
Alamat itu menunjukkan resort yang sama dan juga kamar yang sama yang Jane tempati tahun lalu. Dia kembali menelpon Sang Mama untuk memastikan alamatnya dan berharap bahwa semuanya salah. Tapi jawaban Sang Mama malah semakin mengkonfirmasi semuanya dan alamat itu ternyata memang alamat yang benar menunjukan resort yang sama.
Jane begitu panik. Dia mulai menggigit kukunya lagi dan berjalan mondar-mandir. Bahkan membutuhkan waktu 1 jam untuk membuat dirinya bisa tenang. Jane berpikir bagaimana jika nantinya dia akan bertemu dengan pria itu di sana?
Jane pun mencoba untuk bernapas dan terus bernapas dengan tenang. Kemudian dia mencoba untuk berpikir bahwa pria itu hanyalah seorang pengunjung di resort itu sama seperti dirinya.
"Ah hentikan semuanya. Jangan ganggu aku." Ucap Jane menggelengkan kepalanya, mencoba untuk melupakan momen panas yang dia jalani bersama pria asing itu.
Jane pun kembali berpikir, apakah pria itu juga memikirkan dirinya sama seperti yang dia lakukan. Rasa penasaran pun mulai memenuhi pikirannya.
Tiba-tiba Jane merasa ingin makan roti panggang yang diberi bumbu bawang putih. Dia benar-benar sangat menginginkannya. Dia pun menelpon sahabatnya untuk membelikan dia roti itu dan meminta untuk mengantarkan roti itu ke rumahnya.
Alexa sahabatnya itu komplain tapi Jane terus bicara manis yang bahkan iblis pun tidak bisa menolaknya.
"Ku mohon Alexa, aku sangat menginginkan roti itu. Aku janji bahwa kau bisa menikmati treatment di salonku gratis selama satu bulan." Ucap Jane.
"Yang benar?" Tanya Alexa.
"Sumpah demi Mama ku." Balas Jane. "Bahkan aku sendiri yang akan mengecat kuku mu dengan sangat cantik. Kau boleh memilih warna dan model apapun yang kau inginkan. Ayolah Alexa sahabatku yang paling cantik, baik, seksi, dan begitu penolong." Goda Jane.
"Baiklah... Baiklah... Kau tunggu saja disana. Aku akan segera datang." Ucap Alexa.
Jane pun melompat kegirangan. Dia lalu pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya dan menyikat giginya. Dia begitu tidak sabar menunggu kedatangan Alexa membawakan roti itu untuknya. Air liurnya bahkan bisa menetes saat dia memikirkan tentang roti itu yang gurih itu. Dia sendiri tidak tahu kenapa, padahal biasanya dia lebih menyukai sesuatu yang manis.
Setelah 30 menit, Alexa pun tiba membawa roti dengan bumbu bawang putih pesanan Jane. Jane pun mengambil roti itu dan mulai memakannya begitu lahap seolah tidak ada lagi hari esok.
Alexa begitu terkejut melihat nafsu makan Jane. Dia tidak pernah melihat Jane yang makan sesuatu seperti orang yang sangat kelaparan. Alexa pun tahu bahwa Jane lebih suka kudapan yang manis dan bukannya gurih seperti yang dia pesankan saat ini.
Alexa pun tiba-tiba memikirkan suatu kemungkinan yang terjadi pada Jane. Dia pun memutuskan untuk bertanya pada Jane tentang kecurigaannya itu.
"Jane, apakah kau itu tengah hamil?" Tanya Alexa sedikit ragu.
Mendengar Alexa mengatakan hal itu Jane pun hampir saja tersedak roti yang ia makan. Sorot mata nya terus menetap ke arah Alexa, seolah dia tengah melihat sesosok monster.
"Apa aku benar?" Tanya Alexa lagi.
"Oh ya Tuhan." Ucap Jane dia berlari dan mengambil sapu tangannya.
Dia perlahan duduk di lantai dan mulai terdengar terisak.
"Aku lupa bahwa aku ternyata sudah terlambat datang bulan selama 2 minggu ini." Ucap Jane yang mulai menangis dengan keras.
Alexa memeluk Jane dan berusaha meyakinkan Jane bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dia mengatakan kepada Jane bahwa Jane harus bahagia karena akan memiliki seorang bayi karena hal itu adalah sebuah anugerah yang diberikan Tuhan kepada Jane.
Setelah meratapi semuanya beberapa saat, Jane pun mengajak Alexa pergi keluar rumah untuk membeli tes kehamilan.
Satu jam berikutnya, Jane pun melakukan tes kehamilan setelah kembali dari apotik. Dia membeli tiga jenis tes kehamilan yamg berbeda dan langsung menggunakan ketiga-tiganya. Dan hasil dari tes itu semakin mengejutkan dirinya dan juga Alexa.
"Alexa, aku benar-benar wanita yang tidak beruntung. Padahal itu hanya satu kali saja. Lalu kenapa ini semua bisa terjadi? Aku akan pergi ke klinik besok, hal ini tentu akan membuat Mamaku merasa sangat malu." Ucap Jane dengan begitu gugup.
Jane bermaksud untuk pergi mengaborsi kandungannya di klinik tempat dia membeli tes kehamilan itu.
"Apa? Apa kau sudah gila? Tidakkah kau berpikir bahwa itu adalah sebuah anugerah dari Tuhan? Banyak wanita diluar sana yang menginginkan anak, tapi Tuhan belum kunjung memberikan mereka anak. Kau di pilih untuk menerima anugerah ini dan kau mau membuangnya begitu saja?" Ucap Alexa tidak percaya dengan keputusan yang ingin diambil Jane.
"Bagaimana jika kau yang mengalami hal ini?" Ucap Jane dengan masih terisak.
"Aku tentu akan bersyukur dan aku akan berusaha untuk mencari ayah dari anak yang aku kandung itu." Balas Alexa.
"Bagaimana jika pria itu tidak mau bertanggung jawab?" Tanya Jane lagi.
"Jane, sekarang kau tidak perlu khawatir tentang pernikahan dengan pria itu. Kau sudah mempunyai bayi yang bisa kau jaga. Berhentilah memikirkan tentang aborsi itu." Ucap Alexa memegang tangan Jane dan mengusap kepalanya.
"Aku tidak tahu Alexa. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa yang akan terjadi nantinya? Orang-orang pasti akan membully aku dan juga anakku karena dia tidak mempunyai seorang ayah." Ucap Jane mulai kembali menangis dengan keras.
"Jane... Selama kau mencintai anak-anakmu. Tidak akan ada orang yang akan membully anak mu itu, karena orang-orang nantinya akan selalu melihat cinta dan kasih sayang yang kau berikan pada anakmu dan hal itulah yang akan memberikan kekuatan pada anakmu untuk melanjutkan hidupnya. Cintamu akan menjadi senjata bagi anakmu untuk bertahan dalam kejamnya dunia ini. Apa yang terjadi sudah menjadi takdir dari Tuhan yang harus kau jalani. Kau melakukan perbuatan itu saja sudah merupakan kesalahan di mata Tuhan. Jangan tambah lagi kesalahan mu dengan membunuh bayi mu yang tak berdosa itu." Ucap Alexa seraya memeluk Jane dengan sangat erat.
Jane pun membalas pelukan Alexa dengan begitu erat dan menangis seperti seorang anak kecil. Dia memang takut, tapi dia akan mencoba untuk membuat bayinya itu selamat sampai akhirnya lahir ke dunia.
Bersambung.....