NARA RIVEERAA VS BARA ANDERSON GRETCHEN

NARA RIVEERAA VS BARA ANDERSON GRETCHEN
13 ( hari pertama setelah kejadian mencekam)




kamat tidur




Aku tertegun menatap kamar yang super luas dan mewah, aku bisa melihat indahnya bintang malam dari sini, ya di kamar ini terdapat kaca samping yang begitu luas dan ada space kaca diatap membuat ku bisa menikmati langit malam dari sini. Sangat menyenangkan bukan, dengan ranjang yang super besar gaya modern aku berjalan menuju ruang wadroob, ku buka pintu cat putih itu perlahan ya aku lagi lagi terkejut ruangan yang begitu mewah dan dipenuhi lemari lemari super mahal mungkin aku tidak tahu ku buka lemari dan benar saja penuh dengan gaun dan baju baju mewah, yang pastinya itu bukan untuk ku karena ya pakaiannya semua terbuka aku tidak bisa memakai semua itu.


Deretan sepatu high heels dan tas bermerek tertata rapih aku bahkan enggan menyentuhnya,  melangkah keluar dari ruangan itu dan duduk di sofa meneliti sekeliling kamar. Orang bilang aku beruntung tapi ku rasa tidak, aku bangkit menuju pintu kaca penghubung antara balkon dan kamar membukanya dan menuju balkon berdiri disana dengan disambut angin malam yang begitu sejuk, ku pejamkan mata sejenak kilas balik yang begitu menegangkan yang menjadi alasan kenapa aku berada disini sekarang sedang berputar di ingatanku.


flashback


"Bagaimana Nara, ini hanya satu satunya kesempatan yang bisa aku berikan dan hanya dengan cara ini aku bisa melindungi apapun yang berhubungan dengan mu, aku mungkin bisa menghentikan bara jika kau menyetujui nya tapi jika tidak aku tidak bisa menghentikan nya bara bukan anak yang sangat penurut.


Aku terdiam mencerna kata kata yang keluar dari mulutnya.


"Tapi tuan yang membuat nya ingin menghabisiku bukan?


"Jika ayah tuan tidak memaksa hal ini semua ini tidak akan terjadi" jawabku setenang mungkin.


"Kau tidak tahu anaku Nara dia bukan tipe orang yang melepaskan musuhnya begitu saja, ya mungkin kau marah karena ayahku memaksa bara dan dia malah mengincarmu tapi apa kau yakin dia tetap akan diam saja membiarkan mu. Aku mungkin bisa melarangnya tapi tetap saja tidak bisa mengontrol semua yang dilakukannya dan semua ini sudah terlanjur Nara jikapun ayahku membatalkannya ku pikir bara akan tetap menyingkirkanmu, ini memang salahku yang tidak becus mendidik anak, dan sekarang aku hanya mencoba memperbaikinya mungkin kau merasa dirugikan disini tapi aku akan membuat semuanya seimbang kau akan mendapatkan apa yang kau mau aku akan memberikan apapun itu yang terbaik untuk mu, semuanya akan kembali seperti semula Nara ku pastikan kau tidak akan kehilangan apapun"


Aku menatap lurus menerawang kedepan. Jika saja aku tidak dekat dengan siapapun dan tidak memiliki buntut aku langsung menolak mentah mentah, seharusnya aku tidak dekat dengan siapapun dan hidup sendiri dan pastinya ku tanggung semua konsekuensinya. Aku bisa melindungi diriku sendiri.


Rumah, toko semuanya tidak aman lagi  hancur berantakan dan sekarang yang diincar orang yang ku kenal. Serangan dari berbagai arah, permasalahan semakin banyak datang dari suruhan para lelaki yang marah karena pasangan mereka tidak lagi bersedia diinjak injak dan sekarang tambah dengan serangan dari anjing gila pirang itu dia ingin membunuh ku. Kenapa jadi serempak seperti ini. Pikiran ku begelut hebat. Aku mengepalkan tangan menyalurkan kekesalan.


"Tidak perlu buru buru Nara, tapi ku harap kau memilih keputusan yang tepat, ku lihat kau seorang gadis yang cerdas dan pintar. Ia bangkit dari duduknya, "selamat malam" ucapnya pergi meninggalkan ku yang termenung sendirian.


Aku bangkit meninggalkan cafe dan menuju ke jembatan penyebrangan berdiri disana melihat kendaraan lalu lalang dan menatap langit malam, menerawang kedepannya harus seperti apa. Lama terdiam ku putuskan untuk menelpon seseorang.


"Dengerkan aku jika ada yang bertanya apapun tentang ku bilang kau tidak mengenal ku dan katakan pada Bima mulai sekarang aku tidak dalang lagi dan katakan padanya juga jangan bicara pada orang lain tentang ku pura pura tidak mengenalku, jika Bima tidak mengerti katakan aku pergi jauh dan lupakan aku, aku memutus hubungan dengan kalian."


Hening Beberapa saat, aku merasakan ada yang retak di dasar sana.


"Baiklah jawaban dari sebrang telepon.


"Ku mohon beri pengertian pada bima dan suruh dia lupakan aku."


"Setelah semuanya selesai akan ku beri tahu, jaga diri baik baik selamat tinggal", ucapku menutup teleponnya.


"Ku harap mereka aman sekarang" ucapku berbalik pergi.


Author POV


"Maaf tuan rumahnya dijaga ketat oleh orang orang suruhan ayah anda." Ucap seseorang dari seberang telepon.


Bara memukul meja kerjanya melampiaskan kemarahannya.


"Gue gak mau tahu kalian harus seret wanita itu dan musnahkan sebelum terlambat."


"Baik tuan" panggil diakhiri.


 


Sejak pertemuan dengan tuan Anderson aku merasakan semakin was was, banyak mata mata yang mengawasi tapi mereka tidak berani menyentuhku karena tuan Anderson yang memerintahkan anak buahnya untuk berjaga di depan rumah ku, sebelum aku mengambil keputusan. Sebenernya aku tidak membutuhkan itu semua karena aku bisa menjaga diriku sendiri tapi aku mengkhawatirkan seseorang.


Ku tatap langit di balkon, "semuanya sudah berantakan bukan kenapa tidak ku hadapi sendirian saja dan lihat hasilnya seperti apa, Rendra sudah di jaga ketat oleh keluarganya dan sekarang aku tidak perlu mengkhawatirkannya ku harap mereka tidak menemukan jejak Bima" ucapku berbalik mengambil ponsel di meja, menekan nomor telepon seseorang.


"Assalamualaikum, maaf tuan saya menolak tawaran anda, silahkan tarik bodyguard anda saya akan menangi masalah ini sendiri."


Hening, "baiklah Nara jika itu keputusan mu aku tidak bisa memaksa, semoga berhasil."


Panggilan di akhiri bersamaan dengan perginya orang orang di halaman rumahku.


"Hidup ku yang adem ayem tiba tiba semuanya berantakan begini banyak orang yang mengincar ku secara bersamaan begini, baiklah ayo berperang. Aku siap menerima konsekuensinya, ayah jangan khawatir aku akan menyelesaikannya segera."


Selang beberapa lama ada notif masuk dari nomor tidak dikenal. Sebuah pesan masuk, ku buka pesan itu dan membacanya.


Unknown : Kau pikir bisa menyelamatkan diri lihat aku menemukan sesuatu.


Aku mengepalkan tanganku melihat sebuah foto yang membuat amarahku mendidih.


"Brengsek mereka menemukannya, aku segera bergegas mengganti pakaian menggunakan kulot dan jaket se betis memakai sepatu dan hijab instan agar pergerakanku mudah.