NARA RIVEERAA VS BARA ANDERSON GRETCHEN

NARA RIVEERAA VS BARA ANDERSON GRETCHEN
26 (ditabrak mobil)



Sudah beberapa hari aku tinggal di restoran dan yah rasanya lega tidak bertemu dengan kepala emas mulut besar itu sungguh melegakan tidak mendengar suaranya membuat ku merasa damai dan tanganku juga sudah membaik hidupku lebih baik seperti kembali pada kehidupan ku yang dulu,  Rendra melarang untuk mengantarkan pesanan delivery tapi bukan Nara jika aku menurut, mengantar delivery menjadi bagian paling mengasyikkan bagiku seru dan tentunya bisa jalan jalan.


Aku menatap hotel dari kejauhan dengan menenteng makanan pesanan dari salah satu customer 


Aku terkejut melihat seorang wanita paruh baya yang diusir dari lobi dan wanita itu terisak di depan hotel sekuriti mengusir wanita itu agar menjauh dari hotel.


Aku mendekat dan berjongkok dihadapannya


"Ibu kenapa" tanyaku, ia menatap ku dan menujuk nunjuk lobi hotel dengan jarinya.


"Tolong anak ku reina" tolong dia ucapnya terbata bata.


Aku mencoba menenangkan wanita itu mengelus pundak nya dan memberikan sebotol air mineral, ia meminum air itu lalu setelahnya menangkupkan tangannya


"Ibu mohon tolong anak ibu nak, tolong dia" ucapnya, aku tersenyum menenangkan


"tenang Bu ceritakan aku akan berusaha menolong"


Dia menceritakan permasalahan nya, aku mengepalkan tanganku. Dan berpamitan padanya.


Aku memasuki lobi disambut oleh sekuriti


"Nona mau antar makanan?" tanya nya aku tersenyum mengangguk "baiklah silakan masuk"


"Terimakasih pak" ucapku ramah dan buru buru masuk, ku naiki lift dan melepas rompi kerja ku memasukkannya kedalam tas, "sepertinya tidak akan ketahuan" ucapku pelan.


karena aku sekarang menggunakan atasan dress panjang dengan belahan di samping dan celana Jings longgar serta pasmina coklat yang selalu ku lampiran menutup dada.


Bisa ku Lihat dari penampilan mereka yang glamor dan ku putuskan untuk turun di lantai 5 mengikuti mereka  Yap di depan sana banyak dekorasi yang cantik dan mewah.


"Bagaimana bisa aku masuk sementara aku tidak memiliki undangan bisa bisa aku langsung di usir" ku putuskan untuk berjalan sekedar melihat sikon melewati ruangan itu dan sampailah aku di ujung lorong.


Yap benar saja harus memakai undangan


terdengar suara ribut ribut, dari dalam ruangan suara itu kelaur dari celah celah ventilasi udara yang cukup besar jadi suaranya terdengar jelas.


"Ayah aku tidak mau" ucap seorang wanita menangis terisak.


"Kau pikir bisa menolak hah, aku membesarkanmu mengeluarkan banyak uang dan kau harus membalas Budi membayar dengan mengikuti semua keinginan ku"


Aku mengepalkan tanganku nurani ku kembali bekerja, empatiku kembali begeliat.


"Ayah aku tidak mau"


"Tidak ada penolakan ayo cepat" dan bisa ku dengar tidak ada lagi suara.


"Oke oke aku harus cari cara agar bisa masuk ke sana oke aku punya ide" langsung bergegas menuju toilet pasti banyak tamu undangan yang singgah di toilet Yap benar saja banyak wanita yang sedang membenarkan riasan nya ku lihat di wastafel ada undangan tergeletak.


"Maaf aku pinjam sebentar" ucapku lirih mengambil nya dan buru buru keluar begegeas masuk ke ruangan


Aku melipir ke samping bergabung dengan banyak manusia yang hadir


Suara MC terdengar "selamat datang untuk seluruh tamu undangan"


Aku berdiri menatap lurus pada pelaminan sungguh dadaku memburu melihat wanita muda itu bersanding degan pria tua yang seusia ayahnya, bisa ku bilang dia bukan seorang ayah tepatnya.


Ijab kabul akan segera dimulai, Aku terdiam mengepalkan tanganku, apa aku akan tetap diam menenggelamkan empatiku atau aku mengikuti nya tapi apakah wanita itu akan baik baik saja jika aku menolong nya atau sebaliknya aku selalu dapat masalah ketika mengikuti empatiku hasilnya sekarang aku juga terjebak.


Suara ijab kabul mulai terdengar aku memejamkan mataku dan kata Syah dari penghulu meminta persetujuan dari para saksi  pertahanan ku runtuh dengan lantang aku berkata "tidak sah" teriakku dihadapan banyak orang aku tidak peduli lagi dengan banyak tamu penting disini karena yang lebih penting adalah menyelamatkan hidup gadis itu.


Semua orang menatap ku terkejut termasuk pria paruh baya yang menatapku tajam dan wanita muda itu yang menangis terisak menatapku sendu jangan lupakan pria tua disampingnya yang juga ikut terkejut.


"Apa apaan kau tidak sopan dimana sopan santun mu nona seenaknya berkata tidak syah." Teriak pria yang ku yakini adalah ayah gadis itu.


Aku mendekat dengan sorot tajam berhadapan langsung dengan pria paruh baya itu sekitar 10 langkah dari nya.


"Tidak sopan, bukankah itu yang harus aku tanyakan pada anda dimana letak kesopanan mu tuan dimana letak hatimu apa hatimu masih hidup atau sudah tidak?" Jawabku


"Jangan berbicara omong kosong, memangnya kau siapa seenaknya mengatai ku seperti itu"


Aku tertawa ringan, "kau bertanya aku siapa tentu aku manusia bukan batu seperti mu tuan"


"Apa kau bilang kurang ngajar" umpatnya kesal bisa ku lihat rahangnya mengeras dan tangannya mengepal matanya menyorot ku tajam.


"Kenapa anda marah bukankah kenyataannya begitu aku tahu kau memaksa anakmu untuk menikahi pria itu bahkan dia seumuran dengan mu, memisalkan anak dan bunya sungguh ironis memang, kau menjual putrimu sendiri bener begitu kan?"


Ku denger semua orang berbisik bisik para tamu undangan mulai riuh.


"Kurang ngajar jangan sok tahu nona kau terus saja mengatakan omong kosong pergi sekarang" ia menunjuk pintu keluar menyuruh ku pergi dengan seenaknya.


"Tenang tuan aku akan pergi tapi nanti  tidak perlu mengusirku, tapi sebelum itu biar ku beri tahu sedikit pada semua orang disini tentang mu menarik bukan?"


"Aku baru tahu ada seorang ayah seperti mu yang menjual putrinya demi uang, kau memang ayah yang brengsek bukan, kau pikir kau memilih hak atas nya kau pikir dia milikku jangan lupa kau yang meminta pada Tuhan untuk dihadirkan dia dalam hidupmu lalu tuhan hadirkan dia dan menitipkan padamu kau tahu arti titipan bukan? Apa kau tidak mengerti" ucapku sengit


"Keluar sekarang" teriak nya


"securiti seret wanita gila ini keluar"


Aku menatap nya santai, beberapa securiti datang kearahku.


"Seret wanita ini"


"baik tuan"


Mereka mendekat dan berusaha menyeretku keluar.


"Tunggu dulu aku belum selesai" ucapku tersenyum devil.


"Nona sebaiknya kau segera pergi atau kami akan memaksamu"


"Memaksa ku oh coba saja maafkan aku jika melakukan kekerasan pada kalian dan akan ku tuntut juga karena bersekongkol dengan nya" ucapku tergas menatap sekuriti yang berjumlah 4 orang yang terlihat ragu.


Ku balikan tubuhku kembali menatap ke depan, "dan kau tuan" mataku menatap ke pria paruh baya yang berpakaian pengantin itu,


"apakah kau sadar dengan keputusan mu itu kau menikahi seorang anak perempuan yang di jadikan pelunas hutang ayahnya apa kau tidak punya hati atau bahkan kau yang memberikan pilihan gila ini memberikan ide gila dengan syarat seperti ini apa pernah kau berpikir jika hal ini terjadi pada Putri mu? apa nuranimu sudah tiada" ucapku geram


"Beraninya kau mengatakan itu pada ayahku" ucap seorang pria mendekat dan tanpa aba aba menampar ku hingga aku terdorong kebelakang, ku lihat semua orang riuh aku  dan kembali menegakkan tubuhku dan kembali menatap kedepan menyeka sudut bibirku yang terasa asin ya benar saja sudut bibirku robek ternyata sungguh pria ini benar-benar.


"Lihat anaknya juga sama saja, melakukan kekerasan pada perempuan, kau yakin tuan akan menikahkah putrimu dengan pria paruh baya itu dan membiarkan nya dipukuli oleh dua pria beda generasi ini"


"Sialan kau" ucap pria itu kembali mendekat aku langsung saja mencekal tangan nya yang terangkat, ia terlihat terkejut


"Kau pikir aku akan membiarkan tangan kasarmu mu menampar wajahku lagi sayangnya tidak" ku menghempaskan tangan nya dan ia terdorong beberapa langkah kebelakang aku langsung menampar nya kencang hingga ia mundur beberapa langkah


"Tidak sopan kau bahkan memperlakukan wanita seperti itu akan ku beri tahu rasanya di pukuli" ucapku kembali menampar wajah nya hingga ia bener bener tersungkur.


Semua orang terdiam, aku tidak peduli dengan pandangan orang terhadap ku yang mungkin beranggapan bahwa aku wanita kasar tidak peduli.


"Permisi suara seseorang masuk dari arah pintu mendekat"


"Kami dari kepolisian dengan tuan reno ucap nya


"Ya ada apa ya"


"tolong ikut kami anda di tahan karena memaksa anak anda dan tuan axel anda juga ikut kami.


"Apa apaan kalian ini semua itu bohong, aku tidak melakukan itu coba tanyakan pada putriku dia yang bersedia aku tidak memaksanya"


Aku mendekat pada gadis itu yang terisak, "menyelamatkan orang yang salah akan membuat dia terus melakukan kesalahan-kesalahan serupa jika kau tidak menyelamatkannya hari ini dia mungkin marah tapi dia akan berbenah setidaknya kau bisa menolong nya nanti saat di akhirat sana, jangan membuat ayahmu semakin masuk dalam jurang kehancuran aku tahu ini berat tapi keburukan harus di hentikan untuk dibenahi, jika kau masih ingin membenarkan perbuatan nya sama saja kau ikut andil dalam kehancuran nya dan dirimu sendiri, setidaknya hentikan dia sebelum jatuh ke jurang jangan terus mengikuti nya dan berakhir dijurang yang sama"


"Iya" ayahku memaksa ku ucap gadis itu terisak dan langsung memelukku erat menangis sejadi jadinya.


"Kurang ngajar anak tidak tahu diri aku membesarkanmu dengan susah payah dan apa yang kau lakukan sekarang" ucap pria itu pergi diseret polisi.


Tak lama Seorang ibu berlari langsung memeluk putrinya, astaga sayang Sera kau baik baik saja maafkan ibumu ini ayahmu mengurung ibu di kamar Sera maaf ucap wanita itu menangis memeluk putrinya.


Aku tersenyum lega menatap mereka lalu ku putuskan untuk mengambil mic dan mengakhiri ini.


"Maaf semua Jika kehadiran saya membuat acara ini kacau saya minta maaf atas ketidaknyamanannya saya harap rekan rekan paham kondisinya" ucapku menuduk mereka mulai pergi meninggalkan aula ini.


Aku berbalik meninggalkan mereka tanpa berpamitan aku tidak ingin menganggu.


Aku putuskan untuk pulang saja Sebelum itu sudah ku batalkan pesanan


Entahlah aku sangat bahagia ya sangat sangat


Bahagia orang orang melihat ku aneh mungkin sepanjang jalan aku tersenyum sendiri seperti orang gila tapi aku tidak peduli.


Aku berniat menyebrang tapi dari arah samping mobil hitam melanju begitu cepat, tiba tiba tidak bisa menggerakkan tubuhku kaku melihat mobil yang bergerak kearah ku.


"Brakkk" suara mobil yang menabrak sesuatu.


Author POV


"Ya tuhan Non Nara ucap pak Reza membeku ditempatnya mereka menyaksikan kejadian itu sejak dijalan tadi dia melihat mobil berkecepatan tinggi itu siapa pengendaranya ia tahu dan bara tidak berusaha menolong dan membiarkan mobil hitam itu beraksi.


Sebenernya bara juga hadir dalam acara tersebut dia menjalin kerja sama dengan Axel group jadi dia menyempatkan hadir.


"Den non Nara" ucap pak reza kembali berucap cemas.


" jalan" ucap bara dingin dan tegas mengalihkan pandangannya ke ponsel.


"Tapi den"


"jalan pak" teriak bara menggelegar. Pak Reza terpaksa menjalankan mobilnya dengan perasaan khawatir dan rasa bersalah meninggalkan lokasi.