
"Mundur lah, dia adalah kekasih Papa." Ucap Mike dengan wajah yang muram mengingat apa yang dilakukan Rossa kepadanya.
"Ulala... la.. la.." Brandon bersenandung dan menggoda Mike lagi. "Bro, dia bukanlah wanita sederhana seperti yang kau pikirkan dulu. Dia sekarang itu jauh berbeda. Dulu dia belajar di di kota besar dan dia berubah banyak setelah itu. Dia terlalu modis untuk seorang pria yang lebih tua." Ucap Brandon seolah dia bisa membaca pikiran Mike.
Mike mendengarkan semua Ucapan Brandon. Tapi dia tidak peduli sama sekali, karena dia benar-benar sudah tergoda oleh kecantikan Rossa. Ada rumor juga yang menyatakan bahwa Rossa menjadi wanita simpanan dari pria kaya yang sudah beristri. Tapi semua itu tidak bisa dibuktikan. Jadi Mike masih tidak mempercayai hal itu.
Rossa terlihat begitu polos di masa lalu dan hal itulah yang bisa merebut hati Mike. Kepolosannya itulah yang selalu ada di dalam pikiran Mike.
"Huh... Tatapan yang terlihat di matamu itu Sangat menjijikkan." Ucap Brandon tertawa yang membuat Mike berhenti berpikir.
Mike melihat ke arah wajah temannya yang menggoda dirinya itu. Dia lalu menendang Brandon dengan tertawa yang membuat Brandon berlari menjauh.
Sangat tidak mudah untuk melupakan ketertarikan Mike terhadap Rossa. Dan hal itu Sangat normal terjadi. Hal yang tidak normal adalah kecemburuannya terhadap Papa nya sendiri. Mike menghela nafas dan mencoba untuk mengalihkan pikirannya.
Tiba-tiba dia merasa ada sebuah sentuhan lembut di punggungnya. Dia lantas berbalik dengan cepat untuk melihat siapa yang menyentuhnya dan ingin marah. Tapi tangan orang yang sebenarnya adalah Rossa itu beralih ke bagian depan celana Mike. Mata Mike membelalak sempurna dan terkejut dengan apa yang dilakukan Rossa kepadanya saat ini.
Setelah menyentuh bagian itu dengan begitu intens, Rossa pun bertingkah seolah dia tampak malu.
"Oh aku minta maaf. Aku tidak menyangka bahwa kau akan berbalik." Ucap Rossa menggigit bibir seksinya.
Mike menutup matanya, mencoba untuk mengontrol rasa panas yang menjalar ke tubuhnya. Dia hanyalah seorang pria biasa yang bisa dengan mudah tergoda oleh tangan lembut seorang wanita yang menyentuh dirinya, terutama bagian sensitifnya.
"Kau adalah kekasih Papa ku. Tolong bertingkah yang baik saja." Ucap Mike dengan dingin.
"Hei, apa yang salah dengan dirimu? Aku tidak melakukan apapun. Siapa yang menyangka bahwa kau akan berbalik. Lihatlah di sekelilingmu, tidak ada yang melihat kita dan jangan merasa malu." Ucap Rossa seolah tidak ada yang salah yang terjadi di antara mereka berdua.
Mike menatap ke arah Rossa dengan tatapan matanya yang dingin. Tapi Rossa menatap balik Mike yang menguji kesabaran Mike.
Mike menghela nafas kemudian meninggalkan Rosa sendirian. Masalah Mike pada malam itu belum selesai. Ada tes lainnya yang harus di lalui Mike untuk melihat apakah dia cukup kuat menahan godaan atau tidak.
Namun, dia hanyalah seorang pria normal. Dan apakah dia bisa mengontrol dirinya sendiri untuk kebaikan Papa nya. Sekarang saja apa yang dia rasakan karena sentuhan Rossa sudah membuat dia terkejut. Pedangnya dengan begitu cepat mengeras.
'Wanita macam apa yang menggoda anak dari kekasihnya.' Ucap Mike dalam hati.
Merasa kesal dengan hasil pertemuannya dengan Rossa, Mike meminta Papa nya untuk melanjutkan acara pesta ulang tahun yang dirayakan untuknya itu dan dia pun ingin pergi bersama dengan Brandon.
Brandon di sisi lain Sangat kesal kepada Mike, karena tindakannya yang dilakukan Mike saat itu. Sebelum Brandon bicara lagi, Mike mulai menghidupkan mobilnya dan meninggalkan Brandon seperti seorang pria gila.
...****************...
"Mama...." Teriak Jane dengan suara yang menggema di seluruh ruangan, berusaha menghentikan Sang Mama untuk tidak lagi mengatur kencan buta lainnya untuk dirinya.
"Aku ini tidak untuk dijual." Teriak Jane merasa malu dengan bagaimana cara Sang Mama memperkenalkan dirinya melalui telepon itu.
"Sayangku, Mama Sangat kesepian. Lihatlah teman-teman Mama, mereka semua sudah mempunyai cucu." Ucap Sang Mama bertingkah seolah tengah menangis. "Sejak Papa mu sudah pergi ke surga, Papa mu tidak pernah mengirimi Mama pesan atau mengunjungi Mama meski dalam mimpi. Mama sudah menaruh ponsel di makam Papa mu itu, jadi Papa mu bisa mengirim pesan kepada Mama. Tapi Papa mu lupa." Ucap Sang Mama lagi dengan membuat tangisan palsu yang terdengar begitu keras. "Kau begitu sibuk seperti biasanya dan Mama perlu mengalihkan kesepian Mama. Hanya seorang cucu yang bisa membuat Mama bahagia." Lanjut Sang Mama dengan menangis semakin keras. "Mama sudah semakin tua dan takut jika Mama akan seperti Papa mu. Maka Mama tidak bisa melihat anak-anak berlari bermain di luar sana."
"Hentikan Ma! Mama itu masih 46 tahun dan Sangat sehat. Lihatlah diri Mama itu. Siapa yang bisa menyangka bahwa Mama sudah berusia 46 tahun. Lipstik Mama begitu merah, make up yang Mama pakai membuat Mama terlihat jauh lebih muda dibandingkan aku. Maskara yang membuat bulu mata Mama tampak begitu lentik, eyeliner yang begitu cocok dengan mata Mama, anting yang terlihat cantik di telinga Mama dan leher Mama yang bisa membuat pria manapun tergoda kepada Mama setiap kali Mama keluar rumah. Bahkan bentuk tubuh Mama itu mirip seperti gadis berusia 18 tahun." Ucap Jane berharap bahwa apa yang dikatakannya itu bisa mengalihkan perhatian Mama nya.
"Baiklah... baiklah... kau menang." Ucap Sang Mama seraya tertawa setelah mendengarkan pujian yang begitu berlebihan dari Jane.
Apa yang diUcapkan Jane memang sedikit berlebihan. Tapi memang Sangat benar bahwa Mama nya itu begitu memperhatikan tubuhnya dan bahkan mereka tampak seperti kakak beradik bukan seperti ibu dan anak.
"Mama, berhentilah mendorong aku untuk terus menikah. Apakah Mama mau jika aku akan membawa seseorang yang Mama tidak tahu latar belakang mereka?" Ucap Jane kepada Mama nya itu.
"Upsss... Tidak... tidak... tidak..." Ucap Sang Mama dengan menaruh jemarinya di hadapan Jane dan menggerakkannya ke kiri ke kanan. "Tentu saja Mama harus menginvestigasi Apakah pria itu cukup baik untuk putri Mama. Sayang, pria itu harus bisa masuk dalam kualifikasi Mama." Ucap Sang Mama mulai menggerakkan jemarinya.
"Pertama, dia harus sopan dan saling menghargai satu sama lain."
"Kedua, latar belakang keluarganya harus baik."
"Ketiga, pengertian."
"Keempat, penyayang."
"Kelima, perhatian."
"Keenam, dia harus punya sesuatu yang besar agar bisa memuaskan...."
Jane langsung menendang tempat tidur karena frustrasi mendengar ucapan Sang Mama.
"Apa maksud Mama?" Teriak Jane.
"Keenam, dia harus memiliki tabungan Bank yang besar untuk bisa memuaskan kebutuhan sehari-harimu."
"Ketujuh, dia harus punya sesuatu yang panjang..." Ucap Sang Mama terbatuk.
Bersambung....