NARA RIVEERAA VS BARA ANDERSON GRETCHEN

NARA RIVEERAA VS BARA ANDERSON GRETCHEN
9 (belum selesai)



Author POV


"Apa maksud dad tadi, aku tidak mau berurusan lagi dengan wanita sialan itu buruk rupa, dad pikir sendiri aku jijik deket dekat dengan nya" ucap bara duduk di hadapan ayahnya mereka telah sampai di kediaman Anderson.


"Sudahlah kau harusnya minta maaf padanya dan bilang terimakasih kau pelakunya dan dia korbannya lalu sekarang apa dia yang jelek di mata masyarakat dan kau denger tadi para wartawan berkata apa mereka merendahkan gadis itu, jadi berhenti berbuat ulah lagi semua itu karena ayah selalu memanjakan mu sejak dulu jadi kau tidak bisa diatur dan jangan mabuk lagi jika tidak bisa mengendalikan diri atau hal lebih buruk bisa saja terjadi lagi."


Bara mengepalkan tangannya kesal, dan bangkit meninggalkan ayahnya menaiki lift menuju kamarnya.


"awas saja akan ku injak Lo sampe mampus"


 


Nara POV


Aku berjalan di koridor kampus suara bisik bisik membuatku muak mereka dengan terang terangan membicarakan ku bahkan sampai tertawa terpingkal pingkal melihat ku.


Aku menghembuskan nafasku berat santai Nara santai oke aku bisa menahan kekesalan.


"Tuh lihat pake guna guna keknya atau pelet sampe bisa bikin bara kepincut sama tuh cewek, cantik juga kagak jelek dan tampilannya tertutup tapi tetep aja nyosor kek bebek tahu gak dikasih umpan langsung diembat."


Aku mengepalkan tanganku rasanya aku akan meledak seketika.


"Hey" teriaku marah "manusia manusia sok tahu, sebelum mengatai orang lain lihat diri sendiri dulu kau pikir kau tahu segalanya hah" teriakku mendekat pada gerombolan wanita yang begitu modis dengan tampilan yang elegan.


"Apa Lo hah emang kenyataannya kan sok alim tapi menjijikkan gue gak percaya bara yang suka duluan atau bara yang nyium Lo duluan pasti Lo pake alibi atau bener apa yang dibilang Gisel Lo pake pelet sadar diri Lo ngaca atau perlu gue beliin kaca, upss Lo kan gak ada duit buat beli kaca miskin si."


Aku menatap tajam mereka, ingin ku robek robek mulutnya itu.


Aku menatap tajam mereka, "so biar Tuhan yang memberi kalian pengertian" ucapku tajam berbalik dan menuju lift.


Ku ketuk pintu "masuk"


"Ada apa prof" tanyaku


"duduk Nara" ucapnya.


"Ada yang ingin kamu sampaikan?"


"Aku menarik nafasku, prof renan ini tidak adil apa manusia seperti ku memang harus menerima semua ini aku tidak melakukan kesalahan apapun tapi kenapa aku yang harus menjadi kambing hitam disini."


Ku lihat prof renan terdiam, "ya Nara saya minta maaf untuk itu tapi saya tidak bisa berbuat apa apa, sekarang ikuti kemauan pak Anderson saja dia orang yang baik Nara saya yakin beliau sudah memikirkan semuanya dengan matang."


"Maksudnya apa prof saya bahkan tidak mengerti dan apa yang dikatakan pak Anderson di sesi konferensi pers kemarin apa maksudnya?


"Beliau Yang akan memberi tahumu secara langsung saya tidak memiliki hak itu."


"Maksud prof semua ini belum selesai? Prof renan mengangguk.


Apa lagi aku susah payah datang kesana dan bahkan menelah kekesalan karena Mulut wartawan itu yang begitu tajam. Teriakku dalam hati.


"Besok akan ada yang menjemputmu diskusikan dengan tuan Anderson Nara."


"Baiklah prof saya pamit" ucapku pergi.