
Bab 17
Waktu berlalu, seminggu sudah Nashita bekerja di Garmen Muara Griya Lestari sebagai quality control.
Nashita bekerja dengan giat dan semangat, bahkan Nashita sudah memiliki banyak teman.
Nashita dengan cepat bisa beradaptasi, karyawan senior pun sangat senang dengan Nashita, karena Nashita bisa dengan cepat menguasai pekerjaannya.
Karena parasnya yang sangat cantik banyak pula karyawan laki-laki yang menaruh hati pada Nashita, tak sedikit dari mereka yang mencari-cari perhatian pada Nashita.
Ada yang mengajak makan siang, ada yang membawakan makanan, ada yang membantu Nashita saat mengangkat kain-kain dan yang lebih extreme ada yang langsung mengajak pacaran.
Akan tetapi Nashita tidak menanggapinya, dia hanya ingin fokus bekerja untuk saat ini.
Saking seriusnya bekerja, Nashita tidak menyadari jika ada seorang pria tampan dengan perawakan tinggi, tegap, berkulit putih bersih sering mencuri-curi waktu hanya sekedar ingin melihat Nashita.
π·π·π·π·
Rendy mendatangi teman - temannya Nashita di tempat kerja yang lama, dia menemui Mia, namun sayang Mia bilang tidak tahu atau mungkin tidak ingin memberi tahu. Secara Mia menaruh hati kepada Rendy. Apa mungkin Mia akan memberitahukan alamat Nashita kepada Rendy?
Mau tidak mau dia memintanya pada Farhan, dan untungnya Farhan mau memberikan alamat Nashita. Entahlah! mungkin Farhan sudah melepaskan Nashita untuk Rendy.
Hari sabtu
Setelah mengantongi alamat Nashita, Rendy bergegas membawa mobil sedannya menuju kota di mana Nashita tinggal.
Selepas dzuhur, Rendy telah sampai di alamat yang dia tuju, Rendy tidak kesulitan mencari alamat Nashita karena Rumah Nashita berada di sebuah perumahan yang sangat mudah di cari, lagi pula Farhan memberikan alamatnya dengan jelas.
Tok⦠tok.. tok
Rendy mengetuk pintu bercat putih itu, tak lama kemudian ada seseorang yang membukakan pintu tersebut.
Ceklek!
Rendy sangat beruntung karena yang membuka pintu adalah Nashita sendiri.
"Kamu?" Nashita terpelongo.
"Nash!" panggil Rendy senang bisa bertemu dengan wanita yang selama seminggu ini membuatnya tidak bisa tidur.
Rendy langsung memeluk gadisnya ini, dia benar-benar merindukan Nashita, tidak bertemu satu minggu saja Rendy merasa kepayahan. Rasa rindu yang hampir tumpah ruah itu akhirnya tersalurkan juga dengan sebuah pelukan.
Nashita hanya mematung, sumpah!, Nashita juga merindukan Rendy, pelukan Rendy yang selalu hangat dan nyaman, kini dengan nyata bisa dirasakan kembali hari ini oleh Nashita.
Dengan ragu Nashita ingin membalas pelukan Rendy, akan tetapi belum juga tangannya melingkar di pinggang Rendy, sebuah deheman mengejutkan mereka berdua.
Ehemmmm!
"Eh, iya Pah," Nashita pun segera melepaskan pelukan Rendy.
"Siang Om!" sapa Rendy dengan senyuman canggung.
"Hemm, masuklah! Dan silahkan duduk!" ucap Papa ramah, karena emang pada dasarnya Papa Nashita selalu ramah kepada siapapun.
"Terima kasih Om!" ucap Rendy dengan sopan lalu menyalami Papa Nashita, setelah itu, Rendy mendudukan bokongnya di sofa berwarna merah yang ada di ruang tamu.
"Siapa Nash?" tanya Mama yang datang menghampiri.
"Teman Nanash waktu di jakarta,namanya Rendy " jawab Nashita.
"Oh," ucap Mama Seraya tatapannya beralih pada Rendy.
Rendy berdiri lalu dengan sopan menyalami Mama.
Mama ingin memberikan ruang pada anak-anak muda ini, karena Mama pikir mungkin mereka ingin mengobrol tanpa ada orang lain di antara mereka, lalu Mama mengajak Papa pergi dari ruang tamu, Mama mengajak Papa ke halaman belakang.
Sepeninggalan Mama dan Papa, Rendy langsung mengajak Nashita untuk duduk seraya menggenggam tangan Nashita.
"Nash, aku sangat merindukanmu!" ucap Rendy sambil menatap mata indah berbulu lentik milik Nashita.
Nashita hanya tersenyum kikuk. Sebenarnya Nashita juga ingin mengatakan, Kalau dia juga merindukan Rendy, tapi buat apa? Toh! Nashita tidak punya semangat untuk melanjutkan hubunganya dengan Rendy. Nashita terlanjur sakit hati dengan perkataan Kakaknya Rendy.
"Nash, kembali ke Jakarta ya? nanti aku carikan pekerjaan baru untuk kamu," ucap Rendy.
Nashita mengulas senyum getir, "Rend, kamu pasti tahu, alasan aku pergi dari Jakarta?" tanya Nashita.
" Iya aku tahu, tapi tolong, tidak usah pedulikan ucapan Kak Felly, " yang terpenting aku mencintai kamu. Kembali ke Jakarta yah?" ucap Rendy dengan tatapan melasnya.
Nashita menggelengkan kepala, "Maaf aku tidak bisa, aku sudah dapat pekerjaan di sini, aku sudah merasa nyaman bekerja di tempat baru. "
"Nash, aku mohon!" ucap Rendy seraya menatap wajah cantik Nashita.
"Sudah lah, Rend! Aku tidak bisa kembali ke sana!" Nashita keukeuh dengan pendiriannya, Nashita menunduk dia tidak sanggup menatap mata Rendy yang begitu tulus memohon kepadanya.
Saat Rendy akan melanjutkan perkataannya tiba-tiba ponsel Rendy berbunyi.
"Sebentar ya Nash!" ucap Rendy seraya mengangkat panggilan tersebut.
Mendadak raut wajah Rendy berubah menjadi panik dan bingung.
"Baik Bu, Saya akan segera ke sana!" ucap Rendy kepada orang yang menelponnya lalu dia menutup panggilan tersebut.