
Bentuk buku yang ada diatas meja tempat Sora belajar sudah tidak berbentuk lagi, pasalnya Sora tidak bisa berkonsentrasi sejak seminggu ini. Yang ada dipikirannya hanya Yoongi, tidak ada yang lain.
Jantungnya berpacu setiap mengingat kejadian malam itu, saat Yoongi menciumnya untuk pertama kali.
Hampir saja Sora kehilangan hal yang paling dijaganya jika saja ponsel Yoongi tidak berbunyi, Sora menyesal setengah mati karena terlalu menuruti nafsu. Jika saja malam itu terjadi, habislah dia ditangan Ayahnya.
Untuk menghilangkan pikiran tentang Yoongi, Sora memilih berhenti belajar dan membuka sosial media. Sora selalu mengikuti perkembangan tentang Yoongi, seperti saat ini dia ingin tahu dimana Yoongi mengisi acara kemarin.
Mata Sora membulat sempurna saat melihat berita tentang Yoongi dan Namjoon saat ini. Dia membaca pelan-pelan artikel tentang mereka, Yoongi dan Namjoon diundang disalah satu radio untuk diwawancara, beberapa rapper terkenal lainnya juga diundang, hanya mereka yang bisa dibilang rapper baru didunia hiburan.
Tapi yang jadi permasalahan adalah salah satu rapper senior yang selalu memojokkan mereka berdua selama acara itu berlangsung, mengatakan mereka plagiat, nama group aneh dan lainnya seolah mereka tidak pantas untuk diundang dan bergabung dengan rapper senior.
Sora sedikit kesal dengan acara itu, pembawa acaranya pun tidak ada maksud untuk menengahi atau menghentikan mulut rapper senior itu. Terlihat sangat jelas Namjoon sudah sangat emosi karena terus menerus dipojokkan, sedangkan Yoongi masih bisa menahan ekspresi wajahnya demi terlihat profesional. Tapi Sora yakin jika dalam hati Yoongi sedang mengumpat rasa kesalnya.
Wajah Yoongi selalu terlihat datar, itu sebabnya dia terlihat tenang. Mungkin jika tidak ada diacara televisi, Yoongi sudah menghabisi Hyung itu. Membenamkan di lautan kimchi misalnya.
Sora terus membaca komentar-komentar dari fans mereka, banyak yang mengatakan jika masalah ini sudah keterlaluan. Tidak sedikit yang membela mereka, tapi banyak juga yang ikut menghujat mereka. Sora meletakkan ponselnya, kepalanya tiba-tiba saja pusing karena memikirkan Yoongi. Namjoon pernah bercerita tentang riwayat mental Yoongi yang mirip seperti dirinya, dia tidak tahu bagaimana Yoongi melampiaskan emosinya, jika Sora sudah pasti akan merasakan sakit ditubuhnya.
Dia ingin menemui Yoongi tapi mengingat kejadian seminggu lalu di flat-nya, membuatnya menahan diri untuk menemui Yoongi. Saat ini terlalu memalukan muncul didepannya. Tapi satu sisi dia tidak tega memikirkan nasib Yoongi saat ini, dia sangat paham bagaimana rasanya tertekan dengan berbagai halusinasi yang memenuhi kepalanya, jika seperti itu dia butuh seseorang yang bisa menemaninya. Dukungan untuk bangkit dan tetap bertahan itu yang dibutuhkan.
Sora segera bergegas membereskan buku-buku yang ada diatas meja, persetan dengan yang namanya gengsi, saat ini Yoongi membutuhkan pertolongan.
🍁🍁🍁
Sora sudah berada didepan gedung agensi yang menjadi tempat Yoongi menyalurkan impiannya, membuat musik sesuka hati walaupun banyak yang tuli akan karya indahnya. Sora tidak bisa berhenti menggerakkan tubuhnya kekanan dan kekiri, berjalan mondar-mandir sambil menunggu seseorang yang akan menjemputnya.
Ini pertama kalinya Sora berkunjung digedung agensi mereka, jadi belum ada akses untuk masuk dengan mudah. Tidak lama kemudian lelaki yang dijuluki dengan panggilan kuda muncul dengan cengiran lebarnya, sangat persis seperti kuda yang menampakkan seluruh giginya.
Sora segera menghampiri Hoseok dan langsung menyerangnya dengan pukulan di seluruh badan Hoseok.
"Kuda brengsek! Kenapa kau tidak mengangkat teleponku!" Seru Sora yang belum berhenti memukuli lengan Hoseok. Sebelumnya dia sudah menghubungi Hoseok berkali-kali tapi tidak diangkat, hingga dia beralih ke Namjoon yang langsung mengangkat panggilannya.
"Maafkan aku Nuna aku harus membujuk Yoongi Hyung terlebih dahulu agar dia mau makan. Sejak kemarin malam dia belum ada makan." Balas Hoseok sembari menghindari pukulan Sora.
Sora segera menghentikan pukulan bertubinya saat mendengar Yoongi belum ada makan sejak kemarin. Hoseok sedikit lega karena Sora sudah menghentikan pukulan membabi butanya.
"Apa aku boleh masuk Seok?" Tanya Sora takut tidak diizinkan masuk oleh agensi.
"Justru Nuna-lah harapan terakhir kami. Yoongi Hyung sangat keras kepala, tidak ada yang bisa membujuknya. Bahkan Manager kami pun diusirnya."
"Apa sebenarnya yang terjadi?"
"Aku juga tidak terlalu paham apa yang terjadi, karena yang diundang hanya mereka berdua. Tapi yang aku tahu dia tidak bisa melampiaskan kemarahannya, itu sebabnya dia lebih memilih mengurung diri distudio."
"Sebaiknya coba dulu temui dia, mungkin dia akan melunak jika denganmu."
"Aku juga tidak yakin bisa membantu, mungkin saja dia langsung melemparkan komputernya sebelum aku mengetuk pintu."
Hoseok tertawa mendengar ucapan Sora barusan, kenapa disaat situasi serius seperti ini dia masih bisa bercanda.
"Aku yakin kau bisa melunakkannya Nuna."
Sora berdoa dalam hati agar bisa diterima Yoongi, dia sangat ingin menolong Yoongi yang emosinya sedang tidak stabil. Semoga saja.
Sora langsung masuk kedalam gedung dengan Hoseok yang menjadi penunjuk jalannya, mereka menaiki lift yang ada didekat pusat informasi. Sora memperhatikan salah satu bagian dari gedung itu, ada nama perusahaan yang tertempel didinding. Dia sedikit bingung kenapa namanya berbeda, yang dia tahu ini gedung agensi Big Hit.
Sora masih berdiri cemas disamping Hoseok, lift yang dinaikinya terasa berjalan lambat. Ingin rasanya Sora terbang ketempat Yoongi bersemedi. Suara denting lift menandakan mereka sudah sampai ditempat tujuan. Saat pintu lift terbuka terpampang jelas nama agensi tempat bernaungnya artis yang sangat disukai Sora.
"Apa kalian menyewa digedung ini? Aku lihat dibawah tadi namanya tidak seperti ini." Tanya Sora yang tidak bisa menahan rasa gatal dimulutnya untuk tidak bertanya.
"Kami agensi kecil, wajar jika kami menyewa." Balas Hoseok sambil tersenyum.
Sora mengucapkan kata maaf pada Hoseok karena sedikitpun tidak ada niat untuk menyinggung seberapa besar agensi mereka. Sora sangat tidak enak pada Hoseok.
Sora terus berjalan dibelakang Hoseok sampai dia berhenti disalah satu pintu berwarna abu-abu dengan banyak tempelan stiker. Saat Hoseok ingin mengetuk pintunya Namjoon tiba-tiba saja berdiri diantara Sora dan Hoseok.
"Tidak ada gunanya mengetuk pintu, dia tidak akan menyahut. Aku sudah lelah melakukan itu sejak tadi. Mungkin dia butuh waktu sendiri." Ucap Namjoon yang terlihat dari wajah sudah sangat lelah tapi tidak bisa berhenti cemas karena Yoongi akan melakukan apapun saat emosinya tidak stabil.
"Atau dia sudah jadi bangkai didalam?" Tanya Sora dengan polosnya yang disambut dengan tatapan membunuh oleh Hoseok dan Namjoon.
Sora tersenyum takut saat melihat ekspresi kedua lelaki itu.
"Aku hanya berusaha menghibur. Hehehe."
"Cobalah kau yang ajak dia bicara Nuna, mungkin dia agak luluh jika mendengar suaramu." Hoseok membalas candaan garing Sora.
"Atau mungkin dia akan membunuhku saat mendengar suaraku."
Hoseok dan Namjoon hanya mengeleng melihat Sora dengan segala sesuatu yang keluar dari mulutnya. Sora sangat mirip dengan Yoongi dalam berkata frontal. Mungkin mereka memang berjodoh.
"Hei! Kalian mau kemana!?" Seru Sora panik saat Namjoon dan Hoseok berjalan menjauh.
"Menunggu hasil dari pertemuan kalian! Selamat berjuang!" Seru Namjoon yang diiringi dengan senyum juga kedipan mata yang membuat Sora mual seketika.
Sora kembali menghadap pintu yang memisahkan antara Yoongi dan Sora, menarik nafasnya dan perlahan membuangnya. Jantungnya berdegup kencang, rasanya sekarang ini seperti ingin bertemu dengan calon mertua. Takut-takut jika salah akan diusir begitu saja.
Sora mengetuk pintu itu walaupun seperti yang dikatakan Namjoon pasti akan percuma, tapi Sora tidak akan berhenti begitu saja.
Yoongi merasa tidurnya terganggu karena suara ketukan yang tidak ada hentinya sejak lima menit yang lalu, ternyata mereka masih belum menyerah juga untuk memaksa Yoongi keluar. Yoongi merasa saat ini dia ingin sendiri tanpa ada yang mengganggu, kejadian kemarin memancing emosinya yang sejak dulu dia tahan. Apalagi Yoongi baru saja dinyatakan sembuh dari depresi yang selama ini mencengkram mentalnya, sejak saat itu Yoongi menjadi seorang yang cukup tempramen tapi karena agensi sudah berusaha untuk menyembuhkannya dia terpaksa harus menutupi diri agar tidak menyusahkan lagi.
Contohnya seperti saat ini, dia lebih mengurung diri melampiaskan kemarahannya dengan "sedikit" menghancurkan barang-barang yang ada disekitarnya. Setelah dirasanya cukup dia akan berhenti, yang ada digedung itu pun tidak berhenti memanggil namanya agar segera keluar ataupun mengajaknya makan. Tapi Yoongi lebih memilih bungkam ataupun mengusir mereka yang saat ini mengganggu.
Suara ketukan masih terdengar walaupun pelan, saat dia ingin mengusir siapa pun yang ada disana, seseorang memanggil namanya yang membungkam mulut Yoongi dengan sempurna.
"Yoongi, ini aku Sora."
Yoongi tidak menyahut sama sekali, Yoongi terlalu kaget bagaimana bisa gadis gila itu bisa ada di gedung ini.
"Tolong buka pintunya, aku ingin melihatmu."
"Pergilah! Aku yang tidak ingin melihatmu!" Seruan Yoongi cukup keras hingga Sora tersentak dari tempatnya.
"Tapi aku mau melihatmu, ada yang harus kita bicarakan." Sora belum lelah membujuk Yoongi.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan, aku tidak punya urusan denganmu."
"Percayalah, aku ingin membagi satu rahasia padamu. Aku yakin kau tertarik, aah! Tidak. Aku yakin kau pasti akan menertawakanku."
"Jangan bicara konyol..."
"Buka dulu pintunya! Kalau tidak menarik kau boleh melakukan apa saja padaku!" Kali ini Sora berteriak cukup keras, Yoongi sangat keras kepala.
Tidak ada suara lagi diantara keduanya, Sora menanti Yoongi membukakan pintu keparatnya itu, sedangkan Yoongi masih memikirkan kalimat Sora. Lelaki itu cukup perhitungan dengan apa yang terjadi, dia tetap harus waspada dengan gadis yang ada dibalik pintu itu, jika dia masuk pasti yang lain akan ikut masuk dia sangat tidak ingin bertemu dengan orang ramai tapi tidak munafik dia cukup tertarik dengan rahasia yang ingin Sora katakan. Dasar gadis gila.
Sora menyandarkan dahinya didepan pintu yang tak kunjung terbuka sejak tadi, dia mengumpat Yoongi yang terlalu bodoh mengurung diri di studio. Persis seperti anak kecil yang sedang merajuk.
Sora tersungkur dengan sukses dilantai saat pintu yang disandari dengan dahinya terbuka tiba-tiba, Sora mengelus lututnya yang terasa sakit karena menghantam lantai terlebih dahulu. Sedangkan Yoongi hanya menatapnya datar tanpa rasa bersalah.
"Damn! Yoongi siaalll!!!" Teriak Sora masih terduduk dilantai dengan tangan yang berusaha menggapai kaki Yoongi terus menghindari Sora yang berusaha memukulnya.
"Cepat katakan lalu pergi dari sini."
"Ya! Setidaknya bantu aku berdiri lebih dulu!"
"Katakan atau pergi dari sini."
"Iya iya... kau memang tidak punya perasaan." Sora bangkit sambil mengomel kecil karena sifat Yoongi yang jauh dari kata lembut.
"Sebenarnya tidak ada yang ingin kukatakan, aku hanya ingin bertemu denganmu."
"Aku hanya bercanda! Jangan tutup pintunya."
"Berhentilah bicara omong kosong!"
"Iya maaf, biarkan aku masuk."
Sora bernapas lega saat Yoongi kembali membuka pintunya. Setelah Sora masuk dia langsung menutup pintunya dan mengunci dengan cepat agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, bisa saja Yoongi tiba-tiba menyeretnya keluar tanpa belas kasihan.
"Aku pegang kuncinya." Ucap Sora cepat dan langsung menyembunyikan kunci dibra yang dipakainya.
Yoongi memperhatikan Sora yang terlihat konyol saat ini, mungkin dia berpikir jika dia menyembunyikan didaerah yang sensitif Yoongi tidak akan berani mengambilnya. Pikiran yang salah besar.
Yoongi duduk disofa yang berada dibelakang komputer tempat dia membuat lagu, mengambil rokok, menyalakan, dan menghisap asapnya secara perlahan.
Sora tidak beranjak sedikit pun, dia hanya diam memaku ditempat tanpa ada niat memulai obrolan padahal saat ini dia ingin sekali Yoongi meluapkan perasaannya pada Sora.
Yoongi mengambil kaleng bir yang sudah terbuka tutupnya, niat ingin minum terhenti karena tangan Sora menahannya Yoongi tidak suka melihat apa yang dilakukan Sora dia menepis tangan Sora dan dengan sigap juga Sora mengambil kaleng bir ditangan Yoongi.
Tanpa rasa ragu Sora menenggak habis bir Yoongi yang sudah dijajah sebelumnya, lalu meletakkan kaleng kosong itu diatas meja.
Yoongi masih memperhatikan Sora dalam diam, sekarang gadis itu mengambil sebatang rokok dari kotak dan menyalakannya, dengan santainya dia ikut menghisap rokok tersebut dan ikut duduk disofa.
"Aku memang polos seperti yang kau kira." Suara Sora tiba-tiba mengudara bersama kepulan asap rokok dari keduanya memulai obrolan siang mereka.
Yoongi tidak mengerti apa maksud dari ucapan Sora, tapi dia tetap mendengarkan apa yang akan keluar dari mulut gadis disampingnya ini.
"Aku polos dalam hal ****." Lanjut Sora sembari menyunggingkan sedikit bibirnya, yang justru terlihat seram menurut Yoongi.
"Sewaktu kau mengatakan itu aku cukup kaget, ternyata kau penikmat ****. Aku memang pernah belajar tapi tidak pernah melakukannya."
"Jangan bohong." Potong Yoongi.
"Cara kau minum dan merokok tidak terlihat kau seperti anak polos."
Sora tertawa karena Yoongi tertipu dari sampul Sora yang jauh dari kata polos.
"Terserah kau percaya atau tidak, tapi jujur aku memang belum pernah melakukannya."
"Lalu bagaimana dengan malam itu? Jika belum pernah kau pasti akan menolaknya." Balas Yoongi yang masih ingat dengan jelas dimana Sora malah memberikan akses agar "mudah masuk".
"Saat itu tubuhku bergetar, aku juga takut. Aku takut sekali. Aku juga tidak tahu apa yang aku lakukan, yang ada dipikiranku waktu itu aku menyukaimu dan aku akan memberikannya untukmu. Mungkin saat itu aku tidak bisa berpikir jernih." Sora merasa harga dirinya telah hilang dimata Yoongi. Dan Yoongi pun setuju saat malam itu dia juga melihat tubuh Sora sedikit gemetar.
Yoongi sukses terkejut--walaupun tidak ditunjukkannya, karena pengakuan Sora. Bagaimana bisa seorang gadis rela melakukan apa saja pada lelaki yang dia suka tapi masih bisa menjaga harta paling berharga satu-satunya yang dia miliki.
Bagaimana caranya dia melakukan itu semua.
"Jangan bercanda, aku sedang tidak ingin tertawa." Ujar Yoongi yang belum percaya begitu saja pada ucapan Sora.
"Sudah aku bilang terserah mau percaya atau tidak, tapi itulah faktanya."
"Selama aku menyukai seseorang, kau adalah orang ketiga yang aku sukai. Dua orang sebelumnya menolakku karena mereka tidak tertarik dengan perempuan yang tidak tersegel lagi. Padahal mereka belum mencobanya tapi mereka seakan sudah tahu apa yang aku lakukan."
"Lalu jika mereka juga tertarik denganmu, apa kau akan menyerahkannya juga?"
"Tentu saja tidak! Aku sangat menjaga diriku. Untuk apa aku berkencan dengan seseorang yang hanya membawaku keranjang? Jika mereka hanya menginginkan teman tidur saja pasti aku akan pergi walau aku sangat menyukainya. Bagiku kehormatanku hanya untuk suamiku, dia yang lebih berhak untuk itu."
Yoongi terpana dengan cara pikir Sora, gadis yang dia kira cukup nakal ternyata sangat menjunjung tinggi kehormatannya.
Yoongi sedikit tertarik dengan kehidupan Sora.
"Aku hanya nakal sebatas kenakalan remaja saja, tidak dengan **** bebas. Minum dan rokok hanya sebagai pelepas penat saja. Aku bahkan tidak kuat minum." Sora sekarang menertawakan dirinya sendiri yang sudah terlalu jujur dengan Yoongi.
"Tato?" Akhirnya Yoongi bertanya tentang tato yang sangat mengusik pikirannya.
"Ah, ini..." Balas Sora sambil menaikkan lengan kaosnya dan menunjukkan tato model matahari kuno itu.
"Ini aku dapatkan saat aku meneliti suku mentawai, yang ada disalah satu daerah di Indonesia. Sewaktu itu teman-temanku berkata cukup sulit suku itu menerima orang asing, jadi aku tidak percaya begitu saja dengan omongan mereka kalau menurutku mereka hanya kurang tepat dalam pendekatan."
Sora menjeda kalimatnya dengan kembali menghisap rokok yang sedikit lagi akan habis tak bersisa.
"Jadi singkat cerita aku memutuskan untuk mencoba melakukan pendekatan, dan ajaibnya mereka terima kedatanganku dengan tangan terbuka. Jadi tato ini tanda kalau mereka menerimaku sebagai bagian dari suku mereka."
"Aku tidak bisa menolaknya, karena itu tradisi yang harus diikuti. Arti tato ini sebagai tanda syukur kepada alam."
Sora menunjuk bagian dari tatonya.
"Yang bulat ini matahari, sedangkan garis putus-putus ini sinar yang menyinari."
"Dan proses pembuatannya sangat menyakitkan, alatnya juga sangat sederhana dari kayu yang ujung terdapat jarum kemudian dipukul dengan kayu lainnya yang diujung jarumnya sudah dilumuri tinta yang terbuat dari arang dan daun pisang. Aku tidak berhenti teriak saat jarum itu dipukul kekulitku."
Yoongi tidak banyak berkomentar dengan cerita bagaimana Sora mendapatkan tatonya, dalam hatinya dia takjub dengan Sora yang mandiri dan selalu berani dalam melakukan apa saja. Sangat berbeda dengan dirinya yang selalu menyalahkan keadaan, memikirkan omongan orang lain dan terlalu takut untuk melangkah kearah yang lebih baik. Yoongi iri dengan Sora.
"Yoongi-ya..." Suara Sora membuyarkan semua pikirannya. Yoongi menoleh melihat Sora yang sudah mematikan rokoknya.
"Kau tahu 'kan alasan utama kenapa aku memilih kesini? Padahal jika Ayahku tahu, aku akan mati ditangannya tapi aku berani mengambil resiko itu. Aku yakin kau sudah mengetahuinya, tapi aku perjelas sekali lagi."
"Pertama, karena aku menyukaimu."
"Kedua, karena kau yang meminta."
"Dan yang terakhir, aku ingin menjadi sandaranmu saat kau terjatuh."
Yoongi bungkam seribu bahasa, gadis ini terang-terangan mengatakan perasaannya, dia juga mengatakan kalau dia ingin Yoongi terbuka dengannya, hal yang cukup sulit untuk dilakukan. Yoongi seketika pusing memikirkan gadis ini.
"Maaf aku tidak bisa membalas perasaanmu. Sudah kubilang 'kan aku tidak tertarik dengan gadis polos sepertimu." Jujur Yoongi merasa tidak enak hati.
Sora tertawa saat mendengar kalimat Yoongi.
"Aku memang mengatakan kalau aku menyukaimu, tapi aku tidak mengajakmu pacaran."
"Aku sangat percaya dengan takdir. Jika kita memang ditakdirkan untuk bersama, sesulit apapun masalah yang harus dihadapi atau sekeras apapun menolak jika sudah takdir pasti akan tetap bersama."
Sora menyandarkan punggungnya disofa dan kembali menurunkan lengan baju yang sejak tadi belum ada diturunkan. Menatap Yoongi tepat dimatanya.
"Aku hanya mau kau bergantung padaku saat kau merasa membutuhkan tempat untuk bersandar. Aku sangat mengerti apa yang kau rasakan."
Ingin rasanya Yoongi menutup mulut Sora saat ini, dia terlalu banyak bicara sejak tadi. Dia berkata seolah dia memang sangat mengerti Yoongi yang punya riwayat sakit mental. Tapi Yoongi juga tidak paham kenapa perasaannya sekarang ini ingin mempercayai Sora, tertarik dengan kehidupan Sora yang seperti apa sebenarnya, ingin merasakan bagaimana cara gadis itu menenangkan hatinya. Ingin dekat dengan Sora yang katanya peduli dengan Yoongi.
Yoongi bingung dengan perasaannya.
"Aku tidak bisa menjalin hubungan dengan status, karena aku bukan tipe yang suka berjauhan. Bahkan tanpa status pun aku tidak bisa berjauhan. Aku bingung bagaimana harus mengatakannya, aku yakin kau mengerti maksudku." Yoongi berusaha memberikan pengertian pada Sora agar tidak terlalu berharap padanya.
"Aku sangat mengerti apa maksudmu Yoongi-ya." Sora tersenyum sangat manis.
Sora menggeser tubuhnya agar bisa lebih dekat dengan Yoongi, duduk merapat disamping Yoongi dan berbisik ditelinganya.
"Aku hanya memberi kebebasan sampai leher saja."
Yoongi semakin pening, gadis disampingnya ini benar-benar sudah gila. Yoongi tidak bisa menghindar, sejauh apapun dia pergi Sora pasti akan menyusulnya, dia akan memikirkan ini nanti karena saat ini kepalanya serasa mau meledak. Dia harus menjauh dari Sora.
Tbc
Thank you for Vote & Comment.
Purple u 💜