
"Selamat datang di resort flower Nyonya. Ini adalah kunci dari kamar anda, kamar nomor 16. Jika anda membutuhkan sesuatu Nyonya, tolong jangan ragu untuk menelpon nomor kami yang tertulis di meja dekat telepon di kamar anda. Selamat bersenang-senang, dan semoga hari anda menyenangkan." Ucap seorang resepsionis saat menyambut Mama Jane dengan ceria yang membuat Mama Jane merasa senang.
"Terima kasih banyak." Balas Mama Jane dan meminta pelayan untuk membantu dirinya pergi ke kamar miliknya.
Mama Jane akhirnya memutuskan untuk bepergian seorang diri untuk menjernihkan pikirannya. Terlihat kekanakan mungkin, tapi dia merasa frustrasi karena tidak memiliki seorang cucu. Di rumahnya terasa begitu sunyi sejak suaminya meninggal dan putrinya Jane, pindah dari rumah itu.
"Tunggu dulu." Ucap Mama Jane memanggil pelayan yang membawa tas miliknya itu, saat dia melihat seorang pria muda tampan dengan tubuh yang juga tampak begitu sempurna berjalan melewati mereka berdua.
Pelayan itu pun berhenti melangkah dan berbalik menatap ke arah Mama Jane.
"Siapa dia?" Tanya Mama Jane yang tidak memperdulikan jika pelayan laki-laki itu akan berpikir bahwa dia tertarik kepada seorang pria muda.
"Itu adalah pemilik dari Resort Ini Nyonya." Ucap pelayan itu dengan sopan.
"Apakah dia masih lajang?" Tanya Mama Jane lagi.
"Iya Nyonya." Balas pelayan itu mulai merasa kesal.
"Berapa usianya?" Tanya Mama Jane lagi tersenyum untuk mendengar jawaban pelayan itu.
"Mungkin 25 Nyonya. Kenapa anda terus bertanya Nyonya? Apakah anda menyukai dia? Tapi sayangnya dia tidak terlalu tertarik dengan wanita, terutama yang berusia lebih tua darinya." Ucap pelayan itu kepada Mama Jane agar Mama Jane berhenti bertanya lagi kepadanya.
"Wah, itu ucapan yang sangat menyakitkan." Balas Mama Jane berpura-pura batuk dan tertawa lembut. "Aku tidak mencari pria untuk diriku sendiri. Kau tahu, aku punya seorang putri. Tapi dia sepertinya tidak memiliki mau memiliki seorang kekasih. Jadi aku ingin mencarikan pria yang cocok untuknya." Ucap Mama Jane dengan wajah yang tampak terluka dan juga sedih, memikirkan Jane yang tak kunjung mau menikah.
"Aha! Jika seperti itu kasusnya Nyonya, Tuan itu sangat baik. Saya sudah dengar bahwa dia tidak pernah memiliki seorang kekasih sebelumnya. Tapi Papa nya lah yang mempunyai seorang kekasih yang usianya sangat muda sama seperti usia Tuan kami itu." Ucap pelayan itu dengan bahagia dan mulai mengatakan banyak hal tentang Bos nya itu kepada Mama Jane.
"Benarkah? Berarti mereka pasangan yang serasi." Ucap Mama Jane menganggukkan kepalanya dengan banyak pikiran yang ada di dalam kepalanya.
Mama Jani dan pelayan itu akhirnya sampai di kamar nomor 16 dan tak lupa Mama Jane berterima kasih kepada pelayan itu karena sudah membantunya dan juga memberikan beberapa uang tips sebagai tanda terima kasihnya.
Mama Jane terpesona dengan desain dari Resort itu yang tampak cukup simpel tapi penuh kehangatan dan dapat membuat orang merasa begitu tenang dan santai. Mama Jane lalu menaruh barang-barangnya dan menghirup udara segar dari luar. Dia sangat berharap bahwa dia bisa berada di sana bersama dengan putrinya. Kemudian sebuah senyuman nakal muncul di bibirnya.
"Putriku sayang.... Bagaimana kabarmu? Datanglah kemari dan temani Mama disini menikmati pemandangan ini bersama." Ucap Mama Jane saat Jane menjawab panggilan telepon darinya itu.
"Tapi Ma, aku masih sibuk." Ucap Jane yang terdengar begitu mengantuk dan dia masih ingin tidur lagi.
Jane memang masih berada diatas tempat tidurnya dan dia baru saja terbangun setelah mendengar suara ponselnya itu yang terus saja berdering.
"Jane Andara putri dari James Andara. Apa kau mau menghindari Mama terus selama satu bulan? Sekarang Mama mau kau datang kemari atau Mama akan menutup salon mu selama lima bulan. Itu akan lebih dari lima bulan jika kau terus saja mau menghindar dari Mama. Tidakkah kau merindukan Mama sama sekali?" Ucap Sang Mama menakuti Jane dengan suara dominannya itu.
"Baiklah Mama." Ucap Jane menghentakkan kakinya di lantai dan dia mulai menggigit kukunya.
Perilakunya yang seperti itu selalu terjadi jika dia mendengar suara Mama nya yang terdengar marah seperti itu. Jane bahkan tidak bisa mendengar jika suara Mama nya itu membentaknya dengan serius karena seolah bisa membuat dia kehilangan nafasnya.
Jane lalu menatap ke arah ponselnya dia terus bergumam dengan bibirnya yang terus bergumam panjang.
"Cepatlah datang atau jika tidak... kau tahu sendiri apa yang bisa Mama lakukan kepadamu." Teriak Sang Mama yang membuat Jane langsung otomatis tersenyum.
"Baiklah Ma." Balas Jane lalu mengambil sebuah pena. "Berikan aku alamat dari tempat itu. Tapi aku akan datang minggu depan. Aku akan pergi kesana bersama Laura." Ucap Jane dengan putus asa.
"Itu akan jauh lebih baik daripada kau terus berkata tidak." Balas Sang Mama dengan mengangkat tangannya di udara dan menari seperti dia sudah memenangkan sebuah lotre.
"Kirimkan saja aku alamatnya Ma." Ucap Jane kemudian dia hendak menutup sambungan telepon itu.
"Tunggu saja." Ucap Sang Mama kemudian dengan cepat mengambil kartu dari resort itu dan mengambil fotonya kemudian mengirimnya kepada Jane.
Jane menatap alamat yang dikirimkan oleh Mamanya itu dengan mata yang tampak membelalak sempurna. Kemudian Jane kembali menutupnya dan membuka matanya lagi. Berpikir bahwa dia salah melihat dan membaca alamat itu. Tapi saat dia membaca alamat itu lagi, kenyataannya alamat itu tidak berubah sama sekali.
"Bagaimana ini mungkin bisa terjadi?" Ucap Jane yang tampak begitu bingung.
Bersambung....