjadi Bella Swan, agar Yoongi tertarik padanya. Sungguh konyol.


Sora menemukan Yoongi yang sedang duduk dipojok, sedang menulis dibuku kecil yang pernah Sora lihat saat bertemu dengannya pertama kali. Sora jadi penasaran apa isi buku itu, bisa saja kumpulan lagu-lagu yang ditulis sendiri oleh Yoongi. Bahagianya Sora jika Yoongi menulis lagu untuknya, seperti di film romantis yang pernah ditontonnya.


"Apa kau lama menunggu?" Tanya Sora saat tepat didepan Yoongi.


"Tidak." Jawab Yoongi singkat padat dan jelas.


"Sepertinya aku mengganggumu." Kata Sora lagi karena melihat Yoongi enggan mengalihkan perhatiannya dari buku kecil itu.


"Sedikit." Yoongi langsung menutup buku kecilnya.


Yoongi menyandarkan punggungnya dibangku, melipat kedua tangannya dan menatap Sora tepat dimatanya. Hal yang baru disadari Yoongi adalah rambut ikal tebal dengan panjang sepunggung, jika diperhatikan lagi Sora memiliki rambut yang terawat. Baru kali ini Yoongi melihat seseorang memiliki rambut ikal alami, biasanya dia sering melihat ikal yang disalon terlebih dahulu.


Yoongi juga bingung bagaimana bisa dia tertarik dengan rambut Sora yang sangat bagus menurutnya itu, penampilannya sederhana tapi terlihat mahal. Yoongi juga bukan seorang yang buta fashion walaupun Sora hanya mengenakan kaos putih polos dengan denim jacket, masih terlihat pakaiannya pasti merogoh kocek yang dalam. Yoongi mengambil kesimpulan Sora memang kaya.


Sora tidak terlalu mencolok dalam berpenampilan, salah satu hal yang disukai Yoongi. Tidak memakai riasan berlebih, mungkin hanya pelembab bibir. Atau mungkin dia yang memang sudah terlahir dengan wajah cantik.


Tetapi mengingat dia bukan Korea asli, Yoongi baru menyadari asal rambut ikalnya itu. Yoongi suka rambut ikal Sora. Sangat alami.


"Aku dengar kau akan kembali ke negaramu."


Sora tersenyum. "Benar, magangku sudah selesai. Aku tinggal mengajukan skripsiku."


"Semoga cepat selesai." Ucap Yoongi.


"Terima kasih." Sora tersenyum lebar.


"Mau makan atau tetap disini?" Tanya Yoongi.


Tanpa mengatakan apapun lagi Yoongi bangkit dan memesan kopi juga makanan pendamping untuk mereka berdua, setelah selesai Yoongi kembali duduk dengan pesanannya.


"Aku tidak tahu apa yang kau mau, jadi aku pesankan saja seperti yang kau minum waktu itu." Ucap Yoongi sambil meletakkan segelas americano kehadapan Sora.


"Terima Kasih." Jawab Sora yang kelewat senang ternyata Yoongi juga memperhatikan minuman yang diminumnya waktu itu.


Walaupun dia tidak terlalu suka dengan kopi, selagi Yoongi yang memberikan dia akan menyukainya.


Saat Yoongi meminum kopinya Sora memperhatikan dengan seksama, apa yang akan terjadi setelah ini. Dan Yoongi sedikit risih saat Sora memperhatikannya.


"Ada apa? Aneh melihatku minum kopi?" Tanya Yoongi tidak suka.


Sora mengangguk. "Aku penasaran, kenapa vampire sepertimu bisa minum kopi bukannya darah."


"Apa maksudmu?" Yoongi mulai jengkel


"Aku masih penasaran denganmu, kau itu sebenarnya manusia atau vampire? Kulit putih pucatmu mirip seperti ras peminum darah manusia. Atau kau sepupu Edward Cullen?"


Yoongi terbodoh sesaat mendengar pertanyaan Sora yang bisa dikatakan cukup konyol untuk gadis pintar sepertinya. Bagaimana bisa dia percaya dengan hal seperti itu.


Yoongi sedikit tersenyum-- benar-benar sedikit hampir tidak kelihatan menanggapi kekonyolan Sora.


"Aku tidak akan meminum darah manusia selain darahmu, aku cukup bosan dengan darah munafik manusia. Sepertinya darahmu masih suci, pasti akan terasa manis." Balas Yoongi yang ikut dalam kekonyolan Sora.


Sora tertawa Yoongi tidak sekaku yang dia kira. Walaupun wajahnya tidak menunjukkan ekspresi sama sekali, tapi Sora tahu Yoongi berusaha larut dalam obrolan tidak penting yang Sora ciptakan.


Setelahnya tidak ada obrolan lagi diantaranya, baru kali ini Sora merasa sulit berinteraksi. Masih banyak yang sifatnya lebih parah dari Yoongi, tapi Sora tetap tidak mampu. Mungkin karena Sora tertarik dia jadi sedikit gugup.


"Aku ingin minta maaf karena tidak pernah mau menerima ajakanmu." Suara berat Yoongi membuyarkan lamunan Sora.


"Aku mengerti." Potong Sora.


"Jangan berlebihan, atau terlalu dipikirkan. Kau mengajakku keluar hari ini saja sudah sangat menyenangkan bagiku."


Yoongi tersenyum mendengar penuturan jujur dari seorang Sora, gadis didepannya ini tidak terlalu buruk. Sepertinya dia sudah mengerti sifat Yoongi. Ada sedikit penyesalan dihatinya, kenapa tidak dari awal menerima ajakan berteman dari seorang gadis manis didepannya ini.


Sora terpana melihat senyum manis dari seorang Yoongi, ini pertama kalinya dia melihat senyuman Yoongi. Deretan gigi rapi dan menunjukkan seluruh gusinya saat tersenyum itu melelehkan hati Sora. Dalam hati Sora tidak akan melepaskan Yoongi begitu saja.


"Aku ingin makan ayam goreng, tidak jauh dari sini lebih baik jalan kaki saja." Ucap Sora saat merasa cacing diperutnya meminta kesejahteraan. "Tidak apa 'kan?"


"Baiklah, ayo." Yoongi langsung beranjak tanpa basa-basi.


Yoongi dan Sora jalan berdampingan menuju tempat makan yang Sora maksud. Sesekali Sora bercanda dengan Yoongi yang dibalas datar tanpa ekspresi.


"Kulitmu tidak terbakar 'kan? Mataharinya cukup terik." Ucap Sora melanjutkan lelucon ras peminum darah.


Yoongi mengerti arah pembicaraan Sora, lelucon konyol tak bermanfaat tapi cukup menarik perhatian Yoongi.


"Apa kau tidak punya lelucon yang lain?" Tanya Yoongi.


"Aku hanya ingin dekat denganmu."


Yoongi terdiam sejenak memikirkan kalimat Sora, apa nilai lebih yang dimiliki Yoongi sampai menarik Sora agar bisa dekat dengannya.


"Apa yang akan kau lakukan setelah lulus?"


Sora menghembuskan nafasnya, berhenti sejenak memperhatikan anak-anak yang sedang bermain bola dilapangan dijalan yang mereka lewati.


"Aku akan belajar lagi."


"S2?"


"Aku punya kesepakatan dengan Appa-ku. Aku akan lanjut kuliah hukum seperti keinginannya. Antropologi memang karena keinginanku."


"Appa sangat tegas, itu sebabnya aku selalu menuruti kemauannya. Aku sangat menyayanginya begitupun dia. Kalau boleh jujur, sebenarnya aku sudah muak dengan belajar. Tapi aku benar-benar menyayangi Appa jadi, tidak ada salahnya menurut dengan orang tua 'kan?"


Yoongi melihat raut wajah tertekan dari Sora. Gadis itu lebih memilih mengalah dan menuruti kemauan ayahnya, padahal dia sudah tidak ingin belajar lagi.


"Lalu dimana kau melanjutkannya?"


"Entahlah, Appa yang menentukan. Mungkin Jerman." Jawab Sora singkat.


"Itu sebabnya aku ingin berteman denganmu, karena setelah ini aku tidak yakin kita akan bertemu lagi atau tidak." Lanjut Sora.


Yoongi merasa hatinya kosong tiba-tiba, dia juga tidak tahu apa penyebabnya. Gadis didepannya ini tidak buruk, mau berteman dengan Yoongi disaat orang lain lebih memilih menjauhinya. Yoongi tidak bisa berbuat apa-apa, tapi hati kecilnya ingin menerima ajakan pertemanan dari Sora. Yoongi dilema.


"Kenapa tidak memilih di Korea saja? Bukankah itu juga kampung halamanmu?"


Sora menundukkan kepalanya. "Ada alasan kenapa Appa-ku membenci Korea, itu satu-satunya negara yang tidak ingin dia datangi. Dan itu juga alasan kenapa Appa memilih pindah kewarganegaraan."


Yoongi kaget dengan alasannya, ini semakin memperkecil kesempatan dia dan Sora akan berteman. Tidak, Yoongi tidak mau itu terjadi.


Yoongi menghembuskan nafasnya mantap. "Jika kau ingin lebih dekat denganku, pergilah ke Korea, jangan Jerman."


Sora langsung menoleh saat mendengar ucapan Yoongi barusan, mencari kebenaran dari kalimatnya. Sedangkan Yoongi menatapnya serius, tanpa kebohongan yang tersirat.


Sora tersenyum lebar, semangat membara seketika muncul didirinya. Yoongi mengajaknya ke Korea, Yoongi membuka dirinya untuk Sora yang tidak mungki  dilewatkannya. Sora akan meyakinkan Ayahnya agar memberinya kebebasan dalam memilih negara yang akan menjadi tempat belajarnya. Dan memilih masa depannya.


Sora menganggukkan kepalanya pada Yoongi. Meyakinkan Yoongi kalau dia bisa menaklukkan Ayahnya.


"Ayo kita makan!!" Seru Sora dengan kebahagian yang terpancar jelas diwajahnya.


Sora berkata dalam hati.


"Selamat datang dihatiku, Min Yoongi!"