
Author POV
"Bar Lo bener ini foto Lo astaga Lo nyium cewek jelek itu astaga oh my God semua wanita ngantriĀ bara" ucap Bram mereka sedang berada di apartemen bara.
Sialan Lo ucap bara kesal, Lo pikir gue gak jijik nyium tuh cewek gembel buruk rupa sialan. Gara gara minuman alex gue jadi gak bisa bedain mana gembel mana bukan.
"Sory Sory gak nyangka aja gue ternyata minuman si Alex gila bikin orang pada tepar abis"
"Nah gue lagi yang disalahin, suruh siapa kebanyakan kan gue bilang minuman nya satu gelas Lo pada malah satu botol ya teler pasti" bela Alex menenggak minuman kaleng miliknya.
"Eh btw kenapa muka Lo lebam" tanya Rangga menunjuk pipi bara yang lebam.
"Atau Lo di tonjok sama tuh cewek" tanya Alex penasaran.
Bara baru menyadari wajahnya lebam, "awas aja tuh gembel berani beraninya dia mukul muka gue"
"astaga bener bener tuh cewek buruk rupa berandalan lagi gak ada bagus bagusnya mines doang. Timpal Bram.
"Udahlah gue pusing denger namanya aja gue pengen muntah mana bokap gue maksa lagi citra gue ancur gara gara dia"
"Hahahaha iya iya seorang bara Anderson Gretchen pacaran sama cewek buruk rupa, astaga astaga gila langsung tranding di kampus tapi itu bagus Bar biar pamor Lo naik juga kan seorang bara Anderson Gretchen terbukti tidak melihat fisik seseorang dan kekayaan kan bagus tuh jadi bisa nutup skandal kemarin mereka gak bakal nyangka juga"
Nara POV
"Tring" notif dari manager hotel, tidak usah kerja lagi kamu dipecat.
Tuh kan racun mereka udah mulai menyebar "Ting" notif dari restoran aku bekerja sebagai tukang cuci piring disana.
Kamu dipecat sudah saya tf gaji bulan ini. Aku tersenyum wah mereka sudah mulai melebarkan sayapnya ternyata.
"Tring" notif email dari kampus
Beasiswaku di cabut oh tidak sampai sejauh ini 4 tahun ku sia sia saja ternyata, menyebalkan aku sudah mati matian bertahan di kampus menyebalkan itu dan aku bahkan tidak lulus untuk apa 4 tahun ku selama ini waktu terbuang uang juga kesal sekali.
Pesan dari nomor tidak dikenal
Jika kamu tidak menghadiri konferensi pers besok semua anak beasiswa akan di cabut beasiswanya.
"Ini lagi yaudah si kalau mau dicabut ya cabut aja kok repot orang beasiswa ku saja sudah di cabut. Tapi bagaimana jika mereka bunuh diri arghhhhhh serem banget mahasiswa beasiswa bunuh diri karena beasiswanya dicabut karena ulah seorang Mahasiswa lain tercantum namaku di sana astaga itu tidak bagus."
"Aku harus bagaimana ya, ku kira aku saja yang akan mendapatkan dampak tapi kenapa orang lain juga arrgggggg si pirang sialan awas saja kau akan ku musnahkan menyebalkan."
Tiba tiba ada yang memasukkan ku kedalam group apa ini astaga group mahasiswa beasiswa.
g: Kak Nara plis dong bantu kami kak kami gak mau beasiswa kami di cabut.
H: Iya kak.
Y: Nara Lo jangan egois dong gua bentar lagi lulus jangan karena elo ijasah gue ditahan.
S: Iya Lo gue abis sidang ini
L: Nara pliss jangan kek gini
Q: Jangan cuma baca aja dong bales chat kita
Tuh kan mereka sudah ribut ribut aku balas apa ya
N: Aku juga di cabut beasiswanya
Q: Terus maksudnya kita juga harus rela gitu gak bisa Nara gue gak mau pokonya.
Aku membalas pesannya lagi
N: Kalian usaha dong demo kek jangan cuma berisik di group doang kalian enak cuma ngomong doang kalian juga gak tahu kejadiannya kek gimana kan.
P: Iya tapi semua ini karena elo nar kalau Lo gak buat ulah sama bara gak akan kek gini.
N : Oke kalau emang salah nolong sama bela orang lain yang terzolimi menurut kalian ya oke maaf karena hati nurani ku bekerja kalian jadi kebawa bawa. Nanti ku kabari kalau solusinya udah Nemu
Aku menutup ponselku walaupun masih banyak pesan yang masuk.
"Nar" ucap seseorang menepuk pundaku, aku menoleh kita perlu bicara.
Kami berdiri di jembatan penyebrangan menatap lurus kedepan melihat lalu lalang kendaraan.
"Maaf nar karena aku, kau jadi masuk masalah besar" ucap Rendra.
"maaf karena aku juga tidak bisa membelamu saat pertemuan tadi. Terimakasih telah membelaku dan menolong ku saat di roftop"
Aku terdiam "aku yang minta maaf karena ulahku semua orang terseret masuk ke masalah besar."
"Kau tidak salah Ra hanya saja keadaan yang tak bisa kita kendalikan mereka yang punya kuasa selalu bisa memutar balik keadaan aku tidak masalah jika harus datang konferensi pers mungkin ini yang terbaik tapi jika kau tidak mau datang aku tetap mendukung mu ra karena itu hak mu, bara memang brengsek aku tahu itu sejak lama, kau pasti bertanya tanya kenapa aku diam saja karena aku tidak mau berurusan dengan mereka kau tahu Afgan dia bunuh diri karena membela diri saat di buli oleh bara dan Amira gadis malang itu bunuh diri karena tidak tahan dengan Bulian cacian dari anak anak kampus karena kau tahu Bella Saphira dia yang menyebarkan rumor menjijikkan bahwa dia menyukai bara dan mereka berakhir dengan terjun dari roftop.
Kenapa aku baru tahu hal ini kemana saja aku, bahkan aku baru tahu pria itu anak dari pemilik sekolah dan banyak kasus juga terjadi, astaga aku kemana saja selama ini. Ucapku dalam hati
Aku merasakan sesak, "sebegitu menyakitkannya ketika hidup dengan ekonomi berantakan dan visual yang biasa saja, aku paham ren aku sangat paham bagaimana rasanya itu aku juga sempat ingin melakukan itu tapi ku rasa aku belum siap dengan konsekwensinya. Kau saja yang memiliki visual oke bisa merasakan itu apalagi aku yang visual saja biasa saja. Mereka hebat sudah bertahan walaupun akhirnya menyerah tapi mereka hebat aku berdoa untuk mereka.
"Kata siapa visual mu biasa saja Ra, kau bahkan sangat cantik dengan keberanian itu, semua orang bisa cantik Ra tapi hanya saja itu butuh proses dan uang, tapi semua orang tidak memiliki keberanian seperti dirimu."
"Ya memang dra lihat saja kalau tuh bocah pirang gak punya uang banyak gak bakal tuh muka kinclong gak bakal good looking kek sekarang cuma bedanya dia punya banyak uang dan seenaknya pada orang lain."
Rendra tertawa renyah "iya Ra dia hanya bayi besar yang diurus oleh orang tua nya yang kaya raya."
"Dan hanya bisa merengek saja nagis kalau gak diturutin kek bayi hahahaha" timpal ku
Aku dan Rendra tertawa lepas ini bentuk pengeluaran stres ku terhadap masalah.
"Aku duluan Ra apapun keputusan mu aku dukung." Aku mengangguk.