
Bab 27
Hari-hari terasa begitu menyenangkan dan indah bagi Nashita dan Mr. Hyun, setiap hari mereka selalu mencuri - curi waktu untuk bertemu. Jika ada kesempatan mereka akan memadu kasih di mana saja, asalkan tempat yang sepi. Cinta mereka semakin menggelora setiap harinya.
Semua dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, mereka sepakat tidak ada yang boleh tahu hubungan di antara mereka, agar terhindar dari pergunjingan para karyawan.
Terkadang mereka datang lebih awal ke tempat kerja agar bisa berduaan.
Seperti pagi ini Nashita sudah datang lebih awal, Nashita mendapat pesan dari Mr. Hyun agar segera datang ke ruangannya.
Seperti biasa Nashita langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Nashita heran karena di dalam ruangan itu tidak ada siapa-siapa. Mata Nashita pun menyapu seluruh sudut ruangan itu.
Tapi tiba-tiba sebuah tangan kekar memeluk pinggang rampingnya dari belakang.
Pemilik tangan itu menempelkan dagunya di bahu Nashita, sambil menghirup aroma leher Nashita.
"Kamu wangi sekali!" ucapnya.
Nashita tersenyum tipis sembari mengusap lembut tangan kekar yang melingkar di pinggangnya.
Orang itu membalikkan tubuh Nashita agar menghadap pada dirinya. Tangan kekarnya kembali merengkuh pinggang ramping Nashita dengan posesif.
Cup!
Orang itu mengecup bibir orange Nashita.
"Aku merindukanmu, Nashita!" ucap orang itu dengan logat khasnya, seraya menyatukan keningnya ke dahi Nashita. Hidungnya yang mancung itu menempel di hidung Nashita.
"Saya juga merindukanmu, Hyun!" balas Nashita. Dengan berani Nashita mengalungkan tangannya di leher Mr. Hyun.
Mr. Hyun meraup bibir Nashita, mencecap, mencicipi, mengabsen semua yang ada di dalamnya.
Pagi itu, lagi-lagi mereka tenggelam dalam ciuman dan pelukan, sebagai pelepas dahaga di pagi hari.
Setelah puas melakukan aktivitas yang menggelora itu, mereka merapikan kembali pakaian yang sudah seperti terkena badai siklon , lalu membubarkan diri dan kembali ke habitat masing - masing.
Lagi-lagi tanpa sepengetahuan Nashita, Hendrik sang teknisi, memergoki Nashita keluar dari ruangan Mr. Hyun.
"Pasti di antara mereka ada apa-apanya, sudah beberapa kali aku melihat Nashita jalan berdua dengan Mr. Hyun dan beberapa kali aku melihat Nashita keluar dari ruangan Mr. Hyun," ucap Hendrik dalam hati.
Hendrik sebenarnya sangat menyukai Nashita, tapi setelah melihat kedekatan Nashita dengan Mr. Hyun, dia mengurungkan niatnya untuk mengejar Nashita. Hendrik tidak berani bersaing dengan Mr. Hyun.
Sore itu, seperti biasa Nashita pulang belakangan. Ruangan tampak sepi, hanya Nashita yang masih merapikan barang - barang di gudang.
"Belum Mas Hend!" ucap Nashita seraya menoleh ke arah Hendrik.
"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Hendrik menawarkan diri.
"Iya mas, tolong pindahkan kain ini ke rak di atas sana," ucap Nashita sembari menunjuk ke arah rak yang ada di atas.
Hendrik pun memindahkan kain tersebut ke rak yang ditunjuk oleh Nashita, setelah selesai, Hendrik kembali mendekati Nashita yang sedang membelakanginya.
Hendrik menelan air liurnya dengan susah payah saat melihat tubuh indah Nashita dari belakang, ditambah leher putih mulus Nashita terpampang dengan jelas karena Nashita mengikat rambutnya ke atas.
Glek, sekali lagi Hendrik menelan air liurnya, entah mengapa tubuhnya menjadi bereaksi melihat tubuh Nashita dari belakang.
Grep!
Dengan lancang Hendrik memeluk Nashita dari belakang.
Cup! Cup!
Dengan penuh nafsu Hendrik menciumi tengkuk Nashita.
Deg!
Bukan main, Nashita sangat terkejut diperlakukan seperti itu.
Sontak Nashita mendorong kasar tubuh Hendrik.
Brukk!
Seketika Hendrik jatuh terjungkal ke lantai. Hendrik meringis kesakitan.
Nashita membulatkan matanya, darahnya mendidih sampai ke ubun-ubun, Nashita sangat marah diperlakukan seperti itu. Nashita merasa dilecehkan.
"Mas! Kamu kurang ajar!" bentak Nashita penuh amarah.
"Maaf, Nash! Aku khilaf," ucap Hendrik.
"Pergilah! Sebelum saya berteriak!" ucap Nashita dengan nafas memburu, tidak beraturan menahan amarah. Ingin rasanya Nashita menendang dan menampar laki-laki di depannya ini.
Hendrik bergegas meninggalkan Nashita, Hendrik takut jika Nashita benar-benar berteriak. Tentunya dia akan merasa malu jika ketahuan melecehkan seorang gadis.
"Sial!" jerit Nashita seraya berusaha menghapus jejak kecupan di tengkuknya, menggunakan tisu basah. Bagi Nashita itu sangat menjijikan, diperlakukan seperti itu oleh orang yang bukan siapa - siapa.
Setelah itu Nashita bergegas pulang, dia jadi trauma berada sendirian di ruangan itu.