NARA RIVEERAA VS BARA ANDERSON GRETCHEN

NARA RIVEERAA VS BARA ANDERSON GRETCHEN
14 (Flashback menengangkan antara hidup dan mati)



Aku mengendap-endap menuju ke sebuah gudang kosong mereka mengirim lokasinya dan aku langsung bergegas kesana. Mengintip lewat jendela kecil yang retak, ya benar saja dalangnya adalah pria brengsek itu suami dari klien ku yang hampir bunuh diri karena selalu dipukuli olehnya dan bukan hanya itu dia sering di caci maki oleh pria brengsek itu, sekarang dia ingin balas dendam kepada ku rupanya, baiklah ayo lalukan aku ingin menghajarnya sekarang. Rasa marah ku merangkak naik, dia dengan tidak manusiawi memperlakukan seorang wanita seperti itu. Ku tendang pintu dan terbuka mereka semua terlihat terkejut.


"Ini dia si perusak rumah tangga orang lain, dasar wanita sialan kau yang meracuni istriku agar bercerai dengan ku" ucapnya dengan percaya diri duduk di kursi menghadap ku dengan sorot kesal.


Akut tersenyum devil bahkan rasanya aku ingin tertawa kencang mendengar perkataannya.


"Oh ini dia manusia brengsek dan bejad yang memperlakukan istrinya dengan buruk, oh aku harus ralat, bukan kau bukan manusia karena manusia pasti bisa memanusiakan manusia lain tapi kau tidak jadi ku sebut saja kau bukan manusia atau manusia jadi jadian mungkin itu lebih pantas untuk mu dan tadi apa kau bilang, Istrimu apa aku tidak salah dengar bukankah kau memperlakukannya seperti seonggok sampah dan memukulinya sesuka hati kau pikir manusia akan melakukan itu pada istrinya ku pikir hewan saja tidak akan melakukan itu."


"**** ****** sialan, habisi dia" teriak pria itu menyuruh anak buahnya menyerang ku. Ada sekitar 10 orang yang mengitari ku bersiap siap untuk menyerang, ku tatap satu persatu dari mereka dan mencari keberadaan seseorang, agar nanti aku bisa dengan mudah membawa nya pergi setelah pertarungan berakhir, tap aku menatap ke ujung ruangan ada sebuah peti disana dan bisa ku lihat sedikit terbuka mataku membeku ditempat, tanganku mengepal kuat sosok yang ku cari tengah terbaring disana dengan ikatan dan mulutnya yang di tutup kain dia menatap kearahku dengan mata coklatnya terlihat ketakutan disana.


"Brengsek kalian semua" teriakku menggema mereka mulai menyerang ku satu persatu, aku mencoba tenang menghadapi mereka, beberapa orang tersungkur karena pukulan ku aku juga mendapatkan beberapa pukulan yang mengenai tubuh dan bibirku yang sedikit robek, 5 orang terkapar sisa 5 orang lagi.


"Maju" ucapku.


aku kembali berkelahi dan satu orang diantara mereka membuat aku tersungkur.


"Tamat riwayatmu Nara, kau akan mati sekarang" ucap pria itu menatapku sinis duduk di kursinya.


Aku bangkit tersenyum devil, "kau pikir aku sekarat begitu, hey jangan bermimpi" aku kembali berkelahi dengan 5 orang yang kini satu persatu tersungkur karena pukulan ku.


Ku usap bibir yang berdarah, menatap pria itu yang terlihat panik terlihat dari wajahnya.


"Kini giliran mu, akan ku buat kau mengerti rasa sakit di pukuli tuan" ucapku berlari dan langsung ku beri tendangan yang cukup kuat hingga dia terpental kebelakang.


"Ayo bangun, itu belum seberapa dengan apa yang kau lakukan pada istrimu"


Dia meringis berusaha bangkit dan kini kami saling berhadapan.


"Akan ku buat kau merasakan sakitnya diperlukan seperti bukan manusia" teriakku memberikan pukulan di perutnya.


"Dia kembali terjungkal meringis dan berusaha bangkit.


"kau pikir kau saja yang bisa memukuli orang hah ayo bangun dan lawan aku sekarang, jangan terus terusan menindas orang yang lemah dasar laki laki pengecut."


Dia kembali bangkit dan berlari mendekat berusaha melayangkan pukulan ke arahku, tapi aku berhasil menghindar langsung saja ku tendang tubuhnya hingga kembali tersungkur, "cukup main mainnya sekarang rasakan ini" ku hajar habis habisan hingga dia tergeletak tak berdaya dengan wajah yang babak belur.


"Ini belum seberapa dengan apa yang kau lakukan laki laki brengsek kau bahkan membunuh anakmu sendiri yang bahkan belum lahir."


"Aku berbalik berjalan meninggalkannya, srek pisau lipat menggores tanganku, jika aku tidak cepat menghindar pisau itu mungkin mengenai perut ku. aku berbalik dan menendangnya lagi hingga pisaunya terlepas dan dia jatuh pingsan.


Rembesan darah mengotori lengan bajuku yang sobek aku merobek ujung hijab ku dan membalut lukaku agar pendarahannya berhenti.


Ku langkahkan kaki menuju ke sudut ruangan membuka peti dan apa yang ku lihat Bima yang sedang menangis terisak, ku lepaskan ikatan ditangan dan kakinya lalu membuka kain yang menutup mulutnya. Dia langsung memeluk ku erat.


"Aku takut" ucapnya bergetar


"Semuanya baik baik saja Bima kita harus segera pergi.


Aku memapah nya menuju pintu keluar, tubuhku berhenti mendadak.


Ku pejamkan mata, tuhan kenapa harus sekarang ucapku dalam hati. Ku geser tubuh Bima agar berdiri dibelakang ku.


"Wah wah ternyata kau bisa mengalahkan mereka rupanya tapi gue pastiin Lo gak bisa keluar hidup hidup dari sini dan akhirnya gue bisa nangkep wanita sialan ini gadis buruk rupa sampah gak berguna. Gue pastiin Lo hengkang dari dunia ini. Kata kata itu keluar begitu mulus dari bibir tipisnya yang tersenyum devil.


"Dasar pengecut" ucapku membalas perkataan nya.


"kau bahkan bukan seorang pria sungguhan, kau hanya berani keroyokan kalian semua tidak pantas jadi seorang pria, dan kau pikir kau tuhan tahu segalanya kau pikir bisa menghabisi ku semudah itu dalam mimpimu" aku tersenyum remeh membalas tatapan tajam darinya menembus mata hezel nya itu.


"Wah lihat lo masih berani ngeluarin kata kata rupanya, Lo pikir bisa menang dari gue. Lihat baik baik" ia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya dan ya aku tahu itu apa.


Suara tembakan menggema di ruangan ini, dia menembakkan pistolnya ke atas dan sekarang mengarahkannya padaku kami hanya berjarak 10 meter.


Aku menggenggam tangan Bima jika ini yang terakhir kalinya aku menggenggam nya aku harus rela.


Aku tersenyum lebar bukan tersenyum devil seperti biasanya, ya aku ingin mencetak senyuman manis untuk terakhir kalinya jika memang ini akhir dari hidupku, tapi tentunya aku akan berusaha sekuat tenaga untuk tetap hidup.


"Wah kejutan yang luar biasa, belum cukup dengan para dayang dayangmu yang banyak itu kau juga bermain dengan mainan panas itu rupanya, luar biasa bukan, kau sampai repot repot menyewa mereka bukankah itu membuktikan bahwa kau tidak becus meringkus ku sendiri lalu kau meminta bantuan mereka wah cukup mencerminkan diri ternyata kenyataan kau tidak bisa apa apa bukan, kau hanya anak manja dan pesuruh.


Ku lihat matanya memerah ternyata kata kataku berhasil menyentilnya terbukti dengan tarikan pelatuk yang diarahkan ke atas dan menimbulkan suara tembakan yang begitu keras.


Dia kembali menodongkan pistol ke arahku


"Baiklah ayo kita bertarung kau ingin aku mati kan ayo aku akan melawan kalian semua dan lihat siapa yang bertahan tapi satu hal jangan libatkan anak ini" ucapku tajam.


Dia terdiam, "gue juga gak butuh anak itu yang gue mau Lo hilang dari dunia ini dan pistol ini akan menjadi akhir hidup Lo, gue bakal gunain ini terakhir nanti saat Lo minta ampun dan gue bisa lihat kesengsaraan Lo, Lo bisa mati saat itu." Senyuman mengejek tercetak jelas di wajahnya yang berkilau karena terkena cahaya lampu.


aku berbalik berjongkok dihadapan Bima mengusap wajahnya dan menggenggam tangannya. "Bima dengar sembunyi di balik peti itu, jangan keluar sampai keadaan sudah sepi"


"Tapii" ucapnya menggantung, ke khawatiran tercetak di wajah itu. Aku tersenyum manis menenangkan membuatnya mengerti.


"Baiklah" ucap bima memeluk ku dan berlari ke sana.


"Wah keluarga yang sangat harmonis rupanya tapi kasihan sebentar lagi semuanya akan berakhir sangat menyedihkan bukan"


"Dalam mimpimu brengsek" teriakku.


Ku lihat dia menatap ku marah dan menjentikkan jarinya sebagai tanda aba aba untuk mulai menyerang ku.


Aku mulai kembali berkelahi, karena lengan terkena goresan pisau tubuh ku jadi kesulitan tapi aku berhasil melumpuhkan beberapa orang walaupun harus tersungkur beberapa kali.


Jika aku harus tiada sekarang maka aku siap ucapku dalam hati dan kembali melawan mereka.


Beberapa orang mulai tumbang, memang orang orang yang dibawa pria gila ini lebih banyak ada sekitar 20 orang dan setengahnya sudah terkapar, aku belum pernah melawan sebanyak ini dan lihat kondisi ku yang tak karuan banyak bercak darah dan wajahku yang lebam serta bibirku yang robek dan tangan ku yang ku ikat dengan kain yang masih mengeluarkan darah.


"Cepat musnahkan dia" teriaknya lagi, dia hanya diam berdiri menyaksikan ku berkelahi dengan anak buahnya.


Suara jeritan terdengar nyaring membuat aku langsung menendang orang dihadapanku hingga tersungkur, aku berbalik dan mengepalkan tanganku. Pria yang ku kira pingsan itu dia meletakkan pisau di leher Bima.


"Lepaskan dia Brengsek" ucapku menggelegar kau buat satu goresan saja ku pastikan tak akan pernah memberi ampun lagi tidak akan ku biarkan kau membunuh seorang anak lagi setelah kau membunuh anakmu sendiri."


"Kenapa memang jika aku membunuh anak ku sendiri hah" ucapnya tertawa seperti orang yang tidak waras, aku bisa melihat luka di matanya.


"Sebelum terlambat perbaiki dirimu sendiri" ucapku menurunkan nada suaraku.


Dia kembali tertawa, "semuanya sudah terlanjur bukan, tidak ada yang bisa di rubah jadi aku akan menjadi monster sesungguhnya sekarang" teriaknya menekan pisau itu ke leher Bima


"Tidak Bima" teriak ku kencang. Aku berlari tapi pukulan mendarat tepat di punggung ku hingga aku tersungkur ke lantai dan punggung ku di injak kuat, hingga aku kesulitan untuk bangkit.


"Kau pikir aku akan melepaskan anak ini tidak akan aku akan membunuhnya."


Mataku memerah dengan air mata yang menggenang menatap ke depan.


"Dan kau" tunjuk pria itu sebelum kau membunuhnya aku akan lebih dulu membunuh anak ini agar dia lebih menderita.


"Brengsek" teriakku. Aku berusaha untuk bangkit dengan kekuatan yang ku kumpulkan tapi suara tembakan membuat aku melemas aku menatap ke depan dan tubuh seseorang ambruk.


"Sangat mudah bukan menyingkirkan manusia manusia tidak berguna, berani  Lo nyuruh gue sialan, itu akibatnya karena Lo berbuat lancang"  ucap seseorang dari belakang, Aku tahu suara itu milik siapa ternyata pria pirang gila itu yang menembak hingga pria dihadapanku tergeletak dengan luka tembak di tangannya dan kakinya.


"Sekarang giliran Lo" ucapnya berjalan mendekat mengusir pria yang menginjak bahuku. Dia berdiri dihadapanku dengan pistol ditangannya mengarah tepat kearahku. Aku tidak sedikitpun menggeser tubuhku yang masih tengkurap menghadap Bima yang kini sedikit terhalang oleh nya.


"Tolong jangan lakukan itu" teriak bima mencoba bangkit mendekat.


Aku berteriak "Jangan mendekat Bima dan tetap disana atau aku akan sangat marah padamu, balikan tubuhmu, tutup telinga dan kau harus menepati janjimu yang kita buat" teriakku.


Ku lihat dia menangis dan membalikkan badannya menutup telinga dan berkata, "aku berjanji akan menepati janjiku" ucapnya lirih.


Ku pejamkan mata, berucap dalam hati, tuhan aku titip Bima maafkan aku dan terimakasih untuk kesempatan hidup yang kau berikan.


Ku buka mataku dan langsung menghunus tepat bola matanya. Mungkin ini terakhir kalinya aku berusaha, mati atau tidak urusan Tuhan saja ucapku dalam hati, dengan cepat ku tarik kakinya hingga ia terjatuh aku bangkit dan ku tendang tangannya dan pistol itu terlepas dari tangannya ku tendang sejauh mungkin.


"Berhenti kau" ucap seseorang dari arah samping menodongkan pistol ke arahku, dan satu orang lagi menodongkan pistol itu ke arah Bima.


Membuat aku berdiri tegap menghembuskan nafasku kasar.


Pria itu tersenyum licik "kau pikir aku bodoh begitu" ucapnya menepuk celananya yang kotor.


"Tembak dia" teriak nya.


aku bahkan tidak bergeming yang aku lakukan adalah tersenyum lebar menatapnya membalas senyum remehnya itu.


Tarikan pelatuk terdengar jelas dan ya suara tembakan bergema, aku jatuh terkulai ke lantai.