NARA RIVEERAA VS BARA ANDERSON GRETCHEN

NARA RIVEERAA VS BARA ANDERSON GRETCHEN
4 (pertarungan sengit)



Astaga kepalaku serasa ingin pecah satu bulan aku mengejar dospem dan sampai hari ini pun skripsi ku masih terkatung katung oh astaga aku lelah sudah minta ganti dospem ditolak bisa bisa aku gila lulus kagak gila ia gak lucu kan mahasiswa terjun dari lantai 20 karena dospem susah ditemui.


Aku menuju ke roftop sekalian saja lah cari angin segar.


Ku buka pintu roftop angin segar menyentuh wajahku.



"Cepet kasih tahu gue siapa orang nya hah atau Lo mau gue lempar dari gedung ini, suara berisik membuat aku buru buru bersembunyi, aku mengintip. Astaga si kaca mata ucapku terkejut. "Bug" suara pukulan keras hingga dia tersungkur dengan luka lebam dimana mana.


Kurang ngajak si piring bebal ucapku kesal sedikit menurunkan suaraku, tangan ku mengepal menyalurkan rasa panas di dadaku.


"Lo pasti tahu siapa orangnya atau itu temen Lo hah, tikus tikus got berani ngelawan gue" ucapnya menarik kerah baju pria kaca mata itu.


Sementara 3 orang dibelakangnya hanya terkekeh dengan raut wajah yang memuakkan pertama pria berkemeja putih dengan rambut hitam legamnya dan kedua pria berkemeja coklat dengan rambut hitamnya lalu si pria berkemeja hitam dengan rambut merahnya dan terakhir si pirang yang sedang mengeluarkan kata kata pedas dari mulut cabenya itu. Mereka semua sempurna dalam hal visual tapi minus dalam hal kemanusiaan wajah mereka tidak cocok dengan perilaku bebal itu.


Aku mengepalkan tanganku saat si pirang menarik kerah baju pria berkacamata itu dan mendorong tubuh pria itu menuju ke pembatas.


"Lihat hah lihat kebawah gue kasih kesempatan terakhir atau gue lempar Lo dari sini"


Pria itu tetap bungkam hanya meringis, "aku tidak tahu ucapnya."


"Oh Lo pikir gue bego hah oke" si pirang menghempaskan cekalannya.


"Bram lempar dia" ucapnya, pria yang bernama Bram itu mendekat dan menarik kerah baju pria itu.


"Lo salah main main sama kita Rendra, bara gak pernah main main dan sekali tepuk Lo mati."


Rendra oh namanya Rendra ucapku was-was.


"Siapa orangnya teriak orang yang di panggil bara itu menggelar, nyawalo itu gak guna lebih baik mati, manusia buangan menjijikan harus dimusnahkan"


Aku tidak tahan lagi rasanya aku ingin melempar mereka semua ke neraka


"Kenapa gak Lo aja yang mati" ucapku lantang "manusia kek kalian itu yang harusnya dimusnahkan bikin bumi jadi kotor"


Mereka berbalik menatapku sengit "siapa Lo? jangan ikut campur atau Lo juga mau mati" ucap pria yang dipanggil bara itu.


"Apa tadi mati, hey kau menawarkan kematian pada orang lain kenapa tidak pada diri sendiri saja." ucapku dengan senyum mengejek aku sedang berlatih membuat senyum yang sering ku lihat di drama drama.


Mereka menatap ku sengit, "wanita sialan kau gembel menjijikkan berani nya kau mengangkat suaramu dan menjawab perkataan ku" ku lihat dia mengepalkan tangannya dan wajahnya memerah seperti kepiting rebus.


"Astaga otakmu dimana, apa tidak di pakai kau bertanya ya aku jawab dan masalah mati itu ditangan tuhan, kau siapa menawarkan itu dan apa tadi kau barusan mengeluarkan sampah dari mulutmu ternyata pantas saja aku bisa mencium baunya", aku terkekeh dengan ucapan ku sendiri ternyata aku semakin jago merangkai kata kata wah aku bangga pada diriku sendiri.


"bukankah kau bertanya tadi Aku orangnya" ucapku lantang menggeser tubuhku berdiri dengan tegak menatap lurus, sebenarnya aku merutuki mulut ku sendiri disaat begini aku malah sok sok an menjadi pahlawan tapi karena perbuatan ku aku harus bertanggung jawab tidak bisa membiarkan pria itu mati begitu saja.


ku lihat Rendra ya dia menatapku dengan gelengan kepalanya. Aku sudah mengantongi rekaman mereka saat adegan memukul tadi. Jadi itu senjata ku jika mereka bertindak brutal lagi.


Aku mengangguk dan berjalan mendekat, "aku orang nya kenapa hah, bukankah kalian mencariku?"


Mereka tersenyum remeh, "Lo mau jadi pahlawan kesiangan disini" ucap pria berambut merah ia dia Bram.


"Lo pikir kita gak bakal lakuin hal yang sama seperti pria menjijikkan ini" ucap pria berambut cokelat dia adalah Alex.


"Memang aku orangnya yang melempar setengah botol air mineral itu ke padamu, tunjuk ku ya dirimu seharusnya aku melempar sepatu ke mulutmu agar kau berhenti bicara omong kosong atau perlu ku lakban saja atau bagaimana jika tuhan yang melakukannya agar lidah tajam mu itu berhenti mengeluarkan suara."


Ku lihat dia menyeringai, "Lo salah cari gara gara sama gue nona buruk rupa" ucapnya sarkas.


Bukannya takut aku terkekeh geli, "apa tadi buruk rupa oh berlebihan sekali dirimu tuan bukannya kau yang bukan manusia ku pikir manusia tidak memperlakukan manusia seperti hewan."


"Sialan umpatnya Lo bilang gue hewan hah" teriaknya nyalang.


"Itu anda yang bilang bukan saya ternyata anda sadar diri juga" ucapku santai.


Dia mendekat berdiri beberapa langkah dariku, aku menggenggam erat sesuatu di balik tasku aku malas berkelahi jadi ya senjata kedua ku gunakan.


Dia berjalan mendekat dengan amarah yang membumbung tinggi terlihat dari telinganya yang memerah.


Sebelum sampai meringkus ku aku menyemprotkan air cabai kewajahnya berhasil ku lihat dia menahan perih dengan berjongkok sementara teman temannya mendekat aku langsung semprot mereka semua. Suasana semakin riuh oleh umpatan mereka aku berlari kearah pria itu dan menarik lengan kemeja nya dia terkesiap dan ikut berlari walaupun dengan tertatih.


"Duluan" ucapku menutup pintu roftop tunggu aku di depan lift ucapku dia berlari menuju lift sementara aku menahan pintu seseorang berhasil menggapai pintu, aku mendorong pintu dan bruk tepat sasaran mengenai dahinya dan bum jatuh pingsan rasakan ucapku menutup pintu dan memberi palang menggunakan gagang sapu.


Aku berlari menuju lift, ku lihat dia bersandar pada dinding memejamkan matanya.


Hey ayo ucapku menyadarkannya ia membuka matanya dan aku gemas langsung menarik lengan kemeja nya memasuki lift.


Kita sudah sampai di besmen sengaja agar tidak ada yang curiga dan melihat kami.


Kita akhirnya sampai di halte busway. Aku duduk termenung merenungi nasibku kedepannya.


Sementara dia juga sama entahlah kami jadi tiba tiba saling diam.


"Tring suara pesan masuk aku membukanya, aku terperanjat yes "Alhamdulillah selesai aku bebas ucapku."


Dia menatapku seolah bertanya ada apa. Aku kasihan padanya bagaimana jika dia malah terus terusan di buli.


Ada satu cara aku masih punya videonya ku cek hp ku dan aku langsung lemas seketika astaga apa yang kulakukan kenapa bisa video yang ku rekan tadi sudah terupload di sosial media ku.


Aku merosot duduk di bawah merutuki kebodohan ku lagi dan lagi. Aku ingin mengancam mereka dengan video itu tapi sekarang.


"Ada apa tanyanya?"


Bagaimana aku menjelaskan padamu aku bingung maaf ucapku menunduk gara gara aku kau jadi begini."


"Aku baik baik saja" ucapnya, tapi bagaimana dengan kuliah mu sepertinya mereka akan terus mengejar mu.? Tanyaku khawatir.


"Yang harusnya kau khawatirkan adalah dirimu sendiri kenapa kau malah muncul harusnya kau lari jangan beri tahu mereka."


Aku menghembuskan nafasku, "kau pikir aku manusia sejahat itu kau pikir aku manusia yang tak punya hati."


"Kenapa kau tidak memberi tahu mereka? ucapku "aku tidak akan marah jika kau memberi tahu mereka dari pada nyawamu terancam mereka bisa membunuhmu."


Rendra tersenyum "aku sudah berjanji dan janji itu akan selalu ku pegang sampai matipun, aku tahu mereka bisa saja melemparku dari sana tapi aku tidak peduli mungkin takdirku seperti itu.