
New York, USA
Ini adalah hari ke dua puluh delapan sejak Sora di New York, banyak hal yang terjadi saat dia memulai kegiatan magangnya.
Saat dia memasuki kantor PBB, sebagian besar isinya adalah orang-orang yang berusia tiga puluh keatas. Sedangkan Sora belum genap dua puluh tahun. Sora juga meyakini kalau hanya dia yang paling muda digedung itu.
Sora mendapatkan posisi International Consultant, tugasnya seperti memberi pengarahan lanjut pada tiap perwakilan negara, untuk membina kerjasama internasional dalam pembangunan bidang sosial. Walaupun hanya staff magang dan bukan bagian inti, dia tidak percaya bisa mendapatkan posisi itu.
Sora tidak terlalu sulit untuk beradaptasi, tapi satu hal yang disesalinya. Tidak bisa berbahasa Perancis. Di PBB sendiri ada beberapa bahasa yang harus dikuasai, salah satunya bahasa Perancis. Sedangkan dia hanya bisa bahasa Jepang, alasannya karena dia suka segala sesuatu yang berhubungan dengan Jepang.
Mahir berbahasa Korea dan Indonesia karena kedua orang tuanya, mahir berbahasa Inggris karena belajar dari buku, sedangkan atas dasar keinginan sendiri dia memilih bahasa Jepang. Ditambah dia pernah menjadi salah satu pertukaran pelajar saat sekolah menengah pertama.
Jadi, tidak bisa berbahasa Perancis hanya menjadi salah satu penyesalan dalam dirinya.
Sora menghela nafas sekali lagi, itu sudah kesekian kali dia melakukannya karena beban pikirannya saat ini. Dia butuh piknik.
Semenjak magang di PBB, menuntutnya harus mempelajari manusia yang ada dibelahan bumi yang lain. Skripsi yang juga sedang dikerjakannya semakin menambah beban pikirannya.
Sora berjalan pelan kearah kedai kopi yang ada disekitaran kantornya. Tempatnya tidak terlalu besar, tapi cukup ramai karena banyak pekerja kantor yang singgah sebentar sebelum memulai aktivitas paginya. Seperti Sora saat ini, dia memesan segelas kopi.
Sora tidak terlalu suka dengan kopi, alasannya karena pahit. Tapi begadang saat mengerjakan skripsi, membuatnya membutuhkan kafein. Sora mengambil pesanannya dan mulai mencari tempat kosong, saat ingin meletakkan gelas kopinya, sebuah nampan berisi tiga gelas kopi juga ikut mendarat dimeja kosong tersebut.
Sora menatap ketiga lelaki yang sudah menatapnya lebih dulu. Sora harus mengangkat tinggi dagunya saat melihat ketiga lelaki yang bertubuh tinggi itu. Mengingat tinggi Sora hanya 160cm, wajar lehernya sakit melihat gerombolan lelaki itu. Merasa canggung akhirnya Sora mengalah.
"Ah, sorry, I'd better drink it outside." Ucap Sora sambil tersenyum kaku.
"No!" Cegah lelaki yang paling tinggi. "We're out."
Tapi yang terjadi adalah, salah satu dari ketiga lelaki itu memilih duduk dengan santainya, kemudian tangannya merogoh saku celana dan mengeluarkan sebungkus rokok yang isinya sudah setengah, menyalakan pemantik dan membakar sebatang rokok yang sudah menempel dimulutnya.
Sora terpana dengan cara lelaki itu menyalakan rokoknya. Sangat santai. Seperti rokok itu hanya sebuah permen. Sora menyukainya. Sora kembali memperhatikan penampilan lelaki itu, kulit pucat yang seperti vampir--Sora sempat mengira dia sepupu Edward Cullen. Topi, jacket, jam juga anting yang digunakannya, entah kenapa sangat menarik perhatian Sora.
Dan selanjutnya dengan gayanya yang memang kelewat santai, mengambil kue yang ada dinampan yang tentunya masih dipegang erat lelaki bertubuh paling tinggi itu, kemudian mengunyahnya.
"Hyung, itu tidak sopan." Ujar lelaki bertubuh tinggi itu.
Sedangkan yang dimaksud hanya membuang mukanya kearah lain.
"Kalian dari Korea?" Tanya Sora saat Namjoon menegur Yoongi menggunakan bahasa Korea.
"Oh, benar! Kau juga?"
Sora mengangguk.
"Kalau begitu kenalkan, aku Namjoon, ini Hoseok, dan yang sedang duduk itu Yoongi." Ucap Namjoon yang mengenalkan semua temannya.
"Maaf atas sikap Hyung-ku"
"Ah tidak apa." Balas Sora canggung.
"Duduk bersama?" Tanya Namjoon yang menampilkan senyum terbaiknya, dengan bonus lesung pipi yang manis.
Sora tidak bisa menolak, lebih tepatnya dia ingin mengenal lelaki yang sudah mencuri perhatiannya itu. Sora meletakkan gelas kopinya juga laptop yang sejak tadi dipeluknya.
"Apa kau tinggal disini?" Tanya Namjoon pada Sora.
"Tidak, aku hanya mahasiswa magang disini." Balas Sora.
Namjoon hanya mengangguk tanda mengerti, sedari tadi lelaki itu tersenyum melihat Sora. Padangannya terus melihat Sora, sedangkan Sora sesekali melirik Yoongi yang hanya diam, tanpa ada minat untuk bergabung dalam obrolan. Yoongi pun lebih menghindari pandangannya pada Sora, sepertinya dia memang tidak suka bergabung dengan seorang perempuan.
Sora sesekali tertawa karena lelucon konyol seorang Hoseok. Sora sudah bisa menilai ketiganya, Hoseok yang pandai bergaul, Namjoon yang terlihat cerdas dan Yoongi yang introvert. Sora senang berada disekitar mereka.
"Ini sudah yang ketiga Hyung, berhentilah." Ucap Hoseok yang khawatir dengan kesehatan Yoongi.
"Bukan urusanmu." Balas Yoongi ketus.
Sora tetap memperhatikan Yoongi yang masih setia dengan rokoknya, entah kenapa Sora tidak bisa berhenti menatapnya. Dia ingin sekali mengobrol dengan Yoongi. Tapi, melihat dia yang sulit untuk diajak mengobrol, membuat Sora berpikir keras bagaimana cara selanjutnya.
Sora permisi pada Namjoon untuk membuka Laptopnya sejenak, niat Sora ingin membalas beberapa email sebelum dia sampai dikantor. Saat dia mengeluarkan laptop dari tas yang berukuran sama dengan laptopnya, perhatian Yoongi teralihkan. Sora langsung menangkap pergerakan dari Yoongi yang sedang memperhatikan laptopnya.
"Gotcha!" Gumam Sora karena tebakannya benar.
"Maaf, kau berkata sesuatu?" Tanya Namjoon yang kebetulan duduk dekat dengan Sora.
"Tidak. Mungkin perasaanmu saja." Balas Sora.
Sora tidak bisa menahan senyumannya, dia menganalisis jika Yoongi seorang yang suka dengan kemewahan. Tapi Sora tidak bisa mengatakan jika Yoongi seorang yang materialistis, karena kalau dia sadar tas yang dipakai Sora adalah tas mahal, Yoongi pasti sudah meliriknya sejak awal.
Sora menutup laptopnya saat merasa sudah selesai membalas beberapa email penting, dia masih ingin berada disana. Dia akan izin masuk terlambat.
"Boleh tahu kau magang dimana?" Tanya Hoseok.
"Ah, aku magang dikantor PBB." Balas Sora dan mendapat respon heboh dari Namjoon dan Hoseok.
"Waahhh kau hebat sekali! Bagaimana bisa mereka menerima mahasiswa magang?" Tanya Namjoon.
"Ini hanya sebuah keberuntungan, awalnya hanya iseng karena mau skripsi. Eh, tahunya diterima. Aku juga kaget."
"Oh, jurusan apa?"
"Antropologi." Jawab Sora sambil tersenyum, kali ini dia tidak sengaja menangkap Yoongi sedang menatapnya.
Sepertinya Sora sudah berhasil merebut perhatian Yoongi, karena sejak Sora mengeluarkan laptopnya Yoongi semakin intens mengalihkan matanya kearah Sora.
Tidak lama kemudian, ponsel Sora berbunyi. Sora segera mengangkatnya setelah sebelumnya dia permisi untuk mengangkat ponsel.
"Sepertinya aku harus pergi, ada meeting mendadak." Ucap Sora setelah selesai dengan panggilan teleponnya.
"Jika kalian membutuhkan sesuatu, kalian bisa menghubungiku." Lanjut Sora dan menyerahkan sebuah kartu kepada Namjoon.
"Terima kasih untuk obrolan pagi ini." Ucapnya lagi sembari membungkuk sopan.
Sora segera meninggalkan ketiga lelaki tersebut tanpa sempat mereka membalas kalimat-kalimat yang diucapkan Sora.
Sora keluar dari kedai kopi itu dengan perasaan bahagia, dia sengaja memberikan kartu namanya pada Namjoon agar mereka masih bisa berkomunikasi. Itu adalah salah satu cara agar dia bisa dekat dengan Yoongi, lelaki yang sudah mencuri hati Sora untuk pertama kalinya.
Menggunakan Namjoon untuk dekat dengan Yoongi adalah hal yang cukup jahat, tapi Sora tidak akan melepaskan Yoongi begitu saja. Dia sudah terpikat dengan lelaki pucat itu.
🍁🍁🍁
Hoseok, Yoongi, dan Namjoon terkapar lemas setelah selesai mendapat wejangan dari mentor mereka. Setelah seharian dilatih bagaimana belajar menjadi Rapper yang berkualitas, akhirnya mereka bisa pulang. Rumah sewa sederhana yang disediakan oleh agensi, menjadi tujuan utama mereka setelah lelah seharian.
Hoseok yang tiduran dilantai, Yoongi merebahkan dirinya disofa empuk, dan Namjoon yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya tidak ingin beranjak sedikit pun.
Namjoon teringat dengan kartu nama Sora yang masih ada dikantong celananya, dia merogohnya dan langsung membaca nama yang tertera disitu.
"Kang Sora, cewek yang menarik." Gumam Namjoon dengan senyum tipis diwajahnya.
"Bagaimana menurut kalian?"
"Aku suka dia, anaknya ramah." Balas Hoseok.
"Kalau Hyung?"
"Lewat." Balas Yoongi tanpa membuka matanya.
"Kau yakin Hyung?"
Yoongi menghela nafasnya berat, dia benci jika tidurnya diganggu. "Apa kau tidak mengerti bahasa yang kuucapkan?"
Namjoon tersenyum melihat Yoongi yang selalu marah jika tidurnya diganggu, persis seperti singa.
Namjoon masih memperhatikan kartu yang bertuliskan nama Sora, lelaki pemilik lesung pipi itu sangat tertarik pada Sora. Terutama saat berbincang dengannya, Sora mampu menyesuaikan dirinya dalam sekejap. Bahasa yang digunakannya pun terdengar sopan dan ramah, dan hal kecil itu yang membuat Namjoon tertarik.
Namjoon memejamkan matanya, saatnya tidur. Berharap dia bisa bermimpi Sora malam ini.
Mungkin Namjoon sudah kehilangan akalnya.