
Yoongi berjalan terburu saat memasuki kawasan flat sederhana disalah satu pinggiran kota Seoul, sebelumnya Bang Si Hyuk menghubungi agar segera datang ke alamat yang diberitahukan sebelumnya. Dia berangkat bersama Sejin, dalam hati dia segera ingin sampai ketempat yang dimaksud.
Langkahnya terhenti saat melihat keramaian disalah satu sudut flat yang diyakini disanalah tempat yang dicurigai Yoongi tinggal, dia bertemu dengan Bang Si Hyuk yang baru saja keluar dari flat itu.
Sebelum masuk, Bang Si Hyuk menepuk pundak Yoongi.
"Kau tidak akan percaya apa yang akan kau lihat didalam sana." Ucap pria bertubuh gemuk itu dengan raut wajah menyesal.
Yoongi masuk kedalam flat tersebut, sedikit gelap dan tampak biasa saja. Polisi mengarahkan Yoongi agar melihat kamar si pelaku, dengan catatan tidak menyentuh apapun yang ada diruangan itu.
Yoongi tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat itu, saat dia memasuki kamar itu dia melihat banyak foto dirinya menempel didinding, beberapa foto seperti ada gambar bibir yang sengaja dicium dengan lipstick tebal. Belum selesai dengan keterkejutan saat pertama kali masuk, Yoongi melihat kearah meja rias yang saat ini tampak lebih horor dibandingkan hantu. Disitu banyak foto Yoongi tanpa memakai atasan yang diambil secara diam-diam, bahkan ada sekitar tiga foto yang ditempel dibagian cermin hanya menggunakan celana dalam, dan ada cap bibir dibagian sensitifnya.
Kepala Yoongi berdenyut saat itu juga, apa maksud semua ini. Yoongi meminta kepada polisi agar diberikan sarung tangan, antisipasi agar sidik jarinya tidak menempel diseluruh ruangan. Setelah mendapat apa yang dia inginkan dia membuka lemari pakaian, jantungnya berdegup kencang. Beberapa pakaian tidur Yoongi ada disana, Yoongi mengacak apalagi yang ada disana, dan menemukan celana dalam miliknya. Rasanya dia ingin mati saat itu juga, seperti ini rasanya memiliki seseorang yang begitu terobsesi pada dirinya.
Mata Yoongi terhenti saat melihat benda mengkilat dibagian bawah, dia meraih benda tersebut dan menemukan sebuah laptop, tanpa ragu dia mengambil benda tersebut. Sejenak dia berhenti seperti memikirkan sesuatu, jika ada hal aneh dia takut akan merusak reputasinya, sebaiknya dia memanggil Sejin agar menyimpan benda ini sementara ditas manager.
Dia berhasil menyembunyikan laptop tersebut tanpa diketahui polisi, dan Yoongi juga sempat mengumpat karena polisi tidak teliti memeriksa semua yang ada dikamar itu. Yoongi menoleh saat seorang polisi berkata menemukan obat yang diduga adalah vitamin yang ditukar dengan obat aborsi. Yoongi mendatangi polisi tersebut dan melihat sendiri apa yang ditemukan, Yoongi sangat yakin itu vitamin yang seharusnya diminum Sora, karena bentuknya mirip seperti vitamin yang sering dikonsumsi Sora.
Dada Yoongi berdenyut hebat, begitupun kepalanya ingin rasanya dia segera kabur dari situ dan melenyapkan semua yang ada dikamar tersebut. Dia menyesal karena terlalu percaya dengan asisten pribadinya, salah satu perempuan yang mengerti dirinya, dan juga perempuan yang selalu menjadi teman tidur Yoongi disaat dia merasa banyak masalah.
Sora sudah memperingati Yoongi sebelumnya, itu sebabnya dia menunjuk Hyeri sebagai dalang semua ini. Yoongi menyesal karena dia membiarkan Hyeri yang menebus obat resep dokter itu di apotek, seharusnya Sejin yang mengambil. Ternyata saat itulah dia menukar isinya dengan obat aborsi, hingga dia kehilangan anak yang dikandung Sora.
Yoongi menyesal setengah mati, apa yang harus dia katakan pada Sora mengenai ini, Yoongi hilang nyali saat itu juga. Karena tidak tahan lagi Yoongi mengambil paksa laptop yang ada ditas Sejin dan membukanya, mencari tahu apa saja yang ada dilaptop tersebut.
Yoongi bersyukur karena laptop itu tidak memiliki password dengan lincah tangannya mencari apa saja yang ada didalamnya, apa yang Yoongi takutkan benar adanya. Banyak foto telanjang dirinya saat tengah tertidur, Yoongi yakin ini diambil saat mereka menginap disebuah Hotel mewah, saat Yoongi terpuruk dan Hyeri mengundangnya ke Hotel untuk mabuk dan melakukan ****.
Tidak hanya sampai disitu, ada dua video berdurasi 15 dan 25 detik yang menampilkan keduanya sedang menikmati aktivitas ****. Yoongi lemas, ingin hilang saat itu juga. Menyesal karena sudah mengenal Hyeri, perempuan yang sangat baik dimatanya, perempuan yang dia bela saat Sora mengatakan dia bukan orang baik, perempuan yang melenyapkan nyawa anaknya.
Sekarang Yoongi paham maksud Hyeri saat mengatakan pacarnya selingkuh, Hyeri menganggap lebih hubungan mereka, Hyeri menganggap Yoongi adalah pacarnya. Ini saat yang paling gelap selama perjalanan karirnya, Hyeri lebih mirip seorang psikopat dibanding seorang sasaeng.
Yoongi tidak sanggup lagi melihat semua bukti kuat yang ada, cukup sudah, dia tak tahan lagi. Dia meminta pada polisi agar tidak mengambil laptop Hyeri, banyak hal memalukan yang ada disana, awalnya sempat berdebat karena itu adalah bukti kuat setelah obat yang ditemukan. Yoongi juga bersikeras agar mendapatkan laptop tersebut, dia akhirnya menang dan tujuan selanjutnya dia harus membakar laptop sial itu.
Setelah ini apa yang akan dia katakan pada Sora, dia ingin memberitahu secara langsung tapi hatinya tidak berani sama sekali. Yoongi memang pengecut.
Sebelum memberitahu Sora, sebaiknya diselesaikan urusan yang ada disini. Polisi segera menuju gedung agensi, menangkap Hyeri yang lagi-lagi berada di studio Yoongi. Semua yang ada di agensi bingung, saat Hyeri ditangkap. Wajah penyesalan tidak ada tersirat sama sekali, dia benar-benar santai. Saat itulah dia bertemu dengan Yoongi, menatap senang pria berkulit putih itu.
"Kau sudah melihat semuanya? Menyesal apa yang telah kau perbuat?" Hyeri tersenyum, senyum mengerikan yang pernah Yoongi lihat. "Kau tahu, perempuan itu masih beruntung kehilangan anak karena dia mengambil pil aborsi, bagaimana jika yang diambilnya racun yang kubuat dengan bentuk yang sama?" Kali ini Hyeri tertawa.
"Aku pastikan kau kembali padaku saat itu. Kita bercinta sampai pagi."
Hyeri memang brengsek, Yoongi tidak bisa membalas apapun yang keluar dari mulut Hyeri, sampai polisi menyeretnya pun Yoongi tetap membeku ditempat dia ingin sekali bersandar.
Dalam hati Yoongi meminta maaf pada Sora.
Bang Si Hyuk bertindak selanjutnya, semua tempat tinggal karyawan yang bekerja untuk BTS diperiksa satu persatu dengan izin sebelumnya, memastikan tidak ada lagi sasaeng yang kerkedok sebagai karyawan.
Semua terasa cepat berlalu hingga akhirnya Yoongi mengatakan pelaku dari kasus ini kepada Sora, Yoongi sudah menyiapkan mentalnya jika Sora meledak kapan saja, pikiran itu terbuang jauh-jauh saat melihat Sora yang hanya diam dengan tatapan kecewa. Itu jauh lebih menyakitkan dari pada dia marah secara langsung, Yoongi semakin putus asa.
Ini semakin terasa sulit.
🍁🍁🍁
Sehari setelah Yoongi mengatakan hal itu, Sora sudah kembali mengajaknya bicara tapi yang berbeda sekarang adalah Sora semakin pendiam, wajah yang selalu terlihat bahagia sudah seminggu ini sulit untuk ditemukan. Yoongi bersyukur karena Kyu Ri mau menjaga Sora sampai dia benar-benar pulih, setidaknya Sora mempunyai teman selama dia tidak dirumah.
Yoongi juga masih memantau perkembangan Sora melalui Kyu Ri, semua terasa semakin mencekam baginya, Yoongi merasa dia dan Sora seperti ada tembok besar yang menghalangi keduanya. Mereka memang dekat, Yoongi sadar hati mereka menjauh. Yoongi tidak terlalu pandai memperbaiki sebuah hubungan, bukan berarti dia tidak mencoba, itu semua seperti sia-sia karena Sora berhenti mengkonsumsi obat depresan miliknya.
Jika Yoongi memaklumi saat Sora hamil, tidak dengan kali ini, karena depresi itulah yang membuat Sora seperti menghindar darinya. Pernah suatu hari Yoongi bertanya dengan Sora apa yang dia rasakan saat mengetahui Hyeri dalang dibalik semua itu, dengan raut wajah yang tidak bisa Yoongi baca Sora menjawab dengan nada pelan.
"Aku sudah pernah memperingatimu tentang dia, tapi kau mengabaikannya. Setelah kejadian seperti ini apa sekarang kau jauh lebih berhati-hati?"
Bagi Yoongi itu adalah hal yang sepele, lain dengan Sora, baginya itu adalah suatu hal yang besar. Bukan dia tidak suka Sora membesarkan suatu masalah, justru karena hal sepele seperti itulah yang membuat Yoongi menyesal setengah mati karena mengabaikan ucapan Sora waktu itu.
Yoongi sadar dia salah. Malam ini juga dia harus menyelesaikannya.
Pria itu berjalan gontai saat ingin memasuki apartemen miliknya, saat dia baru saja membuka pintu, Kyu Ri sedang memakai sepatu, jika dilihat sepertinya dia akan pulang.
"Syukurlah kau sudah pulang." Ucap Kyu Ri sebagai kata sambutan pertama kali saat terakhir kali melihat Yoongi empat hari yang lalu.
"Dia memaksaku pulang." Lanjut Kyu Ri to the point.
"Tidak apa. Apa dia baik-baik saja?" Tanya Yoongi.
"Sejak sore dia hanya terduduk disitu, seperti biasa melamun." Kyu Ri menarik nafas membuangnya lelah. "Selama kau pergi dia semakin sulit diajak bicara, aku harap kau bisa membuatnya jauh lebih baik."
"Apa dia sudah makan?"
"Sudah. Dia juga memasak untukmu. Sebaiknya aku pulang dulu." Kyu Ri menepuk pundak Yoongi.
Sebelum menutup pintu kembali Kyu Ri kembali melihat kearah Yoongi, seolah ada yang ingin disampaikan.
"Aku merindukan Sora."
Yoongi paham maksud Kyu Ri, sama halnya dengan dia yang juga merindukan Sora. Istri yang selalu heboh setiap saat, kini berubah menjadi seorang yang pendiam.
Yoongi memilih masuk dan mencari keberadaan Sora, dia menemukan Sora yang berbaring di sofa tanpa sandaran menghadap ke jendela yang tirainya terbuka lebar, pemandangan sungai Han dimalam hari menjadi pendukung suasana kali itu yang cocok untuk bersedih.
Yoongi mendekat ketubuh yang berbaring membelakanginya, Yoongi menebak jika Sora sudah tertidur, selimut tipis hanya menutupi kaki saja. Dengan hati mantap Yoongi menyentuh pundak Sora dengan hati-hati, berharap Sora kembali padanya.
"Sora." Panggil Yoongi pelan.
Sora sedikit terkejut, tiba-tiba dia merasa panas, keringat sudah membasahi dahinya. Suara Yoongi yang memanggil namanya memenuhi seluruh kepala. Sora berbalik dan melihat Yoongi yang sudah berjongkok dilantai, wajahnya terlihat lelah.
"Oppa, sudah pulang?"
"Kenapa tidur disini?"
"Eum, tidak... apa kau sudah makan? Aku akan siapkan makanan untu--"
"Ada apa?" Tanya Yoongi sembari menahan lengan Sora saat ingin menghindarinya.
"Kenapa kau menghindar?"
Sora hanya diam, bola matanya bergerak tidak fokus. Yoongi mengarahkan Sora agar kembali duduk agar Yoongi bisa leluasa memandang wajah yang sudah dirindukan sejak lama, Sora menatap sedih Yoongi yang masih setia dengan posisinya.
Sora memperhatikan Yoongi seperti seorang yang sedang menyusun kalimat agar tidak menyakiti perasaan lawan bicaranya, melihat Yoongi yang seperti itu dia jadi ikut merasa bersalah karena sudah menghindari Yoongi.
"Aku tahu kau marah padaku juga kecewa. Aku juga sadar aku penyebab semua ini, aku merasa bersalah padamu, dan aku menyesal. Tapi menghindariku bukankah seperti anak-anak? Aku pikir kau sudah dewasa." Kalimat panjang yang keluar dari mulut Yoongi menohok langsung.
"Aku sangat paham rasa sedihmu karena kehilangan seorang anak, tapi apa kau pernah berpikir dia itu juga anakku? Aku juga kehilangan."
"Saat aku mendengar kabar itu hatiku seperti berlubang, kosong tanpa massa. Aku ingin marah kenapa harus kau yang mengalaminya, aku kesal kenapa aku tidak ada bersamamu saat itu, aku kecewa kenapa kau tidak bisa menjaganya dengan baik, aku sedih karena kehilangan anakku disaat aku menantikan untuk bertemu dengannya."
Sora terkejut dengan pengakuan Yoongi, ternyata benar Yoongi kecewa dengan dirinya. Air mata Sora mengalir begitu saja, rasa bersalah segera menghampiri dirinya.
"Aku menekan semua perasaan itu, dikepalaku hanya terfokus padamu. Kau jauh lebih menantikan dari pada aku, kau yang merawatnya dengan sepenuh hati dan kau yang berjuang untuk dia. Sampai akhir."
Yoongi menangkup kedua pipi Sora.
"Aku mencintaimu, aku pun juga mencintai anak kita. Tapi tolong jangan seperti ini, jangan siksa dirimu jika kau ingin menghukumku." Yoongi menghapus air mata yang mengalir dikedua pipi Sora dengan ibu jarinya.
Ternyata seperti ini pernyataan cinta dari seorang Yoongi, mendengar kalimat yang tidak pernah Sora harap keluar dari mulutnya. Sora tahu jika Yoongi mencintainya sekalipun dia tidak pernah mengungkapkan secara langsung, dia paham Yoongi yang tidak bisa mengutarakan perasaannya dan Sora tidak pernah memaksa. Jika kejadiannya seperti ini, Sora merasa sangat egois karena terlalu mementingkan perasaannya sendiri.
"Maafkan aku Sora."
Yoongi menarik kepala Sora menyatukan dahi miliknya dengan milik Sora, merasa masih belum cukup hanya dengan kata maaf. Sora memegang tangan Yoongi yang masih berada dikedua pipinya, Sora terisak hebat menyesali sifat kekanak-kanakannya.
"Tidak. Jangan meminta maaf. Aku yang salah, aku... aku sangat menyesal dengan sikapku. Maafkan aku Yoongi-ya." Sora mencium seluruh bagian wajah Yoongi, mulai dari dahi, mata, hidung, pipi hingga bibir.
"Tidak perlu meminta maaf, aku mengerti perasaanmu. Tapi, tolong jangan seperti ini lagi, Sora yang aku kenal bukan seperti ini. Sora yang aku kenal sangat ceria dan bersemangat." Sora mengangguk sehingga air matanya jatuh dengan cepat.
"Dan satu hal lagi." Yoongi tersenyum kecil melihat Sora yang juga ikut tersenyum.
"Kita lawan rasa sakit ini bersama." Ucap mereka bersamaan dan tertawa sesaat setelah mengatakannya.
"Aku mencintaimu Oppa."
"Aku juga mencintaimu."
Yoongi merapikan rambut Sora yang berantakan, dan terakhir dia mengusap pipi Sora.
"Aku akan siapkan air hangat untukmu, mandilah." Ucap Yoongi yang dibalas anggukkan semangat dari Sora.
🍁🍁🍁
Sora merasakan air hangat mengalir dipuncak kepalanya, rintik air itu terasa seperti pijatan kecil yang menyegarkan kepala, pikiran pun menjadi sedikit lebih tenang. Setelah dia dan Yoongi menyelesaikan masalah mereka, ada perasaan lega luar biasa, Sora bersyukur akan itu.
Sora kembali mengingat sifat kekanakannya yang tidak disukai Yoongi, tetapi pria itu dengan tenang menyelesaikannya, satu hal lagi yang harus Sora syukuri, setidaknya Yoongi tidak melepaskannya. Dia berusaha melupakan kejadian yang dia alami baru saja, Sora memgusap wajahnya yang mengalir banyak air, setelahnya dia kaget saat tangan pucat milik Yoongi-- yang awalnya dia mengira itu hantu, memeluk perut tanpa busana milik Sora.
Yoongi memeluknya erat, bibirnya sudah menempel dileher Sora, tangannya sudah mengusap pelan perut Sora.
"Aku merindukanmu." Bisiknya yang tenggelam bersama suara air yang mengalir.
Sora bukan seorang yang bodoh untuk mengerti suasana yang tercipta saat ini, dia tahu Yoongi menginginkan tubuhnya, setelah diingat kembali mereka memang sudah lama tidak melakukannya. Terakhir kali malam sebelum Sora ke Indonesia dan mengalami keguguran, jika diingat lagi sudah tiga minggu mereka melewati tanpa adanya bercinta. Ini adalah hal yang wajar.
"Aku juga."
Sesaat setelah Sora mengatakan itu, tangan kanan Yoongi segera meremas dada Sora sedangkan tangan kiri Yoongi bermain diarea sensitif Sora. Tanda yang selalu dibuat Yoongi setiap mereka bercinta, sudah mulai memenuhi pundak dan leher Sora.
Desahan pertama keluar dari mulut Sora, Yoongi selalu pandai membuat Sora melayang bebas, hingga Sora mendapatkan pelepasan yang pertama. Yoongi mendorong punggung Sora agar dia bisa leluasa memasuki Sora, belum puas, Yoongi kembali mendorong sedikit dalam sampai Sora benar-benar membungkuk. Sora sampai harus berpegangan pada kran air yang ada disitu.
Yoongi bergerak pelan sangat lembut, tidak seperti biasanya, tapi itu tidak melunturkan kenikmatan yang dibuatnya. Sora lagi-lagi mendapat pelepasannya, ini yang kedua untuk aktivitas yang belum genap dalam lima belas menit. Kaki Sora sedikit bergetar karena harus menopang tubuhnya yang sedang membungkuk, ditambah Yoongi yang bergerak dibelakangnya.
Yoongi sadar Sora mulai lelah, dan saat itu juga Yoongi belum mendapatkan klimaks dari permainan itu, tidak masalah. Karena Yoongi ingin semalaman bermain dengan Sora, dia benar-benar merindukan istri kesayangannya.
Yoongi menarik bahu Sora agar kembali berdiri, memutar tubuhnya, tanpa aba-aba pria itu mengangkat tubuh Sora menyandarkannya didinding, saat itulah dia kembali masuk. Sora menyandarkan kepalanya dibahu kanan Yoongi, kedua kakinya sudah melingkar dipinggang.
Yoongi mencium leher Sora kemudian meraup bibir merah itu, sembari bergerak pelan Yoongi mengeratkan genggaman tangannya dikedua paha Sora. Yoongi menjeda ciuman, menatap Sora penuh damba.
"Apa aku menyakitimu?" Tanya Yoongi yang mendapat gelengan dari Sora.
"Kau menikmatinya?" Kali ini Sora mengangkuk.
"Lalu, dimana teriakan untuk namaku?"
Setelah mendapat pertanyaan itu, bola mata Sora tidak fokus seperti seolah mencari jawaban yang tepat, ciri khas seorang Sora.
"Aku... aku hanya..."
"Katakan."
"Bukan aku tidak suka dengan permainan ini, tapi ini bukan seperti dirimu. Apa kau masih marah?" Sora berhati-hati menyusun kalimatnya.
"Tidak. Aku hanya takut melukaimu, kau belum sembuh total."
"Tidak!" Seru Sora kemudian langsung mengatupkan mulutnya, Yoongi semakin bingung dibuatnya.
"Aku, sudah terbiasa dengan permainan kerasmu." Sora tersipu saat itu juga, Yoongi semakin gemas dibuatnya.
"Kau tidak menyukai yang ini?" Yoongi tersenyum penuh arti.
"Bukan aku tidak suka, aku menyukainya, mungkin karena ini pertama kali aku belum terbiasa." Kali Sora tersenyum, terlihat konyol dimata Yoongi.
Ternyata selama mereka perang dingin dengan perasaan masing-masing bisa membuat keduanya sedikit malu mengungkapkan apa yang apa dipikiran mereka, seperti saat ini contohnya, Sora akan langsung mengatakan jika tidak suka ataupun suka tidak basa-basi seperti tadi. Keduanya selalu terbuka jika ada yang menganjal dihati masing-masing, itu sebabnya Sora tersenyum karena merasa canggung sesaat.
"Baiklah, jika itu yang kau inginkan. Tapi satu hal yang harus kau ingat, aku tidak akan berhenti malam ini. Sekalipun kau memohon."
Setelahnya yang terdengar adalah gerakan keras Yoongi, desahan, hingga teriakan. Mereka melewati malam panjang tanpa ada satu pun dari mereka yang ingin menyudahinya, mereka larut dalam bercinta.