Our Fate

Our Fate
Bad News



Sora mengambil ponselnya yang berbunyi tanda diterimanya satu pesan, dia duduk menyamankan posisinya membuka kunci layar. Dia sudah tahu siapa yang mengiriminya pesan, tentu saja Yoongi. Suami yang semakin menjadi over protective semenjak Sora berada di Indonesia. Dia membuka pesan yang pasti isinya perhatian yang berlebih, sejak awal menikah dengan Yoongi, baru kali ini Sora merasa suaminya itu memberikan perhatian yang secara jelas ditunjukkan, biasanya Yoongi memberi perhatian secara tidak langsung.


Sora membuka pesan dari Yoongi, betapa kagetnya dia melihat pesan yang diawali dengan foto Yoongi yang baru saja selesai mandi, dengan handuk dikepala juga masker imut yang menambah kelucuan dari seorang Yoongi.


D Boy ❤


Kau lupa jika punya suami disini?


Hahaha ada apa denganmu?


Kenapa kau tertawa?


Kau lucu, aku jadi ingin mencubit pipimu. Aku jadi rindu :*


Bagaimana harimu?


Aku baik. Bagaimana denganmu?


Aku juga baik. Vitaminmu sudah diminum?


Aku akan meminumnya sebentar lagi.


Jangan tidur terlalu larut, aku sudah di Korea cepatlah pulang.


Aku mencintaimu :*


Sora kembali meletakkan ponselnya saat melihat sang ayah sudah berada dihadapannya, Sora tersenyum saat ayahnya memberikan segelas jus delima, dan ikut duduk disamping Sora.


Sora memeluk Kang Dae, kepalanya bersandar dibahu ayah, tangan kanan Kang Dae mengusap rambut Sora.


"Appa tidak meyangka kau akan segera menjadi seorang ibu, tingkah manja seperti ini seperti menghilangkan fakta bahwa kau sedang hamil." Ucap Kang Dae.


"Biar bagaimana pun Sora tetap anak Appa."


"Kau benar. Kau terlihat sangat bahagia semenjak menikah dengannya."


"Sora sangat mencintainya." Balas Sora.


"Besar mana dengan rasa cintamu pada Appa?"


"Kenapa Appa bertanya? Appa 'kan sudah tahu jawabannya." Jawab Sora dengan senyum yang tidak lepas sejak tadi.


Kang Dae tersenyum dengan jawaban anaknya, tidak ada yang lebih bahagia daripada disayangi oleh anak sendiri.


"Kau sudah minum vitaminmu? Sejak kau kemari Appa tidak melihatmu meminum itu."


"Ah, itu... Yoongi Oppa memberikan vitamin baru untuk usia empat bulan yang diberikan dokter , jadi Sora harus menjeda vitamin yang lama. Sebelum tidur Sora akan meminumnya." Jelas Sora yang dibalas anggukan paham dari Kang Dae.


"Ya sudah, jika ingin keluar besok minta Han menemanimu, jangan keluar sendirian."


"Siap!!" Seru Sora menuruti perintah ayahnya.


🍁🍁🍁


"Kita akan kemana Nuna?" Tanya Han setelah mobil yang dikendarainya keluar dari pekarangan rumah.


"Bisakah kita makan sesuatu terlebih dahulu? Tiba-tiba aku merasa lapar. Setelah itu kita beli kerupuk udang untuk Yoongi Oppa."


"Baiklah. Tapi apa Nuna baik-baik saja? Wajahmu terlihat pucat." Han merasa kondisi Sora sedang tidak baik.


"Biasa, faktor hamil, terkadang aku juga seperti ini jika kelelahan. Tapi entah kenapa hari ini aku merasa lain dari biasanya. Aku akan baik-baik saja setelah makan nanti." Sora berusaha tersenyum walau sebenarnya dia sedang tidak enak badan.


"Sebaiknya Nuna istirahat saja, aku yang akan beli oleh-oleh."


"Jangan! Aku tidak apa." Sora menahan lengan Han saat akan berbelok untuk putar balik.


Han tidak bisa memaksa Sora, biar bagaimana pun tidak baik berdebat dengan ibu hamil, sekarang dia harus memantau Sora agar tidak terlalu kelelahan.


Mereka sampai ditempat makan, memesan makanan yang diinginkan Sora, tetapi sampai sekarang Sora sama sekali belum menyentuh sedikit pun makanan yang sidah dipesan. Han memperhatikan Sora yang lebih pucat dari awal mereka pergi, keringat mengucur deras diwajahnya, Han panik melihat kondisi Sora seperti itu.


"Nuna? You OK?"


"I don't know. I feel... bisakah kita kerumah sakit sekarang? Perutku sakit sekali, aku takut terjadi apa-apa."


Tanpa basa-basi Han segera menyelesaikan transaksi makanan mereka yang belum dimakan sama sekali, Han merangkul Sora, tangan Sora tidak lepas dari perutnya, tubuhnya terasa panas dingin. Sakit diperutnya terasa seperti rasa sakit saat dia datang bulan, tapi ini rasa sakit yang berkali-kali lipat.


Han berusaha menghubungi orang tuanya tapi Sora menahan agar tidak terlalu terburu, Sora tidak mau kedua orang tuanya panik. Sekarang bukan saat yang tepat untuk berurusan dengan ponsel, kesehatan Sora jauh lebih penting.


Setelah sampai diparkiran rumah sakit Han berlari meminta perawat untuk segera menangani Sora, gerakan tanggap dari perawat segera kemobil untuk membantu Sora.


Sora dituntun menuju kursi roda, saat baru saja turun dari mobil, darah mengalir diantara kaki Sora. Han tidak bisa tidak membesarkan matanya saat melihat darah itu, Sora setengah mati berdoa keselamatan janin yang ada diperutnya.


Sora segera ditangani oleh pihak rumah sakit, Han saat ini hanya bisa menunggu sembari berdoa untuk kakak dan kandungan kakaknya, Han menyesal setengah mati karena terlalu menuruti Sora yang berkata baik-baik saja.


Han masih setia menunggu sampai akhirnya dokter keluar dari ruang IGD, mendekat kearah Han, sedangkan lelaki itu berusaha menahan degup jantungnya.


"Anda suaminya?" Tanya dokter yang mempunyai kulit sedikit gelap.


"Saya adiknya."


"Sedang dalam perjalanan. Bisakah katakan terlebih dahulu apa yang terjadi?" Han terpaksa berbohong karena dokter itu terlalu banyak tanya.


"Apa dia tidak menginginkan kehamilan ini?"


"Apa maksudnya?"


Dokter itu menghela nafas sebelum menjelaskan apa yang terjadi, Han semakin gugup dibuatnya.


"Kami harus segera memindahkannya keruang bersalin, karena dia mengalami keguguran, jika dilihat dari gejalanya dia seperti berniat menggugurkan janin tersebut. Karena terlalu lama membawanya kerumah sakit dia mengalami radang panggul." Dokter itu menjelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti.


"Tidak mungkin. Dia sangat ingin punya anak."


"Kami akan pastikan kembali jika itu keguguran akibat kecelakaan atau bukan. Berdoalah yang terbaik untuknya." Dokter itu segera berlalu menuju ruang bersalin, meninggalkan Han yang berdiri mematung disana.


Han tidak dapat berpikir lagi, pikiran dan hatinya kacau balau, tidak mungkin seorang Sora berniat menggugurkan anaknya sendiri sedangkan dia sangat menginginkannya. Dia juga tidak berani menghubungi kedua orang tua juga Yoongi yang berada di Korea, apa yang akan terjadi jika semuanya tahu.


Han ingin menghilang saat itu juga.


Han kembali berpikir apa karena depresi membuat Sora menggugurkan kandungannya, bisa saja rasa khawatir yang menyebabkan pikiran nekad itu. Han segera menghapus pikiran jelek itu, Sora tidak mungkin melakukan itu.


Han tersentak saat mendengar suara ponsel Sora yang berbunyi, dia merogoh tas kecil yang disandang dibahu kiri, mengambil ponsel dan melihat siapa yang menghubungi. Jantung Han seperti lolos dari posisinya, melihat nama Yoongi tertera disitu membekukan pikirannya, apa yang harus dia lakukan.


Nafas lega meluncur bebas setelah ponsel Sora berhenti berdering, saat ini lebih baik mengabaikan panggilan dari Yoongi, Sora yang lebih berhak akan itu.


Setelah hampir dua jam menunggu, akhirnya dokter yang berbicara dengannya tadi muncul juga, Han reflek bangkit untuk mengetahui kondisi terbaru dari Sora.


"Kami sudah berusaha sebaik mungkin, kami juga tidak tahu bagaimana bisa dia mengkonsumsi pil aborsi, saat aku bertanya padanya dia hanya bilang jika dia meminum vitamin yang diresepkan dokter, dia menyimpan ditas, boleh aku melihatnya?" Tanya dokter itu setelah menjelaskan apa yang terjadi.


Han kembali merogoh tas Sora dan menemukan satu botol vitamin yang terlihat tampak baru, memberikan pada dokter yang langsung diambil. Dokter itu membuka botolnya melihat pil yang ada didalam botol itu, dia juga terkejut karena kemasan yang tidak sesuai dengan isinya.


"Aku rasa ada yang berniat jahat pada kakakmu, ini pil aborsi bukan vitamin untuk ibu hamil." Jelas dokter.


Han semakin tak karuan dengan apa yang terjadi seharian ini, semua terjadi begitu cepat dan tiba-tiba, yang ada dipikirannya cuma satu, kesehatan psikis Sora.


"Boleh aku menemuinya?"


"Silahkan."


Han tergesa menuju ruangan Sora, disana dia melihat seorang kakak yang selalu dia puja sedang menangis tanpa suara. Han mendekat Sora yang sadar melihat Han disampingnya menatap lelaki itu pilu, tidak ada kalimat atau kata yang keluar dari mulut masing-masing, seolah dari tatapan itu Sora bisa menyampaikan apa yang dia rasa tanpa diucapkan.


Han memeluk Sora, suara tangis pecah saat itu juga, Han juga tidak dapat menahan air matanya dia berusaha kuat agar Sora tidak semakin sedih. Han menghapus air mata yang seperti tidak mau berhenti, kembali memasang wajah tegar agar Sora baik-baik saja.


"Apa yang harus kukatakan pada Yoongi? Aku tidak bisa menjaga anaknya, bagaimana dengan keluarganya? Pasti mereka berpikir aku bukan seorang yang pantas untuk menjaga cucu mereka, lalu bagaimana setelah ini? Dia pasti akan meninggalkanku. Aku... aku ingin mati saja." Sora tidak tahan meluapkan segala kekhawatirannya saat dokter mengatakan dia keguguran.


Dan yang paling pilu adalah, dia menelan pil aborsi yang secara tidak langsung dia membunuh anaknya sendiri.


"Tolong jangan beritahu Yoongi. Aku mohon." Sora memohon pada Han agar tidak memberitahu keadaannya pada Yoongi.


Han tidak menjawab sama sekali, dia hanya diam memandang Sora yang persis seperti mayat hidup saat ini, tidak mungkin dia membiarkan Yoongi tidak tahu kabar buruk ini, pasti akan menjadi perang jika Han menutupi semua. Belum lagi sang ayah, pasti akan menambah kesulitan Han yang berdampak pada mental Sora.


Han harus mengambil keputusan.


🍁🍁🍁


Yoongi tidak konsentrasi saat ini, pasalnya Sora tidak ada kabar sejak pagi. Saat pagi dia berkata akan keluar dengan Han untuk membeli oleh-oleh, tapi sampai malam ini tidak ada satupun panggilan atau pesan yang dihiraukan Sora, perasaannya tidak enak tiba-tiba.


"Yoongi-ssi!" Seru Sejin memanggil artis pemalasnya itu.


Yoongi mendekat karena merasa namanya dipanggil, saat break syuting seperti ini membuatnya malas untuk bergerak, tenaganya sudah terkuras saat syuting.


"Ponselmu sejak tadi berdering, aku rasa ada hal penting." Ucap Sejin sembari menyerahkan ponsel pada Yoongi.


Yoongi melihat notifikasi panggilan teleponnya, ada lima panggilan tak terjawab dan satu pesan dari Han, dia harus membuka pesan itu terlebih dahulu agar jantungnya siap menghadapi berita yang akan dia terima.


Setelah membaca pesan dari Han dia menghampiri Sejin, sedikit menyudut takut ada yang mendengar.


"Setelah ini apa kita ada jadwal lagi?" Tanya Yoongi dengan raut wajah yang sulit untuk diartikan.


"Kita kembali ke dorm, besok lanjut lagi syuting disini." Jelas Sejin.


"Hyung, bisakah kau pesankan tiket malam ini ke Indonesia untukku?"


"Ada apa? Kenapa mendadak?" Sejin terlihat khawatir.


"Sora dirumah sakit. Dia keguguran. Tapi tolong jangan beritahu yang lain malam ini, mereka pasti lelah kau bisa memberitahu besok."


"Baiklah akan aku pesankan, dan aku akan mengantarmu ke Bandara."


"Terima kasih Hyung."


Setelah itu Yoongi berusaha dengan cepat juga profesional untuk menyelesaikan syuting, lain halnya dengan Namjoon dan Jimin berteman selama bertahun-tahun mereka merasa ada yang aneh dengan Yoongi, saat mereka bertanya ada apa Yoongi hanya menjawab dia baik-baik saja.


Setelah syuting mereka selesai Yoongi menaiki mobil yang berbeda dengan yang lain, dua mobil yang membawa enam member berpisah dibelokan dengan mobil yang ditumpangi Yoongi. Tidak ada yang curiga sama sekali, karena Yoongi berbohong akan ke studio yabg sebenarnya adalah ke Bandara menuju Indonesia, tempat Sora merasakan sakit saat ini.


Dia merasa gagal menjadi seorang suami.