
Jane merasa begitu gugup saat ingin bicara kepada Mama nya. Tapi dia tidak punya keberanian untuk memulai obrolan mereka. Jane berpikir apakah Mama nya akan mengerti tentang keadaannya? Apakah Mama nya akan menerima situasi yang terjadi kepadanya? Apakah Mama nya akan memaafkan dia?
Semua pertanyaan itu terus mengganggu pikiran Jane. Dia sudah berada di dalam kamar berdiri di samping jendela selama hampir lebih dari satu jam. Tapi dia tetap saja takut untuk bicara. Sementara Mama nya tampak sibuk dengan ponselnya. Jane sendiri bisa merasakan bahwa Mama nya sepertinya mengetahui bahwa dia memiliki sesuatu yang mengganggu pikirannya. Tapi Mama nya hanya menemaninya duduk dalam diam saja
"Apakah kau baik-baik saja sayang? Kau terlihat banyak pikiran." Tanya Sang Mama lalu menutup ponselnya.
"Aku baik-baik saja Ma. Hanya sedang menikmati keindahan taman saja." Balas Jane dengan cepat.
"Kenapa kau tidak keluar dan berjalan-jalan di tepi pantai saja." Ucap Sang Mama.
"Tidak apa-apa Ma, aku baik-baik saja di sini. Jangan khawatir, aku akan keluar besok saja. Sekarang sangat dingin di luar sana." Ucap Jane kepada Sang Mama.
"Baiklah jika kau tidak mau keluar. Mama akan pergi sendiri kalau begitu." Ucap Sang Mama dan mengambil sandalnya kemudian hendak keluar.
Sementara Jane tampak frustrasi menghela nafas dan duduk. Dia masih merasa begitu stress memikirkan tentang bagaimana dia bisa mengatakan hal itu kepada Mama nya. Setelah beberapa saat, dia bangun dan membuat susu untuk menenangkan dirinya sendiri.
Cuacanya begitu dingin di luar. Mama Jane menutup pundaknya dengan sebuah syal dan melanjutkan perjalanannya sampai dia melihat lampu tumbler dari taman kecil. Setiap cahaya nya tampak berbeda dan beraksi bersama mengambil perhatian Mama Jane untuk mendekat.
"Hai, kau benar-benar seksi dan cantik. Maukah kau bergabung bersamaku di dalam kamarku malam ini? Sendirian itu sangat menyedihkan." Ucap seorang pria tinggi dan tampan kepada seorang wanita yang mengenakan tank top berwarna pink.
Mama Jane tidak bisa melihat wajah dari wanita itu karena wajah wanita itu tertutup dedaunan dari sebuah pohon yang dijadikan sebagai dekorasi itu.
"Tentu saja, aku bebas malam ini." Ucap wanita itu tersenyum menggoda.
"Wow itu sangat hebat. Jadi bisakah kita pergi sekarang gadis manis ku?" Ucap pria itu merasa bergairah.
"Hemmm.... Lebih baik kau pergi lebih dulu karena tempat ini sedikit kurang modern. Akan menjadi pembicaraan orang-orang di kota jika mereka melihat seorang wanita pergi ke kamar tamu." Ucap wanita itu bicara dengan sangat pelan.
Wanita yang tidak lain adalah Rossa itu tengah sangat marah sehingga dia ingin meredakan amarahnya.
"Baiklah kalau begitu pergilah ke kamar nomor 58. Aku tidak akan mengunci pintu. Jadi kau bisa masuk." Ucap pria itu mengedipkan mata kepada Rossa kemudian pergi.
Mama Jane yang mendengar hal itu tertawa kecil dan pergi dari sana. Sudah tidak ada lagi hal yang sesuai dengan norma di hari seperti ini. Para orang dewasa itu mungkin akan melakukan hal yang panas malam ini.
Mama Jane kemudian berjalan sampai dia tiba di tepi pantai. Pasir terasa geli di telapak kakinya. Dia pun lalu memutuskan untu duduk di tepi pantai.
Kesunyian selalu datang menghantui Mama Jane saat dia setengah sendirian. Sangat sulit baginya, tapi dia berjuang keras melawan kesedihan yang ada di dalam dirinya. Merasa sendirian itu tidak mudah dan itu membutuhkan banyak keberanian untuk menghilangkan memori yang akan membuat dia merindukan suaminya lagi.
Dengan bertahan adalah caranya untuk berjuang dari kesedihannya. Tapi malam selalu ada mengingatkan dirinya. Itulah kenapa dia berharap bahwa putrinya bisa memiliki anak. Jadi dia bisa menjaga cucunya agar dia tidak kesepian lagi.
Mama Jane terus menatap ke arah lautan yang terlihat jelas oleh cahaya rembulan.
"Tuan apakah anda sudah melihat wanita yang rambutnya sudah sedikit beruban itu? Aku rasa dia menyukai Tuan, karena saat aku mengantarnya ke kamarnya dia terus menatap Tuan dan melihat ke arah Tuan untuk waktu yang lama. Dia juga bertanya banyak hal tentang Tuan." Ucap seorang pelayan kepada Mike dengan tatapan mata yang nakal.
"Benarkah?" Tanya Mike dengan begitu penasaran.
"Percayalah padaku Tuan. Aku bersumpah demi apapun hehehe." Ucap pria itu yang membuat Mike tertawa.
"Dia mau aku untuk bertemu dengan putrinya yang sudah ada di sini." Ucap Mike.
"Kenapa kau terlihat begitu terkejut?" Tanya Mike.
"Ah eh... aku berjanji kepadanya bahwa aku akan membantu dia untuk memperkenalkan putrinya kepada Tuan." Ucap pelayan itu mengusap kepalanya.
"Oh, jangan khawatir. Aku sudah bertemu dengannya dan dia juga mengenal Papa. Mereka selalu terlihat di restoran. Satu hari nanti, kami pasti akan bertemu." Ucap Mike.
"Baiklah. Semoga beruntung Tuan." Ucap pelayan itu kemudian berlari dengan cepat.
Mike masuk ke dalam ruangannya dan memutar musik yang terdengar begitu romantis. Mike mengingat setiap momen malam itu. Bagaimana wajah wanita itu, bagaimana manisnya dia. Mike merasa bersalah atas rasa sakit yang dia berikan kepada wanita itu.
Wajah wanita itu sederhana, tapi Mike begitu tertarik kepadanya. Ada sesuatu yang tidak bisa membuat Mike merasa cukup akan wanita itu. Mike pun menghela nafas dan menghentikan musik yang dia putar di ruangannya dan dia pun mulai bekerja.
...****************...
Sekarang sudah larut malam dan hanya ada beberapa orang di luar. Ada berapa pasangan kekasih penuh cinta yang tengah membagi hasrat mereka satu sama lain. Mama Jane merasa kasihan dan berharap bahwa putrinya akan menemukan seorang pria yang penuh cinta dan peduli kepadanya.
Jane adalah satu-satunya putri darinya dan Mama Jane berharap bahwa Jane tidak akan patah hati. Mama Jane pun berdiri dan mulai berjalan ke arah kamarnya, saat dia melihat seorang wanita yang mengendap-endap keluar dari kamar 58. Wanita itu tampak memegang sandalnya kemudian mengenakannya saat dia sudah lima langkah jauh dari depan pintu kamar itu.
Mama Jane berbelok dan membuang kaleng minuman bersoda di tong sampah. Tapi Mama Jane hampir saja terkena serangan jantung saat wajah dari wanita itu tampak jelas. Mama Jane mencoba bersembunyi dengan detak jantungnya yang begitu cepat saat wanita itu melewati dirinya dengan berlari tanpa melihat sisi lainnya. Kemudian Mama Jane menabrak seseorang, dan dia pun meminta maaf saat seorang pria dari kamar 58 mulai bicara.
"Tidak apa-apa Nyonya. Aku tidak terluka." Ucap pria itu. "Aku hanya ingin bertanya apakah kau pernah melihat seorang wanita cantik dengan tank top warna pink? Aku lupa untuk bertanya siapa namanya..."
"Apakah dia kekasihmu?" Tanya Mama Jane pura-pura.
"Tidak Nyonya. Aku baru saja bertemu dengannya malam ini. Tapi kami memiliki waktu yang hebat bersama tadi. Aku Sangat menyesal karena aku lupa untuk menanyakan namanya atau nomor ponselnya. Aku tengah mandi saat dia keluar." Ucap pria itu.
"Aku mengerti." Balas Mama Jane.
"Apakah kau pernah melihat wanita manapun yang mengenakan tank top berwarna pink malam ini Nyonya?" Tanya pria itu lagi dengan penuh harap kepada Mama Jane.
"Aku tidak tahu, tapi mungkin namanya adalah Rossa. Permisi tapi aku harus pergi." Ucap Mama Jane.
Mama Jane masih begitu terkejut. Dia berjalan cepat dan langsung menuju ke arah dapur untuk membuat kopi. Mungkin di kasus yang lain, Mama Jane tidak akan peduli jika Rossa berkencan dengan pria lain. Tapi ini berbeda, kekasih Rossa adalah orang yang baik dan penyayang. Tidak perlu menyebutkan apapun, dia adalah orang yang penuh cinta untuk terhadap Rossa.
Mama Jane berpikir apakah dia akan mengatakan semuanya kepada Papa Mike tentang apa yang baru saja dia lihat. Apakah Papa Mike akan mempercayainya? Semuanya membuat Mama Jane merasa begitu bingung. Mama Jane pun merasa begitu stres.
Mama Jane selesai minum kopi lalu mencuci cangkir kopi itu dan langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah mengeringkan rambutnya, Mama Jane pergi ke tempat tidur di samping Jane dan mencium kepala Jane. Putrinya itu terlihat tidur sangat nyenyak. Tapi di sana ada tanda dari kelelahan di wajahnya. Mama Jane memeluk Jane dan berbaring untuk tidur.
Sekarang sudah jam 03.00 pagi. Tapi pria dari kamar nomor 58 itu masih bangun membayangkan apa yang baru saja terjadi. Dia melihat dirinya sendiri di cermin dan tubuhnya bereaksi melihat ke arah ya tanda merah yang ada di tubuhnya yang ditinggalkan oleh wanita itu.
Dia terus memukuli kepalanya karena rasa frustrasi. Dia merasa begitu menyesal. Dia ingin wanita itu sepanjang malam bersamanya. Tapi wanita itu kabur. Bibir seksi wanita itu masih terasa membakar di tubuhnya. Merasa frustrasi dengan rasa itu, pria itu pun memutuskan untuk mandi air dingin lagi.
Bersambung...