Our Fate

Our Fate
Striving 3



Sora baru tiba di Indonesia dua hari yang lalu, saat dia tiba dirumah tidak ada sambutan hangat dari ayahnya, sebab pria yang paling berpengaruh dihidupnya itu sedang keluar negeri demi memperluas relasinya. Ayah Sora mempunyai usaha tekstil di Indonesia bukan yang terbesar tapi cukup terkenal di Indonesia, banyak Department Store di Indonesia yang bekerja sama dengannya salah satunya yang dimiliki oleh Sid.


Sora jadi teringat dengan lelaki yang sudah menemaninya selama bertahun, dia belum tahu kabar terbaru dari pemuda kaya itu. Entahlah, ayahnya benar-benar membatasi ruang gerak Sora. Terakhir kali dia mendengar kabar tentang Sid, lelaki itu pergi ke Italy demi meluaskan usahanya.


Andai saja Sora menyukai Sid pasti kehidupan anak mereka sangat terjamin.


Sora sedang stress sampai berpikir yang aneh-aneh.


Sora kembali melahap sereal yang menjadi sarapan paginya hari ini, saat dia bangun tadi tidak ada satupun orang dirumah. Han masih di Korea hingga dua bulan mendatang, sedangkan ibunya pasti berbelanja untuk makan siang mereka nanti. Sora merasa bosan saat ini, tidak ada yang bisa dia lakukan selain menunggu ibunya pulang kerumah.


Sora menghela nafas panjang, dan menyantap serealnya kembali tanpa nafsu. Lamunan kosong yang baru saja dibangunnya buyar saat mendengar dering telepon rumah yang terdengar sangat nyaring ditelinganya, Sora bergerak malas kearah telepon yang masih senantiasa berteriak seolah memanggil namanya.


“Siapa sih yang masih menggunakan telepon rumah disaat ponsel jauh lebih canggih dari ini.” Gerutu Sora sembari mengangkat telepon itu. “Halo?” sahut Sora yang pasti berpikir itu teman ayah atau ibunya.


“Sora?” Tanya seorang lelaki diseberang sana.


“Ya? Siapa?”


“Apa kau lupa siapa yang melamarmu minggu lalu?”


“Yoongi?” Tanya Sora yang sangat kaget karena pria itu tiba-tiba saja meneleponnya.


“Apa kau tidak mengenal teknologi bernama ponsel?” Sora heran kenapa dia bisa jatuh cinta pada lelaki datar ini. “Kau hidup ditahun berapa sampai mengubungi melalui telepon rumah?”


“Seharusnya aku yang bertanya padamu, kemana saja ponselmu? Bukankah kita sepakat untuk tetap menjaga komunikasi. Apa-apaan kau ini? Aku sampai menemui adikmu agar bisa menghubungimu, aku pikir pesawatmu jatuh dihutan atau meledak. Ah, kau benar-benar merepotkan.” Balas Yoongi yang terdengar sangat datar.


“Ponselku…? Aku… aku pun lupa dimana ponselku.”


“Sebaiknya cari ponselmu segera, aku akan menghubungimu setelah ini.” Balas Yoongi dan setelahnya dia langsung memutuskan sambungan.


Sora bingung menatap telepon rumah yang masih berada ditangannya, bagaimana bisa dia berani menelepon kerumah tanpa memberitahu terlebih dahulu, bagaimana jika ayah atau ibunya yang mengangkat. Kepala Sora sakit membayangkan hal itu, dia segera berlari kekamarnya dan mencari dimana dia meletakkan ponselnya. Sora mencari ponsel ditas kecil yang dibawanya saat kembali dari Korea tetapi nihil, Sora juga mencari dikoper yang belum juga dibongkarnya sejak dua hari yang lalu tapi tidak juga menemukannya.


Sora terduduk dilantai dan menatap pasrah koper yang isinya sudah berhamburan keluar, dia kembali mengingat dimana terakhir kali dia menyimpan ponselnya.


Sora berusaha memutar ingatannya kembali saat dia kembali dari Daegu ponselnya sempat mati, dan dia meminta izin pada Yoongi untuk mengisi daya ponselnya dimobil sewaktu dalam perjalanan, setelahnya dia tidak merasa menggunakan ponsel lagi. Yoongi memang langsung mengantarnya pulang, dan juga membelikan Sora tiket baru karena pria itu mau Sora segera kembali ke Indonesia agar Sora bisa mengatakan niatnya menikah terlebih dahulu sebelum Yoongi datang menemui kedua orang tuanya. Karena Yoongi juga mengantarnya ke Bandara jadi dia merasa tidak perlu melepas kabel pengisi daya, dan ternyata saat sampai di Bandara dia tidak membawa ponselnya karena terlalu sibuk berciuman dengan Yoongi.


Jadi, kesimpulannya adalah ponsel Sora masih di Mobil Yoongi.


Tak lama kemudian dia mendengar suara ibu  yang memanggil namanya, Sora segera keluar kamar dan menghampiri ibunya.


“Eomma? Sudah pulang?” Tanya Sora saat sudah sampai didapur dan melihat ibunya sedang meletakkan semua belanjaan yang cukup banyak menurut Sora. Kemudian Sora ikut membantu mengangkat belanjaan milik ibu.


“Kenapa serealmu tidak dihabiskan?”


“Ta-tadi ada telepon, ah, tidak penting kok.” Balas Sora dengan sedikit gugup. “Eomma, ada yang ingin Sora bicarakan”


“Apa yang ingin kau bicarakan? Sepertinya penting sampai kau gugup seperti itu?” Tanya ibu Sora lembut.


“Ini tentang—“ Kalimat Sora terpotong oleh suara telepon rumah yang kembali berdering nyaring. “Sora saja!” Seru Sora saat melihat ibunya bergerak hendak mengangkat telepon.


“Halo?” Ucap Sora dengan sedikit berbisik, sedangkan ibunya menatap anak gadisnya itu penuh selidik.


“Kenapa ponselmu belum aktif juga?” Tanya Yoongi tanpa basa-basi sedikitpun.


“Ponselku tinggal di mobilmu.”


“Ck. Bagaimana bisa kau melupakannya? Mobilku ada di Dorm, aku tidak bisa mengambilnya sekarang aku di Amerika.”


“Iya aku tahu,berikan nomormu akan kuhubungi malam nanti.”


“Kau memang merepotkan.” Balas Yoongi sembari menyebutkan nomor ponselnya.


“Baiklah, kau hati-hati selama disana. Aku merindukanmu.” Ucap Sora dan dibalas Yoongi dengan mematikan sambungan tanpa aba-aba terlebih dahulu. Sora mengumpat pelan dengan telepon yang digenggamnya sebelum meletakkan kembali ketempat semula.


“Siapa?” Tanya ibunya.


“Orang gila.” Sora kembali duduk dan menyantap sereal yang belum sempat dihabiskannya.


“Kau ingin mengatakan apa?”


Sora lupa jika dia ingin mengatakan niatnya untuk menikah saat ibunya baru saja kembali, karena tiba-tiba saja Yoongi menghubunginya membuat dia melupakan niatnya.


“Eomma, bagaimana jika Sora mengatakan Sora akan menikah. Apa Eomma akan marah?” Pertanyaan Sora mengundang tawa ibunya. Sora menatap ibunya heran.


“Bagaimana Eomma akan marah jika pertanyaanmu seperti itu? Lagipula, kenapa Eomma harus marah saat kau ingin menikah?


“Sora hanya takut—“


“Apa lelaki itu?"


“Iya.”


“Saat Appa pulang nanti kita bicarakan lagi hal ini, Eomma akan meminta Han pulang sebentar karena ini cukup sensitif untuk Appa.” Kang Rani mendekati Sora dan mulai mengusap pelan rambut anak yang sudah beranjak dewasa itu. “Eomma selalu mendukung apapun yang membuatmu bahagia, Eomma merestui kalian sekalipun belum pernah bertemu dengannya.”


Sora langsung memeluk tubuh Ibunya yang sudah tampak tua  menurut Sora, uban yang mulai menghiasi rambut mendukung tampilannya saat ini.


“Apa dia baik?”


“Tidak juga, terkadang dia sangat menyebalkan.”


“Berarti orang gila yang kau sebut tadi itu dia?” Tebakan ibu Sora sangat tepat.


“Bagaimana Eomma bisa tahu?”


“Wajahmu berseri saat kau mengatakan kau merindukannya.”


Sora hanya tertawa menanggapi tingkah konyolnya yang baru saja dilihat oleh ibunya secara langsung, jadi selama ini sangat jelas Sora tidak bisa menyembunyikan wajah jatuh cintanya. Sora kembali memeluk tubuh ibunya yang selalu hangat, setelah ini dia harus menghadapi ayahnya yang sulit ditaklukkan hatinya.


🍁🍁🍁


Suasana makan malam kali ini terasa kaku karena Kang Dae baru saja kembali dari luar negeri sehari yang lalu, pasalnya, Sora tidak terlalu banyak bicara kali ini, saat ayahnya bertanya hal yang biasa pun tetap saja Sora menjawabnya dengan kaku. Niatan kali ini tidak berjalan sesuai rencana, awalnya Sora ingin mengatakan pada ayahnya bahwa dia akan menikah dengan lelaki yang tidak disukai oleh ayahnya, tapi saat melihat wajah dingin Kang Dae gadis itu mengurungkan niatnya. Dia takut Kang Dae akan murka.


Setelah makan malam Kang Dae masuk kedalam ruang kerjanya seperti biasa, dan itu dia lakukan sampai tengah malam saat akan tidur. Sora melihat Kang Rani sedang membuat teh, yang pastinya untuk suami tercinta, kemudian Sora menahan lengan ibunya saat akan membawa teh itu kedalam ruangan Kang Dae.


“Eomma, biar Sora saja.”


“Kau yakin?” Tanya Kang Rani yang mendapat anggukan mantap dari Sora.


Sora melangkah pelan dan mengetuk pintu kemudian mendapat sahutan dari Kang Dae, saat melangkah masuk pun kaki Sora bergetar karena takut terjadi hal buruk seperti waktu itu. Sora meletakkan teh hangat itu dimeja kerja Kang Dae.


“Dimana Eomma-mu? Kenapa bukan dia yang mengantar?” Tanya Kang Dae yang semakin mengecilkan nyali Sora yang sudah terbangun mantap sejak awal masuk.


“Eomma…”


“Aku disini.” Potong Kang Rani yang segera masuk.


“Appa tahu kau ingin mengatakan sesuatu, itu sebabnya Appa bertanya dimana Eomma-mu karena sepertinya kau sudah mengatakan padanya terlebih dahulu.” Ucap Kang Dae tepat sasaran.


“Eum… itu…”


“Katakan saja, kenapa jadi takut? Apa kau berbuat sesuatu yang buruk?”


“Lalu apa? Katakan”


“Appa… Sora ingin menikah.”


Tidak ada sahutan lanjut dari Kang Dae, dia terlihat berhenti membaca buku bisnisnya melirik Sora yang sudah menunduk dan kembali melanjutkan bacaannya.


“Oh ya? Apa lelaki itu yang mengajakmu menikah?”


“Iya.”


Kang Dae menutup buku dan langsung meletakkan dimeja dengan kasar, suara yang dihasilkan dari buku itu membuat Sora terkejut dan memundurkan langkahnya.


“Sebaiknya kau kembali masuk kekamarmu, lupakan pembahasan ini. Dan berhenti membicarakan tentang dia, Appa tidak suka dengannya.”


“Tapi, Appa bahkan belum pernah bertemu dengannya. Bagaiman bisa Appa tidak menyukainya?” Balas Sora seperti menantang seorang Kang Dae.


“Appa memang belum pernah bertemu dengannya, tapi pengaruh buruknya sudah berdampak padamu.” Kang Dae terlihat sangat emosi sekarang. “Kau mau tahu dampak buruk apa? Yang pertama, kau berani berbohong pada Appa, yang kedua kau kembali berhubungan dengannya saat kau seharusnya menemani adikmu, dan yang terakhir.” Kang Dae mendekat dan berhenti tepat didepan Sora. “Semenjak kau mengenalnya, kau menjadi pembangkang.”


“Tapi Appa, dia tidak seburuk yang Appa kira, dia sangat baik dengan Sora.”


“Baik? Lelaki yang membuatmu menangis itu kau sebut baik? Jika dia baik, dia tidak akan membuatmu menangis.”


“Dia tidak pernah menyaki—“


“Dan kau masih saja membelanya.” Potong Kang Dae sebelum Sora menyelesaikan kalimatnya.


Kang Rani tidak dapat berbuat banyak, dia tidak bisa membela Sora karena pasti Kang Dae akan bertambah marah. Sejak mereka kecil saat Kang Dae menegur anak-anaknya pasti Kang Rani dilarang untuk membelanya, karena itu akan membuat anaknya menjadi manja.


Sora juga tidak dapat melanjutkan kalimatnya, dia seperti kehilangan kata-kata saat Kang Dae mulai menunjukkan emosinya, tapi dia tidak boleh berhenti sampai disini dia harus berjuang karena Yoongi sudah lebih dulu berjuang untuknya.


“Appa… Sora mencintainya.”


Sedetik setelah Sora mengatakan itu, dia mendapatkan tamparan keras dipipinya. Rasa sakit dipipi tidak sebanding dengan rasa sakit didadanya, Kang Dae, ayah yang sangat disayanginya itu menamparnya tanpa rasa kasihan sedikitpun. Sora merasa ada yang hilang didirinya, seorang ayah yang selalu bersikap lembut padanya tiba-tiba saja menapar dengan keras.


“Sekali lagi kau berkata kau mencintainya, silahkan pergi dari rumah ini. Aku tidak punya anak pembangkang sepertimu.”


Sora segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu, entah apa yang ada dipikirannya sampai dia rela keluar dari ruangan itu dan segera menuju pintu rumah. Kang Rani sudah meneriaki namanya berulang kali mencegah anaknya agar tidak pergi dari rumah, sedangkan Han yang sedari tadi dibalik pintu masuk kedalam ruang kerja ayahnya dan menatap ayahnya dengan berani, setelah itu dia keluar dari ruangan itu.


Kaki gadis itu sudah lelah karena berjalan sekitar dua jam dari rumahnya menuju pusat Kota, bodohnya dia yang tidak membawa apapun saat pergi dari rumah termasuk membawa dompet ataupun ponsel, dia tidak bisa menghubungi siapapun atau mendatangi rumah siapapun. Jika dia pergi kerumah salah satu temannya dia tidak sanggup untuk berjalan lagi, ingin memakai telepon umum pun dia tidak punya uang sepeser pun dan yang menjadi pelengkap malam ini adalah dia tidak ingat nomor ponsel  teman-temannya, dia hanya mengingat nomor ponsel ibu, ayah dan adiknya yang tidak akan dihubunginya dalam waktu dekat.


Sora itu juga tidak tahu sudah jam berapa saat ini, dia keluar rumah hanya dengan menggunakan kaos dan celana panjang yang menempel ditubuhnya. Hari juga terasa dingin karena saat ini musim penghujan, dia hanya bisa pasrah untuk hidupnya malam ini. Sora duduk termenung di sebuah halte, menanti hujan mereda sedikit dia akan mencari penginapan murah yang semoga saja bisa dibayar belakangan. Walaupun tidak ada penginapan yang seperti itu, tapi tidak ada salahnya untuk mencoba.


Setelah hujan reda Sora mulai mencari motel yang bisa disinggahinya, tapi sudah dua motel dia datangi kondisinya sudah penuh semua, mungkin efek dari hujan banyak orang yang lebih memilih untuk menginap daripada pulang kerumah.


Akhirnya Sora masuk ke dalam Hotel yang cukup mewah dan bertanya apa bisa dia membayarnya belakangan, Sora mendatangi bagian resepsionis dan bertanya pada salah satu karyawan disitu.


“Permisi, masih adakah kamar tersisa?” Tanya Sora pada staff lelaki yang cukup tampan itu.


Namun yang didapat Sora adalah tatapan seperti merendahkan dirinya, lelaki itu menatap Sora dari ujung rambut hingga ujung kaki, dia juga memperhatikan secara detail pakaian yang dikenakan Sora saat ini. Merasa diperhatikan Sora melihat dirinya sendiri apa ada yang salah dengan pakaiannya, kaos polos putih dengan celana berwarna merah muda tipis berbahan kaos dengan motif Peppa Pig, Sora tidak merasa ada yang salah dengan pakaiannya.


“Maaf Nona, bisa tunjukkan identitasnya?”


“Aku tidak membawa dompet, apakah bisa aku mendapat satu kamar setelahnya aku akan mengurus semuanya. Saat ini aku sedang kesulitan.”


“Maaf Nona tidak bisa, Nona harus menunjukkan identitas diri dan adminstrasi lainnya agar bisa mendapat kamar mewah disini.” Balas staff yang menekankan kata mewah pada Sora seolah gadis itu tidak mampu membayar.


“Apa maksudmu aku tidak bisa membayar kamar mewah disini?”


“Bukan begitu Nona, jika administrasinya tidak dilengkapi anda tidak akan bisa menginap disini. Apalagi Nona tidak bisa membayar secara langsung.”


Sora sudah terlanjur tidak suka dengan staff yang sejak awal meremehkan dia, dari kalimat yang diucapkan oleh staff itu seperti meremehkan Sora hanya dari pakaian yang dia kenakan.


“Bisakah aku bertemu dengan manager Hotel ini? Aku ingin berbicara padanya.”


“Maaf Nona, manager kami sedang tidak ditempat.” Tak lama setelah staff itu mengatakannya, seorang dengan pakaian sangat rapi menghampiri staff tersebut, sepertinya dia sedang mengecek pekerjaan karyawannya.


“Hei pak!” sahut Sora setelah membaca papan nama yang tertera di jas yang dipakai pria itu.


“Ya Nona, ada yang bisa saya bantu?”


Setelahnya Sora langsung mengatakan kepada manager tersebut dengan ketidaksukaannya pada staff yang meremehkannya itu, sedangkan sang manager hanya bisa menahan kemarahan yang berusaha ditahannya demi menjaga keprofesionalan dalam pekerjaannya itu. Manager tersebut berulang kali meminta maaf pada Sora, apalagi saat Sora mengatakan siapa ayahnya dan perusahaan yang dimiliki ayahnya. Hal itu menambah kejengkelan sang manager pada staff yang bertugas karena tidak Sopan terhadap tamu, sebenarnya Sora tidak suka menyombongkan diri dengan mengatakan hal-hal seperti itu, dan ini yang pertama kalinya untuk Sora. Ternyata suasana hati yang sedang tidak baik dan emosi menjadi alasan utama dia berkata yang tidak-tidak pada manager itu.


“Bisakah aku menggunakan telepon itu? Bisakah melakukan panggilan keluar negeri?”


“Silahkan Nona, tentu saja bisa.” Balas sang manager itu.


Sora sedikit melirik jam yang digunakan oleh sang manager, hampir pukul satu pagi Sora berdoa setengah mati semoga saja orang yang akan dihubunginya belum tidur. Saat ini tidak mungkin dia menghubungi keluarga saat dia sedang tidak ingin berhubungan dengan ayahnya.


Sora menunggu panggilan yang terasa membosankan itu, setelah menunggu sekitar tiga puluh detik akhirnya ada yang menjawab panggilannya.


“Halo?”


“Oppa.”


“Sora?”


“Iya ini aku, bisakah kau menolongku? Ada sedikit masalah disini.”


“Apa yang terjadi?” Tanya Yoongi cemas, walaupun tidak terdengar nada cemas sedikitpun.


Sora menjelaskan secara singkat apa yang terjadi, setelahnya dia tersenyum penuh kemenangan saat Yoongi segera menolongnya dan Sora bisa tidur dengan tenang malam ini. Sora juga tidak ambil pusing sanksi apa yang diterima staff tersebut yang sudah meremehkan dia, Sora tidak peduli lagi. Yang penting saat ini dia bisa tidur nyenyak.


Saat baru saja menghempaskan tubuhnya, suara telepon dikamar yang ditempatinya berbunyi nyaring, Sora segera menjawabnya.


“Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Yoongi tanpa basa-basi saat suara Sora sudah terdengar melalui sambungan telepon.


“Appa tidak merestui kita, Appa mengancam karena aku tetap memilihmu dan aku pergi dari rumah.”


“Dan kau pergi tanpa membawa apapun. Kau hebat sekali Sora.” Balas Yoongi ketus dan lebih tertarik dengan aksi kabur Sora daripada menanggapi kenyataan hubungan mereka tidak direstui.


“Maaf Yoongi-ya.”


“Sudahlah, sebaiknya kita bicarakan lagi nanti ini sudah hampir pagi. Jam berapa disana?”


“Dua pagi.”


“Istirahatlah.”


“Iya, kau juga.”


“Hm.”


Yoongi memutuskan sambungan teleponnya, kepalanya sudah pusing saat mengerjakan sebuah lagu, tiba-tiba saja dia mendapat telepon dari Sora, mengatakan hal yang semakin menambah beban pikirannya. Ayah Sora tidak merestui hubungan mereka, sekarang ini dia terlalu pusing untuk memikirkan solusinya, sebaiknya dia juga istirahat agar kepalanya bisa berpikir dengan baik.


Yoongi mengkhawatirkan Sora.


Please Vote & Comment ya guys, walapun ceritanya makin gaje semoga masih tetap menghibur. Terima kasih!!!


Purple U 💜💜💜