NARA RIVEERAA VS BARA ANDERSON GRETCHEN

NARA RIVEERAA VS BARA ANDERSON GRETCHEN
24 (berkunjung)



Aku berdiri di samping pohon memperhatikan sosok anak kecil yang sedang menangis terisak duduk di kursi panjang malam malam begini dia tengah duduk sendirian. Aku berkunjung ke sekolah asrama elit di kota ini tuan Anderson yang memasukan Bima ke sekolah ini. Apa semenyakitkan itu hidup Bima ucapku dalam hati. Seperti melihat diriku sendiri waktu kecil rasanya sesak.


Aku mencoba mengendalikan diri. Dan melangkah mendekat padanya membingkai wajah ku dengan senyuman.


"Kak Nara" ucapnya aku tersenyum dan langsung memeluk tubuh kecilnya.


"Gak papa Bima gak masalah kadang menangis itu perlu"


Tubuh kecil itu bergetar hebat menangis terisak, aku memeluknya semakin dalam sembari mengelus rambutnya menatap langit malam.


Oh tuhan jangan sampai Bima merasakan apa yang aku rasakan dulu ku mohon karena itu sangat sakit.


Aku ikut terisak kami menangis bersama. "Kak kenapa orang orang jahat kenapa dunia kejam pada kita padahal aku tidak menyakiti mereka"


Aku menghapus air mata Bima. Karena mereka tidak mengerti apa yang kita alami mereka tidak pernah tahu rasanya diposisi kita. Kau tahu lautan mereka memiliki perahu untuk bertahan tapi kita kita tidak memiliki itu lalu yang bisa kita andalkan adalah diri kita sendiri agar tidak tenggelam kita harus berenang ke tepian agar kita tidak tenggelam. Tapi kenapa kita tidak punya perahu kak kenapa orang lain punya itu. Kenapa tuhan hanya memberikan sebagian orang saja.


Aku tersenyum karena kita berbeda kita lebih tangguh dari mereka kau adalah anak yang super kau tahu Bima kau adalah anak pilihan. Jika mereka terus menerus menyakitimu kau harus tanamkan dalam diri bahwa semua itu hanya omong kosong kenyataannya mereka tidak sekuat dirimu mereka tidak setangguh dirimu kau harus bangga pada dirimu sendiri.


Apa yang membuat pangeran kecilku bersedih malam ini, ucapku mencubit pipinya


Apa pangeranku tidak betah disini? Jika pangeran kecilku tidak nyaman disini ayo kita pindah saja


Ku lihat Bima menggeleng, disini tidak seburuk itu temen temen semuanya tidak ada yang jahat kok tapi ucap Bima menggantungkan kata katanya.


Tapi apa?


Bima menggeleng tidak ada hanya merindukan kakak saja, ku Lihat ada sinar keraguan dimatanya.


Baiklah ayo masuk dan istirahat dan jika ada sesuatu katakan saja


Baiklah kak aku akan mengingat kata kata kakak, aku mau tumbuh dewasa seperti kak Nara.


Aku tersenyum.


Ku antarkan Bima ke kamar nya dan berjalan keluar menuju petugas yang berjaga.


Aku bertanya sesuatu dan jawaban nya mampu membuat ku mengeraskan wajah ku.


Rumah


Baru saja aku masuk ke ke rumah berjalan menuju tangga belum sampe bahan aku baru saja melewati dapur berhenti di samping meja makan suara tepuk tangan terdengar dibarengi dengan lampu yang menyala menghentikan langkahku


"Bagus ya baru pulang sekarang jam 12 malam


aku menghentikan langkahku mendengar suara yang tak asing itu tentunya siapa lagi jika bukan monster kurang ajar itu ku balikan tubuhku kearah sumber suara yang begitu dekat dan ya ternyata dia sedang berada di dapur menuangkan air kedalam gelas.


"Bukan urusan mu urus saja pacarmu itu jangan urusi aku" ucapku melanjutkan langkah, aku belum siap untuk berdebat kali ini rasanya cape dan butuh istirahat juga menjernihkan pikiran aku ingin mengumpulkan tenaga untuk membumi hanguskan nya besok.


Tapi dia mencekal tanganku rasanya nyeri di sikuku yang bengkak.


"Lepaskan tanganku brengsek" ucapku sengit menatap nya tajam.


"Lo hanya numpang disini ***** jangan buat gue kehilangan kesabaran dan ngelempar lo ke neraka." Bisa ku lihat rahangnya mengeras matanya menyorot ku tajam.


Aku berdecak "tidak perlu menjelaskan aku sadar diri hanya menumpang lalu kenapa apa masalahnya aku mau berbuat apa terserah padaku kau tidak berhak mengatur dan apa tadi bukankah kau yang harusnya sadar diri jangan ikut campur lagi jika ku tahu kau menyakiti Bima ku pastikan kau hancur sehancur hancurnya" ucapku tak kalah sengit membalas tatapan matanya itu.


"Lo ngancem gue hah?, bocah itu mengadu ternyata. memangnya kenapa, gue cuma buat bocah itu sadar diri manusia seperti kalian itu tidak berguna. Untuk apa hidup hanya akan menjadi pengemis dan gelandangan."


Tanganku mengepal kuat mendengar ocehannya.


"Jaga bicaramu bara Anderson, kau pikir kau siapa hah kau hanya anak tak tahu diri dan tak tahu bersyukur manusia sombong dan brengsek.


Dia tersenyum devil, "apa tadi bahkan nama gue  gak pantas Lo sebut dengan mulut Lo yang menjijikkan itu atau perlu gue beri tahu anak itu kalau Lo hanya jadi sampah disini dan dia juga akan seperti itu di masa depan"


Tanganku melayangkan tamparan keras hingga dia tertoleh ke samping "berani kau menyentuh Bima aku tidak segan menghancurkanmu Bara Anderson Gretchen akan ku bongkar pada dunia siapa dirimu sesungguhnya."


Dia menatapku tajam dengan ujung bibirnya yang berdarah hasil dari tamparan ku barusan, dia semakin mencengkram sikuku yang bengkak aku berusaha tidak meringis.


"Lo pikir Lobisa ngelakuin itu hah" teriaknya menggelegar.


"Kenapa apa kau takut?" ucapku tersenyum devil. Cengkraman di tanganku menguat kembali aku tidak bisa lagi menahan nya. Tiba tiba dia menyeretku menuju tangga.


Kenapa aku hanya diam mengikuti seretanya karena aku sedang mengumpulkan tenaga dan menakan rasa nyeri di lengan ku, sakit astaga ini sangat sakit bahkan sampai kakiku lemas tubuhku mengikuti tarikannya.


Dia mendorong ku hingga jatuh di lantai, "malam ini Lo tidur disini dan kamar Lo itu akan ditempati viera Lo gak pantes tidur disana" katanya dengan wajah sengit.


Aku menatap nya dingin "silahkan saja kau pikir aku peduli silahkan lakukan sesukamu" dia membanting pintu dan pergi begitu saja.


"Hahahaha lucu sekali dia pikir aku kalah karena menurut dan tidak memberontak bukanlah seru jika kita tarik ulur aku perlu mundur agar aku bisa lebih jauh saat melompat" ucapku tersenyum misterius.


Bukan kamar lebih tepatnya gudang mungkin karena letaknya di lantai dua dan paling ujung ada sebuah ruangan kecil yang isinya hanya kosong bahkan kamarku dulu lebih layak dari pada ini, aku menghembuskan nafas, "kau pikir kau siapa berani memperlakukanku seperti ini lihat saja aku bukan gadis bodoh"


Aku sebaiknya istirahat saja tanganku sakit sekali apa semakin membengkak sepertinya iya.


Rasanya tubuhku sedikit tidak enak ditambah dengan lenganku yang sakit, sepertinya sehabis kerja aku harus ke klinik.