Nashita

Nashita
Terjebak Di Antara Dua Wanita



Bab 34


Di kamar, Mr. Hyun berusaha menghubungi Nashita, tapi telepon genggam Nashita tidak aktif.


"Nash, apa kamu baik-baik saja?" tanyanya dalam hati.


Lelah dengan apa yang terjadi hari ini, Mr. Hyun pun terlelap.


Ke esokan paginya.


Mr. Hyun terbangun pagi - pagi sekali, walaupun tertidur tapi dia merasa tidak nyenyak. Dia masih memikirkan Nashita sampai lupa kalau ada istrinya di kamar tamu.


Dia baru tersadar jika di rumahnya ada orang lain, saat mencium bau masakan.


Dia menghela nafas panjang, dia bingung harus bersikap bagaimana menghadapi wanita yang masih menjadi istrinya itu.


Setelah membersihkan dirinya dia pun keluar dari kamar.


Terlihat Liza sedang menata makanan di meja makan.


Liza membuat sarapan untuk suaminya, dia ingin memperbaiki semuanya, dia ingin memulai dari awal lagi dengan suaminya.


"Joh - eun achim, nampyeon!" ucapnya kepada Hyun dengan senyum sumringah di bibirnya. ( artinya : Selamat pagi suamiku)


Mr. Hyun tersenyum canggung mendengar sapaan Liza, baginya masih belum terbiasa dengan kehadiran Liza, Ia masih merasa canggung karena Liza terlalu lama meninggalkannya, sehingga rasa cinta yang dulu, entah kemana hilangnya.


"Ayo sarapan dulu Hyun!" ajak Liza.


Mr. Hyun mengangguk seraya duduk bersebrangan dengan Liza.


Mereka pun sarapan dengan tenang tanpa ada yang berbicara.


Selesai sarapan Mr. Hyun berpamitan pada Liza.


"Aku akan berangkat kerja, jangan menungguku! mungkin pulangnya agak malam," ucap Mr. Hyun seraya beranjak meninggalkan Liza yang masih duduk di meja makan.


Liza mengejar pria yang masih menjadi suaminya itu.


"Hyun! Tunggu!" panggilnya seraya mendekati Mr. Hyun.


"Ada apa?" tanya Mr. Hyun seraya menatap Liza dengan heran.


"Bukankah hari sabtu libur?" tanya Liza


"Ya memang seharusnya hari ini libur, akan tetapi, perusahaan mengabarkan akan datang barang hari ini, jadi ada beberapa karyawan yang lembur."


"Baiklah kalau begitu!" ucap Liza.


Cup!


Liza mengecup bibir Mr. Hyun, "Aku akan menunggu kamu pulang," ucapnya.


Mr.Hyun bergeming, tidak sedikitpun dia merespon Liza.


Tanpa berkata sepatah katapun dia meninggalkan Liza.


Dengan sedih Liza menatap punggung pria itu, dalam hati, dia berjanji akan meraih cinta pria itu kembali.


Setelah bergulat dengan hatinya, akhirnya Nashita memutuskan untuk tetap pergi bekerja.


Meskipun dia harus bertemu dengan pria yang tega mempermainkan hatinya.


Benar saja, pria itu sudah menunggunya di depan gerbang.


"Nash, kita perlu bicara! Ikut ke ruangan saya sekarang juga," ucap Mr. Hyun.


Ya, Nashita juga ingin berbicara dengan lelaki itu, dia ingin menumpahkan segala sesuatu yang mengganjal di hatinya.


Biarkan saja, para karyawan memandang dirinya dan Mr. Hyun dengan tatapan heran. Di antara para karyawan pun ada yang berbisik - bisik, mungkin mereka merasa heran dengan Nashita yang berjalan beriringan bersama manajernya.


Di ruangan Mr.Hyun.


Setelah menutup pintu dan menguncinya, Mr. Hyun memeluk Nashita dengan erat.


"Maafkan saya!" ucap Mr. Hyun dengan lirih.


Nashita bergeming di tempatnya, mematung tanpa sepatah kata, dia membiarkan pria itu memeluknya tanpa membalasnya.


"Apa kamu marah pada saya ?" tanya Mr. Hyun tanpa melepaskan pelukannya.


"Apa ada, seorang wanita tidak marah jika dibohongi?" sarkas Nashita.


Nashita mendorong dada bidang itu secara perlahan.


"Mari kita akhiri hubungan kita ini, saya tidak mau dicap sebagai wanita perebut suami orang," ucap Nashita dengan mulut bergetar menahan rasa kecewa, air matanya mulai menyeberang di pipi mulusnya.


"Bagaimana kalau saya tidak mau? Saya sangat mencintai kamu, saya tidak ingin kehilangan kamu, saya ingin mempertahankanmu," ucap Mr. Hyun seraya menghapus bulir bening di pipi Nashita menggunakan kedua tangannya.


"Lalu bagaimana dengan istrimu?" tanya Nashita.


"Sepertinya, saya akan menceraikannya, terlalu lama kami terpisah, sehingga saya tidak bisa merasakan apa - apa lagi terhadapnya," ucap Mr. Hyun berkata jujur dengan apa yang diinginkan hatinya.


Nashita tersenyum getir mendengar penuturan pria tampan bermata sipit di depannya itu.


" Semudah itu? Apa kamu tega menyakiti hati istrimu? Apa dia mau menerimanya? " cerca Nashita.


"Setidaknya itulah yang saya inginkan, menceraikannya dan menikah denganmu."


"Tapi Maaf, saya tidak bisa! Saya tidak bisa menjalin hubungan dengan pria yang pernah membohongi saya, kembalilah kepada istrimu! Jangan ganggu saya lagi. Hubungan kita berakhir sampai di sini," ucap Nashita dengan tegas dan kali ini dia tidak ingin terlihat menyedihkan.


"Nash, tidakkah kamu memberi saya kesempatan satu kali saja?" Mr. Hyun menghiba dengan tatapan melasnya dan tangannya menggenggam tangan Nashita.


" Tidak! Maaf, permisi mister! saya harus mulai bekerja, " ucap Nashita seraya melepaskan genggaman tangan Mr.Hyun dan pergi meninggalkan ruangan itu.


Mr. Hyun menatap punggung Nashita, sampai punggung itu menghilang di balik pintu dengan perasaan sedih. Dia masih bingung, haruskah dia melepaskan Nashita begitu saja. Tapi dia juga tidak ingin memaksa Nashita. Dia takut jika dia memaksa, Nashita akan membencinya.


Arggh!


Pekiknya agak tertahan. Dia mengacak - ngacak rambutnya, dia benar - benar frustasi.


Mr. Hyun tidak bisa konsentrasi dalam bekerja, di otaknya berputar - putar tentang Nashita dan Liza. Dia terjebak di antara kedua wanita itu.


Akhirnya, dia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya, dia akan pergi untuk menenangkan diri. Dia ingin menjernihkan pikirannya.