
Sora melangkah pelan saat menaiki tangga menuju flat-nya, air matanya terus mengalir sepanjang perjalanan. Setelah keluar dari studio Yoongi dia kembali berpapasan dengan Namjoon, lelaki itu bertanya apa yang terjadi dan Sora tidak bisa berkata lagi dia tersenyum dan menepuk bahu Namjoon pelan dan pergi begitu saja.
Setelah keluar dari gedung agensi dia berjalan menuju flat, Sora juga sempat mengirim pesan pada Sid agar tidak menunggunya, pesan yang dikirim Sora pun belum ada dibaca.
Sebelum masuk Sora menghapus air matanya yang terasa sulit untuk dikendalikan, air mata terus mengalir tanpa bisa berhenti, hatinya terasa sakit.
Sora masuk tanpa menghidupkan lampu terlebih dahulu, dia langsung menuju dapur untuk minum.
Sora meletakkan gelasnya cukup kasar, dikepalanya masih terngiang kalimat yang diucapkan Yoongi. Mungkin bagi sebagian orang yang mendengarnya itu hanya kalimat biasa, mengingat kondisi Sora yang belum meminum obat rutinnya menjadi pemicu utama rasa sakitnya. Emosi Sora tidak bisa dikontrol, itu sebabnya dia sedikit kesal saat Yoongi mengusirnya.
Sora juga menyesal sudah mengucapkan kalimat yang menyakiti hati Yoongi, lelaki itu pasti semakin membencinya. Dia menghela nafas lagi, dia butuh istirahat karena besok dia akan berangkat ke Jerman.
Sora beranjak dari dapur menuju kamar agar bisa segera istirahat, sebelum menuju kamar dia menghidupkan lampunya, Sora hampir terkena serangan jantung saat melihat kedua orang tuanya duduk disofa.
Ayah dan Ibunya.
Ibunya menatap dia dengan wajah khawatir sedangkan Ayahnya menatap dia dengan wajah dingin yang mampu membekukan seluruh tulang sendi Sora. Dia terkejut melihat kehadiran Ayah yang sangat ditakutinya itu.
"Ap-Appa..."
"Kita pulang malam ini juga." Suara dingin Kang Dae sangat jelas memancarkan rasa kecewanya pada Sora.
Sora tidak sanggup lagi berkata, Sora sangat yakin Ayahnya kecewa dengan Sora. Ayah yang selalu berharap pada Sora agar bisa dibanggakan menghancurkan kepercayaannya dalam sekejap. Sora pusing seketika.
Kang Dae berdiri dan langsung keluar dari flat sederhana itu, melewati Sora tanpa memandangnya sedikit pun.
Hati Sora hancur.
Sora menutup wajahnya dan kembali menangis, Ibunya langsung memeluk anak gadis yang dicintai sepenuh hati. Walaupun Sora sudah berbohong padanya, dia tetaplah anak yang disayangnya.
"Tidak apa sayang, ada Eomma disini."
Sora membalas pelukan Ibunya, tidak ada pelukan yang lebih nyaman dibanding pelukan hangat Ibunya.
"Maaf Eomma."
🍁🍁🍁
Sudah seminggu Sora berada di Indonesia, selama itu juga Ayahnya tidak mau berbicara dengannya. Saat makan bersama pun Ayahnya lebih memilih tidak menghabiskan makanannya dibanding harus satu meja dengan Sora, saat Sora ingin mengatakan sesuatu Ayahnya akan berpura-pura tidak mendengar Sora dan tidak menganggap Sora ada. Sungguh pembalasan yang sangat sempurna.
Pagi ini Sora memilih untuk tidak ikut sarapan, dia tidak ingin melihat Ayahnya tidak menghabiskan makanan lagi. Sora tidak mau Ayahnya sakit hanya karena dirinya, walaupun sebenarnya Ayah sudah terlanjur sakit hati dengannya.
Tiba-tiba dia teringat lagi dengan Yoongi, apa yang sudah dilalui lelaki pucat itu Sora bertanya dalam hati. Tapi, dia tidak ingin memikirkan lelaki itu lagi, hanya menambah rasa sakit dihatinya.
"Kenapa tidak ikut sarapan Nuna?" Han muncul dibalik pintu kamarnya yang memang tidak dikunci.
"Tolong biasakan mengetuk pintu." Balas Sora jengkel.
"Apa obat rutinnya sudah diminum?" Tanya Han yang memang peduli dengan kakak perempuannya itu.
"Nanti saja." Sora memilih kembali tidur tanpa peduli Han yang sudah duduk dipinggiran tempat tidurnya.
"Aku bawakan sarapan, makanlah walau sedikit, tubuh Nuna sangat kurus sekarang."
"Apa menurutmu Appa akan memaafkanku?" Sora bertanya tanpa mengindahkan ucapan Han barusan.
"Appa pasti akan memaafkan, Appa hanya kesal karena Nuna tidak jujur dari awal. Tolong jangan siksa diri Nuna, temui Appa dia pasti akan memaafkan Nuna." Han mencoba memperbaiki hati Sora yang sedang tidak baik.
"Benarkah?" Balas Sora sembari membalikkan badannya menghadap Han, wajah Sora sudah basah karena air mata.
Mata sembabnya sangat menyakiti perasaan Han, dia mengerti apa yang dirasakan Sora.
Han ikut berbaring dihadapan kakaknya, menghapus air mata Sora yang seakan sulit untuk dihentikan.
"Kami semua sangat menyayangi Nuna, jangan merasa tidak pantas menjadi bagian keluarga ini, Nuna adalah yang terbaik."
Sora kembali menangis, tanpa menjelaskan apa yang terjadi pun Han paham apa yang Sora rasakan, Han adalah tempat terbaik untuk bersandar. Bahkan Sid pun tidak bisa menggantikan posisi Han.
Han memeluk erat Sora, ingin rasanya Han mengambil rasa sakit yang dialami Sora agar kakak yang disayanginya itu tidak mengalami hal yang sulit. Sebelum kedua orang tuanya menjemput Sora di Korea, Han memaksa Ibunya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi sehingga Ayahnya begitu marah terhadap Sora, dengan sedikit berat Ibunya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan Sora.
Han sekarang paham bagaimana Sora bisa mengidap psikosomatik.
Tujuan Ayahnya adalah, agar Sora bisa menjadi anak yang bisa dibanggakan oleh Neneknya.
Han mengusap pelan rambut Sora yang berantakan, Han bisa menebak jika Sora belum mandi. Saat tidak melihatnya sewaktu sarapan, menggerakkan hatinya agar membawakan makanan kekamar Sora berharap gadis yang lebih pendek darinya itu mau makan.
"Apa dia tampan?" Tanya Han yang sudah tahu penyebab Sora ke Korea.
"Apa yang kau bicarakan?" Sora balik bertanya.
"Jangan pura-pura bodoh."
"Ck. Sial."
Sora membenarkan posisi menjadi telentang menatap langit-langit kamar dengan tatapan sendu, Adik yang kelewat paham dirinya ini tidak bisa dibohongi. Sora menghapus jejak-jejak air matanya--walaupun percuma, air matanya tetap mengalir.
"Dia tidak tampan, tapi aku menyukainya. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa menyukainya." Sora sedikit tersenyum mengingat pertama kali bertemu dengan Yoongi.
"Dia selalu menolakku, padahal dia yang memintaku ke Korea" Sora tertawa.
"Tapi, karena tidak bisa mengatur emosi masing-masing kami bertengkar malam itu. Malam dimana Appa dan Eomma muncul secara tiba-tiba." Sora langsung tersentak saat teringat dengan Sid.
Lelaki yang menjadi dalang ini semua, sebenarnya Sora tidak bisa menyalahkan Sid sepenuhnya. Ayahnya yang tiba-tiba ke Jerman tanpa sepengetahuan Sid dan Sora, menuntut penjelasan saat tidak menemukan keduanya disana.
Kedua orang tua mereka pun juga sudah tahu tentang hubungan mereka yang berpura-pura menjalin kasih, Sid tidak bisa menghindar lagi karena semuanya tidak bisa ditutupi lagi. Setelahnya kedua orang tua mereka membatalkan perjodohan Sid dan Sora, Orang tua mereka pun sepakat dengan keputusan masing-masing apalagi alasan utamanya karena Sid dan Sora tidak memiliki rasa satu sama lain.
Satu lagi kebohongan lagi yang Sid ucapkan, walaupun sebenarnya dia sangat menyayangi Sora dia tidak mau Sora tersiksa akan perasaannya.
Hubungan antara Orang tua mereka juga baik-baik saja, hanya saja kedua Orang tua mereka tidak mengizinkan Sid untuk bertemu Sora, begitu pun sebaliknya. Hal ini sebagai hukuman karena sudah bertindak tidak pantas pada Orang tua.
"Bagaimana keadaan Gorilla itu?" Tanya Sora pada Han yang pastinya tahu apa yang terjadi.
"Kemarin dia datang kesini, tapi Appa mengusirnya." Jawab Han sekenanya.
"Si bodoh itu."
Sora beranjak dari tempat tidur setelah melangkahi badan Han terlebih dahulu, dia harus melakukan sesuatu.
"Mau kemana?" Tanya Han saat melihat Sora akan keluar dari kamar.
"Menemui Appa."
🍁🍁🍁
Sora memandang ragu pintu ruangan kerja Ayahnya, beberapa saat yang lalu hati Sora sangat mantap ingin menemui Ayahnya tapi saat melihat pintu yang didominasi warna hitam ini, hati Sora menciut seketika.
Takut jika Ayah akan menolaknya.
Sora menutup matanya sejenak, mengumpulkan lagi keberanian yang sempat hilang lalu menarik nafas dan membuangnya secara perlahan hingga kembali membuka mata, tidak lupa dia mengepalkan tangan keudara sebagai penyemangat diri.
Dengan tangan sedikit gemetar Sora mengetuk pintu, membukanya lalu mengintip melalui celah pintu. Bola mata Sora bergerak menelusuri ruangan demi menemukan sosok Ayah disana, bola matanya berhenti bergerak saat melihat Ayahnya sedang memilih buku bacaan.
Dia kembali menghembuskan nafasnya dan masuk kedalam ruangan.
Kang Dae tetap pada posisinya, memilih buku yang sedang ingin dibacanya. Dia sebenarnya tahu saat Sora mengetuk pintunya tapi dia memilih tidak peduli dengan anak gadisnya itu.
"Ap..."
"Appa sedang tidak ingin berbicara denganmu."
Kang Dae langsung memotong ucapan Sora saat dia belum menjelaskan maksud kedatangannya, Kang Dae sangat kesal karena anak gadis yang selalu menurut perkataannya ternyata menyimpan sebuah kebohongan besar darinya.
"Biarkan Sora menjelaskan semuanya." Suara Sora terdengar sedikit bergetar, mungkin sebentar lagi dia akan menangis.
"Tidak perlu, lebih baik kau dikamar saja. Lakukan sesukamu, Appa tidak akan melarangnya."
Sora saat ini membenci dirinya sendiri, Sora paham apa yang dimaksud Ayahnya. Jika Ayahnya mengatakan tidak akan melarang berarti dia sangat marah, yang Sora tahu Ayahnya sangat tidak suka jika dibohongi.
Sora ingin memeluk Ayahnya saat ini.
"Maafkan Sora..." Air mata Sora mengalir pelan mengiringi suara sedihnya.
Kang Dae diam menatap Sora yang sedang menunduk, biar bagaimana pun Sora adalah anaknya, Kang Dae tidak bisa marah sepenuhnya karena Sora juga bisa merasakan yang namanya jatuh cinta.
Kang Dae sudah mengetahui alasan Sora kembali ke Korea, tentunya Sid yang memberitahu karena Kang Dae yang memaksa untuk buka mulut. Ditambah Ayah Sid yang juga mendesak anak lelakinya itu.
Niat awal Kang Dae adalah memberikan kejutan untuk Sora dengan mengunjunginya di Jerman, tapi saat Kang Dae sampai disana dia tidak menemukan Sora maupun Sid. Merasa curiga denga kedua anak itu, Kang Dae pergi kekampus Sora yang di Jerman. Kang Dae sangat terkejut dengan fakta bahwa Sora yang berada di Korea, anak yang selalu dibanggakan sedang berbohong dengan Ayah kandungnya sendiri.
Kang Dae segera menghubungi Istrinya untuk pergi ke Korea dan menunggunya disana, tanpa menunggu hari Kang Dae langsung melesat ke Korea menjemput anak yang sedang berlaku kurang ajar padanya. Dia juga menghubungi Ayah Sid agar memberitahu pada Sid jika Ayahnya akan ke Jerman, padahal saat itu Kang Dae sudah berada di Korea.
Kang Dae dan istrinya menunggu di flat sederhana itu, menunggu Sora sampai akhirnya gadis itu pulang dalam keadaan sudah menangis.
Kang Dae sedikit penasaran dengan wajah sedih Sora, entah apa yang membuat anaknya itu menangis. Karena selama dia bersama anaknya itu, Sora tidak pernah menunjukkan wajah sedihnya atau air mata. Malam itu Kang Dae sempat mengumpat dalam hati akan memberi pelajaran pada siapa saja yang membuat Sora menangis.
Dan malam ini pertama kalinya Sora menangis memohon maaf pada Kang Dae, perasaan Kang Dae seketika dilema dan hancur.
"Jawab jujur pertanyaan Appa, malam itu apa kau menangis karena dia?" Kang Dae berusaha untuk lembut dan tegas dalam bersamaan.
Sora terkejut bagaimana cara menjelaskan semua yang terjadi pada Ayahnya.
"I-iya."
Kang Dae benar-benar mengutuk lelaki itu. Lelaki yang menyakiti hati Sora.
"Jika kau ingin maaf dari Appa, jangan pernah berhubungan dengan lelaki itu lagi."
Sora tidak bisa lagi berpikir jernih, semua usaha yang dia lakukan seperti sia-sia. Semua yang dilakukan untuk mendapatkan hati Yoongi berakhir begitu saja, tapi satu sisi Sora tidak ingin Ayahnya membenci dirinya karena Sora sangat menyayangi Ayah yang sudah banyak berjuang untuk dirinya yang bahkan sampai sekarang tidak bisa membanggakan Ayahnya.
Mungkin ini benar-benar saatnya berpisah pada Yoongi, karena Sora juga yakin Yoongi sangat menginginkan ini.
Menginginkan perpisahan.
Selamat tinggal Yoongi-ya
Selanjutnya Sora hanya bisa mengangguk pelan, dia tidak mau kehilangan Ayahnya.
"Boleh Sora memeluk Appa?"
Kang Dae tersenyum kecil karena anak gadisnya itu sangat membutuhkan sebuah pelukan hangat darinya, dia sangat paham dengan anak gadisnya itu.
Karena sejak awal dia bersumpah akan selalu ada untuk Sora.
Maaf typo bertebaran, please vote & comment ya teman-teman.
Purple u 💜💜