Our Fate

Our Fate
Striving 4



"Aku tidak akan pulang sebelum Appa merestui kita." Ucap Sora kesekian kalinya saat Yoongi berusaha membujuknya agar segera kembali kerumah.


"Tapi bukan dengan cara pergi dari rumah seperti ini, itu sama saja kau lari dari masalah." Balas Yoongi yang tidak menyerah dengan Sora yang sangat keras kepala saat ini.


"Tapi Appa sudah mengusirku."


"Dia tidak mengusirmu, kau yang langsung pergi dari rumah."


"Tapi Appa sudah kasar padaku, aku jadi malas pulang kerumah."


"Apa?" Tanya Yoongi yang merasa heran kenapa ceritanya tiba-tiba saja berubah.


Sora terdiam saat Yoongi bertanya, dia tidak bisa menjaga mulutnya agar tidak menceritakan bagian sebelum dia pergi dari rumah Kang Dae yang mendaratkan telapak tangannya diwajah Sora.


"Coba ceritakan secara rinci apa yang sebenarnya terjadi sampai kau pergi dari rumah. Dan jangan coba-coba berbohong." Yoongi bertanya dengan nada mengancam, saat ini dia tidak sedang main-main.


"Appa menamparku, itu yang membuatku kabur." Sora menjawab pertanyaan Sora dengan suara yang sangat pelan.


Terdengar helaan nafas kasar dari seorang Yoongi, dia terlihat pasrah dengan gadis yang merepotkan tapi dicintai dengan sangat. Ingin segera menyusul Sora ke Indonesia tapi tidak bisa karena jadwal yang cukup padat.


"Sora, dengarkan aku." Suara Yoongi terdengar seperti seorang yang sedang menahan marahnya. "Sekarang, lebih baik kau pulang kerumah, minta maaf pada ayahmu. Aku tidak mau hanya karena aku kau melawan pada ayahmu, aku tidak suka itu. Kita masih punya waktu untuk membicarakan ini baik-baik."


"Aku..."


"Aku mengerti perasaanmu, tapi pergi dari rumah bukanlah solusi terbaik."


"Aku tidak bisa."


Yoongi menahan emosinya agar tidak terbawa keras kepala dari Sora, sejak kapan Sora bertindak kekanakan seperti ini.


"Aku tidak akan menanggung biaya menginapmu lagi jika kau tidak pulang hari ini." Akhirnya Yoongi tidak tahan untuk mengancam Sora.


Sudah tiga hari Sora berada di Hotel yang menjadi tempatnya beristirahat, selama itu juga Yoongi membujuknya agar pulang kerumah. Saat Sora mengatakan dia kabur dari rumah dan membutuhkan pertolongan Yoongi, dengan senang hati pria itu membantunya. Sora bersyukur Yoongi bisa menolongnya pada malam itu, jika tidak, dia akan jadi gelandangan karena tidak membawa apapun saat keluar dari rumah.


Sora juga sedikit kesal karena Yoongi mengancam tidak akan menolong lagi, tapi dia harus tahu diri karena menggunakan uang Yoongi untuk membayar kamar Hotel yang ditempatinya.


"Baiklah, aku akan pulang malam ini." Balas Sora dengan nada lesu.


"Itu baru gadisku."


🍁🍁🍁


Kang Dae sedang menatap makanannya tanpa mencoba menyentuhnya sedikitpun, Kang Rani yang sejak tadi memperhatikan suaminya melempar pandangan pada Han. Sejak Sora pergi dari rumah Kang Dae seperti hilang semangat, sedangkan Han terpaksa mengundurkan kembali ke Korea karena kakaknya tiba-tiba saja kabur dari rumah.


Kang Rani menyentuh lengan Kang Dae dan mendapat perhatian dari pria yang terlihat masih muda walaupun umurnya sudah lanjut, Kang Dae segera melahap makanannya karena tidak mau yang lain tahu apa yang sedang dipikirkannya.


"Jika Appa memang sayang dengan Nuna, pasti akan memberinya restu untuk menikah." Ucap Han menjadi obrolan pembuka dari makan malam yang terasa mencekik itu.


"Kau tidak tahu apa-apa, habiskan makananmu." Balas Kang Dae dingin.


"Jika Appa tahu segalanya pasti Nuna tidak akan kabur seperti ini. Jika memang sangat mengerti dia, pasti akan tahu seberapa tersiksanya dia dengan tuntutan Appa."


"Bicara apa kau?"


"Appa, tolong dengarkan Han kali ini saja." Han meletakkan sumpit disamping mangkuk makannya dan memandang ayahnya serius.


"Selama ini Nuna selalu berusaha membuat Appa bangga akan dirinya, Nuna seorang yang istimewa, disaat dia harus menikmati masa mudanya dia harus menahan tekanan dari Appa agar dia bisa dibanggakan dihadapan keluarga Appa."


"Pernahkah Appa berpikir seberapa keras usahanya sampai dia mengalami depresi?"


"Apa maksudmu?" Tanya Kang Dae.


"Nuna menderita psikosomatik sejak dia SMA." Pengakuan jujur Han yang terpaksa harus dibongkar agar ayahnya bisa mengerti perasaan Sora.


Kang Dae maupun Kang Rani sangat terkejut dengan kenyataan yang didengar dari anak lelakinya, Kang Rani menutup mulut dengan tangan dan matanya mulai mengeluarkan air mata.


"Han sudah tahu apa yang terjadi bagaimana Appa bisa pergi dari Korea dan menetap di Indonesia, dan itu sebabnya kenapa Appa memaksa Nuna untuk terus belajar agar semua prestasinya bisa menjadi senjata untuk menyombongkan diri pada keluarga Appa. Lalu berharap mereka akan menyesal karena sudah membuang Sora yang memiliki segudang prestasi? Lalu bagaimana jika Nuna tidak mampu?"


"Bersyukurlah Nuna sudah istimewa sejak lahir, dan dia juga bukan seorang yang bodoh untuk mengerti situasi yang terjadi. Tidakkah Appa berusaha menyembuhkan traumanya? Atau mencari tahu apa kesulitan dia saat belajar dan terus belajar? Tekanan dari Appa yang menghadirkan depresi itu."


Wajah Han sudah mulai memerah karena menahan emosi yang tengah perlahan diluapkan kepada ayahnya, sedangkan ibunya sudah menangis setelah mendengar pengakuan Han.


"Nuna sangat menyayangi Appa, sedikitpun dia tidak pernah mengeluh akan tuntutan Appa. Dia selalu menghadapi kesulitannya sendiri, dan satu hal yang harus Appa tahu, dia bukan anak yang pembangkang."


"Hanya karena dia jatuh cinta dia disebut pembangkang? Dia juga berhak bahagia. Dia sedang berjuang mendapatkan kebahagiaannya. Ketahuilah Appa, dia selalu menahan dirinya agar tidak mengecewakanmu. Dia Nuna yang paling hebat yang pernah kupunya."


Han mengusap wajahnya saat akan merasa air matanya tidak bisa dibendung lagi, Han merasa lega karena bisa menyampaikan apa yang selama ini diderita kakaknya pada kedua orang tuanya. Han menjatuhkan kepalanya dimeja makan, kemudian menangis sejadi-jadinya. Suara tangisnya menggema dirumah itu, sang ibu hanya bisa mengusap kepala anak lelakinya itu.


Kang Dae tidak bisa berkata apa-apa lagi, semua terasa menyakitkan hatinya, Sora yang selalu terlihat bahagia itu memendam rasa sakit yang cukup dalam karena ingin menjadi anak yang berbakti. Kang Dae mengingat kembali saat Sora masih sekolah dan tidak berkata apapun saat dia jadi korban bully disekolahnya, Kang Dae masih ingat saat dia bertanya kenapa Sora tidak melaporkan hal ini pada mereka. Sora hanya berkata jika dia baik-baik saja, Kang Dae tidak menyangka itu merusak mentalnya.


Kang Dae bertanya dalam hati apa dia sudah menjadi orang tua yang baik untuk anak-anaknya.


"Dia masih bergantung pada obat itu, dan dia tidak membawanya, Han takut terjadi sesuatu padanya."


Kali ini Kang Rani tidak sanggup lagi menahan suaranya untuk tidak menangis sejadinya, Kang Dae hanya pasrah saat menyandarkan punggungnya dikursi yang dia duduki. Han bangkit dan keluar dari rumah dia berniat mencari kakaknya kembali, dia hampir lelah mencari kakak kesayangan itu.


🍁🍁🍁


Kang Dae sedang termenung diruang kerjanya sambil menatap foto keluarga yang terpajang didinding, foto keluarga yang berulang merubah posisi agar terlihat bagus. Jika keluarga yang lain mempunyai foto keluarga dengan pakaian rapi, duduk berbaris dengan senyum menawan agar terlihat bagus, tidak dengan keluarga Kang.


Tiba-tiba Kang Dae merasakan pundaknya disentuh seseorang, dia berharap setengah mati itu Sora, gadis kecil yang selalu memeluknya secara diam-diam yang menjadi favorit Kang Dae.


"Bisakah kita bicara?" Tanya Kang Rani memecah keheningan ruangan itu.


"Apa kau ingin membelanya juga?"


"Dia anakku, pasti aku membelanya. Ibu mana yang tega melihat anaknya tersiksa seperti itu." Kang Rani memutar kursi Kang Dae agar menghadap kearahnya, kemudian wanita itu berlutut sembari menggenggam erat kedua tangan suaminya.


"Tolong maafkan Sora, dia juga punya kehidupan yang harus dia pilih. Dia hanya ingin bahagia. Sudah cukup kita membuatnya menderita." Kang Rani menangis karena dia juga bukan orang tua yang baik, dia tidak pernah mencari tahu apa kesulitan yang dialami Sora.


Kang Dae tidak dapat berkata-kata, sebelum Kang Rani memintanya untuk memaafkan Sora dia sudah terlebih dahulu memaafkan, tidak dapat dipungkiri dia merasa sangat jahat pada Sora. Hanya karena dendam pribadi dia mengorbankan anak kesayangan itu, Kang Dae tidak ingin Sora direndahkan lagi tapi dia sudah menggunakan cara yang salah.


Kang Dae menghapus air mata istrinya kemudian membawanya kedalam pelukan, dia ingin Sora kembali secepatnya dan berdoa agar anaknya baik-baik saja.


Kedua suami istri itu mengalihkan pandangannya kearah pintu saat mendengar suara ketukan, mereka terkejut saat melihat Sora diambang pintu dibelakangnya sudah ada Han.


Kang Rani segera bangkit dan berlari menuju Sora, memeluk Sora dengan penuh kerinduan. Sora sering tidak pulang kerumah bahkan pernah sampai berbulan-bulan karena meneliti sebuah suku atau desa, tapi tidak pernah serindu ini. Mungkin karena Kang Rani khawatir dengan kondisi Sora.


"Eomma,.." bisik Sora yang masih memeluk erat.


"Maafkan Eomma untuk semuanya, terutama yang tidak mengerti dirimu. Eomma minta maaf. Eomma sangat menyayangimu."


"Kena--"


"Sudah, bicaralah pada Appa-mu. Eomma tunggu diluar." Kang Rani segera melepas pelukannya dan membawa Han agar keluar dari ruangan itu, Han sedikit bingung tapi ibunya segera memberi isyarat agar menurut terlebih dahulu.


Sora hanya terpaku saat ibunya menutup sempurna pintu yang terbuat dari kayu jati itu, dia menghela nafas panjang dan matanya beralih kearah ayahnya yang sudah memunggunginya kali ini.


Ini akan menjadi malam yang sesak.


"Appa..."


Tidak ada sahutan dari Kang Dae tapi Sora akan tetap berusaha mengalah demi ayahnya.


"Sora minta maaf karena sudah menjadi anak yang tidak menurut dengan perkataan Appa, Sora menyesal sudah menyakiti hati Appa, tolong maafkan Sora."


Hening.


Sora berjalan mendekati ayahnya yang berdiri menatap bingkai foto mereka yang menatap kamera dengan senyum indah, dia berlutut agar ayahnya bisa memaafkan dia.


"Appa pasti sangat kecewa dengan Sora, tapi Sora sangat mencintainya. Sora hanya ingin dia. Maaf Appa. Maaf." Sora menunduk menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis karena takut ayahnya tidak akan memaafkan.


"Maaf Appa." Suara tangis Sora semakin membesar seiring dengan rasa sakitnya.


"Apa kau mencintainya?" Suaranya sangat dingin seperti es dikutub.


Sora hanya mengangguk.


"Apa itu berarti kau berhenti mencintai Appa?"


Sora terkejut dengan pertanyaan Kang Dae, dia langsung bangkit dan menyentuh kemudian meremas sedikit baju Kang Dae.


"Tidak Appa. Appa tetap menjadi yang pertama untuk Sora, jangan berkata seperti itu."


"Lalu kenapa kau pergi dari rumah?"


Sora memeluk ayahnya dari belakang dan menyembunyikan wajahnya dan menangis disana, dia tidak dapat menahan rasa sesak didadanya.


"Maaf Appa. Maaf. Sora minta maaf. Sora salah."


Sora merasakan tangannya dingin, dia terdiam saat merasakan tetesan dilengannya, dia melepas pelukan dan bergerak berdiri didepan ayahnya.


Sora terkejut melihat ayahnya menangis, gadis itu segera memeluk kembali dengan rasa sayang.


"Maaf Appa."


"Tidak, kau tidak perlu meminta maaf. Appa yang jahat padamu, Appa bukan orang baik, Appa yang harusnya minta maaf."


Sora menggeleng kuat saat mendengar kata maaf dari ayahnya.


"Tolong jangan berhenti mencintai Appa. Appa menyayangimu."


Suara tangisan keduanya mendominasi ruangan itu, rasa sakit yang ditahan Sora selama ini seakan menguap begitu saja.


Tidak ada hari yang lebih melegakan dari pada ini.


Kang Dae menangkup kedua pipi Sora, menghapus air matanya dan juga dibalas dengan hal yang sama dari Sora. Mereka merasakan sakit yang sama.


"Dia harus menemui Appa terlebih dahulu, Appa ingin menghajarnya karena sudah berani membuat anak gadisku jatuh cinta."


Sora tertawa menanggapi ucapan ayahnya, dia kembali memeluk pria yang sangat dicintainya itu.


Sampai kapanpun Kang Dae akan menjadi cinta pertama Sora.


Maaf kalo gaje, semoga kedepannya bisa lebih baik.Please Vote & Comment ya guys... itu sangat aku harapkan.


Purple U 💜💜💜💜