
"Jane, Mama memiliki rencana untuk pergi berlibur di musim panas ini, hanya kau dan Mama. Ini sudah sangat lama sejak kita pergi bersama dan Mama merindukan masa-masa itu. Mama pernah membaca tentang sebuah resort yang ada di kota sebelah, pemandangannya sangat indah." Ucap Mama Jane mengatakan hal itu kepada Jane via telepon.
Jane tengah berada di rumahnya. Dia memiliki rumahnya sendiri, di mana karena itulah kenapa Sang Mama selalu menelpon dirinya untuk memeriksa dan sekedar menanyakan kabar dirinya.
"Ma, maaf tapi aku tidak bisa. Kami memiliki banyak pelanggan beberapa hari ini. Aku harus membantu para karyawan ku. Seperti yang Mama tahu, ada banyak para wanita yang datang kemari dan perlu kami urus." Balas Jane memikirkan alibi lain jadi Mama nya tidak akan menyadari rasa gugup dari suaranya itu.
Jane merasa bersalah karena menghindari apa yang diinginkan Mama nya. Dia menyentuh lehernya dan merasa bersyukur bahwa tanda merah yang ada di lehernya sudah pudar setelah beberapa hari dia terus menutupnya dengan make up.
"Mama merasa kesepian, kau tidak punya waktu untuk Mama lagi." Ucap Sang Mama dengan suara yang seolah menangis.
Mama Jane bertingkah begitu menyedihkan untuk mendapatkan simpati dari putrinya itu.
"Mama tolong berhenti lah bersikap berlebihan seperti itu. Aku tahu bahwa Mama begitu senang di sana. Aku dengar bahwa Mama selalu sibuk untuk keluar bersama teman-teman Mama dan juga sibuk dengan kegiatan Mama." Ucap Jane memotong drama yang dilakukan oleh Mama nya itu.
"Hmmmppp.... Mama tidak bisa berdebat lagi denganmu. Kau selalu mempunyai alasan untuk kau katakan. Ngomong-ngomong apakah kau sudah punya seorang kekasih? Permintaanmu sudah tidak berlaku lagi. Jika kau tidak menghadirkan seorang kekasih pada bulan ini, Mama akan mulai mencarikan kekasih untukmu lagi." Ancam Sang Mama.
"Mama hentikan! Aku sudah cukup tua untuk hal itu. Ada banyak hal penting yang harus aku lakukan dibandingkan dengan memikirkan laki-laki Ma." Ucap Jane memegang kepalanya yang tiba-tiba sakit karena rasa kesalnya.
Sang Mama dengan mudah membuat dia merasa sakit kepala hanya dengan mengatakan tentang memiliki kekasih.
"Oke baiklah. Mungkin Mama akan datang besok untuk mengunjungimu." Ucap Sang Mama tapi Jane kembali menolak.
"Ah Mama, Alexa mengatakan bahwa aku akan pergi dengannya untuk ke sebuah pesta. Aku tidak akan pulang cepat. Kenapa Mama tidak datang minggu depan saja?" Ucap Jane begitu gugup berharap bahwa Mama nya akan setuju.
Jane tidak mau jika Sang Mama sampai melihat tanda merah di lehernya itu.
"Mama mengerti. Kalau begitu, Mama akan datang minggu depan. Mama akan pergi ke sana sekalian liburan bersama dengan Laura." Ucap Sang Mama.
Laura adalah pelayan mereka dan satu-satunya orang yang menemani Mama Jane di rumah utama mereka.
Sang Mama menjadi begitu emosional di telepon. Dia merasa menyesal karena dia hanya memiliki satu orang putri. Dulu dia begitu takut untuk bisa hamil lagi setelah memiliki bekas luka di perutnya. Mungkin saja jika dia memiliki lebih dari satu anak, dia tidak akan sendirian. Tapi sekarang, dia hanya berharap bahwa dia nanti akan memiliki cucu kali ini.
Penyesalan memang selalu datang terlambat. Mama Jane lalu menutup sambungan telepon dan menatap ke arah luar jendela rumah.
"Kau begitu tidak adil sayang karena kau meninggalkan aku terlalu cepat. Lihatlah putrimu... Dia itu sangat keras kepala sama seperti dirimu. Kau mengajari dia bagaimana caranya menjadi gadis yang mandiri dan sekarang aku tidak bisa melakukan apa yang aku inginkan dengannya. Tapi dibandingkan semua itu, aku bangga kepada pencapaiannya. Mimpinya menjadi nyata dengan kesuksesan yang dia dapatkan. Sekarang aku hanya berharap, sebelum lutut ku sakit dan aku tidak bisa berdiri lagi, aku bisa melihat cucuku. Doakan kami cintaku, jadilah malaikat kami." Ucap Mama Jane menatap ke arah luar.
Jane menatap layar ponselnya. Kesunyian kembali terasa dalam hatinya. Dia merasa bersalah karena sudah membohongi Sang Mama. Dia juga merasa kasihan kepada Mama nya karena kehilangan Sang Papa dengan begitu cepat. Hal itu sama-sama membuat luka di hati mereka berdua. Kesunyian selalu ada di dalam hati Jane. Kapanpun dia pulang ke rumah, kenangan tentang Papa nya selalu ada di sana.
Ada banyak tawa dan memori bahagia dari masa kecilnya. Dia adalah gadis kecil Papa nya. Dia gadis yang selalu dimanjakan oleh Papa nya. Jane tidak bisa menahan kesunyian dan kesedihan yang dia rasakan. Jadi dia pun memutuskan untuk pindah dan membeli rumahnya sendiri.
Mungkin dia begitu kekanakan, tapi itulah salah satu cara untuk kabur dari kenyataan bahwa Papa nya sudah meninggal dunia. Air matanya terjatuh saat mengingat bagaimana Papa nya yang penuh kasih sayang itu.
"Aku minta maaf Pa, karena aku sudah mengecewakan Papa. Aku sudah kehilangan hal itu, hadiah paling berharga yang seharusnya aku berikan kepada suamiku, sekarang itu sudah hilang. Aku mungkin mabuk saat itu, tapi jujur saja aku tidak menyesalinya." Ucap Jane tertawa lembut. "Dan kali ini adalah untuk kedua kalinya aku bertemu dengannya Pa. Dia terlihat begitu tampan sama seperti Papa. Aku takut bahwa dia tidak akan menyukai aku. Itulah alasan kenapa aku berlari hari itu." Ucap Jane dan kemudian mulai menangis.
Jane tidak pernah berpikir bahwa dia akan berakhir seperti ini. Dia mempunyai sebuah mimpi bahwa dia akan memberikan dirinya sendiri kepada seorang pria yang akan dia nikahi. Hal itu akan dia berikan kepada suaminya karena sejujurnya, dia bukanlah seperti wanita lainnya yang kebanyakan dari mereka bisa dengan mudah memberikan hal itu kepada pria yang mereka cintai. Tapi apa yang terjadi sekarang, Jane malah sudah memberikan hal itu kepada pria yang sama sekali tidak dia kenal itu.
Dia tidak membenci pria itu, tapi dia tidak mau terikat dengan begitu cepat. Dia baru saja mulai untuk menikmati kehidupannya menjadi seorang wanita yang mandiri. Tapi kenapa semuanya berubah setelah dia mengalami kejadian malam itu.
Hal itu pun menggelitik pikiran Jane dan membuatnya semakin ingin mendapatkan lebih banyak pengalaman yang lebih dari sekedar malam di hotel waktu pertemuan pertamanya dengan pria itu.
Pikirannya selalu berkonsentrasi untuk membuat kehidupannya berubah menjadi lebih baik dan tidak untuk dekat dengan pria manapun dalam hidupnya. Jadi semua perasaan yang dia alami saat ini begitu baru baginya.
Jane menghela nafas panjang. Dia pikir bahwa dia sudah jauh lebih dewasa dan sensitif setelah bercinta dengan pria itu. Tingkah kekanak-kanakan nya pun perlahan menghilang.
Bersambung....