
Aku berjalan santai, pagi ini aku akan membuka toko kue yang beberapa hari ini tutup, setelah dipecat jadi banyak waktu luang. Sejak 1 tahun ini selain berjualan cake aku juga membuka sesi penyelesaian masalah gratis.
Entahlah aku sangat senang membantu para wanita yang teraniaya, sudah sejak lama aku membalas pesan mereka di sosial media, dan ternyata saranku diterima, banyak yang berterima kasih karena telah memberikan solusi dari kehidupan rumah tangga atau pernikahan mereka yang yang dipenuhi masalah dan dampak buruk dialami oleh para wanita, Walaupun banyak yang berakhir kandas tapi berhasil keluar dari penderitaan itu. Aku bersyukur satu demi satu cita citaku terwujud selain membahagiakan diri sendiri bermanfaat untuk diri sendiri dan mencintai diri sendiri, jadi manusia yang berguna dan banyak memberikan manfaat itu adalah tujuan hidup ku.
Kakiku mendadak berhenti, bukan sedih atau kecewa tapi aku rasa akan meledak sekarang.
"ya tuhan toko ku," aku berteriak karena terkejut. Semuanya berantakan bahkan kacanya sampai pecah tak berbentuk lagi, aku berjalan mendekat menuju pintu yang dipenuhi ceceran kaca, semua barang hancur dan rusak kursi juga tergeletak patah semuanya.
Aku merasakan kekesalan yang merangkak naik, "anjing gila atau para suami dzolim yang melakukan ini, mereka tak habis habisnya mengacau" baru kemaren aku membuat para preman itu babak belur, ya walaupun aku sedikit kewalahan karena kakiku tersandung jadi sedikit sakit dan membuat aku kesulitan melawan tapi tidak masalah aku bisa membuat mereka terkapar disana. Tapi beberapa hari ini aku tutup otomatis tidak mendapatkan klien, oh berarti kemungkinan besar anjing gila itu si pria pirang yang ingin menyingkirkan ku dalangnya.
"Lapor polisi sepertinya buang waktu saja dan pasti memerlukan uang pelicin, gak bakal di proses juga."
"Arghhhhhh lihat saja kalian pikir aku akan menerima perlakuan buruk ini, tidak akan pernah. Dasar pengecut menyebalkan berani main belakang, belum cukup ingin menyingkirkan ku dan sekarang ingin membumi hanguskan usahaku. Lihat saja apa yang akan ku lakukan, tunggu dan rasakan pembalasan ku"
Ku hentakan kaki karena kesal dan pergi meninggalkan toko.
"Dasar tidak becus, ngurus tikus kecil saja tidak mampu" bara meninggikan suaranya dia sedang berada di kediamannya menunggu informasi dari anak buah suruhannya.
"Maaf tuan tapi dia bukan gadis biasa tuan, gadis itu tukang pukul ternyata, semua anak buahku yang berjumlah 4 orang dan termasuk aku juga tidak bisa mengalahkan nya tuan, bahkan kami sekarang sedang berada di UGD, anak buahku semuanya patah tulang ." Ucap seseorang disebrang telepon.
Bara mengepalkan tangannya wajahnya memerah menahan amarah "Gue bayar mahal buat abisin tuh cewek sialan tangkap dan lempar dia ke laut tapi kalian malah gagal"
"Maaf tuan"
"Sialan" bara melemparkan ponselnya ke lantai, memutus telepon dengan anak buahnya itu.
"oke kalau gak bisa ditangkap dan di buang ke laut gue pastiin dia yang berlutut minta mati, pokonya dia harus menghilang dari dunia ini secepatnya, apapun caranya"
Bara mengambil ponselnya di laci, dia memiliki 3 ponsel yang disimpan di laci kamarnya jarang ia gunakan hanya untuk keperluan penting saja, ia menekan nomor telepon dan sambungan telepon berdering disambut hangat oleh seseorang yang ia hubungi, ia menyuruh seseorang untuk datang ke rumah nya karena dia tidak bisa keluar dari kediaman Anderson, ayahnya memperketat pengawasan dan membatasi pergerakan nya.