Our Fate

Our Fate
Thanks



Suara seseorang sedang menelepon memenuhi ruangan di apartement yang sudah empat bulan ini ditinggalinya, Sora sedang menghubungi ayahnya yang sedang "rewel" meminta Sora agar pulang karena rindu sang ayah sangat tak tertahankan. Sora berusaha merayu sang ayah agar mengerti posisinya sekarang yang telah bersuami, Sora tidak bisa pergi kemana pun jika belum mendapat izin dari Yoongi.


Jika diingat kembali mereka pernah ribut hanya karena izin pergi, Sora tidak pernah membantah apa yang diucapkan Yoongi, tapi keadaan lelah Sora menjadi pemicu utama mereka bertengkar. Yoongi saat itu marah karena Sora tidak menurut, ditambah Sora yang lupa mengkonsumsi obat rutin yang membuat emosinya tak terkendali. Sampai pada akhirnya Sora menangis menahan rasa sakit ditubuhnya, jika Yoongi tidak cepat tanggap, mungkin Sora sudah tidak sadarkan diri.


"Yoongi Oppa sedang dalam jadwalnya, Sora tidak diizinkan pergi sendiri." Ucap Sora tak henti memberi pengertian pada ayahnya.


"Ck. Anak itu. Appa akan menghubunginya agar kau bisa pulang sementara waktu." Balas Kang Dae sedikit kesal.


"Jangan begitu Appa, jangan mengganggu pekerjaannya. Sora janji akan pulang secepatnya."


Kang Dae menghela nafas panjang karena usahanya kali ini tidak berhasil, dia sangat rindu anak perempuannya itu. Sangat berbeda sewaktu dia masih kuliah, walaupun sering pergi dalam jangka waktu lama tidak pernah serindu ini.


"Baiklah. Tapi saat pulang Appa harus mendengar kabar baik darimu."


Sora paham maksud ayahnya.


Sora juga menantikan hal itu, berharap secepatnya memiliki anak. Sora juga sudah diskusi dengan Yoongi tentang memiliki anak, pria itu malah balik bertanya apa Sora sudah siap apa belum, karena Yoongi sendiri pun tidak ada keinginan menunda.


Sora berulang kali membeli alat tes kehamilan dengan hasil yang nihil, rasa kecewa pasti ada. Yoongi sampai menegurnya karena terlalu sering membeli testpack, Yoongi juga berkata tidak perlu dipaksa biarkan berjalan dengan sendirinya. Sora merasa tidak enak dengan ayah dan ibu Yoongi yang berulang kali bertanya tentang cucu, yang menambah beban pikiran Sora. Yoongi menangkap gelagat Sora, agar tidak patah semangat Yoongi membeli satu dus testpack, dan disambut tawa renyah Sora.


Setidaknya Sora terlihat lebih baik.


"Kalau itu Sora tidak bisa menjanjikan."


Kepala Sora menoleh saat mendengar suara pintu terbuka, Yoongi sudah berdiri dibelakang pintu sembari membuka sepatunya.


"Sora sayang Appa. Sampai jumpa." Sora memutuskan sambungan telepon dengan ayahnya, dia segera berlari menuju Yoongi.


Sora tersenyum saat melihat Yoongi, seperti biasa pria itu hanya membalas seadanya dengan wajah datar. Sora segera memeluk sosok yang sudah seminggu ini tidak dia lihat, rasa rindu yang harus segera dilampiaskan.


"Aku merindukanmu." Ucap Sora dibalik dada Yoongi.


"Kalau begitu buka bajumu."


"Hah!?"


🍁🍁🍁


Itu kalimat pembuka obrolan keduanya setelah menyelesaikan beberapa babak pelepas rindu, jika Sora tidak mengatakan rasa sakit saat melakukannya mungkin mereka masih melanjutkan dua babak lagi. Sofa yang mereka tiduri saat ini menjadi saksi bisu keduanya, bagaimana cara Yoongi melampiaskan hasratnya dengan berbagai cara dan suara seksi Sora saat menerima terdengar diseluruh ruangan itu.


Keduanya masih telanjang, kemeja Yoongi menjadi penutup daerah sensitif mereka, dada Sora sudah bersembunyi karena posisi tidurnya sedikit miring. Sora masih merasakan ngilu disekitar pangkal paha, Yoongi melakukannya dengan keras, tapi Sora menyukainya.


"Kita bisa pulang setelah kita liburan."


"Maksudnya?"


"Kami libur satu bulan sebelum tour." Balas Yoongi mendapat respon dari Sora. Perempuan itu sedikit memukul dada Yoongi karena tidak percaya.


"Itu sakit." Ucap Yoongi dibalas cengiran oleh Sora. "Aku juga sudah mendapat izin agar kau bisa mengikuti seluruh jadwalku."


"Itu benar-benar keren! Aku mencintaimu Yoongi-ya." Sora mengeratkan pelukannya tapi sedetik kemudian pelukan itu melonggar. "Tapi, kalau kita pulang Appa ingin kita memberi kabar baik."


Yoongi tidak langsung merespon ucapan Sora, dia memejamkan matanya sejenak, dikepalanya hanya ada Sora. Jika perempuan memikirkan tentang anak, akan semakin sulit mereka mendapatkannya, karena pikiran bisa menjadi penyebab sulitnya mendapatkan anak.


Yoongi mengusap pelan lengan Sora.


"Jangan dipikirkan." Yoongi mencium kening Sora. "Kemarin aku menghubungi ke Daegu, aku sudah mengatakan kondisimu dan mereka mengerti juga meminta maaf padamu."


"Aku jadi semakin tidak enak dengan orang tuamu."


"Tidak apa, mereka mengerti." Balas Yoongi.


"Oh iya." Yoongi meraih kemeja yang menutupi sedikit bagian tubuh mereka, merogoh kantong baju dan mengambil sebuah gelang.


Setelah merapikan kembali letak kemeja agar menutupi lagi, Yoongi mengambil tangan kanan Sora dan memasangkan gelang disana. Gelang berwarna silver berbentuk rantai dengan mainan berbentuk rusa menghiasi pergelangan tangan Sora, gelang tersebut tidak besar lebih cenderung kecil tapi cantik ketika melingkar ditangan Sora.


Sora hanya bisa termangu melihat aksi Yoongi, dia tidak bisa berkata-kata lagi. Yoongi bisa berubah menjadi manis untuk menunjukkan rasa sayangnya, hadiah kecil yang membawa perubahan besar bagi mood Sora yang sempat murung beberapa saat yang lalu.


"Terima kasih. Ini cantik."


"Syukurlah jika kau menyukainya."