
"Oh ya Tuhan, ampuni aku. Tapi tolong berikan aku kesabaran untuk bisa melewati semua ini." Ucap Jane berteriak dengan keras.
"Dengarkan Mama dulu, yang terakhir tapi bukan yang paling akhir. Dia harus mempunyai kesabaran yang panjang untuk bisa menghadapi mulutmu yang selalu bicara dan berteriak itu." Ucap Sang Mama. "Dan itulah kualifikasi yang harus dimiliki oleh calon menantu Mama." Lanjut Sang Mama dengan tersenyum menggoda.
Jane menarik rambutnya sendiri karena rasa frustrasi. Mama nya memang selalu menaruh humor di setiap apa yang dia katakan yang membuat Jane sampai berpikir hal lainnya.
"Apalagi itu? Semalam Mama mengenalkan aku dengan seorang pria. Tapi sekarang Mama mau mencari calon menantu lain lagi." Ucap Jane bicara seperti seorang anak kecil berusia 5 tahun.
"Pria ini adalah keponakan dari teman Mama. Dia bilang, pria itu memiliki sebuah hotel dan dia sangat tampan. Dan sama seperti dirimu, dia belum pernah memiliki kekasih hehehe." Ucap Sang Mama.
"Apakah Mama sangat membenci aku?" Ucap Jane melihat ke arah lainnya dengan raut wajahnya yang tampak begitu sedih.
Sang Mama berhenti bicara dan tidak bisa mengatakan apapun atas reaksi yang ditunjukkan oleh Jane. Kemudian dia berjalan mendekat ke arah Jane.
"Mama minta maaf sayang, ini semua hanya candaan saja. Mama tidak akan memaksamu lagi." Ucap Sang Mama lalu memeluk Jane.
Jane membalas pelukan Sang Mama menangis tanpa mengeluarkan suaranya. Tapi malang bagi Jane, sayangnya senyuman liciknya itu tampak terlihat jelas di jendela oleh Sang Mama.
"Aha! Sekarang kau tahu bagaimana caranya berakting. Mama hampir percaya bahwa kau begitu emosional." Ucap Sang Mama menggelitik Jane sampai dia meminta ampun.
"Cukup Mama... Cukup.... Hahaha.... Aku melakukan hal itu karena Mama terus saja memaksa aku... hahaha.... Mama aku mohon Mama aku bersumpah bahwa aku akan buang air kecil sekarang." Ucap Jane terus bergerak seperti cacing di lantai sekarang.
Seperti itulah akhir dari obrolan mereka berdua. Mereka adalah ibu dan anak yang juga tampak seperti sahabat baik.
"Hmmm.... Kau belum menceritakan kepada Mama tentang liburanmu sayang." Ucap Sang Mama.
Itu sudah hampir 1 bulan berlalu. Tapi apa yang terjadi pada malam itu selalu hadir dalam mimpi Jane. Tapi kali ini dia sudah merasa tidak terluka dan tidak membenci dengan apa yang dia lakukan dalam mimpinya. Dia malah menikmati kejadian malam itu. Suara yang keluar dari mulutnya dan cara dia memegang dan menekan pedang pria itu membuatnya merasa senang.
Jane menggelengkan kepalanya menghapus mimpi bodoh itu. Wajahnya tampak memerah dan dilihat dengan jelas oleh mata Sang Mama yang begitu tajam.
"Hei, kau terlihat seperti sudah berkencan dengan seorang pria." Ucap Sang Mama.
"Mama berhentilah menggodaku." Ucap Jane dan berusaha meninggalkan Sang Mama dari kamar itu.
"Kau sudah berusia 23 tahun sayang. Tapi sampai sekarang kau masih saja bertingkah seperti bayi kecil." Ucap Sang Mama.
"Sama saja seperti diri Mama. Mama baru berusia 46 tahun tapi Mama bertingkah seperti wanita yang sudah berusia 60 tahun untuk menjual satu-satunya Putri Mama ini." Ucap Jane menyeringai.
Sang Mama berdiri namun Jane lebih cepat meninggalkan kamar Mama nya itu. Jane sangat mencintai Mama nya. Dia sangat bersyukur dengan dukungan yang selalu diberikan Sang Mama, cintanya dan juga perhatiannya.
Kenangan tentang Sang Papa memberikan luka di hati Jane. Papa nya itu seorang pria yang sangat penuh cinta dan perhatian. Tapi kehidupan ini sungguh kejam sehingga orang baik begitu mudah dihapuskan dari dunia ini.
Melihat bagaimana dirinya sekarang, Jane bisa mengatakan bahwa dia dengan mudah bisa menikah. Tapi dia hanya ingin kebebasan. Dia tidak mau berdiam diri di rumah atau mengikuti perintah dari suaminya.
Jane memang wanita yang kekanak-kanakan. Tapi saat semuanya berhubungan dengan hal bisnis, dia menjadi jauh lebih bijak. Tapi di balik semua itu, dia masih saja gadis yang nakal.
Dia sering berlari dan tertawa mengejek bersembunyi di dalam taman untuk menghindari Sang Mama saat dia masih belia dulu. Dia selalu pergi ke sana untuk bersembunyi jika dia sudah melakukan suatu hal yang buruk.
Jane membuka pintu belakang dengan perlahan masuk ke dalam rumah. Tapi sesuatu menarik perhatiannya. Dia keluar mendekat ke arah objek itu dan langsung berteriak dengan sangat keras seraya berlari dengan cepat memanggil Mama nya untuk meminta bantuan.
Di lantai dua rumah, Sang Mama tertawa terbahak-bahak memegang sebuah teropong. Reaksi yang ditunjukkan Jane membuat Sang Mama tertawa keras. Itu hanyalah sebuah laba-laba palsu tapi Jane bertingkah seolah dia telah melihat seekor anaconda.
Sang Mama membeku dan berhenti tertawa saat dia melihat Jane berdiri di pintu dengan menangis.
'Apakah dia benar-benar Sangat ketakutan?' tanya Sang Mama dalam hati.
...****************...
Mata Jane tampak berair dia tengah membaca sebuah novel berjudul '90 Hari Mengejar Cinta Suamiku' di aplikasi noveltoon. Dia begitu penasaran dengan kisah itu. Awalnya kisah itu terlihat membosankan baginya. Tapi cerita itu semakin baik dan pada akhirnya dia pun menangis mengasihani pemeran utama dalam novel itu yang bernama Velicia yang berjuang begitu banyak untuk mendapatkan cinta suaminya dan bagian paling menyedihkan adalah pada akhirnya dia meninggal karena penyakit kanker yang dialaminya.
Jane merasa tersentuh dan berpikir apa yang akan dia lakukan jika hal itu terjadi kepadanya. Mungkin dia akan langsung bunuh diri dengan cepat.
Tatapan mata Jane kosong, dia lantas mengingat Mama nya saat Papa nya meninggal. Sang Mama tidak pernah menangis di depannya. Tapi Jane mendengar suara tangisan Mama nya di tengah malam. Tapi Mama nya tidak pernah menunjukkan kelemahannya di depan Jane.
Jane selalu mengagumi Mama nya karena begitu kuat. Jane lalu menutup aplikasi itu dan berpikir begitu dalam. Sekarang dia ingin memiliki hubungan yang serius tanpa ada orang yang memaksanya dan Mama nya juga sudah berhenti membuat kencan buta untuknya.
Di usianya yang ke 24 tahun, Jane bisa mengatakan bahwa dia sudah sukses. Bisnis salonnya berjalan dengan baik dan sudah memiliki dua cabang. Dan kedua cabangnya itu juga sukses besar.
Ini baru saja 1 tahun berlalu, tapi Jane terlihat lebih tua dan hal itulah yang selalu dikomplain kan oleh Mama nya. Sang Mama selalu memaksa dirinya untuk bisa menjaga tubuhnya agar para pria bisa melihatnya masih muda dan tetap bugar. Sang Mama juga memaksa dirinya untuk terus menjaga dirinya sendiri dan bukannya orang lain. Bahkan teman-teman Jane pun meminta dirinya untuk melakukan hal itu.
Jane memang hebat dalam hal ber make up dan menghias kuku untuk orang lain, tapi tidak untuk dirinya sendiri.
Jane menatap pantulan wajahnya di cermin. Dia dengan cepat mengambil alat make up nya dan mulai menaruh make up di wajahnya. Setelah 30 menit kemudian, dia berganti pakaian dan pergi mengemudikan mobilnya. Dia pergi untuk berbelanja, membeli pakaian baru dan juga sepatu baru kemudian makan di sebuah restoran yang ada di dalam mall.
Bersambung...