
Aku berjalan santai menuju ke kampus dan melewati pusat perbelanjaan orang orang sedang apa mereka melihat layar iklan di gedung itu.
Aku melirik kearah layar itu dan hampir aku akan jantungan "itu itu astaga bagaimana bisa"
Berita terkini Bara Anderson Gretchen anak dari pengusaha sukses yang kemarin viral begini kronologi sebenarnya.
Bara Anderson cemburu melihat kekasihnya bertemu dengan pria lain itu penyebab utama ia melakukan pengeroyokan.
Foto itu memperlihatkan kejadian kemarin saat dia dengan kurang ajarnya menciumku tiba tiba sialnya setengah wajahku terpampang jelas di sana.
Aku terduduk lemas bagaimana bisa astaga aku dijadikan kambing hitam oleh mereka aku menutup wajahku dengan ujung pasmina. Aku harus pulang sekarang menenangkan diri.
Kamar
Aku mengacak rambutku frustasi ku lihat berita terkini di sosial media.
Bara Anderson diketahui memiliki kekasih seorang anak beasiswa dikampusnya itu membuktikan bahwa dia orang yang baik tidak mungkin melakukan tanpa alasan.
"**** apa tadi baik hati kurang asem semua berita itu aku tahu mereka sendiri yang buat."
"Arrgggggg, bagaimana nasibku sekarang bagaimana ya tuhan aku akan habis di buli oleh semua manusia mereka pasti berpikir aku manusia brengsek mereka pasti mengelu elukan si pirang itu sementara aku habis di caci maki lalu Rendra dia juga akan habis di caci maki kenapa jadi serumit ini."
Ku lihat kolom komentar
R : Bara ganteng banget tapi cewek nya jelek masa selingkuh sih gak tahu diri banget.
T: Tuh cewek kurang bersyukur muka jelek kek gitu dapet yang bening malah ketemu Cowok lain.
I : Pantes bara mukulin toh cowok
K: Cewek nya bego idiot kali
f: Kok bisa sih bara suka sama cewek kek dia cantikan gue kemana mana.
Dan ribuan komentar yang menghiasi kolom komentar berita gosip tersebut.
Ingin ku banting ponsel ku tapi aku sadar diri ini ponsel satu satunya.
"Arrgggggg bener saja aku jadi santapan para netizen biarkan saja mereka mengumpat sesuka hati, aku dapat pahala cuma cuma. Terserah saja aku ingin tidur saja."
Sudah seminggu ini aku berdiam diri di rumah.
"Dret" pesan dari prof renan.
"Ditunggu diruangan saya hari ini"
Aku juga tidak bisa terus bersembunyi seperti pencuri aku tidak salah si pirang itu yang salah oke Nara buktikan kalau kau bukan pengecut.
Aku bersiap untuk kekampus dan benar saja mereka semua menatap ku dengan mata menjengkelkan. Padahal dari foto itu sulit menyimpulkan itu adalah aku tapi mereka pasti tahu yah pasti ada ratu gosip yang mencari tahu oh dasar menyebalkan.
"Tok tok" aku mengetuk pintu ruangan prof Renan sekaligus dekan kampus ini.
"ya masuk" ucap seseorang di sana, aku masuk ke ruangannya dan lihat aku disambut dengan deretan manusia yang sedang menatap ku seolah ingin menelan ku hidup hidup, "baiklah ayo aku akan hadapi" gumanku menutup pintu.
Dan dapat ku lihat ada Rendra, seorang pria paruh baya berjas hitam lalu disebelah nya yang berjas hitam juga hanya mereka berbeda generasi duduk disamping prof renan dan jangan lupakan si pirang yang menatapku tajam seolah matanya akan lompat dari tempatnya aku juga menatapnya tajam ingin sekali ku tonjok wajahnya yang super kinclong itu sampai babak belur rasa kesalku menggila atas kejadian kemarin malam, manusia terkutuk menyebalkan.
"Duduk" ucap prof renan. Aku duduk di kursi samping Rendra, ya seolah yang jadi tersangkanya aku dan Rendra aku seperti terdakwa yang sedang di sidang mereka duduk dihadapan kami. Hening sebentar beberapa menit.
"Aku ingin mengadakan konferensi pers" ucap pria paruh baya berjas hitam tegas, aku tidak tahu dia siapa tapi aku tahu bahwa mereka semua berbahaya mereka memiliki racun berbisa.
Aku hanya menatap dingin tidak mengerti dengan ucapan pria paruh baya itu yang terlihat tidak menua.
"Kau Nara Riveeraa dan kau Rendra besok kalian harus Hadir" ucap pria itu lagi.
Apa sebenarnya yang dibicarakan bapak itu aku tidak mengerti sama sekali, konferensi pers katanya ku kira mereka akan minta maaf oh itu si dalam khayalan ku tidak mungkin mereka melakukan itu.
Hening tidak ada yang menjawab, lidahku gatal sekali ingin bersuara dan yang paling gatal adalah tanganku yang ingin meremas wajah pria gila itu dan melemparkannya ke tong sampah ya wajahnya menyebalkan sekali sejak tadi menatap ku dengan tajam seolah aku yang melakukan kesalahan.
"Maaf tapi saya tidak mengerti maksud dari perkataan bapak barusan dan saya rasa permintaan bapak tidak masuk akal duduk perkaranya yang harus diselesaikan minta anak bapak yang jelaskan permasalahan nya dia yang harusnya bicara bukan malah lempar batu sembunyi tangan, disini saya tidak bersalah dan teman saja juga kami korban dan bapak bilang saya harus datang konferensi pers untuk membenarkan berita yang beredar begitu? Apa itu tidak salah bapak..
"Nona jaga bicaramu" ucap seorang pria disamping pria paruh baya itu. Memotong pembicaraan ku.
Pria paruh baya itu mengangkat tangannya mungkin agar pria disampingnya berhenti bicara.
"Silahkan lanjutkan dulu pekataanmu Nara" ucap paruh baya itu.
"tiba tiba aku harus hadir sementara yang berbuat salah siapa bahkan makhluk yang katanya manusia dihadapkan ku ini tidak minta maaf atas kelancangannya itu kurang ngajar sekali.
"Begini Nara saya sebenarnya tidak ingin mengatakan ini tapi hal ini perlu dilakukan, datang ke konferensi pers atau kau memilih nama baikmu dan kuliah mu sia sia pilihan nya ada ditangan mu Nara atau kau lebih suka dirimu dan Rendra dibuang masyarakat, aku bisa saja menyebar berita lain yang langsung menghancurkan mu" Ucap paruh baya itu menatap ku dengan sayu.
Aku mengepalkan tangan, "terserah bapak saja aku tidak peduli itu kesalahan anak bapak yang badung dan kurang ngajar. Anak bapak itu gak punya rasa kemanusiaan seenaknya memperlakukan orang lain seperti sampah dan tak berguna tanyakan padanya semudah itukah menghancurkan kehidupan orang lain dan bahkan kau yang katanya manusia kau bahkan tidak meminta maaf padaku atas perilaku mu yang kurang ngajar itu aku juga tidak akan memaafkan kejadian tadi malam dengan kurang ngajarnya dia melecehkan saya, kau jika tidak bisa mengendalikan diri setidaknya jangan minum minuman haram itu tuan Bara Anderson Gretchen, wah paket komplit brengsek dan kurangajar" aku menatap wajah si pirang yang memerah menahan amarah.
"Kurang ngajar Lo" Ia bangkit dan aku tahu dia berniat mencabik cabik mulutku ini karena telah mengatainya. Tapi di cegah oleh tangan paruh baya di sampingnya.
"Semuanya selesai tidak ada diskusi lagi maaf aku harus pergi assalamualaikum" ucapku pergi meninggalkan mereka menuju pintu keluar.
Sementara Rendra dia hanya diam sudah menjadi kebiasaan sepertinya diam di injak injak semena-mena, terserah konsekuensinya seperti apa aku tidak peduli aku lelah terus terusan diam dan mengalah biarkan saja orang mengira aku brengsek aku tidak peduli toh aku memang sejak lama hidup sendiri tanpa campur tangan orang lain.
Baru aku akan membuka pintu, "tunggu Nara aku menawarkan kesepakatan padamu."