
Mike menendang tembok karena rasa frustrasinya. Dia begitu jijik dengan dirinya sendiri karena membiarkan Rossa menggoda dirinya di depan Papa nya.
'Wanita seperti apa Rossa itu yang mengambil kesempatan terhadap situasi yang terjadi?' pikir Mike dalam hati.
Mike lalu kembali ke meja di mana semua orang duduk dan mengatakan kepada semua orang bahwa dia akan kembali bekerja dan Papa nya pun mempersilahkan dirinya.
Mike berpikir jika saja dia bisa memilih kekasih untuk Papa nya, dia pasti akan memilih Blair, Mama Jane, yang merupakan pasangan yang cocok untuk Papa nya. Mama Jane mengatakan kepada Mike, bahwa dia seorang janda sama seperti Papa nya yang duda dan Mike bisa melihat bahwa mereka berdua tampak cocok bersama.
'Kenapa tidak?' ucap Mike dalam hati seraya menyeringai.
Mike pun akan berusaha yang terbaik untuk mendorong Papa nya agar bisa menjauh dari Rossa. Pikirannya itu memberikan dia harapan untuk merusak hubungan antara Rossa dan Papa nya.
Beberapa waktu ke depan, dia akan mencoba untuk lebih dekat dengan Mama Jane dan mendorong Papa nya untuk mendekat dengan Mama Jane. Mike pun tersenyum seolah dia sudah melakukan sesuatu yang baik untuk membuat Rossa marah.
Pernikahan antara Papan nya dan Rossa yang dia takutkan masih belum terjadi. Jadi dia pun akan mencoba untuk melakukan yang terbaik agar bisa mengontrol situasi yang terjadi. Dia hanya berharap bahwa suatu hari Papa nya akan terbangun dan meninggalkan Rossa sendirian.
Sementara di meja tadi, Rossa merasa bosan karena Papa Mike menikmati waktu mengobrol nya dengan tamu mereka melupakan bahwa Rossa ada di sana. Rossa pun pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan dirinya di dalam kamar mandi. Rossa yang sendirian, memberikan waktu bagi dirinya untuk menunjukkan apa yang sebenarnya dia rasakan. Wajahnya langsung berubah. Rasa kebencian muncul di matanya yang indah dan rahangnya tampak mengeras.
"Suatu hari nanti, kau akan menyesal karena kau sudah memiliki aku." Bisik Rossa dengan begitu marah.
...****************...
"Mama... Mungkin aku akan datang besok. Aku butuh udara segar." Ucap Jane saat Mama nya menjawab panggilan telepon darinya.
"Benarkah? Apa yang terjadi? Kau bilang bahwa kau akan datang minggu depan?" Tanya Sang Mama khawatir.
"Jangan khawatir Ma, aku hanya butuh istirahat atau merelaksasi kan diriku. Bekerja terlalu banyak selama beberapa hari ini, membuat aku stress." Ucap Jane kepada Mama nya.
Ini memang sudah 1 bulan dan 3 minggu selama dia menghindari Mama nya.
"Hhmmm baiklah, Mama akan sangat menyukai itu." Ucap Sang Mama tersenyum dengan penuh kebahagiaan.
Setelah bicara dengan Sang Mama, Jane pun berbaring di tempat tidur khawatir jika Sang Mama tidak bisa menerima situasi yang terjadi kepadanya saat ini.
Jane lalu melihat ke bawah ke arah perutnya dan dia tersenyum simpul. Dia meminta maaf jika dia nantinya akan membesarkan bayinya itu tanpa sosok seorang Papa. Tapi dia berjanji bahwa dia akan melakukan yang terbaik untuk menjaga bayinya itu. Dalam pikirannya juga, Jane berharap bahwa dia akan bertemu dengan Papa dari bayinya di resort itu dan mungkin saja dia akan meminta pertanggungjawaban atas apa yang sudah terjadi, terutama sekarang karena dirinya tengah hamil.
Bagi Jane suami hanyalah sesuatu yang bisa menyebabkan sakit kepala baginya. Itu semua bukan karena dia tidak mempercayai pernikahan. Tapi dia menghindari hal itu karena tidak ingin untuk kehilangan kebebasannya dengan bertemu teman-temannya. Jik nantinya dia menikah, Jane berpikir bahwa dia hanya bisa diam di rumah mengurus anak-anaknya.
Jane masih begitu muda dan dia mau menikmati waktunya menjadi wanita lajang. Tapi itu semua terlihat akan berubah sekarang. Jane pun setuju untuk pergi ke resort itu berharap bahwa dia akan bertemu dengan pria itu di sana lagi dan mengatakan kondisi yang terjadi kepadanya. Jika pria itu setuju, maka mereka bisa mengatur semuanya dan hal yang paling penting adalah bayi yang ada dalam kandungannya bisa terlahir dengan seluruh keluarga yang ada bersamanya.
Jane menelpon nomor temannya, melihat apakah dia bisa ditemani pergi ke sana. Hanya mereka berdua yang masih lajang dan Jane tahu bahwa dia bisa mengandalkan temannya itu. Sama seperti dirinya, temannya itu juga sangat suka untuk hidup melajang.
"Aku akan pergi ke tempat Mama besok. Mungkin dengan liburan dan menikmati udara segar, akan membantu pikiranku lebih santai." Ucap Jane dengan cepat.
"Apakah kau yakin tentang hal itu?" Tanya Alexa dengan perlahan.
"Iya, mungkin akan lebih baik untuk mengatakan kepada Mama lebih cepat. Jadi Mama bisa menyiapkan diri Mama sendiri." Balas Jane dengan gugup.
"Hmmm.... Iya kau memang benar. Dia adalah Mama mu. Bagaimanapun aku tahu dia akan mengerti tentang dirimu." Ucap Alexa meyakinkan Jane bahwa semuanya akan baik-baik saja bagi Jane untuk mengatakan apa yang terjadi kepada Mama nya.
"Aku masih memikirkan tentang aborsi Alexa. Aku tidak tahu apakah aku bisa mengambil semua tanggung jawab ini." Ucap Jane mulai menangis.
"Hal itu akan menjadi penyesalan terbesarmu di masa depan jika kau melakukannya. Sudah aku katakan kepadamu sebelumnya, bahwa ada jutaan wanita yang berharap untuk bisa hamil dan kau malah ingin untuk mengaborsi bayimu itu. Bicaralah dengan Mama mu tentang apa yang akan dia putuskan untukmu." Ucap Alexa memberikan saran seolah dia sangat tahu bagaimana rasanya berada di posisi Jane saat ini.
"Baiklah, meski aku masih tetap gugup. Terima kasih karena sudah membuatku merasa nyaman. Jagalah dirimu saat aku pergi." Ucap Jane dan kemudian menutup sambungan telepon itu.
Setelah itu, Jane mulai menyiapkan barang-barangnya untuk pergi ke resort itu, tempat yang mengingatkan dia akan apa yang terjadi tahun lalu. Siapa yang bisa menyangka bahwa dia akan bertemu dengan pria yang sama di dalam sebuah bar.
Pertama pria itu menanam benih dalam mulutnya kemudian dia menanam benihnya di tempat yang tepat dan sekarang benih mereka mulai tumbuh di dalam perut Jane.
'Apakah dia akan mengingat aku di masa depan? Apakah dia tahu bahwa kami memiliki anak?'
Dan ada banyak pertanyaan yang terus berlari di dalam pikiran Jane.
Bersambung....