
Jane tengah berjalan di taman untuk latihan rutinnya.
"Aku takut aku kehilangan kekuatanku yang cukup untuk menjaga dirimu. Aku tidak tahu apapun tentang menjaga seorang bayi." Ucap Jane berbisik seraya menyentuh perutnya yang sudah membuncit itu.
"Jika saja Papa mu tidak berselingkuh dari Mama, mungkin dia akan menjaga dirimu. Dia begitu baik dengan anak-anak kecil, kau tahu? Tapi sayangnya dia tidak akan pernah tahu bahwa kau adalah bayi miliknya. Mama tidak akan membiarkan dia tahu tentang dirimu dan itu hukuman baginya karena sudah membuat Mama terlihat seperti orang bodoh." Ucap Jane lagi dengan rahangnya yang tampak mengeras.
Jane merasa sedih. Mike begitu baik kepadanya saat dia berada di resort waktu itu. Jane hampir percaya bahwa Mike mencintainya. Tapi kenangan saat malam itu mengacaukan semuanya dan itu membuat Jane merasakan rasa sakit yang begitu besar.
Bayi itu menendang di dalam perutnya yang membuatnya merasa nyaman. Jane mencoba untuk menjelaskan semuanya kepada bayinya, tapi air matanya jatuh begitu saja.
"Ini adalah bulan terakhirmu di perut Mama sayang. Mama harap kau akan bersikap baik kepada Mama karena ini adalah pertama kalinya bagi Mama. Bersikap baiklah pada Mama, oke." Bisik Jane dengan penuh cinta.
Setelah Jane mengatakan hal itu dia merasakan sakit di punggungnya. Dia berdiri tapi rasa sakit itu menyebar ke perutnya. Dia berhenti bernafas mencoba meredakan rasa sakit itu sampai rasa sakit itu mulai menghilang. Namun rasa sakit itu kembali lagi. Dia pun berteriak menyebut nama Mike seolah itu bisa membantunya meredakan rasa sakit yang tengah ia rasakan.
Saat itu juga Jane hanya memikirkan tentang Mike yang seolah ada di hadapannya. Jadi dia bisa menendang Mike agar bisa merasakan juga rasa sakit yang dia rasakan saat itu.
Mama nya dan Laura tengah pergi, jadi Jane sekarang hanya sendiri saat ini. Dia lalu menelpon nomor Alexa untuk menemaninya, tapi Alexa tidak bisa dihubungi.
Pikiran Jane menjadi kacau. Rasa sakit itu mendadak pergi dan dia pun merasa mungkin itu hanya normal saja.
Jane sudah bisa kembali ke salonnya. Saat itu baru jam 08.00 pagi, saat Jane memutuskan untuk pergi meninggalkan salonnya.
"Wah sayang, kau menyakiti Mama." Ucap Jane menghela nafas saat rasa sakit itu kembali datang dan semakin terasa menguat.
Jane memegang pintu dengan erat, tapi rasa sakit itu tidak pergi. Malah jauh lebih sakit dibandingkan dengan yang dia rasakan di taman tadi.
...----------------...
"Hei apakah kau baik-baik saja?" Tanya Mike kepada seorang wanita di area parkir.
Mike tengah berkeliling menggunakan mobil sahabatnya saat dia melihat seorang wanita yang membuat dia merasa khawatir saat dia melihat tubuh wanita itu seolah tengah merasakan sakit dan dia menjadi lebih khawatir saat dia melihat ke arah perut wanita itu. Instingnya pun mengatakan kepadanya untuk cepat dan menolong wanita itu.
"Nyonya...!!" Ucap Mike seraya memegang pundak wanita itu.
Tapi dia begitu terkejut saat dia melihat wajah dari wanita itu.
Sementara Jane dengan rasa sakit yang tengah dia rasakan, dia malah ingin tertawa dan juga menangis di saat yang bersamaan saat dia mendengar suara Mike dari belakangnya. Hidup seolah tengah tidak adil kepadanya.
"Mike!" Ucap Jane dengan terkejut.
Tapi rasa sakit kembali padanya, dengan matanya yang melihat ke arah Mike dengan sangat marah kemudian dia mulai memukuli Mike.
"Kau.....!!! Aku merasakan semua kesakitan ini karena dirimu." Teriak Jane dan memukuli pundak Mike.
Mike tampak terkejut melihat ke arah mata Jane yang seolah ingin membunuh dirinya. Tapi sebelum Mike bisa mengatakan apapun...
"Jika saja kau tidak menaruh cairan sialan mu itu di dalam diriku, maka aku tidak akan merasakan semua ini." Teriak Jane lagi seraya memukuli Mike dengan begitu marah dan tidak berpikir dengan apa yang dia katakan.
Rasa sakit itu semakin besar dan Jane tidak bisa menahannya lagi. Rasa sakit itu dan kemarahannya membuat dia semakin histeris.
Mike menebak apa yang sedang terjadi dan dia memaksa Jane untuk masuk ke dalam mobilnya. Mereka pun membuat banyak orang memperhatikan ke arah mereka yang tengah berada di pelataran parkir dan Mike pun tidak mau orang-orang salah menilai Jane.
Hati Mike terasa begitu sedih melihat Jane yang tengah menangis. Tangan Jane menyentuh kemanapun mencoba untuk mengontrol rasa sakit itu, tapi semuanya tidak bisa menolongnya.
"Berhentilah, aku kesakitan." Ucap Jane.
Mike tampak semakin gugup, tapi dia mencoba untuk membuat Jane tenang.
"Tenanglah, Rumah Sakit berada di dekat sini. Kau harus kuat karena kau akan melahirkan bayimu." Ucap Mike.
Wajah Jane pun tampak tenang. Tapi semua itu berubah dengan cepat saat dia kembali mengingat memori yang terjadi malam itu di kepalanya.
"Aku benci kepadamu." Teriak Jane dengan marah. "Kenapa kau ada disini? Tetaplah bersama wanita mu itu. Kau sangat menjijikkan. Ahhhh." Teriak Jane merasakan rasa sakit yang terasa mengoyak tubuhnya.
Semua rasa frustrasi dan kebencian menyatu bahkan rahasia dari bayinya itupun keluar dari mulutnya. Rasa sakit yang dia rasakan membuat dia memberikan dia kekuatan untuk berteriak dan menyalahkan Mike yang sudah menyakitinya. Jane benar-benar penuh keringat yang membuat Mike merasa semakin tidak mudah untuk menghadapi semuanya.
"Kita sudah ada di sini." Ucap Mike saat mereka sudah tiba di rumah sakit.
Mike tampak begitu gugup dan rasa sakit di wajah Jane membuat dia begitu ketakutan.
Mike memarkirkan mobilnya dan berteriak kepada para penjaga untuk memanggil bantuan. Dia turun dari dalam mobil dan berlari ke sisi Jane dan membuka pintu.
"Jane..." Ucap Mike.
Dia terlihat begitu ketakutan melihat Jane yang tampak menutup matanya dan begitu berkeringat. Jane tiba-tiba langsung memegang pundak Mike dengan begitu kuat.
"Bayinya sudah mau keluar." Teriak Jane.
Mike berteriak dengan sangat keras mencoba meminta bantuan, tapi sudah terlambat. Jane sudah siap untuk melahirkan. Rasa pemaksaan yang ada di dalam perutnya meminta Jane untuk mendorong dengan kuat. Jane pun menjulurkan kakinya ke arah luar mobil kemudian dia memegang Mike dengan sangat erat memaksa Mike untuk ikut merasakan rasa sakitnya.
"Ah!" Teriak Jane.
Mike menggigit bibirnya untuk mengontrol rasa sakit di pundaknya bekas pegangan tangan Jane. Tapi air tampak mengenai di wajahnya yang membuat dia terkejut. Dia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi.
Jane berteriak dan menendang perut Mike kemudian kaki Jane mendarat di kaki Mike menaruh semua dorongan yang dia punya seraya memegang pundak Mike dengan erat dan menaruh kakinya di kaki Mike. Dia mendorong dengan kuat sampai bayinya pun keluar.
Mike masih begitu terkejut saat seseorang menarik tangan Jane dan mengambil bayi itu dari tangannya. Mike tidak peduli tentang darah yang ada di seluruh pakaiannya karena memegang bayi itu, begitu pula dengan rasa sakit bekas kuku Jane di pundaknya dan juga rasa sakit di kakinya.
"Apakah dia baru saja mengatakan bahwa itu adalah bayiku?" Tanya Mike dengan tampang begitu terlihat bodoh
"Tuan, tolong ikut dengan kami." Ucap seorang perawat kepada Mike.
Mike lalu melangkah untuk pergi mengikuti perawat itu. Tapi ponsel Jane berdering yang menarik perhatiannya.
Itu adalah sebuah panggilan telepon dari Jonathan.
"Halo..." Ucap Mike dengan tenang.
"Hai siapa ini?" Tanya Jonathan dari seberang telepon.
Mike langsung mengatakan kepada Jonathan apa yang terjadi kepada Jane dan memberikan alamat rumah sakit itu.
"Terima kasih karena bantuan mu, tapi aku mau bertanya lagi. Siapa kau?" Tanya Jonathan.
"Mike." Jawab Mike dan langsung menutup sambungan telepon.
Mike lalu mengeluarkan ponselnya dan meminta Brandon sahabatnya untuk datang menemani dia di rumah sakit. Brandon yang ditelepon oleh Mike tampak bingung, namun dia dengan cepat untuk pergi menemui Mike.
Mike tidak bisa bertanya kepada Jane tentang apa yang sudah terjadi karena dia takut bahwa Jane bisa saja kehilangan kontrol atas dirinya lagi. Mike berpikir bahwa jika apa yang dikatakan Jane adalah benar, maka bayi kecil yang ada di tangannya tadi itu adalah putranya. Mike melompat penuh kebahagiaan dan menunggu kedatangan Brandon untuk membagikan berita baik itu.
Sementara Jonathan tadinya menelepon Jane untuk mengabarkan bahwa Alexa tengah ada pekerjaan penting yang mendadak di luar kota. Dimana disana tidak ada sinyal, dan meminta Jonathan untuk mengabarkan hal itu kepada Jane.
Jonathan yang mengetahui bahwa Jane sudah melahirkan pun bergegas pergi ke rumah sakit untuk menemui Jane dan berharap dia bisa dengan segera memberitahukan kabar bahagia itu kepada Alexa juga.
Bersambung.....