NARA RIVEERAA VS BARA ANDERSON GRETCHEN

NARA RIVEERAA VS BARA ANDERSON GRETCHEN
17 (Flashback rumah sakit dan alasan diburu)



Flashback


Rumah sakit sky


aku berdiri di depan pagar pembatasan menatap ke bawah banyak lalu lalang orang di lantai bawah perawat dan juga orang orang yang akan berobat, disini aku merenung panjang bimbang dan bingung serasa salah tapi solusinya buntu.


"Nara ayo masuk" ucap seseorang menyadarkanku dari lamunan panjang dan bimbang ini.


Ku hembuskan nafas berat dan mengikuti langkah kakinya masuk kedalam sebuah ruangan yang cukup besar disana sosok pria paruh baya tengah terbaring lemah dengan banyak alat medis di tubuhnya.


Pria paruh baya itu tersenyum, "kemarilah" ucapnya


Ku tatap taun Anderson dibalas anggukan oleh nya, lalu mendekat dan berdiri di sampingnya, "Nara duduklah" ucapnya menatap ku dengan senyuman terbit di wajah pucatnya itu.


Aku hanya tersenyum simpul dan duduk mengikuti perkataan nya.


"Baiklah sekarang Nara sudah datang dimana bara?  setelah bertemu dengan Nara aku putuskan hari ini untuk menjalani pengobatan ku"


Ku lihat tuan Anderson tersenyum lebar dan berbisik di telinga ku "terimakasih Nara"


Aku hanya mengangguk saja entahlah di otaku serasa terbakar sejak tadi terus memikirkan solusi tapi tidak ku temukan.


"Bara akan segera datang ayah" jawab tuan Anderson.


Suara pintu diketuk tak membuat aku menoleh kepala ku berisik sejak tadi saling bersautan perdebatan panas dan sengit tak terkalahkan.


Hingga suara lantang kakek menyadarkanku yang sejak tadi asyik melamun.


"Kenapa lama sekali" ucap kakek itu menatap sosok dihadapan ku ya tentu saja bara Anderson Gretchen monster berkepala emas itu siapa lagi.


"Maaf kek tadi aku kejebak macet" ucapnya santai dengan setelan jas putih dan sepatu mengkilap jangan lupakan wajah super kinclong nya itu, tampilan yang pastinya membuat semua wanita menjerit jerit tergila gila tapi tidak dengan ku yang muak melihat wajahnya.


"Baiklah sudah siap kan cucu cucuku sudah tampan dan cantik" ucap kakek.


Ku lihat pria itu menatap ayahnya dengan sorot aneh dan menatapku dengan sorot kesal.


"Sepertinya dia ingin berbicara penting kek" ucapku spontan langsung dihadiahi tatapan tak suka oleh pria itu.


Aku sudah beri kesempatan untuk ngaku dan bicara mungkin bisa nego dengan Kakek nya sendiri malah melotot kek gitu, dasar aneh.


"Aku ingin bicara berdua dengan Nara kek"


"Baiklah sambil nunggu seseorang" ucap Kakek mengiyakan.


Aku menatap nya malas dan beranjak ke luar mengikuti langkah kakinya. Kami sekarang berada di ujung lorong cukup jauh dan pastinya sepi. ku hembuskan nafas dan berhenti di belakang nya ia membalikkan tubuhnya menghadap ku dengan wajah super dinginnya.


"aku sudah memberikan peluang tadi untuk mu berbicara mungkin bisa negosiasi dengan Kakek mu itu"


"Diem Lo apa perlu gue lempar Lo dari sini biar Lo enyah dari hidup gue"


Aku menghela nafas, memang tidak ada gunanya berbicara dengan manusia seperti dia.


"Hey dengan senang hati aku akan mengenyahkan diri dari hidup mu tapi setidaknya bereskan dulu permasalahan mu enyah bukan berarti harus mati kan bilang saja kau tidak berani berkata jujur pada kekekmu atau bawa kekasihmu kehadapan kekek atau sewa saja perempuan lain untuk diajak kompromi." Balasku kesal


Ku lihat dia mengepalkan tangannya kesal, "ikut gue" tarikan ditangan membuat aku terseok Seok masuk ke dalam lagi.


Kurang ngajar manusia satu ini dengan seenaknya menarik tanganku.


"Kalian sudah siap tanya Kakek lagi"


"Ya kek " ucapnya. Aku menatap nya menyipit "apa dia sungguh sungguh apa yang harus ku lakukan sekarang, posisi ku terjepit seperti ini. Jika aku mundur semuanya akan hancur lebur harusnya pria itu yang membatalkannya" gumanku dalam hati


"Kalian seperti terpaksa saja tidak ada bahagia bahagianya, memang ya aku ingat jaman dulu pas bertemu dengan nenekmu ya seperti ini canggung, kakek tidak menyangka kau menemukan berlian seperti Nara bara, untung saja aku tahu skandal mu itu pas di hotel itu, aku tidak mau cucuku terjebak dalam dosa jadi keputusan untuk menikah cepat itu solusi yang tepat bukan? untung nya gadis di foto itu bukan wanita ular itu siapa namanya ya Vierra kakek bener bener tidak setuju dengan gadis itu, setelah melihat wajahmu Nara kakek langsung lega" ucap Kakek tertawa ringan


Aku hampir terjungkal karena perkataan kakek "What, aku tahu sekarang titik permasalahan nya dimana, gara gara kejadian di hotel itu pria berkepala emas ini tidak bisa mengendalikan dirinya teler karena minuman lalu berbuat tak senonoh padaku gara gara kelakuannya sendiri aku jadi korban, mataku menatapnya sengit ku lihat dia berbalik menatapku sengit.


Tuhan aku ingin menarik rambutnya yang mahal itu melemparkan ke dinding agar otaknya bekerja.


Seolah paham situasinya jadi sedikit panas ketika kakek lengah kami saling melemparkan tatapan sengit akhirnya tuan Anderson memecah suasana.


"Iya ayah mereka sepertinya sangat gugup biasa anak muda suka malu malu"


"Baiklah aku maklumi"


"Maaf ya Nara akad nya di rumah sakit setelah Kakek pulang dari Amerika kita akan mengadakan resepsi besar besaran Pokonya. Kakek akan mengenalkan menantu pada semua orang tunggu 3 bulan lagi nara"


Aku hanya mengangguk saja bingung harus berkata apa yang pasti aku serasa ingin mengatakan ketidak setujuan ku dan berteriak tidak terima menjadi korban kelakuan cucunya tapi mulutku sudah di kunci, dan kuncinya ada pada tuan Anderson. oh tuhan maaf mungkin aku sangat bersalah disini.


"Permisi bisa aku izin ke toilet sebentar" ucapku akhirnya, membuat pria itu menatapku lebih sengit lagi, aku tidak peduli aku ingin berteriak sekarang.


"Baiklah Nara sepertinya kau sangat gugup" ucap Kakek mengangguk.


Aku buru buru melangkah cepat membuka pintu dan berjalan mencari toilet.


Ya itu dia toiletnya berbeda dengan lantai bawah di sini sepi hanya untuk pasien pasien kelas atas saja dan area ini di sterilisasi dari kehadiran orang orang karena ya tahu sendiri pemilik rumah sakit sky ini adalah keluarga Anderson.


"Arghhhhhh kurang ngajar kau bara Anderson Gretchen" umpatku berterik kencang, "pria gila itu biang masalahnya"


"aku harus apa sekarang, apa kabur adalah jalan terbaik atau sebaliknya, rasanya otak ini seakan meledak, ku tatap diriku dicermin wajah penuh dengan riasan sederhana dan gaun putih dengan aksen permata membuat aku semakin marah ingin ku robek robek baju ini, melihat diriku saja membuat kesal ketidakberdayaan seperti ini yang sangat ku benci dan tubuhku tidak bisa diajak kompromi rasa perih diperut kembali kambuh "oh tidak jangan sekarang"


Tanganku berpegangan pada wastafel agar tidak tumbang, ya ketika ku panik dan stress otomatis lambung ku kembali kambuh rasa perih seperti ditusuk tusuk dan rasa panas di dada kembali menghantam tubuhku.


Suara ketukan di pintu membuat ku meringis


"Buka, Lo didalam kan jangan coba coba kabur atau Lo tahu akibatnya bokap atau gue sendiri yang bikin Lo mati hari ini juga"


Aku mengepalkan tangan melihat wajahku dicermin sungguh mengenaskan.


"Kurang ngajar pria itu mengancamku rupanya" ku coba tekan rasa perih yang menggila dan membuka pintu kasar.


Benar saja dia tengah berdiri di pintu dengan tatapan bengisnya.


"Dasar bukan manusia, keparat sialan" aku sudah tidak bisa mengontrol kata kataku lagi.


"Aku tahu sekarang kenapa kakekmu memaksa karena perbuatan tercela mu, karena perbuatan kurang ngajarmu itu brengsek jika saja kau bisa mengendalikan diri mu dari minuman itu, aku tidak akan terjebak seperti ini" ucapku murka aku masih berpegang pada daun pintu.


"Apa lo pikir gue peduli hah, denger baik baik Lo berani kabur gue pastiin Lo mati sekarang juga"


"Mati, mati, mati persetan dengan mati aku tidak peduli dan bukankan kau harusnya bersorak ria jika aku kabur kau tidak jadi menikah dengan wanita seperti ku ini" balasku meninggi


"Ya memang gue juga gak sudi menikahi wanita busuk buruk rupa ****** sialan kek elo tapi gue gak bisa ambil resiko besar dengan membuat kakek syok dan berpengaruh pada kesehatan nya"


Aku tertegun "munafik dasar, kau hanya tidak ingin terbongkar dan kehilangan kehidupan mu yang bergelimang harta bukan? kebenarannya kau tidak ingin ditendang dari keluarga Gretchen bukankah begitu" ucapku sinis


Ku Lihat wajahnya memerah, dengan kilatan dimatanya.


"****** sialan" umpatnya membuat ku terkejut bukan main. teriakan kami tidak akan mungkin terdengar sampai ruangan itu karena jarak ruangan Kakek dengan toilet cukup jauh


"Lo berani ngelangkah ke luar dari rumah sakit ini gue pastiin anak itu mati sekarang juga" ucap nya pergi meninggalkan ku


Aku terhenyak ditempat rasa perih diperut semakin menggeliat rasanya aku mual pikiran beradu dan saling berputar aku tidak bisa berpikir lagi kepala bertalu talu wajah Bima berputar dikepala kejadian ketika aku dan Bima hampir tiada membuat semakin gusar.


Aku langsung masuk kembali ke toilet menuju wastafel mencoba memuntahkan isi perut tapi hanya cairan bening, "ya tuhan aku tidak kuat" kembali muntah tapi tidak ada yang dimuntahkan karena aku tidak makan pagi ini hanya biskuit tadi pagi yang ku makan untuk mengganjal perut karena tidak sempat sarapan.


Aku perlu obat ku, dan tas ku ada di kursi tunggu di samping ruangan itu.


Kepala makin pusing, ku putuskan untuk pergi dari sini.


Sosok di hadapan ruangan itu menatapku datar dan masuk ke ruangan, aku tidak memusingkan itu dan berjalan lunglai mengambil tas yang tergeletak di kursi, suara tawa dari dalam membuat ku buru buru mengambil tas mengobrak ngabrik isi tas tapi tak ku temukan obat itu "apa aku lupa memasukkannya" ayolah aku harus mencarinya lebih teliti lagi kepala makin berputar tangan bergetar rasa perih makin menjadi jadi.


"Kau disini rupanya, kakek sudah menunggu mu" ucap seorang wanita membuat ku menoleh padanya sosok wanita cantik dengan dress selutut membuat ku tertegun melihatnya.


"Aku Vela ponakannya paman Anderson, "ayo kak kita masuk" ucapnya lembut membuat aku tersadar dari keterkejutan ku.


"Vela" suara teriakan dari dalam membuat gadis itu mendekat padaku.


"Aku, aku...."  ucapku gugup hingga suara notif dari ponselku membuat aku buru buru mengecek nya.


Aku bangkit dan masuk keruangan meninggalkan Vela yang terkejut mungkin melihat perubahan drastis ekspresi wajah ku.


"Nah ini dia calon menantu" aku menghentikan langkah kaki menatap sekeliling ruangan yang terdapat beberapa orang termasuk pria yang menatapku tadi di depan pintu ya dia Rangga welson dan beberapa orang lainnya.


"Duduk disini Nara" aku beranjak duduk di kursi samping pria gila itu.


Ku kepalkan tangan menahan amarah yang bercampur dengan rasa perih diperut dan rasa panas yang bergejolak di dada. Semakin aku stress semakin tubuh ku bereaksi. Ku tundukan kepala menyembunyikan wajah yang mungkin sudah seperti mayat hidup tangan juga bergetar hebat.


"Baiklah kita mulai saja, penerbangan ku sudah dipastikan bukan?"


"Ya ayah kita langsung berangkat setelah akad selesai" ucap tuan Anderson membuat kepalaku berdenyut, kembali wajah Bima, tuan Anderson, kakek, diriku sendiri kilasan balik kejadian mencekam itu saling berputar di ingatan ditambah dengan rasa mual yang kembali menggila dan perut serasa ditusuk tusuk, aku sampai harus berpegangan pada kursi agar tidak terkulai.


Kalimat kalimat yang tak ingin ku dengar mulai terucap, aku tidak mau ucapku lirih tidak akan mungkin ada yang mendengar tapi ku rasa salah ada cengkraman di tangan kiriku kuat ya mungkin dia mendengar aku berbicara lirih.


Suara orang orang mengakhiri semuanya dan bersamaan dengan cekalan ditanganku terlepas.


"Ah syukurlah sekarang kau sudah resmi jadi menantuku"


Ku gigit bibir agar menghilangkan pucat di sana dan mendongakkan kepala menatap kedepan, tentu saja aku tidak bisa terlihat menyedihkan disini.


"Kemari" ucapnya aku berusaha bangkit dengan tubuh ku yang sebentar lagi akan ambruk


"Terimakasih sudah mau menjadi menantu keluarga Gretchen Nara ini hadiah untuk mu" pria paruh baya itu menyodorkan kotak merah padaku aku menerima kotak itu.


"Aku mengangguk tersenyum tipis"


Penyematan cincin menjadi akhir dari drama ini dan kakek dibawa meninggalkan rumah sakit bersama tuan Anderson dan manusia pengancam itu mengantarnya ke bandara


Sementara di ruangan ini hanya tinggal diriku Vela dan rangga mereka sudah di luar ruangan aku langsung ambruk ke lantai menatap langit langit ruangan "baiklah aku terima konsekuensinya, mari bertarung Nara sampai akhir" ucapku lirih bersamaan dengan suara teriakan dari arah pintu mengakhiri kesadaran ku.